RINGKASAN MATERI PEDAGOGIK UNTUK UKG

RANGKUMAN MATERI PEDAGOGIK UKG (UJI KOMPETENSI GURU)

Pengantar

Bulan November 2015 diadakan Ujian Kompetensi Guru (UKG) untuk semua guru. Bila sebelumnya UKG diperuntukkan bagi yang telah memiliki NUPTK, kali ini dilakukan untuk semua guru baik yang sudah maupun belum memiliki NUPTK.

Untuk hal ini, tentu saja guru menjadi panik. Apa yang harus dipelajari? Apa yang akan ditanayakan? Bagaimana model UKG? Belajar dari pengalaman sebelumnya, tindakan praktis adalah mencari soal. Hal itu bisa saja membantu. Tetapi mestinya ada hal yang lebih strategis. Sebagai guru, saya lakukan adalah membedah dulu kisi-kisi.

Dari kisi-kisi itu saya peroleh beberapa kesimpulan sementara (semoga tidak keliru). Pertama, UKG kali ini dikonsentrasikan apda dua kompetensi guru yakni pedagogik dan profesional. Kemampuan pertama mengandaikan berlaku untuk semua guru. Sebagai guru, harus diketahui pedagogi mengajar. Sementara itu kapasitas profesional mengarah kepada mata pelajaran yagn diampuh. Hemat saya kompetensi profesional mestinya tidak menjadi kendala.

Namun dari segi kompetensi pedagogi bisa menjadi masalah. Teori pendidikan harus ‘dibongkar’ lagi. Ditinjau dari acuan kisi-kisi maka ada beberapa hal penting yang menjadi materi untuk menguji kemampuan pedagogik guru. Kemampuan itu bisa diringkas sebagai berikut:
1. Persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang guru:
2. Pengertian pembelajaran dan komponennya
3. Teori-teori pembelajaran
4. Ciri-Ciri pembelajaran
5. Pendekatan dan metode pembelajaran
6. Prinsip dan pengembangan Kurikulum
7. Evaluasi Pengalaman Belajar
8. Teknik dan Instrumen Penilaian
9. Ciri-ciri tes yang baik
10. Langkah-Langkah pengembangan teori pembelajaran
11. Karakteristik peserta didik.
Semua bahan di atas diringkas berikut ini yang nota bene ‘dicomot’ dari berbagai sumber. Kelihatan belum sempurna tetapi bisa dijadikan bahan pelajaran. Selamat membaca dan menikmati.
I. PERSYARATAN YANG HARUS DIMILIKI OLEH GURU
Ada 4 komptensi pendidik yakni: Kepribadian, sosial, pedagogik, dan profesional. Dalam UKG November 2015, hanya ada dua kompetensi yang diujikan yakni pedagogik dan profesional.

1.1. Kompetensi Kepribadian:
(1) Mantap dan stabil, (2) Dewasa, (3) Arif, (4) Berwibawa (5) Teladan. Seorang guru diharapkan memiliki kestabilan dan mantap karena harus berhadapan dengan peserta didik yang justeru memiliki kondisi berbeda. Hal yang sama juga dituntut kedewasaan diri. Selanjutnya dengan kemampuan itu diharapkan guru dapat secara arif dan berwibawa memberi contoh. Kekuatan dari guru adalah menyajikan diri sebagai model. Itu berarti hal paling utama yang diajarkan guru adalah menjadi pribadi yang baik. Jelasnya, sebagai pribadi matang, iamengarahkan siswa agar menjadi pribadi yang baik pula.

1.2. Kompetensi Pedagogik

Kemampuan akademik meliputi (1) Memahani peserta didik. Guru perlu mengenal dengan baik siswa. Siswa adalah subyek karena itu guru tidak mengajar papan kosong tetapi pribadi yagn memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal ini harus dikenal dengan baik.. Di atas pengenalan itu, (2) guru dapat merancang pembelajaran. Pembelajaran itu diharapkan (3) pelaksanaan pembelajaran diharapkan sesuai sesuai dengan kebutuhan siswa.

Setelah proses pengajaran, maka (4) guru perlu mengadakan evaluasi. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah hal yang diajarkan itu sudah diterima dengan baik atau belum. Evaluasi karena itu memberikan gambaran menyeluruh. Dari evaluasi dapat diketahui kemampuan siswa selain itu juga apakah guru telah megnajar secara tepat atau tidak. Dari sini dapat muncul tindakan lanjutan.

Di atas evaluasi, hal paling penting yang mestinya jadi pertanyaan (5), apakah proses pengajaran itu telah mengolah semua kemampuan potensial siswa? Proses evaluasi terus menerus akan menjadi masukan. Tujuannya agar semua kemampuan siswa dapat dimaksimalkan.

1.3. Kompetensi profesional
Dari sisi profesionalisme, ada dua hal yang dituntut dari guru yakni menguasai substansi ilmu terkait dengan bidang studi. Untuk hal ini guru diharapkan untuk terus memampukan dirinya dengan kemampuan aktual berkaitan dengan substansi ilmu. Ilmu selalu berkembang dank arena itu guru harus menyesuaikan kemampuannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang diampunya.

Untuk hal ini kemampuan membaca menjadi hal yang sangat mendasar. Guru yang membaca akan selalu mengaktualkan pengetahuannay sehingga ia dapat memberikan arahan yang benar dalam kegiatan belajar mengajar.

Dalam kaitan dengan profesionalisme, ada hal yang lebih mendasar. Guru tidak sekedar menjadi ‘penyampai’ informasi dari buku cetak. Ia tidak sekedar membacakan apalagi. Yang harus dilakukan adalah guru perlu mengadakan penelitian tindakan kelas. Tujuannya agar dapat diperoleh pembaharuan yang diperoleh dari evaluasi guru denagn ruang lingkup konkritnya. Di sinilah profesionalisme guru diuji.

1.4. Kemampuan Sosial
Dari sisi sosial, tiga hal penting yang perlu dikembangkan guru yakni (1) komunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik. Komunikasi ini penting. Guru harus dapat bergaul dengan siswa. Ia tetap menjaga wibawa tetapi ia pun tidak menjaga jarak yagn terlalu jauh dengan siswa.

Komunikasi juga dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan. Sesama guru seprofesi perlu dilakukan komunikasi. Seorang guru perlu ‘gaul’ dengan teman sejawat. Hanya dengan demikian ia dapat memperoleh informasi yang baik demi meningkatkan keilmuannya.

Pada akhirnay diperlukan komunikasi dan gaul dengan orang tua / wali dan masyarakat. Hal ini penting karena dengan itu guru akan mendapatkan input dan masukan. Guru hanya mengajar siswa dalam konteks masyarakat. Lewat komunikasi dengan masyarakat dapat terjalin sebuah hasil yagn saling memuaskan. Guru dapat menghasilkan sesuatu sebagaimana diharapkan masyarakat. Pada sisi lain masyarakt juga terlibat dalam proses pendidikan itu sendiri.

II. PENGERTIAN PEMBELAJARAN DAN KOMPONENNYA

Secara umum,  pembelajaran itu adalah suatu sistem yang di dalamnya terdiri atas berbagai komponen pembelajaran satu sama lain yang saling berkaitan. Sementara itu yang dimaksud dengan pelaksanaan pembelajaran yaitu operasionalisasi atas perencanaan pembelajaran yang telah dibuat. Dengan demikian dalam pelaksanaannya tentu akan sangat bergantung dengan perencanaan pengajaran itu sendiri.PEMBELAJARANKomponen utama dalam pembelajaran mencakup tujuan, isi, metode dan evaluasi. Apa yang menjadi inti dan tujuan disampaikan secara tepat melalui metode mengena. Kemudian dievaluasi apakah sudah tercapai atau tidak.

Dari uraian di atas, maka pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relative lama dan karena adanya usaha.Komponen-komponennya meliputi ( 1) – Siswa (2) Guru (3) Tujuan (4) Isi pelajaran (5) Metode (6) Media (7) Evaluasi.

Jika kita simpulkan, maka komponen pembelajaran itu merupakan sebuah kumpulan beberapa item satu sama lain yang saling terhubung dan itu merupakan hal terpenting di dalam proses kegiatan belajar mengajar. Oleh sebab itu untuk mengetahui apa saja komponen-komponen yang berperan penting di dalamnya bisa anda simak berikut ini :

• Kurikulum
Jadi kurikulum ini digunakan sebagai rancangan pendidikan yang kedudukannya sangat penting dalam segala aspek pendidikan. Bahkan dengan mengingat pentingnya peran dari kurikulum dalam perkembangan pendidikan, maka di dalam penyusunannya juga tidak dapat dilakukan apabila tidak memiliki landasan yang kuat. Sementara itu fungsi dari kurikulum ini adalah :
1. Sebagai alat dalam mencapai tujuan pendidikan
2. Sebagai alat ukur atau barometer keberhasilan program pendidikan
3. Bisa digunakan sebagai pedoman ataupun patokan dalam meningkatkan kualitas pendidikan• Guru
Di sini guru memiliki peran penting dalam membentuk siswa. Selain itu peran dari guru juga tidak hanya sebagai pengajar saja, melainkan juga sebagai pengembang, pembimbing
 
dan pengelola pembelajaran. Adapun fungsi dari guru adalah :
1. Sebagai contoh untuk semua anak
2. Sebagai pendidik
3. Sebagai pengajar dan pembimbing
4. Sebagai pelajar maupun administrator pendidikan• Siswa
Murid atau siswa di sini digunakan sebagai seseorang yang
turut mengikuti program pendidikan, baik di sekolah maupun di lembaga pendidikan yang lain. Akan tetapi jangan selalu menganggap siswa tidak tahu mengenai apa-apa, karena mereka juga memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Adapun fungsi dari siswa adalah :
1. Objek yang menerima pelajaran
2. Objek yang turut menentukan hasil pembelajaran • Metode
Maksud dari metode pembelajaran yaitu sebuah upaya yang bisa dilakukan dalam membantu proses belajar supaya bisa berjalan lebih baik. Untuk fungsinya sendiri adalah :
1. Untuk memperlancar dan memudahkan proses belajar
2. Membantu pengajar dalam menjelaskan materi kepada peserta didik
3. Membantu peserta didik untuk menjadi lebih berani, aktif dan juga mandiri• Materi
Materi memang haruslah didesain dengan baik agar bisa sesuai dalam mencapai tujuan pendidikan. Adapun fungsinya adalah :
1. Untuk memperluas dan menambah pengetahuan peserta didik
2. Sebagai dasar pengetahuan bagi siswa untuk pembelajaran
3. Menjadi bahan yang digunakan dalam pembelajaran • Media (alat pembelajaran)
Jadi media ini menjadi perantara antara si pengantar pesan dengan si pengirim pesan. Adapun bentuknya bisa berupa software ataupun hardware sebagai alat bantu belajar. Sementara itu fungsinya adalah :
1. Bisa memberi pengaruh baik dan memperlancar interaksi antara pengajar dan peserta didik
2. Bisa lebih efektif dalam hal tenaga dan juga waktu
3. Bisa menjalin hubungan antar pribadi anak dengan lebih baik• Evaluasi
Ini adalah tindakan untuk menentukan nilai atas suatu hal (dalam konteks hasil pendidikan). Untuk fungsinya sendiri adalah :
1. Memberikan laporan hasil belajar kepada orang tua siswa
2. Mengetahui keefektifan suatu metode belajar
3. Untuk mengetahui kemampuan peserta didikJadi dalam proses belajar mengajar memang sangat dibutuhkan peranan komponen pembelajaran demi tercapainya proses pembelajaran yang baik, efektif dan efisien.

III. TEORI-TEORI PEMBELAJARAN

a. Behavioristik
Pembelajaran selalu memberi stimulus kepada siswa agar menimbulkan respon yang tepat seperti yang kita inginkan. Hubungan stimulus dan respons ini bila diulang kan menjadi sebuah kebiasaan.selanjutnya, bila siswa menemukan kesulitan atau masalah, guru menyuruhnya untuk mencoba dan mencoba lagi (trial and error) sehingga akhirnya diperoleh hasil.

Intinya: Teori ini terfokus pada tingkah laku seseorang atas hasil dari sebuah interaksi yang telah terjadi. Adapun hasil itu bisa berupa perubahan dari segi tingkah laku menjadi lebih baik.

b. Kognitivisme
Pembelajaran adalah dengan mengaktifkan indera siswa agar memeperoleh pemahaman sedangkan pengaktifan indera dapat dilaksanakan dengan jalan menggunakan media/alat bantu. Disamping itu penyampaian pengajaran dengan berbagai variasi artinya menggunakan banyak metode.

Teori ini terfokus pada kemampuan kognitif individu dengan melalui tahapan proses pembelajaran. Jadi kemampuan ini akan mencakup suatu proses pendidikan, bisa berupa kegiatan langsung maupun peran langsung dari setiap individu pada suatu peristiwa tertentu.
c. Humanistik
Dalam pembelajaran ini guru sebagai pembimbing memberi pengarahan agar siswa dapat mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai manusia yang unik untuk mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya sendiri. Dan siswa perlu melakukan sendiri berdasarkan inisisatif sendiri yang melibatkan pribadinya secara utuh (perasaan maupun intelektual) dalam proses belajar, agar dapat memperoleh hasil.

Intinya: Teori ini lebih terfokus pada peran dari pendidikan sebagai penyedia untuk memberikan pembelajaran yang baik terhadap para siswa. Adapun dalam teori ini juga menjelaskan bahwa proses pembelajaran itu merupakan sebuah cara untuk mencetak kepribadian orang di dalam lingkungannya agar menjadi seseorang yang lebih kooperatif yang mana diharapkan bisa mengembangkan potensi untuk mencapai tujuan hidup.

d. Sosial/Pemerhatian/permodelan
Proses pembelajaran melalui proses pemerhatian dan pemodelan Bandura (1986) mengenal pasti empat unsur utama dalam proses pembelajaran melalui pemerhatian atau pemodelan, yaitu pemerhatian (attention), mengingat (retention), reproduksi (reproduction), dan penangguhan (reinforcement), motivasi (motivation). Implikasi daripada kaedah ini berpendapat pembelajaran dan pengajaran dapat dicapai melalui beberapa cara yang berikut:
• Penyampaian harus interaktif dan menarik
• Demonstasi guru hendaklah jelas, menarik, mudah dan tepat
• Hasilan guru atau contoh-contoh seperti ditunjukkan hendaklah mempunyai mutu yang tinggi.

Inti: Teori ini mempunyai keterkaitan dengan perilaku sebagai bentuk proses penguatan serta mempunyai peluang untuk mengalami pengulangan. Adapun pada teori ini juga diberlakukan pemberian hukuman atas perilaku negatif yang dilakukan karena terjadi ketidaksesuaian.

IV. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN

Ciri-ciri pembelajaran yang menganut unsur2 dinamis dalam proses belajar siswa sebagai berikut :
a. Motivasi belajar
b. Bahan belajar
c. Alat bantu belajar
d. Suasana belajar: (1) komunikasi dua arah (2). gairah dan gembira
e. Kondisi siswa yang belajar: (1) setiap siswa unik (2) kesamaan siswa

Oemar Hamalik (1999) memaparkan tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran, yaitu:
1. Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran, dalam suatu rencana khusus.
2. Kesalingtergantungan, antara unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial, dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
3. Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Ciri ini menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dan sistem pemerintahan, semuanya memiliki tujuan. Sistem alami seperti: ekologi, sistem kehidupan hewan, memiliki unsur-unsur yang saling ketergantungan satu sama lain, disusun sesuai dengan rencana tertentu, tetapi tidak mempunyai tujuan tertentu.
Tujuan sistem menuntun proses merancang sistem. Tujuan utama sistem pembelajaran agar siswa belajar. Tugas seorang perancang sistem adalah mengorganisasi tenaga, material, dan prosedur agar siswa belajar secara efisien dan efektif.
Selanjutnya ciri-ciri pembelajaran lebih detail adalah sebagai berikut:
1. Memiliki tujuan, yaitu untuk membentuk siswa dalam suatu perkembangan tertentu.
2. Terdapat mekanisme, prosedur, langkah-langkah, metode dan teknik yang direncanakan dan didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3. Fokus materi ajar, terarah, dan terencana dengan baik.
4. Adanya aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungya kegiatan pembelajaran.
5. Aktor guru yang cermat dan tepat.
6. Terdapat pola aturan yang ditaati guru dan siswa dalam proporsi masing-masing.
7. Limit waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
8. Evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi produk.
Yang menjadi kunci untuk menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran dan guru itu sendiri. Kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dikembangkan dan diapresiasi. Mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan.
Pada prinsipnya pembelajaran harus melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Identifikasi kebutuhan pendidikan dan pelatihan (perumusan masalah).
2. Analisis kebutuhan untuk mentransformasikannya menjadi tujuan-tujuan pembelajaran (analisis masalah).
3. Merancang metode dan materi pembelajaran (pengembangan suatu pemecahan).
4. Pelaksanaan pembelajaran (eksperimental).
5. Menilai dan merevisi.

 

Ciri-Ciri Pembelajaran dalam Pendidikan
Guru dapat menyusun program pembelajaran berdasarkan pandangan Skinner. Dalam menerapkan teori Skinner, guru perlu memperhatikan dua hal yang penting, yaitu (1) pemilihan stimulus yang diskriminatif; dan (2) penggunaan kekuatan. Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar maka responnya menjadi lebih baik. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut:
1. Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon pebelajar.
2. Adanya respon si pebelajar.
3. Konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut. Pemerkuat pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respon si pebelajar yang baik diberi hadiah, sebaliknya, perilaku respon si pebelajar yang tidak baik diberi teguran dan atau hukuman.
Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori condisioning operan sebagai berikut:
1. Mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positif dan negatif, untuk diberi tindakan yang sesuai.
2. Membuat daftar penguat positif. Guru mencari perilaku yang lebih disukai oleh siswa, perilaku yang kena hukuman dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat.
3. Memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya.
4. Membuat program pembelajaran. Program pembelajaran ini berisi urutan perilaku yang dkehendaki, penguatan, waktu mempelajari perilaku siswa dan evaluasi.

V. PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN
5.1. PENDEKATAN
1. Pendekatan Konsep (penguasaan konsep dan subkonsep, guru terlalu dominan)
2. Pendekatan Lingkungan(mengaitkan lingkungan dalam proses belajar
3. Pendekatan Inkuiri (mengendalikan situasi yang dihadapi ketika berhubungan dg dunia fisik)
4. Pendekatan Proses (pengamatan, menafsirkan data, mengkomunikasikan hasil pengamatan)
5. Pendekatan Interaktif (pendekatan pertanyaan anak, memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan)
6. Pendekatan Pemecahan Masalah (masalah yang dipecahkan melalui praktikum/pengamatan)
7. Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)
8. Pendekatan Terpadu (Integrated Approach) – memadukan dua unsur atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran.
B. METODE
1. Metode Ceramah (penyampaian bahan pelajaran secara lisan)
2. Metode Tanya Jawab (pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan sudah direncanakan sebelumnya)
3. Metode Diskusi Metode diskusi adalah cara pembelajaran dengan memunculkan masalah.
4. Metode Kooperatif (siswa berada dalam kelompok kecil 4-5 orang)
5. Metode Demonstrasi (memeragakan suatu proses kejadian)
6. Metode Karyawisata/Widyawisata (membawa siswa mempelajari materi di luar kelas)
7. Metode Penugasan (memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar)
8. Metode Eksperimen (menggunakan percobaan)
9. Metode Bermain Peran (pembelajaran dengan cara seolah-olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep)

VI. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
Asep Herry Hernawan dkk. (dalam Sudrajat, 2007) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu:

1. Prinsip relevansi
Kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sebaliknya, secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis)

2. Prinsip fleksibilitas
mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur, dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.

3. Prinsip kontinyuitas
adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar- jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.

4. Prinsip efisiensi –
mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.

5. Prinsip efektivitas
yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas. Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
(a) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
(b) Beragam dan terpadu
(c) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
(d) Relevan dengan kebutuhan kehidupan
(e) Menyeluruh dan berkesinambungan
(f) Belajar sepanjang hayat
(g) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

VII. EVALUASI PENGALAMAN BELAJAR
1. Evaluasi merupakan proses untuk memperoleh seberapa jauh pengalaman belajar berkembang dan terorganisasi yang benar-benar menghasilkan hasil yang diinginkan,
2. Evaluasi merupakan proses yang sistematis artinya dalam pengajaran kegiatan ini tentu direncanakan, berkesinambungan dari awal hingga akhir pelaksanaan program.
3. Dalam evaluasi diperlukan berbagai informasi atau data yang nantinya akan diolah dan hasilnya akan dijadikan sebagai dasar untuk mengambil keputusan.
4. Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan pencapaian hasil belajar siswa.

Dengan demikian evaluasi dapat berfungsi:
1. Mengetahui kemajuan, perkembangan, dan keberhasilan siswa setelah mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Hasil evaluasi yang diperoleh itu dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa.
2. Mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran.
3. Sumber informasi atau data bagi pelayanan BK kepada siswa.
4. Untuk pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.

VIII. TEKNIK INSTRUMEN PENILAIAN
1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik.
2. Teknik tes berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja.
3. Teknik observasi atau pengamatan dilakukan selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran.
4. Teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek.
5. Instrumen penilaian hasil belajar yang digunakan pendidik memenuhi persyaratan (a) substansi, adalah merepresentasikan kompetensi yang dinilai, (b) konstruksi, adalah memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan, dan (c) bahasa, adalah menggunakan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik.
6. Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk ujian sekolah/madrasah memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, dan bahasa, serta memiliki bukti validitas empirik.
7. Instrumen penilaian yang digunakan oleh pemerintah dalam bentuk UN memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, bahasa, dan memiliki bukti validitas empirik serta menghasilkan skor yang dapat dibandingkan antar sekolah, antar daerah, dan antar tahun

Berikut uraian lebih lengkap tentang Teknik Instrumen Penilaian.

1. Pendahuluan

Perlu diketahui bahwa dalam proses penilaian hasil belajar peserta didik diperlukan metode atau teknik serta instrumen yang perlu diperhatikan dan disiapkan, agar nantinya tujuan pembelajaran dapat tercapai. Teknik dan instrumen yang digunakan ini yang akan memberikan informasi kepada guru terhadap keadaan dan prestasi yang dicapai oleh peserta didik.

Teknik dan instrumen penilaian hasil belajar yang dapat dikembangkan oleh guru dapat berupa penilaian jenis tes, non-tes, penilaian berbasis kelas, penilaian kinerja, dan juga penilaian portofolio. Berikut ini akan kami paparkan sedikit gambaran teknik, metode, dan instrumen penilaian yang dapat dilakukan oleh guru dalam mengevaluasi peserta didiknya. Sebagai seorang guru nantinya dituntut tidak hanya mampu untuk membuat instrumen penilaian hasil belajar peserta didik, tetapi mampu mengaplikasikan dan menggunakan instrumen penilaian tersebut.

2. Metode, Teknik, dan Instrumen Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik

Ada beberapa teknik dan alat penilaian yang dapat digunakan guru sebagai sarana untuk memperoleh informasi tentang keadaan belajar siswa. Penggunaan berbagai teknik dan alat itu harus disesuaikan dengan tujuan penilaian, waktu yang tersedia, sifat tugas yang dilakukan siswa dan banyaknya/jumlah materi pelajaran yang sudah disampaikan.

Teknik penilaian adalah metode atau cara penilaian yang dapat digunakan guru untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan belajar dan prestasi peserta didik. Teknik penilaian yang memungkinkan dan dapat dengan mudah digunakan oleh guru antara lain:

A. Teknik Tes

Istilah “tes” berasal dari bahasa Perancis, yaitu “testum”, berarti piring yang digunakan untuk memilih logam mulia dari benda-benda lain, seperti pasir, batu, tanah, dan sebagainya. Tes merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran, yang di dalamnya terdapat serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh sesesorang atau kelompok.

Dilihat dari bentuknya, maka penilaian jenis tes ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. Tes Tertulis

Tes tertulis adalah tes yang soal-soalnya harus dijawab peserta didik dengan memberikan jawaban tertulis. Jenis tes tertulis secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:

(1) Tes Bentuk UraianBentuk uraian dapat digunakan untuk mengatur kegiatan-kegiatan belajar yang sulit diukur oleh bentuk objektif. Disebut bentuk uraian, karena menuntut peserta didik untuk menguraikan, mengorganisasikan dan menyatakan jawaban dengan kata-katanya sendiri dalam bentuk, teknik, dan gaya yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Dilihat dari luas-sempitnya materi yang ditanyakan, maka tes bentuk uraian ini dapat dibagi menjadi 2 bentuk, yaitu:

(a) Uraian Terbatas (Restricted Respons Items)

Dalam menjawab soal bentuk uraian ini, peserta didik harus mengemukakan hal-hal tertentu sebagai batas-batasnya. Walaupun kalimat jawaban peserta didik itu beraneka ragam, tetap harus ada pokok-pokok penting yang terdapat dalam sistematika jawabannya sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan dan dikendaki dalam soalnya. Contoh:

  • Jelaskan bagaimana prosedur operasional sebuah pesawat komputer!
  • Sebutkan lima komponen dalam sistem komputer!
  • (b)  Uraian Bebas (Extended Respons Items)

Dalam bentuk ini peserta didik bebas untuk menjawab soal dengan cara dan sistematika sendiri. Peserta didik bebas mengemukakan pendapat sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, setiap peserta didik mempunyai cara dan sistematika yang berbeda-beda. Namun, guru tetap mempunyai acuan atau patokan dalam mengoreksi jawaban peserta didik nanti. Contoh:

  • Bagaimana perkembangan komputer di Indonesia, jelaskan secara singkat!
  • Bagaimana peranan komputer dalam pendidikan!

Dalam menyusun soal bentuk uraian, ada baiknya guru mengikuti petunjuk praktis berikut ini.

  • (1) Setiap pertanyaan hendaknya menggunakan petunjuk dan rumusan yang jelas dan mudah dipahami.
  • (2) Jangan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih beberapa soal dari sejumlah soal yang diberikan, sebab cara demikian tidak memungkinkan untuk memperoleh skor yang dapat dibandingkan.
  • (3) Instrumen soalnya dapat berupa: menjelaskan, menelaah, mendeskripsikan, membandingkan, mengemukakan kritik, memecahkan masalah, dan lain sebagainya.

Terdapat kelebihan dan kekurangan yang dimiliki pada soal bentuk uraian,. Adapun kelebihan bentuk soal uraian antara lain:

  • Ø Proses penyusunan soal relatif mudah.
  • Ø Memberikan kebebasan luas kepada peserta didik untuk menyatakan tanggapannya.
  • Ø Dapat mengukur kemampuan mengorganisasikan pikiran.
  • Ø Mengurangi faktor menebak dalam menjawab.

Sedangkan kelemahan bentuk soal uraian antara lain:

  • v Proses pengoreksian membutuhkan waktu yang relatif lama.
  • v Ada kecenderungan dari guru bersikap subjektif.
  • v Guru sering terkecoh dalam memberikan nilai, karena keindahan kalimat dan tulisannya.
  • (2) Tes Bentuk Objektif

Tes objektif sering juga disebut tes dikotomi (dichotomously scored item) karena jawabannya antara benar atau salah dan skornya antara 1 atau 0. Tes objektif terdiri dari beberapa bentuk, antara lain:

  • ) Benar-Salah (True-False, or Yes-No)

Bentuk tes benar-salah (B-S) adalah pernyataan yang mengandung dua kemungkinan jawaban, yaitu benar atau salah. Salah satu fungsi bentuk soal benar-salah adalah untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam membedakan antara fakta dengan pendapat. Bentuk soal seperti ini lebih banyak digunakan unyuk mengukur kemampuan mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana.

Ada beberapa teknik/petunjuk praktis dalam penyusunan soal bentuk B-S, yaitu:

  • (1) Jumlah item yang benar dan salah hendaknya sama.
  • (2) Berilah petunjuk cara mengerjakan soal yang jelas dan memakai kalimat sederhana.
  • (3) Hendaknya jumlah item cukup banyak, sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
  • ) Pilihan Ganda (Multiple Choice)

Soal tes bentuk pilihan ganda dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang lebih kompleks dan berkenaan dengan aspek ingatan, pengertian, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Pilihan jawaban (option)  terdiri atas jawaban yang benar atau paling benar, selanjutnya disebut kunci jawaban dan kemungkinan jawaban salah yang dinamakan pengecoh (distractor/decoy/fails).

Beberapa petunjuk praktis dalam menyusun soal bentuk pilihan ganda, yaitu:

  • Harus mengacu pada kompetensi dasar dan indikator soal.
  • Jangan memasukkan materi soal yang tidak relevan dengan apa yang sudah dipelajari peserta didik.
  • Pernyataan dan pilihan hendaknya merupakan kesatuan kalimat yang tidak terputus.
  • Harus diyakini bahwa hanya ada satu jawaban yang benar.
  • Bila perlu beri jawaban pengecohnya.

Kebaikan soal bentuk pilihan-ganda, antara lain: (1) cara penilaian dapat dilakukan dengan mudah, cepat, dan objektif, (2) dapat mencakup ruang lingkup bahan/materi yang luas, (3) mampu mengungkap tingkat kognitif rendah sampai tinggi, dan (4) dapat digunakan berulang kali. Sedangkan kelemahannya antara lain: (1) proses penyusunan soal benar-benar membutuhkan waktu yang lama, (2) memberi peluang siswa untuk menebak jawaban, dan (3) kurang mampu meningkatkan daya nalar siswa.

  • ) Menjodohkan (Matching)

Soal tes bntuk menjodohkan terdiri atas kumpulan soal dan kumpulan jawaban yang keduanya dikumpulkan pada dua kolom berbeda, yaitu kolom sebelah kiri menunjukkan kumpulan persoalan, dan kolom sebelah kanan menunjukkan kumpulan jawaban. Bentuk soal seperti ini sangat baik untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi hubungan antara dua hal.

Untuk penyusunan soal bentuk ini perlu memperhatikan teknik berikut:

  • (1) Sesuaiakan dengan kompetensi dasar dan indikator.
  • (2) Kumpulan soal diletakkan di sebelah kiri, dan jawaban di sebelah kanan.
  • (3) Gunakan kalimat singkat dan terarah pada pokok persoalan.
  • ) Melengkapi (Completion)

Soal bentuk melengkapi (completion) dikemukakan dalam kalimat yang tidak lengkap. Contoh:

  • Tempat sampah daur ulang dalam komputer disebut . . .
  • Program dan data dapat disimpan dalam . . . atau . . .

Beberapa petunjuk teknis dalam penyusunan soal bentuk melengkapi (completion), antara lain:

  • (1) Hendaknya tidak mengambil pernyataan langsung dari buku (textbook).
  • (2) Titik-titik kosong sebagai tempat jawaban hendaknya diletakkan di akhir kalimat.
  • (3) Jangan menyediakan titik-titik kosong terlalu banyak.
  • (4) Jika perlu, dapat diberi gambar-gambar sehingga dapat dipersingkat dan jelas.

2. Tes Lisan

Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik. Tes ini memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya antara sebagai berikut.

  • ) Dapat menilai kemampuan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki peserta didik, sikap, serta kepribadiannya karena dilakukan secara berhadapan langsung.
  • ) Bagi peserta didik yang kemampuan berpikirnya relatif lambat sehingga sering mengalami kesukaran dalam memahami pernyataan soal, tes bentuk ini dapat menolong sebab peserta didik dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan yang dimaksud.
  • ) Hasil tes dapat langsung diketahui peserta didik.

Sedangkan kelemahan dari tes lisan adalah sebagai berikut.

1.) Subjektivitas guru sering mencemari hasil tes

2.) Waktu pelaksanaan yang diperlukan relatif cukup lama.

  1. Tes Perbuatan

Tes perbuatan yakni tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau unjuk kerja. Penilaian tes perbuatan dilakukan sejak peserta didik melakukan persiapan, melaksanakan tugas, sampai dengan hasil yang dicapainya.

Untuk menilai tes perbuatan pada umumnya diperlukan sebuah format pengamatan, yang bentuknya dibuat sedemikian rupa agar pendidik dapat menuliskan angka-angka yang diperolehnya pada tempat yang sudah disediakan. Bentuk formatnya dapat disesuaikan menurut keperluan. Untuk tes perbuatan yang sifatnya individual, sebaiknya menggunakan format pengamatan individual. Untuk tes perbuatan yang dilaksanakan secara kelompok digunakan format tertentu yang sudah disesuaikan untuk keperluan pengamatan kelompok.[4]

  1. Teknik Non-Tes

Teknik non-tes sangat penting dalam mengevaluasi siswa pada ranah afektif dan psikomotor, berbeda dengan teknik tes yang lebih menekankan asfek kognitif. Ada beberapa macam teknik non-tes, yakni: pengamatan (observation), wawancara (interview), kuesioner/angket (quetionaire).

3. Observasi

Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam evaluasi pembelajaran, observasi dapat digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik, seperti tingkah laku peserta didik pada waktu belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Alat yang digunakan untuk melakukan observasi disebut pedoman observasi.

IX. CIRI-CIRI TES YANG BAIK
Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki:
(1) Validitas: validitas atau daya ketepatan mengukur, sebuah tes disebut valid apabila tes itu dapat mengukur apa yang hendak di ukur
(2) Reliabilitas: jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali, sebuah tes dikatakan raliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan. Dengan kata lain, jika kepada para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya.
(3) Obyektivitas: apabila tes tersebut disusun dan dilaksanakan : menurut apa adanya
(4) Praktikabilitas: mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dilengkapi dg petunjuk jelas.
(5) Ekonomis: tidak membutuhkan ongkos/biaya yang mahal, tenaga banyak dan waktu lama.

X. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN TEORI PEMBELAJARAN
1. Analisis tujuan dan karakteristik bidang studi.
2. Analisis sumber belajar.
3. Analisis karakteristik si belajar (siswa).
4. Menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran.
5. Menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran.
6. Menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran.
7. Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran.
8. Pengembangan prosedur pengukuran hasil pembelajaran.

XI. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Sumber informasi yang dapat digunakan dalam rangka asesmen perilaku keterampilan awal siswa, antara lain: (1) dokumen yang tersedia, (2) khususnya hasil belajar yang diperoleh sebelumnya (3) siswa itu sendiri (4) orang-orang yang mengetahui kemampuan siswa tesebut.

Teknik yang dapat digunakan dalam mengasesmen kemampuan awal tersebut, antara lain: (1) dokumentasi, (2) kuesioner, (3) observasi, (4) wawancara, (5) melakukan tes diagostik secara khusus.

Di samping mengidentifikasi perilaku keterampilan awal siswa, guru juga perlu mengenali karakteristik siswa lainnya yang berhubungan dengan perilaku belajar mereka. Beberapa di antara karakterstik ini, misalnya:
– motivasi belajar,
– kemampuan dan tingkat kecerdasan,
– minat,
– kebiasaan belajar,
– harapan dan aspirasi siswa,
– maupun daya dukung lingkungan masing-masing siswa.

Informasi-informasi seperti ini dapat menjadi acuan dalam menetapkan jenis perilaku sebagai target belajar, cakupan kegiatan belajar, maupun bentuk-bentuk pengalaman belajar yang dapat diberikan kepada siswa.
(Robert Bala, SMP STI 8 November 2015)

Advertisements