YOSEF (TUJUH) PITO TOLOK

YOSEF (TUJUH) PITO TOLOK

Pada Kamis pagi pukul 06.55, 9 Februari 2017, saya mendapat kabar tentang wafatnya Bapak Yosef Pito Tolok. Ia pergi menjelang meninggalkan 1 isteri, 4 anak, 2 cucu.

Wafatnya ‘Pito Ola’ begitu kami mengenalnya ke pangkuan Bapa merupakan rangkaian ziarah di bumi setelah pada bulan-bulan terakhir menderita sakit. Sakitnya pun semakin menjadi-jadi terutama ketika almarhum tidak lagi minum tablet yang dianjurkan.

Apa sebenarnya yang menarik dari pribadi ayah/kakek kelahiran 04 November 1940 ini? Apa yang menjadi kesan terindah yang dapat dijadikan pembelajaran bagi kita yang masih hidup dan berjuang di dunia ini?

Misteri Angka Tujuh.

“Pito” yang dalam bahasa lamaholot angka tujuh tidak menjadi nama yang kebetulan melekat dalam diri Yosef Pito Tolok.

Angka tujuh mewarnai sejarah hidup Pito Ola. Ia melewati masa kecil di Lerek selama 7 tahun pertama hidupnya. Di sana ia mengalami proses sosialisasi pertama dengan lingkungan kerabat dan sanak kerabat. Sejak kecil diajarkan ayahnya yang merupakan seorang kepala Desa pada masa Jepang (Kepala Ola) untuk berelasi dengan orang lain.yoseph-pito-tolok2

Pito artinya ‘tujuh’

Pengalaman ini sangat membekas dan kuat. Segala memori itu terus diingat. Lebih lagi dalam posisi ‘Kepala Ola’ yang adalah kepala Desa. Ia memiliki relasi dengan banyak orang. Di sana, si kecil ‘Pito Ola’ menikmati masa yang paling indah dalam hidupnya.

Tujuh tahun kedua dilewatkan dalam pendidikan Dasar hingga tamat pada tahun 1953. Di masa ini ia mulai proses lebih jauh. Pengalaman diajarkan dengan kasih oleh para guru SD mendorong si kecil bercita-cita kemudian jadi guru. Itulah maka tujuh tahun berikutnya dilewatkan dengan pendidikan baik Sekolah Guru Bawah di Lewoleba maupun Sekolah Guru Atas di Larantuka hingga tamat tahun 1961.

Setelah tamat, Yosef mulai mengawali tugas mengajar. Tujuh tahun awal ia menjadi guru bantu yakni 1 tahun di Lerek, 1 tahun di SMP/SMA Katolik Andaluri Waingapu, dan 5 tahun di SD Strada Tanjung Priok. Hal ini hanya melengkapi siklus 7. Masa tujuh itu dapat diartikan sebagai sebuah persiapan.yoseph-pito-tolokYang dituju setelah menjadi guru bantu adalah menerima kepercayaan sebagai Kepala Sekolah di ibu Kota dari tahun 1968 sampai 1973. Setelahnya selama 25 tahun mengajar di SD St. Ignatius Jakarta Pusat, di antaranya 7 tahun menjadi Kepala Sekolah. Karya aktif berlangsung hingga tahun 1999 sebelum akhirnya pensiun dari tugas sebagai pengajar.

Setelah pensiun, Yosef melewati 17 tahun. Selama proses ini, Yosef melewati masa-masa yang paling indah didampingi istri tercinta Stefania. Tidak disadari, selama proses ini, Yosef sadar bahwa sebagai orang yang sudah lanjut usia, seseorang harus mempersiapkan kematiannya.

Di rumah ia memajang foto semua anggota keluarga yang telah meninggal. Seluruh rumah dideretkan foto-foto tersebut. Saya dihitung, ternyata ada 16 buah. Nampaknya ada yang kurang, dan ternyata dirinya sendiri yang melengkapinya menjadi angka ke 17.

Angka tujuh rasanya belum cukup. Tahun ini 2017 seharusnya Yosef menggenapi umur 77 tahun. Sebuah angka 7 yang didobel. Inilah angka yang bisa menandai kepenuhan umurnya menjadi 77 tahun.

Angka Simbolis

Rangkaian angka tujuh yang mewarnai hidup Bp Yosef Pito, tidak sebuah kebetulan. Minimal membenarkan bahwa angka tujuh ini begitu bermakna tidak saja secara alamiah tetapi juga mengandung arti spiritual yang sangat dalam.

Secara alamiah tanpa saya sadari terbentang rentetan makna yang tersirat di balik angka tujuh (pito). Ada 7 warna pelagi, ada tujuh bintik pada kumbang, ada 7 keajaiban dunia. Semuanya adalah tanda alam bahwa angka itu punya rahasia yang perlu disibak. Dalam bahasa daerah, ada ‘wai matan pito’ (7 sumber air yang bertemu menjadi satu sumber).sumber-mata-airTujuh mata air “wai matan pito”, yang memberi kehidupan dan kesegaran.
Dalam lingkup rohani, ada 7 duka Bunda Maria, ada 7 kata terakhir di Yesus di atas salib. Ada 7 sakramen, 7 karunia Roh Kudus. Hal itu menunjukkan bahwa di mana pun, angka tujuh menunjukkan sebuah kepenuhan. Artinya, apa yang ada dalam hidup Yosef Pito menunjukkan sebuah kepenuhan makna tidak saja secara alamiah tetapi juga secara spiritual.

Hal itu menandakan bahwa dalam hidup, Yosef Pito hadir sebagai pemimpin alamiah. Sebagai pemimpin tugasnya adalah mengantar dan memahami setiap orang yang ada dalam jangkauan kepemimpinannya. Dalam hal ini, Yosef memiliki rekaman yang sangat dalam dan tajam tentang pengalaman bersama dengan para leluhur.

Pengalaman itu hadir begitu kuat. Bahkan ketika memorinya sudah tidak maksimal lagi,  di mana ia melupakan banyak hal, tetapi tidak sama halnya dengan pengalaman masa kecil. Di sana ia bisa berbicara tanpa ada jedah. Semuanya itu sudah membatin begitu mendalam.

Hal ini hanya bisa mungkin karena ia memahami sebuah kepemimpinan dalam makna sebenarnya. Seorang pemimpin adalah orang yang dapat mengayomi dan melindungi semua orang. Seorang pemimpin yang dapat mempersatukan semua orang tanpa kecuali.yoseph-pito-tolok3Hal ini sungguh diwujudkan. Yosef menjadi simbol persatuan dan kesatuan. Ketika ada anggota yang menjauh, ketika dirundung kasus, ketika ada masalah yang menimpa, Yosef menjadi orang pertama. Di hadapan Yosef tidak ada salah. Ia selalu berpikir positif dengan  melihat kebaikan dari orang itu dan tidak terpengaruh dengan upaya untuk menyingkirkan orang itu dari pergaulan.

Semua kegiatan keluar hanya terjadi karena secara ke dalam Yosef memiliki keakraban dan kedekatan yang sangat kuat dengan anak-anak. Baginya, meski anak sudah dewasa, tetapi perhatiannya tetap penuh. Baginya, meski pun sudah berkeluarga, mereka tetaplah anak.

Sebagai orang tua, Yosef memiliki perhatian yang sangat dekat dengan keempat anaknya. Ia selalu memikirkan hal terbaik agar dapat diperoleh anak-anak. Untuk itu, terkesan dalam banyak hal, Yosef ingin campur tangan. Hal itu hanya untuk memastikan bahwa semua anak sudah memperoleh apa yang harus didapatkan dalam hidup.yoseph-pito-tolok2-copy-2Terhadap pengalaman itu, keempat putera dan puteri yang ditinggalkan memohon maaf. Maaf karena kadang kata yang bermakna indah di akhir tidak diterima dengan semestinya. Kini setelah ‘sang pengoceh’ telah pergi, baru terasa indahnya semuanya.

Makna spiritual tidak kalah penting. Yosef memiliki kehidupan rohani yang sangat mendalam. Sebagai guru ia menjiwai apa yang ia ajarkan dan semuanya mengalir dari sebuah kekayaan rohani. Tak heran, spiritualitas itu terwujud dalam relasinya yang sangat dekat dengan siswanya meski ia tahu bahwa ia harus tegas kepada anak, hal mana terus diingat oleh anak didiknya meski sudah terlewatkan waktu yang panjang.7-karunia-roh-kudustujuhDalam kaitan dengan hidup rohani, ia berada di barisan paling depan dalam hidup doa yang disertai nyanyian. Yosef selalu mengajarkan agar hidup doa menjadi pangkal hidup karena di sana ada kekuatan. Hal itu terus dijiwai terutama di masa tuanya. Ia tahu, hanya melalui doa, kita dapat menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan hidup.

Keras Kepala?

Pengalaman hidup Yosef sangat luar biasa. Berbagai tahapan telah dilewati. Dalam proses itu, Yosef sungguh mengetahui mana yang baik dan harus dilakukan dan apa yang harus dihindarkan.yoseph-pito-tolok9

Pengalaman itulah yang ingin diteruskan kepada orang lain, terutama anak-anak. Dalam aspek ini, terkesan ia terlalu ‘keras kepala’ ketika memaksakan sebuah pendapat. Baginya pengalaman hidup telah membutuhkan. Dengan demikian ketika sesuatu dianggap penting dan tepat, ia tidak akan mundur selangkah pun darinya.tujuhBagi ‘Pito’ tidak (x) ada tawar-menawar ketika hal itu menyangkut prinsip. Tetapi untuk hal yang baik (v), Yoseph pasti ada di depan.

Rangkaian pengalaman itu tentu baru dirasakan setelah wafat. Ocehannya yang dulu membosankan bisa hadir kembali sebagai kata-kata penuh makna. Kini baru disadari bahwa apa yang ‘disampaikan’ karena hal itu merupakan sebuah kebenaran. Ia bukannya keras kepala tetapi hanya mau mengajarkan tentang nilai yang tidak bisa ditawar-tawar. Ada banyak hal yang kita bisa ‘nego’ tetapi begitu banyak hal lain merupakan harga mati.yoseph-pito-tolok8

Keluarga berduka atas kepergian figur pemersatu keluarga.

Selamat jalan si ‘keras kepala’. Kini kami baru sadar bahwa untuk bisa menjadi orang bermakna, seseorang harus pegang pada prinsip. Ia tidak bisa sekadar ‘terombang-ambing’ tetapi berdiri tegak di atas nilai yang sudah dianggap baik dan benar. (Robert Bala, Kamis 9 Februari 2017).