CINTA BERTUBUH BERDARAH

CINTA, BERTUBUH BER’DARAH’
Renungan ‘Kamis Putih’

Beberapa saat lalu, seorang teman melalui Facebook mengirimkan beberapa gambar. Semua memiliki sesuatu yang khas. Di bawah judul: Masihkah Anda mengeluh, ditampilkan gambar denganorang dengan kekurangan pada fisiknya tetapi tidak menyerah. Malah mereka berprestasi.TUBUHKU BERDARAH

Ada orang yang tidak punya tangan. Tetapi ia manfaatkan kakinya. Di jari kaki, ia menjepit sebuah alat tulis dan mulai menggambar. Ada yang tidak punya kaki, tetapi ia berlatih fisik dan terlihat tubuhnya berotot bak binaragawan. Ada seeseorang yang malah tidak punya kaki dan tangan. Tetapi di pinggir pantai ia befoto  dengan isteri dan anaknya dan tampak sangat bahagia.TUBUH BERDARAH6

Gambaran tentang kekurangan fisik hanya menunjukkan bahwa cinta tidak sebatas tubuh. Memang tubuh tetap punya daya tarik. Malah ia yang pertama-tama menarik perhatian. T ubuh juga yang menandakan bahwa seseorang itu ada. Hal itulah yang memanjakan mata saat memandang.TUBUH BERDARAH7Tetapi mata tidak tunggal. Dari mata turun ke hati. Ada Sesutu lebih dalam yang melengkapi tubuh. Ia memberi nilai tersendiri dan mengapa tidak memperkuat. Tanpa turun ke hati, maka cinta yang sebatas pada tubuh akan cepat rapuh.

Tubuh dan Darah

Pada perjamuan terakhir, dua simbol: tubuh dan darah ditampilkan. Ia mengambil roti dan mengucap syukur sambil berkata: “Inilah tubuhKu yang diserahkan bagimu” (Lukas 22,19). Apa arti tubuh dalam perikop ini? Tubuh tentu saja merujuk pada keadaan fisik yang secara umum terdiri dari daging dan tulang yang secara anatomis masih bisa diurai lebih rinci dalam struktur dan sistem.INILAH TUBUHKU

Keadaan fisik ini bisa diindrai. Selanjutnya, tubuh diserahkan kepada orang lain. Dalam perkawinan suami isteri saling menyerahkan tidak sekedar diartikan dalam hubungan seks. Lebih dari itu, keduanya menjadikan merelakan tubuh (waktu, tenaga, perhatian) untuk sebuah tujuan yang sama.

Penyerahan tubuh juga bisa dilihat dalam kehidupan membiara. Orang yang terpanggil membaktikan seluruh diri, tenaga untuk mengabdi. Tubuh sungguh diserahkan hal mana membahagian orang yang dilayani.

Tetapi tubuh, karena terikat realitas fisiknya, ia masih terikat pada realitas fisik. Tubuh yang diserahkan bisa saja tidak ikhlas. Tidak hanya itu. Kelelahan, kecapean, dana   terlalu pedihnya derita membuat orang tak bertahan. Ia malah bisa ‘menyerah’. Hal ini bisa dipahami keluhan Yesus di kayu salib: Eloi-Eloi, lama sabak tani. Sebuah penyerahan fisik yang tidak lepas dari derita yang kerap tak tertahan.

Tetapi tubuh, sel dan jaringan, tidak akan bermakna ketika tidak digerakan oleh darah. Sebagaimana fungsinya, darah mengedarkan sari makanan ke seluruh tubuh yang nota bene dilakukan oleh plasma darah. Darah juga mengangkut oksisgen ke seluruh tubuh yang dilakukan oleh sel daerah merah. Yang tidak kalah penting, darah membunuh kuman yang masuk ke dalam tubuh yang dilakukan oleh sel darah putih, juga menutup luka.INILAH DARAHKU

Melihat fungsinya yang amat sentral, maka kita bisa berangan, tubuh tanpa darah adalah tanpa harapan.  Artinya tanpa darah, tubuh tidak berfungsi secara optimal dan tidak bertahan karena tidak didukung oleh sistem yang memberi penguatan melalui sari makan, oksigen, serta menetralisir kuman dan luka.

Kembali kepada penyerahan Yesus dengan darahNya memiliki makna yang sangat mendalam. Dengan berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu yang ditumpahkan bagimu” (Lukas 22,20) ingin ditekankan bahwa darah yang memberi bobot atau kualitas pada tubuh. Darah tidak sekedar diserahkan. Ia ditumpahkan. Ia tidak pernah diberi tanpa keterlibatan utuh dari orang yang memberi. Yesus menumpahkan darahNya untuk orang yang dikasihi. TUBUH BERDARAH5

Tumpahan darah merupakan sebuah korban utuh, tanpa cela. Bila korban secara fisik masih bisa ada celah untuk mengeluh dan mengadu. Tetapi darah hanya bisa ditumpahkan ketika ada pengorbanan yang utuh. Ia memberi bobot utuh. Tidak ada keraguan lagi. Yang ada hanyalah sebuah korban utuh dan menyeluruh.

Cinta Utuh

Apa pesan kisah orang bertubuh tak lengkap tetapi utuh berprestasi dengan perayaan Kamis Putih? Apa pesan yang bisa diambil di balik penyerahan tubuh oleh Yesus dan penumpahan darah untuk manusia?TUBUHKU BERDARAH1

Secara fisik, tubuhlah yang bisa dilihat. Tetapi keadaan fisik seperti adanya bukan kata akhir. Orang yang cacat fisik secara jelas memiliki kekurangan. Tetapi keadaan fisik bukan kata akhir. Dengan demikian mengagumi tubuh bukan hal yang paling penting.

Yang terpenting, sejauh mana orang menyerahkan tubuh apa adanya untuk sesuatu yang lebih bernilai. Di sini letak rahasianya, mengapa mereka bisa mencapai prestasi. Hal itu pula yang ditunjukkan Yesus. Selama hidupNya, Ia membaktikan seluruh diri untuk mengasihi dan melayani orang lain.

TUBUH BERDARAH8Memang sebagai sebuah kondisi fisik, bisa saja masih ada keluhan. Bisa saja seseorang tak tahan lagi  pada derita yang menimpa. Namun, ia tidak menyerah. Ia terus berkorban.

Apa yang menjadi kekuatan sehingga orang terus berserah diri di tengah keterbatasan? Di sinilah bisa dimaknai peran darah. Ada kekuatan, ada oksigen, ada dorongan yang membuat seseorang melihat melampaui hal-hal fisik.  Di sinilah rahasianya. Pengorban fisik menjadi lengkap ketika ditopang oleh penumpahan darah yang berarti korban secara utuh. Di sinilah ekspresi cinta utuh yang sebenarnya.

Dalam arti ini bisa dipahami, mengapa orang yang memiliki keterbatasan fisik masih membuat mereka melihat melampaui kekurangan. Di sana mereka seakan menertawakan kesempurnana fisik sambil mengatakan bahwa kesempurnaan fisik bukan jadi ukuran. Mengapa? Karena meski sempurna, tetapi seseorang masih bisa terus tidak puas karena yang diserahkan tidak utuh.TUBUH BERDARAH2

Pada sisi lain, dalam ketidaksempurnaan fisik, mereka telah sukses mengalirkan sesuatu yang lebih bermakna. Darah yang ada dalam tubuh sukses memberi bobot pada fisik yang tak lengkap sehingga mereka sanggup mencapai sesuatu yang lebih tinggi.

Perayaan Kamis Putih karena itu membawa sebuah pesan yang teramat mendalam. Yesus menyerahkan tubuhNya. Tubuh yang juga sama dengan kita manusia yang lainnya: daging dan tulang. Dari sisi ini, kita semua sama. Kita pun bisa menyerahkan tubuh kita sebagai korban.

Tetapi penyerahan itu akan ketiadaan makna ketika dilihat sebagai kata akhir. Ia masih belum lengkap ketika tidak disertai semangat berkorban. Ia tidak bermakna ketika tidak ditopang oleh darah sebagai pengikat yang menjadi pendorong dari dalam. Dengan itu, pengorbanan perlu utuh: tubuh dan darah. Penyerahan tubuh perlu diimbangi dengan korban menumpahkan darah. Sementara darah yang ditumpahkan hanya bisa bermakna ketika ditunjukkan dalam laku. Inilah tanda bahwa cinta tubuh harus ber’darah’.TUBUH BERDARAH3

Kebenaran kata-kata ini sunngguh jelas terlihat pada orang-orang ‘cacat’. Mereka tunjukkan bahwa fisik yang lengkap memang penting tetapi belum menjadi akhir. Yang lebih penting adalah ‘darah’ yang mengalir, semangat rela berkorban. Ketika keduanya hadir secara lengkap, maka sebuah kehidupan utuh tengah dimulai.

Di sinilah rahasia penyerahan tubuh dan darah. Setiap kita perlu dengan bangga menyerahkan tubuh dan darah untuk sesuatu yang lebih tinggi. Semua kita terpanggil untuk menyerahkan tubuh hingga darah penghabisan, sebuah ungkapan korban utuh seperti yang dilakukan Yesus di kayu salib. Inilah rahasia cinta yang tidak hanya bertubuh tetapi juga berdarah. Sebuah cinta lengkap dan utuh.

Paroki Bernadeth Ciledug 24 Maret 2016, perayaan Kamis Putih