DUA HARI DI LEWOLEBA


DUA HARI (KE/ DI) LEWOLEBA

Dua hari saja berada di Lewoleba Lembata, rasanya sebuah momen yang paling singkat yang pernah terjadi dalam hidup saya. Lebih lagi karena keputusan melewati 2 hari ini berlangsung sangat singkat hanya 1 jam sebelum keberangkatan.  Tadinya prioritas diberikan ke adik Ipar Carolina mengingat kakaknya (Merty) dalam keadaan sakit.

Tetapi semuanya berubah. Izin ke atasan dengan cepat ditanggapi. Atau kata Pater Kris Kia Anen, imam yang merayakan misa penguburan pada Jumat 22 September,  ketika ada kematian, maka ‘pesta kematian’ itu mengundang orang tanpa undangan. Semua orang mengarah ke tenda dan berpartisipasi tanpa diundang untuk pertemuan sebagai petugas pesta. Semuanya berlangsung begitu cepat.

Jam 10 malam, harus mengurus tiket. Untung Traveloka memungkinkan hal itu.  Dengan ditemani Diego, kami ke Alfa Mart karena pembayaran tiket online dibuat pilihan melalui ATM dan hanya 26 menit. Dalam waktu sejam, tas segera disiapkan (inilah pilihan terbaik sebenarnya), tetapi kemudian saya ganti jadi koper kecil yang ternyata dalam penerbangan Kupang Lewoleba tidak diizinkan masuk cabin (Di Lewoleba harus beli tas lagi agar bisa bawa barang ‘ekstra’ yang luput dari kelebihan barang hehehe).

Di Bandara Soekarno Hatta, saya hanya bisa mengambil laptop untuk menulis sesuatu. Kisah hidup Bapa Alfons coba saya publish dan juga meminta tulisan pa Thomas Ataladjar juga bisa dionlinekan.

Penerbangan jam 3 sebenarnya asyik karena bisa tidur (seharusnya). Tetapi saat baru mau lelap, pramugari sudah bangunkan untuk makan bihun goreng. Ya cukup karena tidak sempat bawa roti (atau ada roti tapi karena ganti tas maka ketinggalan).

Saat tiba di Kupang, muncul ide untuk mengganti pesaswat dari Trans Nusa ke Susi Air. Kebetulan pagi itu ada pertemuan orang tua wali di SMARD. Kelihatan akan sebuah ‘surprise’ kalau bisa menghadiri pertemuan tersebut.

Saya coba mengaturnya secepatnya tetapi gagal karena pesawat dalam posisi boarding. Tidak apa-apa, harus menunggu di Kupang sampai penerbangan siang itu. Ya, tidak apa-apa. Kan hemat juga, dari pada tiket hangus.

Tangis histeris

Sepertinya sudah dirancang dengan baik. Ade ipar,  Lius Tolok dari yang melewati penerbangan dari Bajawa ,Ende, Maumere dan Larantuka, akhirnya tiba hampir bersamaan.

Suara tangis tidak saja untuk yang meninggal, opa Alfons, tetapi juga juga mereka yang tidak sempat hadir hadir, istri saya yang saat itu karena sakti tidak bisa pulang mengunjungi ayahnya.

Saat melihat wajah mertua, bapa Alfosns saya berbisik pesan Diego: “Opa, jalan bae-bae, dan mohon doa agar Diego bisa mewarisi kepintaran dan kebijaksanaan dari opa”. Hal itu saya bisaikan kembali saat berpamitan dengan almarhum sebelum peti ditutup.

Di tengah tangisan itu, misa siang itu menjadi sebuah saat bahagia. P. Kris Kia Anen datang ke samping saya sambil berbisik dia yang akan misa. Saya bersyukur karena yang merayakan misa adalah orang yang saya kenal dan punya peran yang sangat khusus. Beberapa bulan lalu Pater Kris begitu antusias mendukung buku saya HOMILI YANG MEMBUMI, dan membeli 100 ex bahkan membayar lebih dari harga asli.

Saya juga berbisik ke Kris, bahwa teman Matias Daton juga kenal sangat dekat dengan mertua. Kalau libur, bisa disinggah di rumah. Karena itu suasananya menjadi lebih cair. Saya pun ambil kesempatan untuk mendampingi Pater Kris.

Saat misa, saya rasakan sesuatu yagn luar biasa dari Pater Kris. Homilinya yang luar biasa,  yang memenuhi kriteri sebuah homili yang membumi. Pengantar yang menarik dan kata-kata yang sederhana dan keterkaitan yang luar biasa.

Saya bisik ke Kris”: “Ama, luar biasa sekali homili dengan diksi yagn sangat jelas, apalagi dengan suara bagus padahal dulu di Seminari kalau tidak salah, suaranya ‘pas-pasan’ saja.” Kris lalu berbisik balik: “Saya sudah baca bukumu homili yang membumi sehingga homili harus membumi’ (hehehehe).

Dari misa pelepasan yang diselingi dengan nyanyian para confería, dan upacara kenegaraan (karena bapa alfons seorang guru). Bagi saya, upacara ‘kenegaraan’ seeprti ini adalah yang pertama kali. Ada inspektur upacara, ada pembina upacara (Kabid SD, pa Yulius Lamatapo). Sebuah kombinasi yang bagus antara ibadah dan misa. Upacara kenergaraan pun tidak saja di rumah duka dengan penyerahan keluarga kepada negara, tetapi juga beralngsung sampai di liang kubur.

Setelah proses di rumah duka, lalu dilakukan prosesi ke pekuburan. Jaraknya sekitar 1 km dari rumah duka. Begitu banyak orang yang berbondong-bondong ke ksana. Semuanya mengngkapkan rasa duka mendalam atas kepergian opa terkasih. Di Kuburan bisa ketemu banyak orang, teman Yosef Daga, keluarga lainnya. Semuanya sungguh melarut dalam duka.

Oh ya, di atas pusara,  saya memperhatikan karangan bunga: ada yang adari pemerintah, SD1, dari Koperasi Gurita, dan dari Ankara. Saya juga jadi terkejut, ternyata SMARD San Bernardino juga memiliki sebuah karangan bunga. Luar biasa, saya tersentuh akan inisiatif para guru.

Temui Guru (dan Siswa)

Di tengah duka karena ini juga kesempatan bertemu, maka momen ini digunakan semaksimal mungkin. Tanpa mengurangi duka tetapi kegiatan ini bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Pada Sabtu 23 September sesuai undangan pa Sekjen, maka pertemuan yang direncanakan berlangsung dari pukul 08.00 – 10.00,akhirnya terlaksana pada pukul 09.00 – 12.00.

Sebuah pertemuan luar biasa. Di sana saya mengenal secara lebih dekat para guru, unek-unek, harapan, dan komitmen mereka. Saya menyegarkan kembali visi dan misi dan memberi semangat untuk terus bekerja, Adanya tantangan supaya bisa disikapi. Di sana setiap orang berusaha belajar dari seitap peristiwa dan megnambil hikmah yang baik.

Momen yang luar biasa itu saya mendengarkan ‘sharing’ dari semua guru. Setiap orang memberikan pesan dan kesannya serta masukannya. Semuanya mengungkapkan progress yang ada. Diawali dengan saling tidak kenal, tetapi dalam waktu 2 bulan, mereka sudah bisa bergaul dan menyesuaikan diri dengan baik dan membentuk sebuah team. Ada kecemasan tetapi sekaligus diajak untuk selalu mentrasnfromasi tantangan jadi peluang dengan berpikir positif.

Yang paling menarik dalam pertemuan ini adalah hadirnya dua tokoh berpengalaman dan juga sebagai orang tua Bapa Antonius Dolet Tolok dan Bapak Yosef Meran Lagaor.

Bapa Anton yang pernah jadi ketua Yayasan mengajak guru untuk berimprovisasi dalam pembelajaran, dengan berpikir positif maju ke depan. Awalnya bapa Anton agak tidak setuju karena sekolah ini didirikan dengan ide jauh dari Jakarta. Tetapi setelah melihat langsung dan mendengar sharing guru, ia berkesimpulan, ke depan sekolah ini akan menadji sangat besar oleh orang-orang yang berpikiran sangat positif.

Pa Yos Meran menjadi Ketua Komite SD1 Lewoleba sejak tahun 2002 saat berpindah dari Larantuka ke Lewoleba. Sebuah periode yagn sangat lama tetapi disertai inovasi yang luar biasa. SDK 1 kini menjadi sekolah favorit di Lewoleba dan menjadi sebuah inspirasi dalam inovasi. Aneka sistem baru ingin diterapkan untuk menjadikan sekolah ini benar-benar dikejar masyarakat.

Setelah pertemuan dan makan bersama, saya kembali ke rumah duka. Di sana duka mendalam tidak terlalu tenggelam karena ada tawa yang menghibur. Mama Mertua kelihatan mulai bisa bersemangat meski dari matanya masih tersimpan duka dan belum menerima kenyataan yang sangat tidak diinginkan ini. Pertemuan berlanjut sampai pasang lilin di kuburan (hari kedua) dan doa malam bersama. Di sela-selanya saya mampir sebentar kunjungi bapa Ande Patal yang lagi sakit juga.

Kembali ke Jakarta

Setelah kegiatan selesai, kini mulai ‘simpan-simpan’ untuk kembali. Teringat pesan karena pada hari Senin harus ke sekolah (meski boss masih mengizinkan satu atau dua hari lagi). Saat tengok ke pintu, saya lihat ada ‘kiriman’ (Eh ini hiburan di tengah duka).

Ini untungnya punya 2 saudari yang ada di kampung. Yang dari Lewokukung sudah menitip alpukat setengah karung, beras merah, pisang masak, dan madu asli 2 botol. Yang dari Lerek rupanya juga tidak kalah (apalagi ditambah sebagai  ketua Dewan stasi hehehe). Satu dos berisi kacang tanah dan jagung titi. Cukup cepat ‘dititi ya’..) ternyata sekarang sudah zman beruah. Suda hada yang titi dan disimpan di kios. Sudah disiapkan dan sore sebelumnya oto Tanjung Atadei sudah menitipnya.

 

Setelah megagtur dan mempertimbangkan baik-baik apalagi menginat di Trans hanya 7K maka harus cari rangsel. Rangsel yang didatangkan khusus untuk simpan alpukat hehehe. Tidak apa-apa. Untung saja pengorbanan membeli tas tidak sampai ada ‘bayaran tambahan’, padahal kalau diuangkan tentu berapa, melebihi rangsel? Bisa saja.

Berkat doa dari opa Alfons dan semua keluarga, penerbangan lancar. Di kupang hanya ganti pesawat. Dengan Sriwijaya kami transit di Surabaya. Tapi di sini ada kejadian. Saat keluar dari pesawat, laptop saya ketinggalan di pesawat. Tadinya saya pikir penumpang Jakarta masih terus di pesawat tidak perlu turun di Surabaya. Tiba-tiba harus keluar dan ‘kelupaanlah laptonya’. Untung saja saat cek barang lagi di detektor,diminta mengeluarkan laptop dll. Saya baru ingat lapto saya masih di pesawat. Untung saja masih bisa diperoleh kembali (lain kali ingat ya?).

Tiba di Jakrata semuanya lancar. Adik Paskalis sudah tunggu bersama Mariao puteranya. Kami ke rumah dan malam sudah bisa kembali tidur di rumah. Terimakasih untuk semuanya yang sempat ditemui dalam perjalanan duka ini. (Jakarta 24 September 2017)

Advertisements