DUNIA TULIS MENULIS


‘Niat Tak Sampai’

Rentetan Kegagalan

Menulis..? Sudah lama menjadi cita-cita dan impian. Sejak di SMP, saya sudah coba untuk menulis. Tidak bisa dibayangkan. Meski bersekolah di pedalaman di Lembata Flores, (SMP Tanjung Kelapa Lerek), saya sudah coba menulis (paling kurang untuk keluarga yang ada di luar Lembata).

Di SMA Seminari Hokeng, sebuah sekolah elit untuk ukuran Flores, minat menulis itu muncul. Ada kerinduan tersendiri. Tetapi, saya menulis sesuai kemauan saya (dan bukan kemauan majalah sekolah). Akhirnya tulisan itu hanya ‘nongol’ di Majalah Dinding. Sementara itu, Majalah KUNCUP milik Seminari (sejauh yang saya ingat), tidak pernah satu artikel pun yang ‘dimuat di sana.

Kegagalan demi kegagalan terulang lagi saat berada di Perguruan Tinggi, tepatnya di STFK Ledalero. Di Sekolah tinggi elit, tempat mencetak penulis handal itu rupanya bukan ‘tempat saya’. Artikel paling-paling muncul di Majalah WISMA, majalah internal. Tetapi majalah kebanggaan mahasiswa Filsafat, yakni VOX, ‘tidak pernah’ menjadi tempat dimuatnya artikel saya.

Di Majalah VOX, memang saya pernah menjadi pengurus (itu berkat jasa seorang teman saya, Domikus Uja) yang mempercayakan saya menjadi staf redaksi. Ia melihat bahwa (barangkali) saya punya minat tulis menulis tetapi tidak fokus. Dia menempatkan saya di situ. Tetapi saya hanya bisa ‘unggul’ menjadi Tata Usaha VOX. Untung saja, setelah tamat (dan itu tanpa pengetahuan saya), ada sebuah artikel saya yang dimuat. Artikel itu sebenarnya hasil Seminar saya di depat Senat Mahasiswa STFK  Ledalero. Artikel yang diberi judul “Kemiskinan Struktural’ itu merupakan ‘satu-satunya’ artikel yang sempat muncul di Majalah Kebanggan VOX.  Sayang sekali, artikel ini terbit sesudah saya sudah tidak menjadi mahasiswa (kalau waktu itu terbit, pasti saya bangga sekali).

Foto Robert

Di Majalah lokal, DIAN, tempat ratusan wartawan ditempah, saya pernah mengirim sebuah artikel. Judulnya sudah tidak saya ingat lagi. Tetapi artikel yang dibayar waktu itu Rp. 5.000 sangat membanggakan saya. Ada rasa gembira. Beberapa kali saya mengirim artikel ke Majalah lain (di luar Flores), tetapi tidak satu pun artikel yang dimuat. (Rupanya bukan panggilan saya untuk menjadi penulis karena sejarah hidupku dipenuhi kegagalan. Saat meninggalkan Indonesia ke Paraguay,  saya menyadari bahwa dunia tulis menulis bukan tempat yang pas bagi saya).

Membuka Mata

Minat menulis muncul lagi, saat melewati karya di Paraguay Amerika Latin (1997-2001). Selagi masih melaksanakan tugas sebagai misionaris, tepatnya saat belajar bahsa orang Indian, Guarani, dan tinggal di pedalaman Paraguay (Britezcue), ada orang kampung (Nelson) yang menanyakan hal ini: Apa profesi saya? Sejenak saya terdiam. “Bukankah profesi seorang (waktu itu) imam adalah ‘membuat’ misa”?

Itulah konsep yang saya miliki dan barangkali menjadi motivasi yang hingga sampai saya meninggalkan imamat cukup kuat berpengaruh dalam diri saya. Saya pikir ‘membuat’ ritus adalah pekerjaan. Darinya seseorang dapat mendapatkan uang untuk kemudian dapat digunakan untuk kebutuhan keseharian. Tak pelak, bila tidak ada ‘duit’ yang mencukupi setelah ‘menjual’ sakramen, saya mengelu. Bagi saya, pekerjaan (membuat misa) harus dibayar.

Ternyata orang kampung itu lebih hebat dari saya. Meski putus SMP, tetapi ia tahu, tugas imam tidak seperti yang saya pahami. Ia membuka mata saya.  Ternyata membuat misa adalah bagian dari pelayanan dan kewajiban sebagai orang katolik. Ada yang hadir dalam sebuah perayaan sebagai peserta, ada yang memimpinnya. Perayaan itulah yang mengumpulkan semua orang. Tetapi sesudah perayaan, semua orang harus terlibat dalam pekerjaannya. Darinya ia dapat memperoleh sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya.

Saya pun ingat kata-kata Santu Paulus  kepada Umat di Tesalonika (II Tesalonika 3, 10): “….jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” Ah, itu berarti, selama ini saya ‘tidak bekerja, dong’. Tidak ada kreativitias lain. Memang demikian. Aktivitas ‘imam’ terjadi pada hari Sabtu-Minggu. Terkadang dia merayakan misa sampai dua atau tiga kali (itu pagi hari, belum terhitung sore hari). Hal itu belum terhitung umat yang datang pada hari Sabtu dan Minggu untuk konsultasi. Bisa dimengerti. Mereka ‘bekerja’ dari Senin – Jumat, dan hanya punya waktu Sabtu-Minggu untuk konsultasi. Pekerjaan pastor, saya pahami, hanya menunggu datangnya hari Minggu.

Kritikan dari ‘orang kampung’ dan kata-kata Santu Paulus mendorongku untuk menjadi profesional, alias mencari pekerjaan di luar ‘membuat misa’.  Salah satu bidang yang muncul lagi dalam benak saya a(tetapi dari dulu selalu gagal) dan hidupkan adalah dunia tulis menulis. Apakah dunia ini bisa menjadi tempat ‘mencari makan’?

Pada saat bersamaan, saya sangat berbahagia, di Paraguay, saya bertemu dengan seorang teman, rekanku dulu di VOX, Martin Bhisu.  Bersama Martin, kami banyak berdiskusi tentang evangelisasi dalam arti yang sebenarnya. Lewat diskusi, sharing, kami pun mulai membangkitkan satu sama lain minat menulis itu.

Saya pun mencoba lagi menulis di DIAN. Saya tidak ingat pasti tulisannya. Beberapa saat kemudian, saya dengar dari beberapa teman bahwa mereka membaca artikel itu. Upaya mencoba selama masih bertugas di Amerika Latin, hanya sebatas itu.

Tanda Zaman

Pengembaraan empat tahun di Paraguay, Amerika Latin, berlangsung begitu cepat, Pada tahun 2001, saat saya harus berpindah ke Madrid-Spanyol (2001-2004), untuk melanjutkan pendidikan. Inilah saat yang paling berharga dalam hidup saya.  Saya bisa hidup di dunia akademi dan ‘mengasah’ lagi kemampuan tulis menulis.

Keinginan ini bagai gayung disambut. Saya bertemu dosen yang luar biasa.  Ada Profesor Luis Maldonado yang selalu memberikan inspirasi. Setiap ada buku baru, Luis tidak lupa memghadiahkan saya sebuah eksemplar.

Luis juga selalu memberikan informasi tentang Retorika, homiletik, atau kursus lainnya yang bisa mengasah kemampuan saya. Saya pun  empat melewati kursus Public Speaking di Universitas Complutense dan Kurusus Media Komunikasi di Universitas San Damaso Madrid. Semuanya atas jasa Luis Maldonado, seorang pengajar, profesor, sahabat, dan teladan hidup.

Saya juga tidak bisa melupakan Casiano Floristan (alm), seorang teolog yang sangat handal. Ia ‘menggugat’ selibat, hingga akhirnya saya merasa bahwa apa yang digugat itu benar. Saya mengambil pilihan lain, tidak bisa lepas dari ‘provokasinya’ yang sangat konstruktif. Tokoh lain, Burgaleta, FJose Luis Corral Torral, Juan Martin Velazco, Julio Loius Fernandez, dll, coba menggugah semangat menulis.

Dari sekian materi kuliah, tema ‘aktualisasi’ menjadi satu ‘mata kuliah’ sangat menarik. Dua minggu sekali dibahas satu tema yang lagi ‘booming’.  Judulunya”: Lectura del creyente. Intinya, setiap orang beriman harus tanggap terhadap ‘tanda zaman’ yang terjadi. Dalamnya, Tuhan Sang Bijak, ingin membuka mata kita melihat tanda-tanda dalamnya ia menuntun kita kepada sesuatu.

Mata kuliah Teologia de Signos de Los Tiempos (Tanda Zaman) menjadi sangat menarik. Saya sungguh menikmati sebuah pemahaman baru tentang teologi sebagai sesuatu yang ‘membumi’ dan bukannya ‘melangit’ yang banyak kali dipahami oleh tidak sedikit orang.Teologi menjadi sesuatu yang ‘eksklusif’ untuk beberapa orang sementara umat sederhana mengalami hidupi yang sangat lain. Teologi dan kehidupan bertolak belakang.

Mulai Menulis

Pemahaman teologi Tanda Zaman, secara konkret saya ralisasikan setahun kemudian. Saat terjadi bom di Bali saya menulis artikel opini dan saya kirim ke Pos Kupang. Betapa gembiranya (saya informasikan ke mana-mana) saat dua hari kemudian, melihat artikel itu muncul di Pos Kupang. Judulnya (kalau tidak salah): Neraka di Taman Firdaus. (artikelnya tidak bisa saya dapatkan kembali).

Dua minggu kemudian, saya sungguh terganggung dengan berita di Pos Kupang. Anggota DPRD Lembata ingin mengadakan Studi Banding ke Boyolali (kalau tidak salah ingat). Pada saat bersamaan, DPRD NTT melakukan studi banding ke Jerman.

Saya terheran-heran. Apa maksud studi banding. Bukankah situasi di negara lain berbeda? Kalau orang pergi mengadakan studi banding, hanya akan decek kagum. Lalu apa yang harus dibuat? Sejarah kita berbeda dan untuk membangun tidak sekedar ‘meniru’ orang lain. Tidak hanya itu. Anggaran tidak sedikit untuk studi banding. Pertanyaan itu kemudian terumuskan dalam opini:  STUDI BANDING.

Selanjutnya, saya menulis puluhan kali di Pos Kupang. Meski hingga saat ini tidak satu pun artikel yang dibayar, tetapi saya sudah merasa bangga kalau artikel itu sudah dibaca (hitung-hitung, barangkali ini berpartisipasi memberikan sesuatu untuk NTT, meski hanya dalam bentuk pikiran).

“Coba” di Kompas

Dua tulisan itu sudah membuat saya ‘SANGAT BERBANGGA’. Namun Sseorang sahabat ‘menantang’. Mengapa Anda tidak bisa menulis ke KOMPAS? Ah, rasanya  sebuah impian…. Terlalu sulit bersaing di Kompas. Pengalaman dari orang lain yang sudah mencoba dan gagal… Saya pun pasti gagal.

Tetapi kenapa tidak? Saya pun mencoba. Waktu itu dari sisi ‘waktu’ ada sesuatu yang menarik. Perayaan besar di Indonesia hampir datang bersamaan: Idul Fitri hanya selang beberapa hari hadir masa Advent (persiapan Natal). Perayaan Waisak pun hampir tidak jauh… Ah, bukankah itu sebuah ‘tanda’?

Saya pun mengirimkan artikel perdana ke Kompas, tanpa target. Tetapi di luar dugaan, di mailbox saya ada jawaban dari Kompas:  “tulisan Anda terlalu panjang. ”  Meskipun artikel itu belum dimuat, tetapi jawaban itu adalah ‘tanda perhatian Kompas’. Malam itu pun saya  ‘mengutak-atik’nya dan mengirimkannya kembali. Betapa kegembiraan itu terasa begitu kuat saat membaca di internet, artikel dengan judul: RINDU PERDAMAIAN (18 November 2002).

Beberapa bulan kemudian, dalam kaitan dengan Perak Irak, saya merasa, inilah saat menulis sesuatu. Dukungan Spanyol kepada AS, Rekonstruksi, Kisah Iran, antara lain menjadi empat artikel berikutnya yang sempat ‘nongol’ di Kompas.

Tahun 2004, saat saya memulai ‘hidup baru’, perjuangan ‘mencari hidup’ punya konsekuensi tidak ‘menempah’ diri untuk menulis dan membaca. Ada beberapa artikel yang sempat dikirim ke media, tetapi tidak dimuat. Pada saat bersamaan, di Batam, tempat saya melewat dua tahun pertama, saya mulai ‘berkenalan’ dengan Batam Pos. Beberapa artikel pun muncul di sana. Tidak semua bisa saya dapatkan kembali. Ada beberapa yang sempat ‘terselamatkan’ karena pada kolom ‘sent’ yahoo, masih tersimpan. Syukur, saya bisa masukan ke wordpress ini. Selebihnya, sudah hilang, entah ke mana.

Lanjutan

Semangat menulis pun mulai berkobar. Ide seakan tidak bisa dibendung. Hingga kini, sudah 50an artikel yang diterbitkan di Kompas (artikel terakhir GURU TERBAIK, Kompas 14 Agustus 2013) Semuanya itu tidak bisa dipisahlepaskan dari dukungan dari Pak Tonny Widiastono (Pemimpin Desk Opini Kompas). Arahan dan bimbingannya sangat bermakna. Ia juga terus memberi semangat.

Pertemuan dengan Mas Tonny merupakan kesempatan yang tidak bisa saya lupakan. Di tengah perjuangan di Jakarta, tepatnya saat itu harus dengan motor pergi mengajar di Cikarang, saya mendapatkan undangan untuk datang ke Kompas. Di situ, saya meraskaan sesuatu yang di luar dugaan. Nasihat, arahan, dan semuanya yang membuat saya membuka mata untuk semakin serius mendalami dunia tulis-menulis.

Salah satu poin yang tidak salah lupakan, sharing pak Tonny bahwa sekarang dia bisa di Kompas, berkat bimbingan senior seperti Marcel Beding, wartawan kawakan yang sudah almarhum. Saya pun menyadari, dari sebuah pulau kecil di ujung Indonesia, tepatnya Lembata, bisa terlahir pribadi sekaliber Marcel dan mungkin lainnya akan menyusul.

Dari Kompas, saya juga menulis di Media lain. Dua koran daerah (level nasional) yang cukup menjadi perhatian adalah Batam Pos dan Pos Kupang. Harian pertama, menjadi ‘media’ yang sangat bermakna bagiku. Setelah berkenalan dengan redaksi, saya pun semakin mendapatkan tempat di Harian di ‘pinggiran’ Singapura itu. Sebagian besar artikel saya yang pernah dimuat di berbagai mediamassa, harus saya akui, Batam Pos mendapatkan tempat yang sangat istimewa.

Sayang sekali, tahun 2007, saat mendapatkan tugas tetap di sekolah, masa emas menulis pun agak mundur hingga hilang sama sekali dari Batam Pos. Kini, saat merajut kembali cercahan tulisan, ada rasa berutang budi dan kalau boleh bisa menghidupkan kembali semangat menulis di Batam Pos. Untuk sahbat, rekan, Socrates, Pemimpin Batam Pos, terimakasih atas pertemuan yang sangat menginsipirasi.

Pos Kupang juga tidak kalah penting. Rekan dan sahbat Tonny Kleden banyak memberikan support dalam menulis di Pos Kupang. Pertemanan itu ternyata sangat bermakna. Tulisan saya dalam dua bulan terakhir (saat web ini ada), mendorong saya untuk kembali menulis untuk media lokal.

Selain itu, saya juga menulis di Media Indonesia dan Jurnal Nasional. Kedua media ini hanya masing-masing 3 artikel. Sesudah itu, kerjasama itu tidak bisa diteruskan oleh kesibukan. Kerjasama ini tidak bisa dilanjutkan karena kesibukan. Akan tetapi, masih ada harapan, suatu saat, saya masih bisa menulis di sana.

Pada Majalah, saya pun menulis artikel di MINGGUAN HIDUP, NEWS DEMOKRAT (tanpa menjadi orang demokrat), dan beberapa majalah lainnya yang tidak sempat diingat.

Pada MAJALAH INTERNASIONAL, saya menulis pada VERBUM (di Jerman) dan UNISCI (di Madrid) Spanyol. Dari kedua majalan internasional, UNISCI di MADRID masih menjadi media yang sangat bermanfaat. Profesor Antonio Marquina masih secara konsiten mengirimkan edisi MAJALAH UNISCI darinya saya dapatkan informasi tentang dunia politik dan perdamaian di seantero dunia.

Pada Tahun 2013, saya mendapatkan kesempatan berkenalan dengan Majalah Online FLORES BANGKIT. Pada awalnya saya menulis ‘seadanya’. Tetapi kemudian saya merarasakan bahwa paradigma telah banyak berubah dari media cetak ke media online. Karena itu, saya pun mulai giat menulis.

Selain itu, panggilan untuk ‘berbakti’ di Flores terutama turut mengembangkan dan membantu Flores Pos, hadir setelah kematian saudaraku Grace da Silva. Tulisan sederhana, ungkapan pengalamanku bersamanya dimuat di Flores Pos dan sejak saat itu saya merasa untuk bisa berbuat sesuatu, membantu mencerahkan pembaca di tempat kelahiranku, selain bahwa media ini adalah milik SVD, induk dan ibu yang tidak bisa kubayangkan hidup tanpanya.

Demikian perjalanan (itinerary) saya dalam menulis. Semoga semangat menulis tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi penulis lainnya yang berani mencoba dan mencoba dan mencoba. Saya sangat sadar, orang terkadang patah semangat justru hanya semeter sebelum final…….

Lalu apa yang bisa ditarik dari pengalaman sederhana ini? Tidak ada orang yang terlahir sebagai penulis. Itu keyakinan saya. Orang hanya bisa menjadi penulis karena sering menulis dan ‘tahan banting’. Kita terkadang putus asah, padahal sebenarnya hanya selangkah saja menuju sukses. Kalau sempat bertahan, kita pasti jadi penulis. Tetapi berhenti justru pada langkah terakhir.

Terimakasih

Jakarta 09 April 2014 (5 menit sebelum memberikan suara di TPS Gardenia Loka).

4 Responses to DUNIA TULIS MENULIS

  1. teman … terima kasih suatu kisah yang sangat mencerahkan dan memberi inspirasi agar kita kembali menulis apa yang kita lihat, dengar, rasa dan kita lakukan di dunia ini. teman … memang minat itu ada tetapi seringkali ‘mentalblock’ membatasi kita untuk mengaktualisasikan potensi diri kita yang sesungguhnya. saya senang dan bahagia, teman telah menembus di berbagai media terutama kompas. teman … tolong hadirkan kembali Bp. Marcel Beding, Valens Goa Doi dkk di jagad jurnalisme nasional bahkan internasional. saya hanya mau coba dan ikut dari belakang. selama ini baru di flores pos .. itupun tidak rutin! terima kasih

    • robert25868 says:

      Kosmas, terimakasih atas komentarnya. Saya sangat bergembira karena bisa bertemu teman lewat media ini. Saya juga bersyukur kalau sentilan pengalaman yang dilukiskan dalam aneka artikel dapat berguna bagi teman dan pembaca. Oh ya, saya sempat membaca artikel teman di Flores Pos. Ini hal yang bagus. Menulis apa yang dipikirkan dan terus mencoba. Dalam dunia tulis menulis, saya tidak bisa diperbandingkan dengan penulis lain yang lebih hebat. Saya hanya punya satu kemauan keras untuk menulis dan menulis. Bila tidak diterbikan, itu sudah ‘nasib’. Kalau diterbitkan, itu sebuah anugerah. Salam banyak untuk teman sekeluarga.

  2. NIKO says:

    Siang opu-Maki..entaklah saya harus panggil apa? Goresanmu diatas sungguh menginspirasi saya.. Saya mempunyai minat dalam dunia Tulis menulis.. namun belum benar-benar terasah. Saya sedang belajar menulis terus, dan terus juga di motivasi dan di arahkan oleh romo Antonius Sumarwan, SJ (penulis buku : MENYEBERANG SUNGAI AIR MATA). Semoga semakin bersemangat…

    • robert25868 says:

      Terimakasih Ama Niko. Tadi waktu lihat foto baru saya ingat, kita ketemu di rumahnya ama Rofinus Ledjab. Saya yakin, tidak ada yang lahir sebagai penulis ama. Kita hanya mencoba, gagal, dan mencoba lagi. Selamat mencoba. Semoga goresan yang ada bisa memberi inspirasi.

Comments are closed.