DALAM KEBERSAMAAN, KURASAKAN ADAKU


DALAM KEBERSAMAAN, KURASAKAN ‘ADAKU’

Butiran Refleksi di 49 tahunku

Pagi ini, saya merasa ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak seperti hari-hari yang lain. Biasanya saya tidur dan terutama bangun tanpa beban. Ada seseorang di samping saya, istriku tercinta yang biasanya memikirkan semua tentang adaku, tentang apa yang saya buat dan makan pada hari berikutnya. Dengan tangannya yang lincah gemulai ia mempersiapkan segalanya.

Pagi ini ia ada bersama sekolahnya, berada di antara orang Baduy, suku asli di Banten melewati hidup bersama mereka, mengalami bahwa jalan adalah sebuah keharusan. Hanya dengan berjalan, bergerak dari titik A ke B; memberanikan melangkahkan kaki, maka jalan yang tadinya tidak ada yang bisa menjadi akar keluhan orang karena ‘tidak ada jalan’, tetapi karena keberanian orang berjalan, maka terbentuklah jalan.

Ucapan selamat dari tanah Baduy

Itulah kata-kata Antonio Machado, penyair Spanyol yang terlalu kuat membekas dalam diri  saya. El camino se hace al andar (jalan terbentuk saat Anda menjalaninya).  Ada dan tidak adanya jalan mestinya tidak ada masalah karena dengan berjalan saja, berani melangkahkan kaki, maka jejak itu akan membentuk jalan.

Sayapun tersentuh dan tersapa. Di antara banyak kisah perjalanan, saya pun tersapa oleh teman-teman di etapa yang sangat bersejarah dalam hidup, saat menikmati dan melewati tahapan paling menentukan dalam perjalanan akademis, saat melewati pembentukan di Perguruan Tinggi. Sebuah perjalanan dalam kelompok besar, melewati kebersamaan hampir bersama 100 orang.

Mereka justru tersentuh menyadarkanku, bahwa inti dari hidupku adalah berjalan. Justru dalam berjalan, saya merasa adaku dan (semoga) adaku bermanfaat juga bagi setiap orang yang berjalan bersamaku, merasa adaku bermakna.

Atas dua ‘kejadian’ yang membuat adaku terasa berbeda di hari di mana saya menggenapi hampir setengah abad berjalan dengan adaku baik secara fisik (melalui kelahiran) maupun rangkaian panjang begitu banyak orang yang telah membentuk adaku dalam sebuah perjalanan, saya lalu mengangkat laptop, coba menggoyangkan jemariku dalam irama 10 ketukan dengan peran semua jari dalam ketikan 10 jari rapi, saya coba membuat refleksi sederhana ini.

Menemukan Adaku

Saya belum memahami secara betul tentang adaku sampai pada Juni 2016 tepatnya baru setahun yang lalu. Ada sebuah hentakan yang tiba-tiba saja membuatku sadar bahwa seluruh perjalanan hidupku mengantar aku pada kesadaran akan adaku yang baru, adaku yang kini, yang bisa saja disebut terlambat menyadari, tetapi saya bersyukur, saya bisa menemukan benih ini menjelang tahun-tahun terakhir sebelum merayakan setengah abad perjalanan hidup.

Apa yang kutemukan dalam permenungan ini? Saya sadari bahwa adaku hanya bisa bermakna ketika kutempatkan dalam kebersamaan, ketika aku berjalan bersama orang lain. Dalam perjalanan itu, saya merasa tersapa dan terbentuk oleh orang yang berjalan bersamaku. Mereka menghentakkanku dari lamunan dan angan kosong untuk sadar bahwa hanya dengan berjalan bersamaku, adaku menjadi bermakna. Aku menyadari makna diriku dan semoga saja orang lain juga tersapa karena bermanfaat berjalan bersamaku. Sebuah perjalanan bersama yang saling menguntungkan.

Saya sadari bahwa dalam perjalanan bersama, ada begitu banyak yang telah berjalan bersamaku. Setelah keluar dari kenyamanan keluarga, saya berjalan bersama 40an anak sekampung di SD (1974-1981, maaf di kampung waktu itu belum ada TK, bahkan kini pun masih dikelola PAUD seadanya), dengan 30-an orang di SMP Tanjung Kelapa (1981-1984), 70an orang SMA Seminari Hokeng (1984-1988), dan 100an orang di Perguruan Tinggi STFK Ledalero (1989-1995), dan 20an orang pendidikan lanjut 2001-2004 di Madrid Spanyol, diperkaya dengan perjalanan di tanah Amerika Selatan 1997-2001 serta karya di pendidikan mulai 2005-2016 atau 11 tahun kemudian, saya sadari bahwa semuanya mengantar aku untuk meenmukan apa yang kusadari kini sebagai ada yang bermanfaat bagi orang lain dan kurasakan adaku saat berjalan bersama yang lain.

Hal paling dasar yang kurasakan dan kualami adalah bahwa dalam persatuan yang paling kecil, saya menyadari bahwa adaku tidak akan sesempurna sekarang ketika tidak disokong oleh sebuah ikatan dalam persekutuan terkecil yakni keluarga. Saya pernah bertekad melewati dalam sebuah kebersamaan komunitas yang bisa memberi maknaku bagi diriku dan orang lain, tetapi dengan segera kusadari bahwa di sana ada yang tidak asli. Aku memang tampil ‘seakan-akan adaku bermanfaat’, tetapi yang kukejar sebenarnya egoisme sambil menyembunyikan adaku yang sebenarnya.

Saya memberanikan diri (meski awalnya takut) untuk mengambil sebuah keputusan lain yang tidak sejalan dengan apa yang kupersiapkan ini. Tepatnya 2004, saat umur memasuki 35 untuk ke 36 tahun, yang kurasakan barangkali ini akan menjadi setengah dari umur hidupku (kalau saya bisa berumur 70 atau 80 jika kuat), saya ‘banting stir’. Saya memutuskan untuk melewati setengah umur ke depan, tidak dalam kekosongan, terpaksa berjalan seakan-akan, untuk kembali berada dalam sebuah keluarga, dalam ikatan perkawinan yang kulewati sampai kini 13 tahun (2004-2017).

Yang kurasakan, perjalanan yang kusebut ‘asli’ karena berjalan dengan orang yang secara terbuka menyadarkanku akan kerapuhanku, memberi kritik pedas bila aku tak sungguh berjalan, dan membangkitkan kesadaran akan keaslian potensi yang ada padaku. Seorang istri yang tepatnya 15 tahun sebelumnya menyadarkanku bahwa menulis adalah potensi yang kumiliki (yang sampai saat itu masih hadir kabur mengawang-awang tak pasti dalam hidupku).

Dengan berjalan bersamamu, aku berani mengarungi hidup karena bersama, aku akan bisa. 

Saat itu, 2002, ketika bom Bali meledak (Oktober 2002), ia bangun kesadaranku bahwa menulis adalah potensiku. Setelah sebuah artikel sederhana di Pos Kupang yang waktu itu diberi judul “Neraka di Taman Firdaus” (Bencana di pulau yang dijuluki Firdaus Dunia), ia mendorongku untuk maju menulis bahkan ke Koran paling bergengsi di Indonesia, Kompas. Hanya sebulan sesudahnya, seorang pendatang baru, nama asing di dunia pers, bisa mengukir sebuah tulisan: Rindu Perdamaian. Saya catat, ternyata 18 November 2002, Opini Kompas.

Yang saya mau tonjolkan bukan adaku yang bisa menulis tetapi bahwa ada orang yang mendorongku,membangunkanku, untuk menyadari bahwa potensi diriku ada di sini. Tanpa ia yang ada bersamaku kini sebagai istriku, saya menemukan diriku (yang kalau dalam bahasa puitis bisa disebut yang sebelumnya diriku hilang).

Dalam nada yang sama, meski kelakar, seorang politisi nasional, yang bahkan pernah jadi Ketua Komisi di DPR, dengan tingkatan pendidikan yang maksimal (doktor), mendengar namaku yang bisa saja waktu itu lagi ‘terkenal’ karena sering menulis di Kompas, ia berucap spontan tetapi sangat mengena: “Oh, pak Robert yang sekarang sudah bertobat ya?”. Sebuah ungkapan yang menyadarkanku bahwa apa yang saya lakukan sebelumnya, memang ada dalam kemegahan diri, menonjolkan diri sebagai orang yang bisa berkarya di tanah asing, tetapi semuanya adalah dosa karena dilaksanakan dalam ketakaslian diri (atau bahasa vulgarnya, dilakukan dalam kepura-puraan. Saya pura-pura bahagia, padahal yang ada saya berdosa karena menyangkali hal yang paling asli dalam diriku).

Selama 15 tahun dalam adaku bersama orang terdekatku, istriku tercinta Merty, yang setelah berjuang dalam air mata dan darah, duka dan lara, terlahir buah cinta yang kini juga berumur 7 tahun, tepatnya setengah dari 15 tahun perjalanan kami. Ia adalah orang yang membuatku bisa menikmati lagi masa kecilku, yang adalam banyak guyonan tak langsung orang bisa menyebutku ‘masa kecil yang tak bahagia’.

Saya bersyukur karena masa kecilku di kampung dengan segala keterbatasan, justru kini dapat kesempatan untuk ‘menjadi anak kecil kembali’, anak kecil di era modern yang memiliki orientasi lain. Masa kecil yang disebut generasi “Z”, dengan teknologi, tetapi dengan potensi lain yang tidak pernah saya bayangkan 40an tahun sebelumnya. Lewat buah hatiku, puteraku Diego, saya merasakan indahnya jadi anak kecil, yang terawat dalam keluarga sangat kecil (berbeda dengan masaku ketika harus berada tidak saja berlima saudara-saudari sekandung, tetapi malah berenam, bertujuh, malah berdelapan karena ayahku jadi tulang punggung untuk juga mengongkosi adik-adik dan keponakannya).

Yang kutonjolkan bahwa keluargaku, istri dan anakku, adalah berkah terindah yang tidak pernah kusadari sebelumnya sebagai kekuatan terdahsyat dalam hidupku. Memang dalam perjalanan itu pasita da banyak kendala, tantangan dan cobaan, yang kadang membuatku ‘berbelok kecil-kecilan’, tetapi tidak bisa menyangkali bahwa ini adalah kekuatan inti, terkecil, terdahsyat yang kualami. Hanya dengan mereka berdua, istri dan anakku, kutemukan makna diriku yang sebenarnya.

Kesadaran ini tidak lalu membuatku lupa bahwa dalam keluargaku, tempat di mana saya menjadi anak dan saudara kandung dari saudara-saudaraku (Oni, Mili, Raya, dan Kalis). Saya sangat sadari bahwa adaku tidak akan bermakna ketika bahkan sampai kini aku begitu menyadari bahwa mereka adalah orang-orang terbaik yang bisa kumiliki. Lebih lagi karena di hari ke 49, mamaku yang sudah 77 tahun ada bersamaku. Ia yang tidak mau agar uang dan tenaga habis untuk mengatur kesehatannya, karena tahu bahwa apa yang kami lakukan hanyalah membuatnya sehat, segar, di usia yang sepuh.

Yang saya mau katakan bahwa saya tidak tahu perasaan mereka satu per satu dengan menanayakan bagaimana kesan mereka tentang adaku kini, tetapi bisa kurasakan bahwa kekecewaan mereka terhadap masa laluku tidak seluruhnya membuat mereka menyesal untuk adaku yang kini. Sebagai manusia, wajar adanya rasa kecewa itu, tetapi dengan melihat adaku yang kini, kutangkap sinyal reaksi bahwa mereka pun turut bangga. Mama yang menjadi orang yang paling merasakan ketika saya ‘banting stir’, kulihat ia tersenyum karena bahkan beberapa buku terakhir yang kuhasilkan, yang jauh dari kompetensi saya kini bahkan masih melekat dengan potensi diriku sebelumnya (yang dibanggakan), bisa membuat ia bangga dan tersenyum (mungkin tersenyum dalam kesedihan). Tetapi kalau boleh jujur, apa yang dia alami, hal positif kecil yang bisa kupersembahkan, membuatnya juga bangga.

Ada Yang Berbagi

Kekuatan utama yakni keluarga yang saya temukan kedahsyatannya, membuka hal lain yang ingin saya bagikan yang kusebut diawali, baru kusadari setahun lalu. Tepatnya setahun lalu, saya melewati sebuah tahapan penting dalam hidupku. Dalam pekerjaan, salama periode 8 tahun saya dipercayakan jadi pimpinan di sebuah instansi.

Yang kubuat tidak banyak dalam refleksiku. Saya hanya bisa berada bersama dengan beberapa orang dalam sebuah divisi. Kusadari bahwa yang kubuat juga tidak banyak. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan, tidak lebih dan tidak kurang. Saya bersyukur mendapatkan orang-orang hebat dalam profesinya yang kujadikan partner. Saya sadari bahwa pertemuan dengan mereka satu per satu, merupakan sesuatu yang sangat berharga. Mereka adalah orang-orang profesional yang saya temukan potensi mereka dan mengajak untuk bekerjasama.

Saya lalu sadari bahwa keutamaan dalam diriku bukan karena aku hebat tetapi karena bisa menemukan masing-masing mereka sesuai potensi mereka. Lalu saya padukan dalam sebuah kerjasama, memberi makna dan menyadarkan bahwa mereka adalah orang-orang hebat ketika bekerjasama. Saya lalu hanya seperti dirigen musik instrumen yang memadukan semua bunyi dalam sebuah keselarasan.

Ketika lihat ada sedih karena harus berpisah, saya baru sadari bahwa adaku bukan menampilkan diri tetapi bermakna ketika ada dalam kebersamaan. Saya merasa bahwa potensi itu diakui saat harus berpisah. Ada rasa kehilangan. Ada sedih yang membuat kami harus ‘berpesta’ (maksudnya makan perpisahan) beberapa kali. Tetapi hal ini menyadarkanku bahwa adaku bermakna dalam kebersamaan.

Kebermaknaan baru yang kutemukan itu lalu diikuti dengan 2 temuan lain yang juga tidak kurang dahsyatnya. Tepatnya yang kutemukan setahun lalu sebagai temuan baru itu ternyata bukan hanya satu tetapi malah tiga. Dua hal yang lain itu adalah tulis menulis dan karya sosial.

Dalam dunia tulis menulis yang kusadari sebelumnya sebagai potensi berkat dukungan keluarga kecilku, tetapi membuka kesadaran baru bahwa tahapan menulis lepas menyebar benih di dunia pers itu dahsyat, tetapi ia berada dalam pikiran-pikiran lepas. Mestinya di usia 48 tahun ada keberanian untuk melangkah ke dunia buku.

Saya lalu bertekad menjadikan umur 48 tahun itu sebagai torehan sejarah. Dan itu terwujud dengan tertatih-tatih. Bahwa dalam buku itu ada 48 bab kecil, itu saya ungkapkan di kata pengantar buku Homili yang Membumi halaman 29 sebagai jumlah yang bisa menjadi hadiah di usia ke-48. Sebuah jumlah yang disengajakan atau memang jadi proklamasi diri bahwa saya harus melangkah, berjalan dalam dunia yang lebih lengkap dalam tulis menulis buku.

Bagai bersahutan, dalam 4 bulan sejak buku perdana terbit Januari 2017 (meskipun pada bulan Desember 2016 buku itu harus cepat terbit karena harus beredar pada awal 2017), saya lalu menulis tiga buku lain. Tiga buku sudah beredar (Menjadi Fasilitator dan Berbuah di Usia Senja) dan sebuah buku lagi dalam proses penerbitan di Gramedia (Creative Teaching).

Tiga buku sesudahnya seakan keluar begitu mudah. Ada buku yang bahkan hanya dalam 4 hari saya selesaikan dan secepat itu disetujui penerbit. Di sini saya temukan diri bahwa potensi diriku baru kusadari justru di saat-saat sebelum merayakan setengah abad hidupku. Saya disadarkan bahwa dengan menulis, saya menampilkan keberadaanku hal mana saya jadikan moto hidupku, saat perayaan literasi Lembata awal Agustus ini. Saya mengambil moto: Dengan membaca, saya merasa tidak sendirian; Dengan menulis, orang akan tahu kemudian bahwa saya pernah ada.

Yang ingin saya sebarkan bukan adaku, tetapi ajakan bahwa keberadaanku tidak pernah sendirian. Apa yang kutulis bukan untuk diriku. Saya harus menulis demi dan karena orang lain, semboyan yang selalu saya miliki dan sebarkan kepada orang lain saat menulis. Saya selalu sharingkan bahwa menulis itu seperti memancing ikan. Agar bisa ‘dapat ikan’, maka harus cari umpan yang disenangi ikan dan bukan umpan yang digandrungi pemancing. Seenak-enaknya umpan tetapi kalau tidak mengikuti selera ikan maka sia-sia melewati waktu memancing.

Artinya, menulis itu akan bermanfaat kalau saya menulis dalam cita rasa pembaca. Kubayangkan kegelisahan dan pertanyaan mereka lalu menjawabnya. Tepat juga sentuhan dosenku di Madrid Luis Maldonado yang menyadarkanku bahwa dalam setiap tulisan adalah sebuah pertanyaan yang dijawab. Pertanyaan yang diajukan oleh pembaca lalu saya formulasikan untuk menemukan jawaban yang dibagi dalam tulisan artikel dan kini buku.

Untuk bagian menulis ini saya patut menyebutkan orang khusus yang harus kusebut karena memiliki peran yang tidak sedikit. Martin (MBh) yang tidak saja jadi teman di Vox tetapi secara tak terencana kami harus menyatu di tanah misi. Pikirannya yang cemerlang, diungkapkan polos dan análisis yang sangat tajam telah menjadi orang penting yang mewarnai dan memberi motivasi dalam menulis.

Kutemukan pribadi lain, tepatnya justru saat saya sudah berada di dunia ‘baru’, yakni Pa Thomas. Penulis yang merangkai kata dengan hati, dengan geliat dan nafsu bagai anjing pelacak mencari berita, mengorek hingga baru berhenti kalau sudah temukan sasaran. Atalajar mewarnai perjuangan tanpa henti, memberi makna dan mendorong untuk menulis dan memberi makna pada tulisan itu.

Temuan terdahsyat lain yang ingin kusampaikan adalah melalui karya sosial yang kini menjadi kekuatan baru. Di Oktober 2016, kami bersama-sama orang ‘sekampung’, membuat langkah berani untuk bisa berbuat sesuatu dalam karya sosial yang didasarkan pada pengabdian utuh, tanpa pretensi apapun.

Dengan berbekal beberapa kegiatan sebelumnya, kegiatan sosial di mana saya tidak membayangkan akan dipercayakan sebagai ketua, harus ikut berpikir bagaimana melakukan kegiatan yang membuat hidup lebih bermakna. Dengan perayaan sebelumnya saya tersadarkan bahwa hidup akan bermakna ketika kita tidak saja berbuat sesuatu dengan menemukan apa yang bisa membuat saya bangga dalam lingkup yang terbatas (keluarga), tetapi bisa menyatukan kekuatan bersama orang seasalku untuk berbakti dalam karya tulus nan ikhlas melalui Yayasan.

Nilai yang kutemukan dalam refleksi adalah sebuah pengabdian tulus yang luar biasa ditanggapi dan disambut dengan sangat menakjubkan dengan orang-orang tidak saja di Jakarta tetapi mendapatkan sambutan di daerah lain di Lewopana, tetapi terutama juga di Lewotana. Mereka semua dengan begitu ikhlas memberi diri, menawarkan bantuan, mengorbankan apapun yang mereka miliki dalam sebuah kerja tulus nan ikhlas.

Mereka telah jadi saudara yang mengajarkanku tentang pengorbanan. Mereka membangun kesadaran bahwa dalam kebersamaan, kita bisa bertumbuh bersama. Dengan memberi ikhlas kita tidak kekurangan tetapi malah kian bertambah. Karena itu melalu yayasan Koker Niko Beeker yang berdiri 31 Oktober 2017, saya temukan kekuatan dahsyat yang luar biasa.

Memang proses ini bukan tanpa hambatan. Justru di hari ULTAH seperti ini, saya dapatkan pembelajaran baru. Pengorbanan yang ikhlas yang jadi kekuatan harus berada di persimpangan jalan, saat dihadang pencobaan yang kulihat bermanfaat kalau bisa dilewati dan disikapi dengan baik. Ternyata dalam organisasi, pikiran yang baik dan cemerlang nan tulus harus ‘dilegalkan’, disusun secara rinci dan jelas sehingga interpretasi personal bisa terkapling dan tersadarkan. Dengan demikian yang berpikiran atau bertujuan lain (demi keuntungan pribadi) cepat disadarkan untuk kembali kepada ‘khitah’ dari organisasi sosial.

Untuk hal ini, akan jadi buah yang dihasilkan sesudahnya. Sebuah Yayasan yang mematrikan visi dan misi lebih resmi lagi melalui AD/RT yang jadi patokan dalam bergerak dan berubah bersama.

Kembali pada Percikan
Lalu apa yang jadi kesimpulan? Saya tidak bermaksud membuat sebuah kesimpulan baru. Saya justru tersentuh untuk mengangkat apa yang belum saya sebutkan secara eksplisit sebagai akar dari segalanya dan bisa menjadi jawaban pamungkas di akhir tulisan ini.

Potensi dan adaku yang kini yang telah kukisahkan sebenarnya tidak bisa terwujud kalau tidak ada orang yang lebih jauh melihat kemampuan diriku. Ini justru terjadi saat masa emas dalam pendidikan Filsafat. Potensi diri menulis itu tidak akan terjadi kini kalau tidak ada seorang teman yang melihat melampaui apa yang saya lihat.

Di saat itu (1992), ia sedikit memaksa aku untuk masuk dalam Team di sebuah majalah bergengsi “VOX” Ledalero. Saat itu, saya bukan apa-apa. Memagn pernah menulis, tetapi semuanya ‘ditolak’. Tetapi ia tetap beri kepercayaan untuk menjadi bagian administratif mengelola VOX. Untuk kepercayaan itu, saya diberikan PR tambahan untuk harus berpikir lebih serius memasuki dunia tulis menulis. Teman, sahabatku, dan rekanku Uja, adalah orang yang kusebut di akhir tulisan ini.

Bukan ia sendiri, teman-temaku yang punya arti tersendiri dan sangat mendalam. Tias, yang bahkan mengenalku melampaui apa yang kukenal tentang diriku. Ia yang ada dalam seluruh detik hidupku, yang setiap saat masih menganggapku bagian dari hidupnya, yang mengikuti dari dekat seluruh perjalan hidup, yang dengan canda dan tawa membuat hidupku bermakan bagi orang lain. Ia yang sampai tingkat ini, belum kutemukan pada orang lain, dan mengapa pada bagian ini, saya meneteska air mata bahagia, menyukuri keberadaanya sebagai teman, sebagai orang yang mewarnai hidupku, yang menjadikan diriku berharga.

Kuesebut orang yang tidak kurang menjadi inspirasi hidupku: Rens, Ito, Andris, yang tidak pernah luntur semangat, dan selalu menyapa dalam kepolosan. Aku tidak bisa lupakan yang lain: Mus, Kuin, Lukas, Be, Eus, Frandus, Tinus, Nimus, Nasu, Gles, Adri, Berni, dan masih banyak lagi dan masih banyak lagi yang telah menjadi bagian hidupku. Semuanya memberi warna dan menyadarkanku bahwa diriku hanya bermakna ketika berjalan bersama. Bersama semuanya jalan itu sudah terbentuk. Kami tidak berjalan di jalan yang sudah terbentuk tetapi jalan yang terbentuk karena semau berjalan. Semoga. (Refleksi, Jumat 25 Agustus 2017, pukul 03.00 – 05.00. Selamat pagi, dan terimakasihku untukmu semua.

Advertisements