01. HOMILI YANG MEMBUMI

01. HOMILI YANG MEMBUMI

Oleh RD.Sridanto Aribowo Nataantaka, Pr

Di saat Ulang Tahun atau perayaan besar seperti Natal dan Paskah, kita bertanya, hadiah ap ayang bisa kita berikan kepada agen pastoral kita (entah Pastor, Prodiakon, Katekis). Kita mencari sesuatu yang bermanfaat untuk tugas pastoralnya.

Buku HOMILI YANG MEMBUMI dapat menjadi sebuah alternatif. Kita berikan sebagai hadiah karena mereka perlu memperdalamnya dan selanjutnya mengaplikasikannya dalam pastoral, khususnya dalam membawakan renungan atau homili.

Buku ini baik untuk dibaca oleh para imam, para pemberi homili/renungan atau pengkotbah, para pro-diakon awam paroki yang kerap juga diminta untuk memberi pelayanan membagi komuni orang sakit dengan homili, dan juga para religious (suster) atau (bruder) yang kerap diminta untuk memberikan homili, renungan atau kotbah bagi anggota komunitas di biara masing-masing. Karena itu buku ini dapat menjadi sebuah hadiah yang bermanfaat untuk para agen pastoral kita.cover-final-homili-yang-membumi

Mengapa? Ketika membaca buku HOMILI YANG MEMBUMI, kesan saya pertama adalah betapa kaya referensi bacaan yang ikut mewarnai penulisan buku ini. Pengandaiannya wawasan penulis berlatar belakang teologis, pastoral-homiletis, liturgis dan sejumlah pengalaman public speaking dengan sejumlah pendapat tokoh tokoh homiletika yang sebagian besar dari Spanyol, ikut memperkaya pembaca bagaimana homili itu sepantasnya dipersiapkan dengan baik, matang, inspiratif dan menarik.

Secara singkat buku ini mengajak pembaca untuk bisa menelanjangi homili para pengkotbah yang kerap kurang disiapkan, kurang up date, atau mungkin kurang terkomunikasi kan dengan baik kepada umat. Belum lagi hal hal teknis praktis yang kerap diabaikan oleh para pengkotbah. Penulis mencoba mengupasnya dengan latar belakang ilmiah akademis, sehingga sumber sumber apa yang dikatakannya dengan mudah dapat ditelusuri.

Praktis dan Akademis

Bagaimana buku ini sebaiknya digunakan? Buku ini selain dibaca dan direnungkan, baik pula jika isinya dipraktekkan sebagai upaya memperkaya kazanah homili kita. Gugatan homili pada bab I hendaknya cukup menyadarkan bahwa homili kita memang sepantasnya harus dipersiapkan dengan baik. Dalam bab II penulis menekan kembali arti dan makna homili sebagai suatu pelayanan yang tentu saja dikaitkan dengan pelayanan sakramental Ekaristi.Sementara itu dalam bab III penulis mencoba melihat tanda tanda zaman dalam kaca mata homili. Homili yang baik mampu mengajak pendengarnya untuk juga bisa menangkap tanda tanda jaman. dalam bab IV penulis menekankan pentingnya aktualisasi pesan. Homili yang sempurna tentu juga menggerakkan pendengarnya untuk berbuat sesuatu sesuai dengan iman yang diyakini dalam Sabda Allah. Dalam bab V penulis akhirnya juga memberikan beberapa gagasan kreatif terkait bagaimana homili disajikan mulai dari perencanaan, hingga di depan mimbar sabda.sridanto4

Sekali lagi buku ini adalah buku yang praktis namun sekaligus akademis. Praktis karena banyak pengetahuan terkait dengan homili yang bisa dipakai secara praktis oleh para pembawa homili. Namun buku ini sekaligus juga bersifat akademis, karena kaya dengan pendapat pendapat para ahli yang mengulas habis tentang ilmu homiletika.

Buku ini sangat memperkaya kazanah liturgi terutama di tingkat Keuskupan Agung Jakarta ini. Umat KAJ yang begitu kritis, namun juga aktif dan dinamis tentu saja merindukan suatu perayaan liturgi yang hidup dan memerdekakan melalui pewartaan Sabda Allah, perayaan iman dalam liturgi, dan secara khusus melalui pembawa homili yang menghidupkan Sabda Allah.homili-yang-membumi-resensi

Singkat kata saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh semua pengampu yang terkait dengan pewartaan sabda Allah, khususnya para pembawa homili, para imam, para prodiakon awam, para seminaris seminari tinggi, para religius dan seluruh umat beriman.

(RD.Sridanto Aribowo Nataantaka, Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Jakarta)

Advertisements