PENULIS BUKU: DITAKDIRKAN MISKIN?


Penulis Buku: Ditakdirkan Miskin?

Judul tulisan ini merupakan sebuah peringatan dari seorang sahabat yang sudah lebih dahulu memasuki dunia tulis-menulis buku. Nasihatnya sangat singkat tetapi selalu terngiang di telinga saya: Penulis itu bak sapi perah. Ia akan selalu dipermiskin.

Sebuah penilaian yang tidak ada salahnya. Ada dua cara pembayaran buku penulis. Ada yang beli lepas naskah. Di sana seorang penulis dibayar mulai dari Rp 1,5 juta sampai Rp 15 juta. Kalau buku ‘biasa-biasa’ saja, tentu saja pembayaran itu bisa ‘menguntungkan’ penulis terlepas dari laris tidaknya buku. Tetapi kalau laris, maka semua keuntungan akan menjadi ‘hak’ penerbit.

Saya bayangkan buku-buku saya yang rata-rata dicetak 2000 ex dengan harga Rp 70.000. Artinya, kalau semuanya laris maka ada Rp 140.000.000. Penulis berhak mendapatkan 10% yang artinya Rp 15.000.000. Artinya kalau dibeli oleh penerbit maka itu identik dengan cetakan pertama saja. Apa yang terjadi kalau ada cetakan kedua? (Buku Homili Yang Membumi hanya dalam satu tahun sudah masuk ke cetatakan kedua).

Tetapi itu sebuah pengabadian. Kebetulan semua buku yang diterbitkan di Kanisius (Homili Yang Membumi; Menjadi Fasilitator; Berbuah di Usia Senja), maupun satu lagi kini terbitan Gramedia, tidak pernah ditawarkan model pembayaran beli lepas. Yang ada hanyalah perjanjian royalty yang dibayar setiap 6 bulan pada Februari dan Agustus. Lalu apakah hal ini lebih menguntungkan atau tidak?

Membayangkan buku ‘laris manis’ adalah sebuah mimpi yang baik. Tetapi dalam kenyataan, kita akan berada pada ‘lingkaran setan’ yang selama ini dikeluhkan oleh semua penulis. Yang dimaksud, penulis hanya mendapatkan 10% royalty. Tetapi di atas itu, penulis dikenakan pajak yang tentu tidak sedikit. Kepada penulis dikenakan pajak ‘royalty’. Ada asumsi bahwa semua ‘keuntungan’ itu akan dikenakan pajak.

Sekilas hal itu wajar-wajar saja. Tetapi pajak itu berlangsung secara terus menerus ‘sejauh ada keuntungan’ yang diperoleh penulis. Tak heran, penulis terkenal seperti Tere Liye mengajukan protes dan menghentikan semua kerjasama dengan penerbit untuk tidak lagi menjual bukunya. Alasannya sangat mendasar dan hanya bisa dirasakan oleh penulis sendiri.

Apabila dibandingkan dengan profesi lain, andaikan saja: Lawyer, dokter, pengusaha, dan apapun profesi, andaikata semua berpenghasilan 1 miliar per tahun, maka penulis membayar pajak lebih tinggi. Profesi lain, dari angka 1 miliar itu masih dikurangi dengan tetek-bengek, dan barangkali penghasilan yang kena pajak hanya setengahnya atau kurang dari itu dan dia hanya membayar kurang dari 100 juta. Tentu hal itu akan lebih rendah lagi untuk seorang pengusaha UMKM yang hanya dikenakan 1% dari total penghasilan yang artinya hanya Rp 10 juta.

Hal itu berbeda dengan seorang penulis. Semua penghasilannya dikategorikan sebagai ‘royalty’, artinya seluruhnya akan dikenakan pajak. Bila dihitung maka 50 juta pertama dikenakan pajak 5%, 50 – 250 juta dikenakan pajak 15%, dan di atas itu dikenakan pajak 25%. Artinya seorang penulis membayar pajak sebesar Rp 245 juta. Itu pun semuanya tidak ada ‘neko-neko’ karena pajak penulis dibayar / dipotong langsung oleh penerbit.

Perlakukan pajak seperti ini kelihatan ‘biasa-biasa saja’. Tetapi kalau dilihat profesi seorang penulis yang kebanyakan tidak punya pekerjaan tetap, sesungguhnya beban pajak itu sangat terasa. Selain itu, laris tidaknya buku sangat tidak diprediksi. Bagi penulis hebat, keuntungan sudah ada di tangan. Tetapi penulis pemula akan berada dalam lingkaran ketidakpastian.

Beban pajak seperti inilah yang menjadi alasan bagi penerbit untuk memberikan royalty yang juga tidak banyak. Ada yang memberikan 5-15 persen. Sebagian besar memberikan royalty 10% hal mana dialami penulis dalam dua buku. Singkatnya, penulis berada dalam lingkaran ketidakpastian. Ia punya nama tetapi hidupnya tidak seindah namanya.

Keluar Dari Kemelut

Bagaimana bisa menyikapi kondisi ini? Sebelum tuntutan Tere Liye diterima oleh pihak yang berwewenang, maka kita masih berada dalam lingkaran ini. Hal ini pula yang diingatkan seorang rekan yang sudah jauh lebih dahulu terlibat dalam penulisan buku hal mana membuat saya lebih ‘berhati-hati’ sejak awal.

Ketika menerbitkan buku Homili yang Membumi, saya diberitahu tentang harga buku berkisar Rp 70-75 ribu rupiah. Hal itu karena tebalnya mencapai 320 halaman. Sebuah jumlah yang membuat saya juga terkejut karena ada beberapa hal yang saya tambahkan tanpa menyangka bahwa hal itu akan berimbas pada mahalnya buku.

Setelah mendapatkan bocoran itu saya membayangkan beberapa konsekuensi. Sejak awal sebagai bahan pertimbangan misalnya saya membuat target pasar dan berapa eksemplar yang bisa dibeli. Tanpa tedeng aling-aling saya memesan 550 ex (kemudian saya bahkan memesan lagi 100 ex sehingga total menjadi 650 ex). Hal itu juga karena saya terpanah dengan jumlah diskon 30%. Itu berarti untuk setiap penjualan, saya bisa dapatkan Rp 21 ribu (dari Rp 70rb).

Tetapi sebelum ‘membayangkan’ dengan manis prosentasi keuntungan, mari kita hitung total yang harus dibayar. 650 x Rp 70.000 = Rp 45.500.000. (Wah, dari mana saya bisa peroleh uang tersebut?). Saya lalu gunakan 2 cara. Pertama, saya menghubungi beberapa rekan dan teman yang bisa memastikan pembelian buku. Untung saja saya dapatkan 3 orang yang sanggup mengambil 100 eks tiap orang. Artinya saya punya kwajiban untuk mencari ‘pembeli-pembeli kecil’. Dalam hati saya bilang, kalau mereka tiga bisa membayar (dan saya yakin), maka dana yang masuk adalah Rp 21.000.000.

Saya masih kurang sekitar 24.500.000. Dari mana saya peroleh? Saya lalu ingat bahwa saya bisa andalkan pertemanan dan mengapa tidak, yang saya harapkan adalah teman-teman saya di luar negeri. Saya mulai menulis surat (elektronik) menggambarkan secara jujur apa yang akan terjadi. Di luar dugaan, tanggapan lumayan positif. Dari Belanda, teman saya menyumbang sekitar 11 juta. Dari AS seorang teman sumbang Rp 2,5. Dari Meksiko, dua teman menyumbang hampir Rp 4 juta. Dari Mandrid, sekitar Rp 1,5 juta. Dari Paraguay sekitar Rp 2 juta dan dari Surabaya seorang teman menyumbang 2 juta. Tanpa disadari dana yang masuk adalah 24 juta sama dengan kekurangan yang harus saya bayar.

Saya menjadi tenang. Saya bisa bayar semua hutang dalam penerbitan buku pertama. Saya lalu hanya bisa ‘cari hidup’ dari penjualan 350 buku yang harus saya edarkan ke mana-mana. Untuk jumlah ini saya juga membayangkan kalau sekitar 150an lebih tidak akan dijual alias ‘macet’ (seperti kredit macet ajah). Artinya saya punya 200 eksemplar yang kalau semuanya ‘mulus’ maka bisa masuk sedikit uang sekitar Rp 14 juta (itu di luar perhitungan nanti royalty yang bisa masuk).

Tetapi ‘berkah’ pada buku pertama ini tentu tidak bisa terjadi seterusnya. Tidak mungkin teman yang sudah membantu akan membantu lagi. Maka saya harus sadar akan ‘bahaya’ menulis buku. Harus ada cara lain yang lebih kreatif yang bisa saya lakukan pada buku kedua MENJADI FASILITATOR. Pada buku ini saya lebih berhati-hati. Pertama, sudah lebih ‘ekonomis’ lagi dari jumlah halaman. Buku yang kedua ini saya targetkan hanya setebal 120 halaman saja dan harganya sekitar 40 ribu (ternyata kemudian dijual Rp 35.000).

Buku ini saya buat hanya dalam 1 minggu, merangkum pengalaman memberikan pelatihan fasilitator di Paroki St. Fransiskus Xaverius Tanjung Priok. Dan kebetulan sekali, buku ini akan dijadikan sumber dalam mengadakan pelatihan juga di paroki Lerek Lembata saat liburan Juli 2017. Saya lalu menawarkan di medsos kepada teman-teman separoki apakah berkenan membeli buku dan nanti kita bagikan ke peserta dari tiap stasi.

Tak disangka, ada perhatian yang cukup baik. Ada sekitar 140 buku yang dibeli di media sosial yang akan dibagikan secara gratis kepada peserta pelatihan. Cara seperti ini ternyata cukup membantu pemesanan 200 eksemplar buku yang menjadi tanggung jawab penulis untuk dijual. Apalagi dengan harga buku yang hanya 35 ribu maka tanpa disadari 140 x 35.000 = 4.900.000 dana segar. Sementara kewajiban membayar ke penerbit adalah 25% x 7.000.000 atau Rp 5.250.000. Tidak terlalu meleset dari total pemasukan yang sudah diperoleh. Artinya saya hanya mencari Rp 350.000 lagi untuk menutup tunggakan, hal mana saya peroleh dari penjualan ‘kecil-kecil’ yang ditawarkan ke mana-mana.

Pada buku ketiga, BERBUAH DI USIA SENJA, perhitungan menjadi lain lagi. Saya membayangkan bahwa buku ini yang saya tulis dari permintaan mama saya, akan memiliki perhatian dari banyak pembaca. Saya sendiri hanya memesan 100 ex. Dan ternyata sambutan lumayan positif. Ketika ke toko buku di sebuah paroki, saya melihat bahwa buku yang ada ternyata langsung dibeli dan sudah dipesan baru lagi. Juga hal yang sama ketika saya ke toko buku Gramedia. Buku Menjadi Fasilitator tinggal 4 eks tetapi tidak sama halnya dengan Berbuah di Usia Senja yang tidak ada stok alias stoknya 0. Lumayan juga.

Oh ya, dalam ketiga buku ini, saya juga patut berterimakasih kepada dua orang yang secara dekat membuat resensi buku: Pa Ignas Waning dari Palembang yang membuat resensi buku Homili yang Membumi dan Menjadi Fasilitator. Juga kepada pa Junaidi Khab dari UIN Surabaya yang ternyata membuat resensi buku BERBUAH DI USIA SENJA yang diterbitkan di Jawa Pos. Resensi mereka telah membuat tiga buku ini cukup dikenal oleh pembaca yang mendorong mereka membacanya.

Pada buku keempat, strategi yang diberikan tentu saja berbeda. Kali ini, yang menjadi penerbit adalah Gramedia (Grasindo). Semua proses dilewati seperti biasa tetapi saya juga mulai berpikir bagaimana harus menyosialisasikan buku ini. Kali ini buku umum (pendidikan) dan bukan lagi buku bernuansa agama. Pada tahap pertama, saya menghubungi rekan-rekan kepala sekolah di Gugus 02 Tangerang Selatan. Pada awalnya saya mengunjungi kepala sekolah dan 3 orang mengambil 10 eksemplar. Lumayan saya bilang dalam hati. Yang lainnya dengan sedikit menonjolkan diri, saya coba perkenalkan dan syukur bahwa sambutan yang ada luar baisa. Tadinya saya hanya memesan 100 ex, tetapi akhirnya sampai saat saya tulis pengalaman ini ada 150 buku yang dibeli, diantaranya hampir 110 sudah dibayar lunas. Artinya total yang diperoleh dari penjualan adalah 7,500,000 dipotong 20% berarti penulis harus membayar Rp 6 juta hal mana sudah dilakukan dengan ‘keuntungan’ sedikit yakni Rp 1,5 juta, di luar perhitungan royalty yang baru akan datang 6 bulan ke depan.

Dari pengalaman ini yang saya mau sampaikan bahwa seorang penulis tidak saja ‘menulis’ dan melepaskan semuanya kepada penerbit tetapi harus juga ikut serta dalam marketing. Di sana bisa ada keuntungan sedikit yang jumlahnya tentu sangat sedikit tetapi minimal ada sesuatu di tangan, sambil menunggu dalam harap-harap cemas terhadap royalty yang datangnya masih sangat lama: setengah tahun ke depan.

Oh hal lain yang sangat penting adalah buku menjadi pendorong agar dilaksanakannya kegiatan-kegiatan atau workshop. Penulisan buku tidak bisa berhenti. Sebaliknya melalui workshop dengan pembicara adalah penulis, nilai buku akan juga ‘terjual’. Di sana ada kedekatan khusus yang membuat buku ini akan semakin dikenal. Untuk hal ini saya bersyukur bahwa selama 2017, terdapat 3 workshop yang cukup mendorong penjualan buku terutama Homili Yang Membumi dan Menjadi Fasilitator. Ada sebuah workshop lain yang sebenarnya ‘terlewatkan’ karena saat diselenggarakan workshop, buku CREATIVE TEACHING belum terbit.

Demikian sepenggal pengalaman sederhana dari seorang ‘penulis awal’. Saya baru setahun menjadi penulis buku, meski penulis kolom opini sudah hampir 20 tahun. Kini saya mau memasuki sebuah ‘bisnis’ yang dikisahkan sangat penuh ‘jeratan’ dari penerbit. Tetapi saya sendiri sebagai penulis harus juga punya strategi agar tidak saja menjadi pelengkap penderita tetapi menjadi partner yang bisa mengambil juga keuntungan dan makna (kalau diperbolehkan).

Dengan kata lain, dengan pengalaman ini, saya ingin melihat sisi lain bahwa penulis tidak selalu harus miskin. Kondisi miskin memang ‘bisa terjadi’ kalau tidak ada usaha dari dalam. Sebaliknya seorang penulis harus ‘ikut menikmati jeruh payahnya’ dengan jalan yang dalam perjalanan saya terjadi seperti ini. Robert Bala, 21 Februari 2018.

Advertisements