AN ITINERARY

‘Niat Tak Sampai’

Menulis..? Sudah lama menjadi cita-cita dan impian. Sejak di SMA, saya coba menulis dan menulis. Ada ide besar yang terlintas, tetapi selalu kandas. Bahkan Majalah KUNCUP, dari Seminari San Dominggo Hokeng, terasa terlalu sulit untuk bisa dijangkau. Ide besar pun tetap ‘terkungkung’ dalam pikiran.

Di STFK Ledalero, saya coba lagi menulis. Paling-paling, hanya muncul di Media Internal”WISMA”. Tidak lebih dari itu. Meski sebagai staf redaksi VOX, majalah Filsafat yang cukup dikagumi, tetapi tulisan saya selalu kandas. Hingga tamat STFK Ledalero, TIDAK SATU ARTIKEL pun yang diterima. Niat saya untuk menulis akhirnya kandas, alias tak sampai terwujud. (Untung saja, sewaktu tamat, tanpa saya ketahui, bahan seminar yang dibawakan di depan Senat STFK dipublikasikan. Judulnya: Kemiskinan struktural. Itulah artikel satu-satunya yang diterbitkan tidak tepat pada waktunya (maksudnya, kalau diterbitkan waktu masih menjadi mahasiswa, saya pasti sangat ‘berbangga’)).

Membuka Mata

Minat menulis muncul lagi, saat melewati karya di Paraguay Amerika Latin (1997-2001). Selagi masih melaksanakan tugas sebagai misionaris, ada orang kampung yang menanyakan hal ini: Apa profesi Anda? Sejenak saya terdiam. “Bukankah profesi seorang imam adalah ‘membuat’ misa”?

Itulah konsep yang saya miliki dan barangkali menjadi motivasi yang hingga sampai saat itu masih saya yakini. Ternyata orang kampung itu lebih hebat dari saya. Meski putus SMP, tetapi ia tahu, tugas imam tidak seperti yang saya pahami. IIa membuka mata saya. Saya pun ingat kata-kata Santu Paulus  kepada Umat di Tesalonika (II Tesalonika 3, 10): “….jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”

Kritikan dari ‘orang kampung’ dan kata-kata Santu Paulus mendorongku untuk menjadi profesional. Minat untuk belajar muncul lagi. Pada saat bersamaan, saya sangat berbahagia, di Paraguay, saya bertemu dengan seorang teman, rekanku dulu di VOX (Martin Bhisu). Lewat diskusi, sharing, kami pun mulai membangkitkan satu sama lain minat menulis itu.

Saya pun mencoba lagi menulis di DIAN. Saya tidak ingat pasti tulisannya. Beberapa saat kemudian, saya dengar dari beberapa teman bahwa mereka membaca artikel itu. Upaya mencoba selama masih bertugas di Amerika Latin, hanya sebatas itu.

Tanda Zaman

Pada tahun 2001, saat saya mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan Madrid-Spanyol (2001-2004), minat menulis lebih disistematisir. Rekan, sahabat, dosen-dosenku teurtama: Profesor Luis Maldonado yang selalu memberikan inspirasi. Setiap ada buku baru, Luis tidak lupa memghadiahkan saya sebuah eksemplar. Tidak hanya itu. Floriano Critan, Jose Luis Corral Torral, Juan Martin Velazco, Julio Loius Fernandez, dll, coba menggugah semangat menulis.

Dari sekian materi kuliah, tema ‘aktualisasi’ menjadi satu ‘mata kuliah’ sangat menarik. Dua minggu sekali dibahas satu tema yang lagi ‘booming’.  Judulunya”: Lectura del creyente. Intinya, setiap orang beriman harus tanggap terhadap ‘tanda zaman’ yang terjadi. Dalamnya, Tuhan Sang Bijak, ingin membuka mata kita melihat tanda-tanda dalamnya ia menuntun kita kepada sesuatu.

Mata kuliah Teologia de Signos de Los Tiempos (Tanda Zaman) menjadi sangat menarik. Saya sungguh menikmati sebuah pemahaman baru tentang teologi sebagai sesuatu yang ‘membumi’ dan bukannya ‘melangit’ yang banyak kali dipahami oleh tidak sedikit orang.Teologi menjadi sesuatu yang ‘eksklusif’ untuk beberapa orang sementara umat sederhana mengalami hidupi yang sangat lain. Teologi dan kehidupan bertolak belakang.

Mulai Menulis

Pemahaman teologi tanda zaman, secara konkret saya ralisasikan setahun kemudian. Saat terjadi bom di Bali saya menulis artikel opini yang dua hari kemudian muncul di Pos Kupnag. Judulnya (kalau tidak salah): Neraka di Taman Firdaus. (artikelnya tidak bisa saya dapatkan kembali).

Dua minggu kemudian, saya sungguh terganggung dengan berita di Pos Kupang. Anggota DPRD Lembata ingin mengadakan Studi Banding ke Boyolali (kalau tidak salah ingat). Pada saat bersamaan, DPRD NTT melakukan studi banding ke Jerman.

Saya terheran-heran. Apa maksud studi banding. Bukankah situasi di negara lain berbeda? Kalau orang pergi mengadakan studi banding, hanya akan decek kagum. Lalu apa yang harus dibuat? Sejarah kita berbeda dan untuk membangun tidak sekedar ‘meniru’ orang lain. Tidak hanya itu. Anggaran tidak sedikit untuk studi banding. Pertanyaan itu kemudian terusmukan dalam opini:  STUDI BANDING.

“Coba” di Kompas

Dua tulisan itu sudah membuat saya ‘SANGAT BERBANGGA’. Namun Sseorang sahabat ‘menantang’. Mengapa Anda tidak bisa menulis ke KOMPAS? Ah, rasanya  sebuah impian…. Terlalu sulit bersaing di Kompas. Pengalaman dari orang lain yang sudah mencoba dan gagal… Saya pun pasti gagal.

Tetapi kenapa tidak? Saya pun mencoba. Waktu itu dari sisi ‘waktu’ ada sesuatu yang menarik. Perayaan besar di Indonesia hampir datang bersamaan: Idul Fitri hanya selang beberapa hari hadir masa Advent (persiapan Natal). Perayaan Waisak pun hampir tidak jauh… Ah, bukankah itu sebuah ‘tanda’?

Saya pun mengirimkan artikel perdana ke Kompas, tanpa target. Tetapi di luar dugaan, di mailbox saya ada jawaban dari Kompas: Di luar dugaan, ada balasan dari Kompas: tulisan Anda terlalu panjang.  Meskipun secara riil artikel itu belum dimuat di Kompas tetapi rasa senang tidak bisa terbendung.

Malam itu saya coba ‘mengutak-atik’nya dan mengirimkannya kembali. Betapa kegembiraan itu terasa begitu kuat saat membaca di internet, artikel dengan judul: RINDU PERDAMAIAN (18 November 2002).

Lanjutan

Semangat menulis pun mulai berkobar. Ide seakan tidak bisa dibendung. Hingga kini, sudah 41 artikel yang diterbitkan di Kompas. Semuanya itu tidak bisa dipisahlepaskan dari dukungan dari Pak Tonny Widiastono (Pemimpin Desk Opini Kompas). Arahan dan bimbingannya sangat bermakna. Ia juga terus memberi semangat.

Dari Kompas, saya juga menulis di Media lain. Dua koran daerah (level nasional) yang cukup menjadi perhatian adalah Batam Pos dan Pos Kupang. Harian pertama, menjadi ‘media’ yang sangat bermakna bagiku. Setelah berkenalan dengan redaksi, saya pun semakin mendapatkan tempat di Harian di ‘pinggiran’ Singapura itu. Sebagian besar artikel saya yang pernah dimuat di berbagai mediamassa, harus saya akui, Batam Pos mendapatkan tempat yang sangat istimewa.

Sayang sekali, tahun 2007, saat mendapatkan tugas tetap di sekolah, masa emas menulis pun agak mundur hingga hilang sama sekali dari Batam Pos. Kini, saat merajut kembali cercahan tulisan, ada rasa berutang budi dan kalau boleh bisa menghidupkan kembali semangat menulis di Batam Pos. Untuk sahbat, rekan, Socrates, Pemimpin Batam Pos, terimakasih atas pertemuan yang sangat menginsipirasi.

Pos Kupang juga tidak kalah penting. Rekan dan sahbat Tonny Kleden banyak memberikan support dalam menulis di Pos Kupang. Pertemanan itu ternyata sangat bermakna. Tulisan saya dalam dua bulan terakhir (saat web ini ada), mendorong saya untuk kembali menulis untuk media lokal.

Selain itu, saya juga menulis di Media Indonesia dan Jurnal Nasional. Kedua media ini hanya masing-masing 3 artikel. Sesudah itu, kerjasama itu tidak bisa diteruskan oleh kesibukan. Kerjasama ini tidak bisa dilanjutkan karena kesibukan. Akan tetapi, masih ada harapan, suatu saat, saya masih bisa menulis di sana.

Pada Majalah, saya pun menulis artikel di MINGGUAN HIDUP, NEWS DEMOKRAT (tanpa menjadi orang demokrat), dan beberapa majalah lainnya yang tidak sempat diingat.

Pada MAJALAH INTERNASIONAL, saya menulis pada VERBUM (di Jerman) dan UNISCI (di Madrid) Spanyol. Dari kedua majalan internasional, UNISCI di MADRID masih menjadi media yang sangat bermanfaat. Profesor Antonio Marquina masih secara konsiten mengirimkan edisi MAJALAH UNISCI darinya saya dapatkan informasi tentang dunia politik dan perdamaian di seantero dunia.

Demikian perjalanan (itinerary) saya dalam menulis. Semoga semangat menulis tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi penulis lainnya yang berani mencoba dan mencoba dan mencoba. Saya sangat sadar, orang terkadang patah semangat justru hanya semeter sebelum final…….

Terimakasih

Jakarta 23 Juni 2010

2 Responses to AN ITINERARY

  1. Francisca E Titisari says:

    Prof ,

    Saya buka web profe ..wah saya jd ingat lagu kristina ( tdk pakai aguilera) …jatuh bangun aku mengejarmu …akhirnya terkejar juga sampai finish……
    Saya sendiri sudah lama kehilangan ‘ nyawa’ menulis sejak selesai kuliah.sekarang saya penikmat tulisan orang lain.
    Bagaimana ya prof membangkitkan nyawa menulis saya …? Terakhir saya kirim tulisan ke majalah Utusan sebagai uji nyali, ternyata di daur ulang dan hanya di kutip kalimat saya waktu wawancara …

    Dan karena tulisan profe di kompas ‘takut menang’ (sepertinya saya salah kutip ni..maafkan saya ), saya jadi malu, bahwa ternyata saya membaca tulisan Nike dengan bunyi ‘naiki’ ….

    Selamat sekali lagi untuk hadiah dari Allah…Diego..
    Saya sangat terobsesi dengan nama Diego..sepertinya sangat macho dan mengandung sebuah ‘kekuatan’ sekaligus sedikit ‘pemberontakan’ …he he he sayang saya kalah argumen dengan suami untuk memberi nama anak kami Diego..

    Selamat ….
    Oh iya …terimakasih untuk nama2 yg profe berikan untuk kami masing2 penghuni clase de los locos, sebetulnya profe sudah lebih dulu mendapat nama dari kami………tapi rahasia …

    Saludos

    • robert25868 says:
      Francisca, madre nuestra. Tus comentarios con muy buenos. Gracias por tu apoyo.

      Tidak ada yang lahir sebagai ‘penulis’. Orang dapat menulis karena ‘sering ditolak’ dan dapat bertahan dalam penolakan itu. Ya, muka tebal lah kalu kita bisa bahasakan dengan kata lain.

      Saat-saat terakhir, saya jarang menulis di Kompas karena agak sibuk. Tetapi harusnya tidak demikian. Apalagi sekarang tiap malam ‘begadang’ terus dengan Diego… Ada inspirasi tetapi tidak bisa diwujudkan. Untung ketemu ‘alumnos’ tan buenos como vosotros.

      Gracias

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s