03. BERBUAH DI USIA SENJA

03. BERBUAH DI USIA SENJA

Penerbit Kanisius Yogyakarta, Agustus 2017

Umur manusia 70 tahun, 80 tahun jika kuat (Mzm 90, 10). Kata-kata yang semakin nyata di Indonesia. Umur harapan hidup telah mendekati apa yang dikatakan oleh Kitab Suci. Saat umur harapan hidup wanita 72 tahun dan walik-laki 68 tahun.

Dengan bertambahnya kesejahteraan, umur semakin panjang. Di sana orang lanjut usia melewati hari-hari yang tidak pendek. Hari terasa lebih panjang lagi karena kesibukan berkurang.

Tetapi apakah masa sekadar dilewati atau merupakan momen berahmat yang bila diisi secara kreatif dapat memberikan buah berlimpah? Pengalaman tokoh besar dalam sejarah yang justru menghasilkan karya agung di masa tua menyadarkan bahwa masa ini sangat potensial.

Tetapi proses menghasilkan buah hanya bisa sukses ketika orang lansia semakin mendekatkan diri pada Tuhan sebagai Air Kehidupan. Mengutip St. Teresa dari Avila: The tree that is beside the running water is fresher and gives more fruit. (Pohon di samping air yang mengalir akan selalu segar dan memberikan banyak buah). Demikian juga manusia yang selalu dekat dengan Tuhan selalu akan terus berbuah hingga masa tuanya.

Bagi orang lansia, berbuah di masa tua dimaknai sebagai menerima kenyataan hidup sebagai sebuah panggilan. Penderitaan, kesendirian, kesepian, adalah momen positif agar kaum lansia semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Berbuah juga bisa dimaknai menyalurkan hal positif yang menjadi akumulasi pengalaman yang ingin disampaikan kepada anak dan cucu. Pengalaman berharga dan bernas itu akan menjadi panduan bagi generasi sesudahnya.

Buku ini berisi 70 renungan yang disusun dengan berpijak pada satu perikop bacaan Kitab Suci. Apakah angka ini kebetulan sesuai dengan umur hidup manusia Indonesia? Hal yang kebetulan ini bisa ditafsir demikian.

Teks selektif dan terpilih ini dibaca dalam perpektif orang lanjut usia. Jelasnya, apa yang mereka rasakan ketika mendengar Sabda Tuhan seperti ini.

Lalu apa yang menjadi kekuatan buku ini? Disusun berdasarkan permintaan seorang lansia, mama Maria Gelole Henakin. Selama beberapa tahun terakhir, ia selalu meminta sebauh buku doa untuk mengisi hari-harinya di usia senja.

Hal ini pula yang menjadi kekuatan buku ini. Setipa refleksi, renungan, bacaan terpilih ditulis dalam sebuah keterikatan batin, menyelami apa yang dirasakan oleh semua lansia.

Sumber bahan dari renungan merupakan hasil dari refleksi pribadi. Meski demikian, beberapa karya merupakan inspirasi yang diperoleh setelah mebaca permenungan yang hampir mirip.

Terimakasih untuk isteriku Maria Fatima Kewa Namang dan putera kami Juan Diego Pius Kedang Tolok, serta keponakan Inesantia Meici Letek, yang merupakan orang terdekat yang memberikan dukungan atas terselesainya karya ini.

Penulis: Robert Bala (robertobala@yahoo.com).

Advertisements