MEDITASI MATA

 

MEDITASI MATA

Karena terbiasa bangun pagi pukul 04.00, hari ini, Jumat 25 Maret 2016, meski hari libur, tetapi tetap bangun seperti biasa. Iseng-iseng sambil melengkapi hasil refleksi Kamis Putih tetang CINTA BERTUBUH BERDARAH, saya mendengarkan meditasi Taize dengan lagu: Jesus, Remember Me when Your come into your kingom (Yesus, ingat aku ketika Engkau masuk ke kerajaanMu).wajah9

Lagu ini membahasakan doa dari penjahat, Dismas, yang bertobat. Ia memang merasa bersalah atas dosa dan kesalahan yang dibuat. Hal itu berbeda dengan Yesus yang dihukum karena mempertahankan kebenaran. Di sana ia meminta (dengan sangat), ketika Yesus masuk ke Surga, tolong menyelamatkan juga dirinya.

Meditasi Mata

Lagu ‘Jesus Remember Me’, memang begitu menyentuh. Saat mendengarkan, ditampilkan wajah Yesus tersalib. Secara menarik ditampilkan wajah Yesus dengan pusatnya pada tatapan mata.wajah9

Pertama, mata duka penuh derita. Ia menggambarkan sisi kemanusiaan Yesus yang karena memiliki tubuh seperti manusia, mengalami saat-saat kritis ketika derita itu terasa begitu berat.

Wajah Yesus di salib begitu mendalam menatap setiap mata yang memandangnya. Tatapannya bisu tanpa kata. Dengan itu, bagi yang memandang, dengan cepat merasakan, sebuah tatapan mempertanyakan. Bisa diartikan, ‘mengapa kamu berbuat seperti itu sehingga aku menanggungnya?’ Sebuah tatapan yang mengingatkan masa lalu tentunya. Di sana, mata yang memandang akan berkisah jujur atas salah khilaf yang dilakukan secara sadar atau tidak.Wallpaper Wajah Yesus - Jesus Face (5)

Pada saat bersamaan, dengan wajah meneguhkan, Ia berharap, semoga masa lalu jadi pembelajaran. Sebuah harapan akan sebuah pembaharuan di hari yang akan datang. Kekeliruan di masa lalu tidak untuk dicercah. Tidak juga untuk dijadikan bahan pembicaraan apalagi olokan. Yang ada, sebuah tatapan memohon: “yang sudah ya sudahlah….).

Wajah lain yang ditampilkan dalam meditasi wajah adalah tatapan penuh kasih saat Yesus masih berkeliling dan berbuat baik. Mata penuh belas kasih. Mata yang tidak pernah mengadili atau menyingkirkan. Sebaliknya tatapan mata yang memberi harap.wajah2

Itulah mata Gembala Yang Baik yang mencari yang tersesat, meskipun dalam jumlah yang sedikit atu bahkan hanya satu tetapi Ia mencarinya. Wajah yang mencari kaum tersisih: pendosa, kaum perempuan, dan orang miskin.

Terhadap kaum yang tertingas, Ia tampilkan wajah iktu berlibat. Ia tidak saja merasakan tetapi ikut menderita bersama mereka. Dengan demikian penderitaan mereka tidak hanya milik mereka. Penderitaan juga adalah miliknya.

Dengan tatapan seperti itu, Yesus hendak menyapa bahwa penderitaan tidak menjadi kata akhir. Setiap orang yang menderita hendaknya tidak putus asah. Penderitaan justeru jadi jalan bagi setiap orang untuk bangun. Derita adalah bagian dari kemanusiaan sebagai konsekuensi memiliki tubuh fisik.wajah8

Derita fisik tentu bukan sekedar malapetaka. Sebaliknya derita fisik membangun kesadaran bahwa manusia lebih jauh dari fisik. Ia punya kekuatan yang membuatnya berbeda. Derita karena itu membantu manusia menemukan bahwa dirinya melampaui derita. Ia sanggup mengubah derita menjadi sebuah harapan.

Atas pemahaaman ini, setiap derita menyimpan makna. Ia selalu memberi pelajaran. Dengan demikian ketika menderita, manusia hendaknya mengajukan doa agar sanggup menyibak makna di baliknya.

Tanggungjawab

Tatapan mata tidak saja ditujukkan kepada yang tersisih. Tiga kelompok yang termarginal, memang mendapatkan tatapan khusus. Sebuah tatapan ikut merasakan dan terlibat. Tatapan juga ditujukkan kepada yang sudah melewati ujian penderitaan dan kini sudah mengalami pembebasan.wajah7

Bagi mereka, tatapan lebih bersifat panggilan untuk ikut ambil bagian. Derita sudah begitu meluas dan banyak. Dengan demikian, mata Yesus memandang dan menggugat semuadi yang sudah melewati masa pencobaan dan berhasil keluar dari aneka ujian dalam hidup.

Sebuah gugutan sosial. Meditasi Taize karena itu tidak selesai memberikan kenyamanan individual. Tidak berhenti menghibur dan membuat mereka yang tertindas dan tertindih merasa terhibur . Juga tidak sekedar menghibur sekaligus memberi harapan agar tetap hidup meski didera derita. Sebaliknya mengundang sebuah keterlibatan sosial. William Barclay menulis: Love always involves responsibility and love always involves sacrifice (cinta selalu mencakup tanggungjawab dan pengorbanan).wajah4

Tatapan mata Yesus karena itu tidak pernah sekedar menghibur. Tatapan itu tidak sekedar melupakan masa lalu. Juga bukan sekedar memberikan penghiburan semu. Ia memang menatap penuh harapan memberi optimisme bukan sekedar bertahan dalam derita (pasif).

Kalau demikian, kesalehan yang dibangun hanya bersifat individual. Kesalehan seperti itu juga hanya menambah barisan orang yang menderita. Dunia akan dipenuhi dengan orang yang menderita. Wajah dunia akan suram dipenuhi deretan orang yang menderita. Seorang sahabat memberi cap baru: barisan sakit hati. Dunia penuh dengan orang yang menderita yang pasrah pada derita.wajah JeusuFile0001

Sebaliknya, meminjam kata-kata Kardina Henri J.M.Nouwen, justeru manfaat pengorbanan yang dilakukan Yesus, agar manusia mengalami kebahagiaan. Luka yang diderita mestinya jadi simbol kemenangan. Yang terluka, yang menyembuhkan. Dengan demikian derita tidak pernah selesai untuk dibanggakan. Derita adalah bagian dari hidup yang menyadarkan manusia akan kondisi keallahan yang ia miliki dan panggilan untuk menjadikan bumi lebih tersenyum.

Meditasi mata Yesus karena itu tidak selesai memandang. Ia tidak sekedar menghibur. Lebih jauh ia menggugah dan menggugat agar yang telah melewati ujian derita terpanggil untuk tidak saja menyembuhkan diri tetapi juga menyembuhkan orang lain. hDengan demikian tatapan mata belas kasih yang diterima sebagai solider berubah jadi tatapan penuh harap bagi yang sudah diselamakan.

Robert Bala, Jumat Agung, 25 Maret 2016.