02. MENJADI FASILITATOR YANG MENARIK, EFEKTIF, DAN AKTUAL

02. Menjadi Fasilitator

(Yang Menarik, Efektif, dan Aktual)

Buku Terbitan Kanisius Yogyakarta Juni 2017

Melayani dalam Gereja (Paroki) merupakan kerinduan semua orang. Pada akhirnya, semua profesi lain tidak ada gunanya ketika seseorang tidak merasa ia belum ikut serta melayani dalam Gereja. Tetapi kerap ketidaktahuan atau kurangnya rasa percaya diri menyebabkan orang tidak menerima tugas ini.fasilitator3

Pelatihan fasilitator merupakan salah satu cara memberanikan orang untuk mengemban tugas. Tiga kemampuan yang ingin dicapai dalam pertemuan ini adalah: melatih pesert untuk dapat berbicara secara menarik, efektif dalam menyusun scenario kegiatan dan terutama mampu mengaktualisasikan Sabda Allah secara tepat dan benar.

I. Berbicara (Dibentuk bukan dijadikan) Teknik Dasar ‘Public Speaking’.

Banyak orang merasa gerogi malah gugup ketika diserahkan tugas untuk berbicara. Mereka merasa adanya ‘demam panggung’. Ada rasa takut dan cemas. Rasa takut seperti ini tidak bisa tidak harus diterima. Tetapi sebaliknya perlu dikalahkan dengan melatih diri terus menerus. Banyak orang yang jago berbicara, awalnya mereka merasa takut dan cemas. Namun mereka berlatih terus menerus hingga mencapai level yang dikagumi kini.

Dalam komunikasi, sebuah pembicaraan dapat mengena kalau selalu memperhatikan beberapa unsur berikut ini: sender (pembicara atau pengirim pesan), message (pesan atau berita), receiver (penerima atau komunikan), Feedback (umpan balik), noise (distorsi atau gangguan).fasilitator17

Lalu bagaimana mencapai kemampuan berbicara yang diharapkan? Ada 5 hal yang bisa dikategorikan sebagai The 5 inevitable laws of effective communication atau 5 hukum komunikasi yang baik yang disingkat sebagai REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, dan Humble).fasilitator13

Seorang pembicara yang baik perlu memiliki apresiasi dan penghargaan (respect) terhadap pendengar. Mohana Joau menulis bahwa banyak kali pengkhotbah atau petugas liturgi terlalu memberikan perhatian pada Sabda Allah dan lupa pada ‘umat Allah’ (Bdk Robert Bala, Homili yang Membumi (RB, HYM) hlm 114).

Kesuksesan berbicara juga ditentukan sejauh mana seorang pembicara menempatkan diri di tempat pendengar (empathy). Ia memahami apa yang dialami dan dikehendaki oleh pendengar. Ia memberikan jawaban atas masalah yang dihadapi pendengar. Ia ibarat dengan memancing ikan. Pemancing mencari umpan yang disenangi ikan bukan yang disenangi dirinya.fasilitator14

Pada sisi lain, sebuah pembicaraan juga akan efektif ketika dapat didengar atau dialami. Sebuah pembicaraan perlu disampaikan sedemikian sehingga dapat didengar. Kondisi sebuah ruangan, banyaknya pendengar, memungkinkan seseorang berbicara agar apa yang disampaikan dapat didengar (audible) oleh peserta. Volume karena itu perlu diperhatikan.

Sebuah pembicaraan pun harus diungkapkan secara jelas. Perbedaan latar belakang kultural kolektif maupun kesulitan individual kadang memengaruhi kejelasan dalam berbicara. Karena itu seorang pembicara perlu melatih diri dalam mengucapkan kata-kata sehingga terdengar jelas.humble1

Yang tidak kalah penting adalah kerendahan hati (humble). Kemujuran yang diperoleh seseorang sehingga dapat berbicara atau diberi kesempatan untuk berbicara mestinya dilihat sebagai sebuah berkat. Berkat itu diterima dengan segala kerendahan hati.

Semua unsur ini harus kian mendapatkan perhatian juga dalam pengajaran agama, pertemuan keagamaan (Kitab Suci, masa APP, masa Natal). Ilmu komunikasi atau Public Speaking harus benar-benar diperhatikan. Juga dalam homili (Bdk RB, HYM hal. 251).

II. Fasilitator yang Efektif

Dengan kemampuan dasar ‘public speaking’, seseorang tidak secara otomatis dapat menjadi seorang fasilitator. Memang kemampuan dasar itu dapat membuat seseorang lebih percaya diri, tetapi ia masih butuh perbaikan dan usaha terus-menerus untuk bisa menjadi seorang fasilitator yang baik.facil

Secara harafiah fasilitator berasal dari kata Perancis (facile) atau Spanyol (fácil) atau Latin (facilis) yang dalam bahasa Inggris: to facilitate or how to make it easier (bagaimana membuatnya lebih mudah).

Seorang fasilitator mengemban tugas dan tanggung jawab dalam kebersamaan. Ia tidak menjadi pemeran tunggal. Hal itu berbeda dengan guru yang lebih mendominasi untuk mengajarkan anak-anak. Juga bukan seperti sebuah homili di mana pengkhotbah berbicara dalam keheningan sementara umat diam (terlepas apakah mereka mengerti apa yang dibicarakan atau tidak).katakese

Tugas fasilitator juga berbeda dengan tugas memberikan nasihat. Di sana pemberi nasihat selalu diandaikan memiliki posisi yang lebih tinggi dan karena itu ia hadir untuk memberikan wejangan kepada orang lain.

Seorang fasilitator justru mengambil peran sebagai moderator (mengatur lalulintas sharing), advokat (mendorong orang untuk berbicara), narasumber (setelah mendengar begitu banyak pengalaman ia bisa menjadikannya sebagai bekal saat berbicara) dan menjadi mediator (penghubung).

Tugas seperti ini menempatkan seorang fasilitator sebagai bagian dari kelompok yang menempatkan diri sebagai salah satu dari antara mereka. Ia bukan lagi mengadakan kegiatan pedagogi (mengajar) tetapi lebih tepat sebuah proses adragogi yakni sebuah sharing pengalaman. Perbedaan antara pedagogi dan andragogi ini menjadi kata kunci dalam kesuksesan seorang fasilitator.fasilitator002

Peran seorang fasilitator adalah: (1) Memimpin kelompok tetapi tidak memiliki mimbar atau tempat khusus. (2) Duduk bersama pserta dan merupakan bagian dari kelompok. (3) Memberi animasi, semangat kepada kelompok, (4) mendengar dengan saksama, ajuakn pertanyaan, menjawab pertanyaan-pertanyaan juga.

Proses ini dapat berjalan karena fasilitator memiliki pemahaman bahwa pendengar atau peserta adalah: (1) orang yang telah memiliki banyak pengalaman. Karena itu mereka hadir untuk membagikan pengalaman itu. (2) peserta adalah orang yang sudah terbiasa mensharingkan banyhak hal dan pengalaman mereka sendiri, (3) mereka diperkaya lewat sharing rekan-rekan, (4) mereka secara aktif terlibat dalam proses kelompok.fasilitator5

Atas pemahaman ini, fasilitator akan lebih melaksanakan fungsinya dengan: (1) mendorong peserta untuk mensharingkan pengetahuan dan pengalaman peserta, (2) membantu melihat masalah tertentu dari sudut berbeda, (3) memotiasi peserta untuk ambil bagian dalam proses pembicaraan, (4) membantu memperdalam pemahaman tentang topic tertentu).

Dalam pemahaman ini maka dapat dikatakan bahwa seorang fasilitator memiliki kriteria sebagai berikut: (1) seorang yang mampu dan selalu berusaha untuk membantu kelompok, (2) Seorang yang mampu memperlancar jalannya pertemuan, (3) seorang yang berusaha agar setiap anggota kelompok dapat terlibat dalam pembicaraan dan menyumbangkan sesuatu yang bermutu (4) Menjaga agar kelompok tetap menempuh jalan menuju tujuan yang ditentukan sejak semula (5) tidak terlalu perlu memiliki pendidikan khusus di bagian Kitab Suci, meski pun hal itu berguna, (6) mampu menggunakan pengetahuannya di bidang Kitab Suci pada waktu dan tempatnya.

III. Aktualisasi Sabda Tuhan

Dalam bahasan tentang ilmu komunikasi, penetapan pesan (message) menjadi sangat penting. Selain sender (pengirim informasi) dan receiver (penerima), hal yang paling utama sebenarnya pada ‘pesan; atau message. Bagaimana mengemas pesan itu sehingga dapat secara tepat dipahami?Support

Hal ini sangat mendasar karena apa yang disampaikan yakni ‘Sabda Tuhan’ sudah didengar tidak saja sekali tetapi berkali-kali. Penanggalan Liturgi Katolik telah menetapkan bahwa selama tiga tahun (sesuai tahun A, B, dan C), seluruh isi Kitab Suci sudah pernah dibacakan dan didengarkan).

Dengan demikian apa yang disampaikan telah sudah pernah didengar. Lalu apakah ia memenuhi kriteria sebagai sebuah pesan? Apakah ia dapat menjadi sebuah isyue atau informasi baru hal mana memenuhi unsur sebagai informasi?

Atas dasar ini maka perlu proses aktualisasi. Bacaan yang didengar berulang-ulang dan sudah terjadi ‘in illo tempore’ (pada waktu itu) harus dibuat menjadi aktual (Bdk. RB, HYM pp. 159-205).

Materi workshop di berbagai paroki selanjutnya diperdalam hingga telah menjadi sebuah buku dengan judul: MENJADI FASILITATOR menarik, efektif, dan aktual, Penerbit Kanisius Juni 2017.

Aktualisasi pesan mengandung beberapa pengertian yakni mencari karakter masa depan dari bacaan. Apa yang disampaikan di masa lalu ternyata sudah mencirikan sebuah pemenuhan untuk masa yang akan datang. Hal ini pula yang terjadi dengan wahyu Allah. Ia terjadi satu kali tetapi mengalami proses progresif sehingga memperoleh pemenuhan secara terus menerus.

Hal ini selalu mendorong seorang fasilitator untuk selalu mengaktualkan pesan itu. Upaya ini sebenarnya sangat inspiratif dan telah dilaksanakan sendiri oleh Yesus dari Nasareth. Ketika Ia masuk ke Sinagoga dan membacakan kutipan dari Yesaya, Yesus melaksanakan proses aktualisasi dengan menunjukan pemenuhan apa yang barusan dibaca: Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendnegarnya” (Lukas 4, 21).fasilitator6

Proses ‘menunjukkan’ (atau disebut indikasi) adalah proses aktualisasi yang harus dilaksanakan setiap kali berbicara tentang Sabda Allah. Seorang fasilitator, pengkhotbah, katekis, harus mengakhiri setiap kegiatan dengan menunjukkan bahwa apa yang disampaikan ‘ribuan tahun lalu’ kini telah terpenuhi.

Pemenuhan itu terjadi dalam setiap peristiwa tanda zaman. Tanda zaman oleh Casiano Floristan diartikan sebagai: peristwai historis yang cukup mendalam, bersifat universal dan berulang-ulang ditangkap dengan nurani manusia, dengan rti khusus untuk memwahyukan arah ke mana manusia harus mengarahkan secara sadar kemanusiaannya sesuai dengan kebutuhan dan kerinduannya (RB, HYM pp. 123-153).

Dalam hidup terlampau banyak tanda. Memang tidak semua tanda disebut tanda zaman karena itu membutuhkan kejelian dalam menilai dan menafsir. Tanda itu bisa ditemukan kapan dan di mana saja termasuk dalam pertemuan Kitab Suci. Sharing pengalaman yang sangat berharga bisa saja menyibak tanda yang tengah terjadi.

Pada proses itu kita menjadi sadar bahwa apa yang disampaikan Tuhan 2000 (atau lebih) tahun yang lalu kini terwujud secara nyata. Kitapun menjadikan topi yang menarik karena apa yang tengah terjadi kini dan jadi ‘buah bibir’ ternyata memenuhi apa yang sudah diwahyukan sebelumnya.

Pengalaman yang ada yang hadir dalam sharing yang dikemukakan inilah yang menjadi perhatian seorang fasilitator. Sebagai seorang moderator ia bisa memberanikan semua orang untuk bisa berbicara dan berbagi karena justru di sana ada tanda zaman yang perlu kita sama-sama pelajari.interesting

Ia juga memberanikan orang untuk keluar dari ketakutan dan bisa berbagi. Ibarat advokat ia mengungkit, mengemukakan pertanyaan yang mendorong orang untuk berbicara. Tetapi untuk sampai pada proses ini tentu butuh latihan. Seorang fasilitator yang hebat hanya bisa mencapainya kalau ia sendiri berlatih terus-menerus, dalamnya terdapat juga kegagalan yang bisa saja terjadi.

Robert Bala (www.bertoamigo.wordpress.com, Facebook: Menggugat dan Menggagas Homili, Kontak untuk pelatihan ke robertobala@yahoo.com). Materi ini dibawakan dalam pelatihan fasilitator Paroki Fransiskus Xaverius Tanjung Priok Jakarta 25 Februari 2017.

Advertisements