CURUG CIPAMINGKIS DI HARI IMLEK

CURUG CIPAMINGKIS DI HARI IMLEK

Senin, 8 Februari 2016

Liburan imlek tahun 2016, jatuh pada Senin 8 Februari Itu berarti libur akhir pekan panjang. Banyak orang yang sudah ‘minggat’ dari Jakarta sejak akhir Jumat. Bagi istriku ini libur panjang. Karena bekerja di Sekolah Buddhis, maka libur hampir seminggu. Kalau tidak ada kegiatan, kasihan juga sang ibu guru itu.12687878_1194263160603793_8606600972656887444_n

Pasukan berempat: Kaka Ines, Diego, Mami dan Papi

Saya pun mulai putar otak cari tempat wisata. Sehari sebelumnya saya sempat lihat usalan TV tentang wisata air terjun di Jonggol, tetapi saya tidak ingat persis namanya. Saya pun mulai googling mencari. Syaratnya: murah, dekat (Jakarta), tetapi indah dan bagus. Akhirnya saya peroleh informasi tentang air terjun Cipamingkis.

Cibubur Padat – Merayap

Berbekalkan informasi dari internet, perjalanan pun dimulai pukul 09.00 (di hari Imlek). Tadinya mau lebih cepat, tetapi karena semalamnya barusan pulang dari arisan keluarga, maka keberangkatan tidak bisa lebih pagi.

Jalur yang dipilih kelihatan melewati Cibubur – Cileungsi – Jonggol, dan seterusnya ke arah Citereup, yang nantinya akan ambil jalan kiri menuju air terjun. Itulah informasi yagn diperoleh dari internet. Jaraknya (menurut informasi itu 60 km dari Jakarta).

Tapi tanda-tanda kemacetan mulai terlihat di Cibubur. Hampir 2 jam tertahan dalam macetnya libur Imlek. Lebih lagi karena Kota Wisata, terkenal dengan pernak-pernik Chinese, kemungkinan besar ada pertunjukkan seru. Motor-motor saja susah cari jalan, apalagi mobil.

Setelah melewati Kota Wisata, macet masih saja ada yakni Merkar Sari, dan beberapa kompleks perumahan sepanjangjalan Cilengungsi – Jonggol. Kendaran tertahan oleh masuknya kendaraan baru dalam antrian setelah keluar dari perumahan. Apakah macet seperti ini setiap hari (bisa saja. Kog orang bisa beta ya dengan macet hehehe).

Untuk mempercepat, saya sempat ikut angkot yang ambil sisi jalan. Itu mestinya teladan yang tidak baik tetapi terpaksa diambil karena tujuan saya masih jauh : Cipamingkis. Ampun dan tobat nanti dulu dah….

Setelah melewati arus yang padat merayap, kadang bahkan tidak merayap apa-apa, akhirnya sampai di Jonggol. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 (padahal menurut rencana, jam 11 begitu sudah sampai di Cipamingkis (mimpi kaleh…).

Di Jonggol sempat salah ambil jalan yang ke arah Cianjur. Tetapi untung saja kekeliruan tidak terlalu jauh, masih bisa pulang ke pertigaan dan memilih jalan ke arah Citereup (bukan Cianjur).

Tetapi saya ‘lolos’ ambil Cianjur. Setelah bertanya dan dijawab dengan penuh ramah, akhirnya ambil jalan kembali (tidak jauh) dan ambil alur Citereup. Semua orang tahu arah ke Dayeuh (persinggahan pertama).

Tanjakan Penuh Pemandangan

Dari Dayeh mulai terlihat pemandangan indah. Sawah membentang indah. Keponakan Ines sempat diminta mengabadikan beberapa foto. Diego sementara itu lagi kesal karena belum tiba juga di tempat yang dituju. Selain itu karena sempat salah jalan. Apalagi ketika tanya orang kampung, petunjukknya tidak jelas, apakah memang mereka tahu atau tidak. Tetapi dengan pemandangan indah, perlahan ia mulai senang. Bahkan ia ikut histeris melihat pemandangan.942860_1194263023937140_7741019563765231516_n

Dari pemandangan indah, mulai juga dengan tanjakan. Awalnya tidak seberapa, tetapi perlahan hingga sampai ke tempat tuju, tanjakan itu mulai semakin menantang. Juga ada daerah yang rawan longsor. Sopir (terutama pemula) dianjurkan tidak latih mengemudi di sini (kalau saya sih paling kurang sudah terbukti karena pulang dalam keadan selamat. Memang mobil hampir saja ‘berciuman’, 5 km sebelum masuk ke lokasi, hehehe).CIPAMINGKIS

Untuk jarak, hendaknya jangan terlalu percaya pada informasi di internet. Ada yang mengatakan 60 km dari Jakarta (tentu saja Jakarta yang mana dulu). Dari Tangerang, spidometer saya menunjukkan 96 km.Itu sama saja dari Tangerang sampai di puncak Bogor.

Kunci paling pas kalau yang ikut Cibubur – Jonggol, jaraknya dari Jonggol sekitar 30 km. Acuannya sebagai berikut. Setelah memasuki Jonggol, khususnya setelah pertigaan ke arah Cikarang, harus sudah siap-siap. Ada pertigaan di depan dan anda harus ambil ke arah kanan, arah Citereup Dayeh.  Di sana tertulis ke Cianjur dan Citererup. Ambil arah Citereup dan tanyakan arah Dayuh.

Dari Jonggol ke Dayeuh sekitar 8 km (kalau tidak salah). Sampai di Dayeuh, siap nyali karena harus mulai dengan tanjakan sedikit. Pemandangan indah akan disajikan sehingga tidak terasa melelahkan (takutnya terlalu terkesima dengan pemandangan sehingga lupa belokkan kendaraan, hehehe).

Dari Dayeh, akan melewati daerah longsoran. Di situ orang kampung jaga lalulintas, (maksudnya supaya bisa diberiken cepe begitu). Dari daerah longsoran ke Cipamangkis, sekitar 18 km.12654303_1194263217270454_1030796594434139309_n

Perjalanan dilanjutkan hingga tiba di pasar, pertigaan. Di situ tertulis ke Citereup (lurus) dan ke kiri adalah ke Cipamangkis (Bukti Batu). Dari pertigaan hingga ke Air tertujun berjarak sekitar 12 km. (Informasi lain mengatakan 8 km, tetapi yang dari saya itu lebih pasti karena saya catat semua informasi itu).

Perjalanan kali ini haru12654515_1194263200603789_7576502922678428652_ns berhati-hari, malah sangat berhati-hati. Untung saja tidak ada kendaraan besar (truk) yang tidak sempat lewat di sini. Ketika dalam perjalanan, ada sebuah mobil yang menyilih dan akhirnya masuk got. Hujan-hujan lagi, kasihan, harus didorong.

Dari pertigaan, 6 km lagi baru tiba di tanjakan. Di situ baru ada tulisan ke Curug Cipamangkis. Sebelumnya bahkan tidak ada petunjuk sama sekali. Orang kampung yang ditanyai juga menjawab seadanya. Ada yang bahkan beri petunjuk salah (sialan).12715466_1194263140603795_3327587618413211598_n

Mungkin juga pemda (khususnya perhutani) belum merasa bahwa orang akan mencari tepat itu. Dari Jonggol sampai ke tempat hanya ada satu petunjuk. Itu pun tertulis 4,8 km. Ketika saya hitung kembali di Spidometer, ternyata 6,2 km (tidak tahu cara hitungnya mungkin manual).

Tanjakan-tanjakan akhir menuju air terjun memang sangat berbahaya. Bagi pengendara, sebaiknya cukup dengan gear 1 untuk antisipasi harus berhenti tiba-tiba. Memang bensin akan dikonsumsi lebih banyak tetapi tidak apa-apa.

Terbayarkan

Memang ada ungkapan, kegagalan kerap dilakukan orang yang sebenarnya tinggal selangkah meraih kesuksesan. Itu yang hampir terjadi dengan kami sekeluarga. Perjalan panjang dan melelahkan. Tetapi ketika hampir mendekat, hujan lebat mengguyur.12705374_1194263047270471_6098886272727247623_n

Wah, kalau boleh pulang saja. Pendakian terakhir, saya justeru ragu-ragu. Tetapi melihat begitu banyak orang yang terus berani menanjak, saya pun berani. Lebih lagi ketika di 1 km sebelum sampai, ada sebuah mobil yang masuk ke parit. Karena hujan begitu lebat, kami akhirnya berhenti di warung di pinggir jalan. Untung warung cukup besar.12650997_1194263483937094_6262894447821328693_n

Di tempat ini, selain makan pop mie yang dibawa (dengan air panas gratis) asalkan beli gado-gado dan pop ice untuk Diego. Ternyata di tempat istirahat itu juga ada kolam ikan (hias). Diego kegirangan melihat itu dan kami beli 2 bungkus makanan ikan. Histeris melihat ikan melompat.12715573_1194263393937103_3137172228812194993_n

Setelah hujan reda, perjalanan dilanjutkan hanya 3 menit ke Curug Dipamingkis. Kami masuk dan membayar @ Rp 14.000 x 3 orang = Rp 45.000. Pakiran kebanyakan motor (memang untuk ke Cipamingkis sebaiknya pakai motor). Mobil tidak sampai 10 (tidak sempat hitung).12705158_1194263680603741_4350383167395648250_n

Setelahnya kami pun mulai mendaki. Secara umum, tanahnya rawan longsoran. Jalan mendaki pun kelihatan belum tertata dengan baik. Anak tangga ada 125, tetapi kelihatan tidak disemen dengan baik. Ada batu yang muda terlepas. Kalau ditata lebih rapi (seimbang dengan tiket masuk Rp 15.000).12670138_1194263297270446_220478002348054082_n

Diego sangat kegirangan mendaki. Dia selalu memimpin di depan. Setelah sampai di puncuk kami lalu berjalan ke samping. Dari jauh sudah terdengarn gemercik air dari kejatuhan air terjun yang tingginya sekitar 30 meter. Wah, luar biasa. Dingin memang, sehingga saya menjauh. Tetapi Diego tetap mau mandi (sialan, berarti harus ada yang mendampingi).12718174_1194263577270418_56720861448907123_n12654218_1194263507270425_8818465470854919070_nBerdua akhirnya perlahan masuk ke air, dan akhirnya terasa enak. Wah, gembira dan senang. Terbayarkan, kecapehan yang terjadi. Semua terbayar, kata keponakanku Ines. Mama Diego dan ka Ines memang tidak sempat mandi, tetapi kelihatan bahagian. Malah ketika mau pulang, mama Diego mau supaya tambah sedikit waktu.12705702_1194263563937086_4093027692778865858_n12705544_1194263837270392_6160559116123308601_n

Pukul 16.00, kami take off dari Cipamingkis. Karena sudah sore, tidak sempat mampi di Cikaherang yang cukup dekat. Dari sisi terkenal sih katanya Dipamingkis sehingga kami pilih satu saja. Ini sudah cukup. Dalam perjalan pulang, mama Diego sempat turun beli sayur murah. Diborong.

Setelah berjalan 2 km, kami memutuskan untuk makan siang (sudah sore). Kami pesan ikan bakar 1kg seharga Rp 70.000. Saat menunggu sempat foto-foto pemandangan sawah yang ada di pinggir. Memang RM …… sangat bagus. Bisa lepas lelah selama sejam.12688184_1194263803937062_5880770978711971336_n

Pukul 17.00 kami berangkat dari Rumah Makan. Perjalanan menurun lebih perlahan (tapi pasti). Kali ini lebih cepat juga. Tidak terasa, dari Cipamingkis sampai di Jonggol hanya 1 jam. Itu pun sempat berhenti beberapa kali.12592496_1194263763937066_6636543799244516874_n

Sial Akhir
Sesampai di Jonggol, karena trauma dalam perjalan melewati Cibubur, maka kami ambil arah ke Gunung Putri. Setelah tanya kepada seseorang yang menjawab jalurnya, kami pun berani mengambil jalur itu.

Ternyata jalannya sangat jelek. Waktu yang ditempuh pun menjadi lama, sekitar 1,5 jam lebih. Wah, tadi kalau iktu Cibubur mungkin sudah sampai. Tetapi tidak apa-apa. Ini pengalaman untuk kali lain.

Dalam perjalanan baru ini akhirnya sadar bahwa tidak perlu ambil jalur Jonggol. Bisa langsung ke Citereup dan akan lebih mudah ke Cipamingkis. Saya pun mau ambil jalur ini kali lain kalau harus ke sana lagi. Begitu kisah perjalanan. Semoga bisa diambil manfaatnya bagi yang mau ke Cipamingkis.