AJAIB, SATU PERISTIWA (SEDIH) ROSARIO MENGUNGELILINGI SEBUAH PULAU

AJAIB, SATU PERISTIWA (SEDIH) ROSARIO MENGUNGELILINGI SEBUAH PULAU

Berdoa Rosario adalah hal yang biasa. Tetapi apa yang terjadi ketika berdoa Rosario satu peristiwa (50 Salam Maria) mengunjungi sebuah pulau dengan berjalan kaki saja? Berapa lama waktu yang dibutuhkan?

PULAU PRAMUKAInilah pengalaman yang terjadi pada Selasa, 24 Mei 2016. Saat itu, bersama 40 siswa dan 6 guru, kami mengunjungi Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Pramuka.  Selain acara utama yang tentu saja begitu menarik seperti: penanaman mangrove, latihan snorkling di pulau Semak Daun, Snorkling di Pulau Air sambil menikmati indahnya panorama, studi lapangan di Turtle Santuary Pulau Pramuka sambil tidak melupakan santi melepas lelah di Pulau Karya dan makan siang di Nusa Keramba, ada satu pengalaman lain yang cukup menarik. Yang saya maksudkan adalah doa rosario kelilingi sebuah pulau. Bagaimana kisahnya?

Di Selasa 24 Mei dini hari, karena sudah terbiasa bangun pagi-pagi, pukul 04.00 mata sudah terbelalak. Bisa juga karena malam itu terlalu dingin, sementara saya tidak membawa kain atau sarung. Pikiran yang ada saat itu, kalau di pantai pasti panas. Memang demikian, tetapi ketika kamar berAC berfungsi maksimal, maka kamar menjadi dingin.

Pada sisi lain, kelelahan di sore hari sebelumnya terlupakan. Saya harus bangun, lalu duduk di depan homestay yang memiliki pemandangan langsung ke laut. Sambil memandang suram-suram pulau gosong yang ada di depannya, saya berpikir bagaimana kalau berjalan kaki sendirian mengelilingi pulau Pramuka yang juga merupakan ibu kota Kepualauan Seribu.

Bersama Adrian

Di pagi hari itu, awalnya saya mau jalan sendirian sambil berdoa rosario. Tetapi setelah mencoba beberapa meter, terlihat keadaan masih gelap. Apalagi daerah yang akan dilewati belum saya kenal, selain jalan pinggir pantai belum semuanya tertata.

Saya lalu balik ke homestay Kedaton. Setelah berjalan sebentar, dari kejauhan saya lihat seorang siswa, Adrian. Dia adalah salah satu dari hanya beberapa orang Katolik di sekolah. Kebetulan ia juga anak yang pintar dan cerdas dan cukup alim dalam hal agama.20160524_061335

Adrian juga jadi ‘bintang model’ foto menjemput pagi, hunting the sunrise.
Setelah berbincang sebentar, dia menginformasikan spontan bahwa baru selesai berdoa rosario (hebat sekali anakku ini). Lalu saya tawarkan, bagaimana kalau berdua mengeliling pulau sambil berdoa rosario. Ia jawab dengan OK.

Adrian lalu mengambil sendalnya, kami dua pun mulai berjalan. Berdoa rosario pun dimulai. Saya tanyakan Adrian tentang jenis peristiwa yang akan kami doakan. Dengan tegas ia menjawab: Peristiwa Sedih (saya langsung merasa yakin, memang yang dikatakan Adrian tentang doa rosario adalah benar adanya). Memang untuk hari Selasa dan Jumat adalah Peristiwa Sedih. Senin dan Sabtu peristiwa Gembira. Rabu dan Minggu peristiwa Mulia. Sementara pada hari Kamis, peristiwa Terang.

Kami mulai dengan membuka doa rosario dengan tanda keselamatan dan kemudian mendaraskan Aku Percaya, disusuli dengan SALAM PUTERI ALLAH BAPA, MEMPELAI ALLAH ROH KUDUS, SALAM BUNDA ALLAH PUTERA. Saya sangat yakin, dengan awal yang bagus, sudah dapat dipastikan bahwa Adrian memang seorang pendoa yang baik.20160523_082939

Pada saat mendoakan peristiwa pertama, Yesus berada di Taman Getsemani, mengalami sakratul maut, kami berdua mendoakan orang-orang yang berada dalam kondisi tapal batas oleh berbagai peristiwa. Ada yang berjuang antara hidup dan mati, orang yang mengalami kesulitan dalam hidup dan tidak ada jalan keluar (tampaknya). Harapannya semoga jalan keluar yang baik segera datang. Kalau pun hal itu belum datang, mereka terus yakin bahwa Tuhan tidak akan mencobai umatNya melampaui kemampuan umatNya itu.

Sepulun untaian Salam Maria kami doakan. Saat itu kami lewati pinggir pantai. Jalan yang tadinya bagus di pinggir pantai, perlahan hilang. Kendaraan motor melewati jalan agak ke dalam sementara kami berdoa tetap konsisten melewati pesisir pantai. Kami berjalan di atas tembok pinggir pantai sambil melihat suram-sura juga pohon bakau yang sejak beberapa tahun terakhir ditanam dan kini tampak mendukung kekokohan tembok agar tidak mudah terabrasi.DSC_1493

Tanpa disadari, 10 untaian Salam Maria itu selesai. Doa itu kemudian diakhiri dengan “Terpujilah Yesus, Santa Maria, dan Santo Yosef). Tepatnya kami berada di depan penginapan Dophin. Untaian peristiwa kedua pun didoakan. Adrian dengan yakin menyebutkan periswa Yesus Didera. Sebuah peristiwa yang tentu bagi banyak orang merupakan kondisi yang tak menguntungkan. Ia yang adalah “Kebenaran” itu sendiri harus berhadapan dengan pengadilan yang tak benar. Ia tahu apa yang terjadi dan menyaksikan permainan lidah membohongi kenyataan.

Pada persitwa itu kami berdoa untuk orang-orang baik yang berjuang demi sebuah kebenaran. Mereka berada di tengah kepalsuan. Kerap perjuangan mereka terasa ‘sia-sia’ karena kekuatan luar itu begitu besar. Mereka bisa saja seperti Ahok (oh ya di Kepulauan Seribu juga ada TEMAN AHOK). Ia kami doakan bukan karena dia seorang Kristen. Bukan. Ia adalah seorang pejuang yang dengan jujur mengatakan yang benar dan mengkritik yang salah.DSC_1427

10 untaian Salam Maria kembali didokan. Kami lewati lagi pesisir pantai di atas tembok, setelah sempat membelok ke dalam. Rangkaian doa kali ini pun berjalan lancar. Karena jalan sempit, kadang Adrian berjalan di belakang saya. Semuanya berjalan lancar dan aman. Sesekali kami saksikan ada seorang bapak yang menjongkok di bawa tembok penahan ombak. Ia lagi isap rokok sambil berbuat sesuatu (saya yakin ia lagi ‘e,e’e). Bagi sang bapak itu, tentu inspiratif menikmati pagi hari sambil membuang ‘hajat’ lepas bebas. Tetapi mestinya hal itu tidak dilakukan.

Peristiwa Ketiga, Yesus Dimahkotai Duri. Saat itu kami berdua melewati tempat penangkaran penyu (Turtle Santuary). Teringat bahwa banyak orang yang berjasa bukannya mendapatkan penghormatan tetapi malah diberi ‘mahkota ironis’.Di sana ada darah meleleh. Kami doakan semoga para pejuang kebenaran yang dihina dan diberi apa yang mestinya diterima malah diberi ironi teramat besar mereka dapat bertahan karena kebenaran, lambat tapi pasti akan hadir.ROSARIO Blog-02

Saat mendoakan hal ini, kami lewati timbunan sampah. Pulau Pramuka sebagai ibu kota Kepulauan Seribu memiliki banyak tong sampah, malah dalam tiga warna untuk membedakan sampah organik dan non organik. Hal itu sudah rapi dan bagus. Malah gerakan Aho dengan pasukan Oranye juga ada di pulau Pramuka. Hebat. Tetapi di manakah mereka membuang sampah? Jangan sampai kebersihan di sebelah pulau ‘dibayar’ dengan mengotosi sebelah pulau? Tentu kita tidak mau seperti itu. Rapi dan bersih harus disertai sikap jujur. Jangan sampai hanya tampak indah di satu sisi tetapi kita membuang malah menyembunyikannya di sisi lain. Semoga saja tidakP1000668

Untaian 10 Rosario sambil berjalan di atas sampah berjalan mulus dan lancar. Tapi kali ini kami harus berjalan di tengah pepohonan yang tinggi. Agak gelap. Jalan hampir tidak terlihat. Untung saja di tangah saya anda HP. Dengan segera saya hidupkan senter HP dan bisa menerangi jalan.  Ternyata Pulau Pramuka tetap menjaga supaya punya hutan meski hanya sedikit.

Inilah suasana hutan yang sangat gelap. Terbayang bahwa inilah proses ‘Yesus memanggul salib ke Golgota). Ia berada di tangan orang yang tentu tidak diketahui bagaimana akhirnya. Mereka adalah ‘massa’ yang bisa saja beringas dan akan mendorongnya ke kiri dan ke kanan. Pada peristiwa ini kami doakan orang benar yang memutuskan untuk melewati proses tak adil. Demi sebuah perjuangan mereka berani menjalaninya.20160524_085457

Di peristiwa ini juga kami doakan Gereja yang sampai sekarang meski sudah punya IMB tetapi masih terus dihalangi. Kiranya mereka melewati sebuah perjalanan Salib seperti Yesus menuju Golgota. Kebahagiaan hanya bisa dicapai kalau mereka bertahan dan tetap berharap.

Untaian 10 kali rosario ini disertai ketakutan. Sedikit hutan yang dimiliki Pulau Pramuka kelihatan suram. Tetapi hanya 5 menit dalam kegelapan. Setelahnya langsung melihat dermaga Kepulauan Seribu. Dermaga ini khusus bagi kapal Cepat (Speed Boat) yang berada di depan Kantor Kelautan.

Akhirnya kami masuk di Peristiwa Kelima. Pada peristiwa ini kami renungkan Yesus mati di Kayu Salib. Sebuah refleksi yang sedikit panjang atau dipanjang-panjangkan karena saya tahu jalan di depan masih sedikit waktu lebih banyak kalau hanya 10 rosario saja.20160524_062719

Refleksi diawali dengan keluhan Yesus di atas Salib. Meski Ia Allah, tetapi juga manusia. Ia mengalami penderitaan yang hebat dan dahsyat. Di atas salib Ia mengelu: “Allahku- ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Daku”. Sebuah keluhan merasa ditinggalkan. Sebuah krisis yang besar.

Penderitaan itu pasti akan terus terjadi. Para murid seperti gurunya akan mengalami penderitaan yang hebat. Mereka akan menderita sengsara oleh karena imanNya. Dalam keadaan itu, Yesus menyerahkan IbuNya kepada murid yang dikasihiNya: Inilah Ibumu. Yesus tahu, doa Ibunya selalu ‘manjur’ agar anaknya dapat bertahan dalam penderitaan dan tabah menghadapinya sampai menjemput kebahagiaan yang masih harus ditunggu dalam kesabaran.

Kepada Murid yang dikasihi, Yesus juga menyerahkan muridNya kepada Maria: Inilah anakMu. Sebuah penyerahan bahwa seperti Maria berdoa untuk puteraNya, ia juga tetap mendampingi para rasul.

Pada akhirnya, sebuah tarikan nafas legah di atas kayu salib. Yesus menyerahka seluruh hidupnya: Abba, ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan jiwaku. Lalu ia wafat.

Untaian 10 Salam Maria mulai di depan Kantor Bupati Kepulauan Doa yang kemudian berakhir di depan sebuah penginapan, SHAFIR.

Tinggal selangkah lagi kami sampai di Homestay Kedaton. Jarak itu masih bisa ditempuh dengan 10 rosario lagi. Saya lalu mengajak Adrian untuk berdoa bersyukur atas kegiatan 2 hari di Kepualaun Seribu. Syukur karena semua anak sudah ikut serta dan menikmati kegiatan. Syukur karena pada hari Selasa, semua siswa akan mengakhiri kegiatan tetapi masih ada dua kunjungan yakni ke Pulau Karya menikmati udara segar dan juga makan siang terakhir di Nusa Keramba.20160524_121316

Dan terjadi. Satu peristiwa kontas yang dimulai di Homestay Kedaton akhirnya selesai pas di depan gapura sederhana. Saat itu siswa dan guru sudah berkumpul juga. Mereka sudah siap-siap untuk HUNTING THE SUNRISE. Mereka tidak akan kehilangan jalan karena Adrian sudah jadi petunjuk. Kami bersyukur, 1 peristiwa SEDIH rosario menuntun kami untuk berdoa.rosario-pembebasan-a

Inilah pengalaman pertama berdoa hanya 1 peristiwa rosario mengelilingi sebuah pulau.Saya lalu bayangkan, seperti melingkari kepulauan seribu dengan 50 Salam Maria. Ya, itulah doa untuk kesejahteraan, kebahagiaan, dan ketentraman masyarakat di Pulau Pramuka, Ibu Kota Kepulauan Seribu.

Pulau Pramuka, 24 Mei 2016.