MENJAWAB PANGGILAN LELUHUR, RM SEBAST URAN BALA PR

MENJAWAB PANGGILAN ‘LELUHUR’

Rm Sebast Uran Bala Koban, Pr

Banyak orang tidak percaya (termasuk saya) atas berita kepergiaan Rm Uran, demikian panggilan kami di kampung maupun sejak di Seminari Hokeng dulu. Sebuah kepergiaan yang tentu tidak disangka-sangka, karena kehadirannya di Seminari San Dominggo Hokeng baru setahun lebih.

Tetapi ketika ‘dipanggil’ oleh “Si Pemilik Kehidupan”, siapa pun tidak bisa melawan. Bayi, anak, remaja, orang yang memiliki peran besar, orang tua, dan siapa pun saja hanya boleh menjawab ‘ya’.

Lalu apa yang bisa saya kisahkan dari Rm Sebast Uran Bala Koban?

“Imut Pendek Kecil”

Kedekatan saya dengan ama Uran Bala, baru terjalin secara khusus saat di Seminari Hokeng. Meski berasal dari Lerek, tetapi karena orang ayahnya: Ambrosius Wadan Koban adalah guru maka sering berpindah-pindah. Terakhir sebagai guru di Waiwejak, dengan peran sebagai Komisi Keluarga, maka sering berjalan kaki bersama sang istri tercinta ke pusat paroki Lerek.

Tetapi kedekatan yang khusus dengan Uran baru terwujud sejak masuk Seminari. Saat itu saya ada di kelas 3 SMA Seminari Hokeng dan Uran serta Markos Wuwur yang dari paroki Lerek baru masuk Kelas Persiapan Bawah, sebuah kelas persiapan sebelum memasuki SMA.

Sebagai siswa termuda dan terkecil, apalagi berasal dari paroki yang sama, selain bahwa dalam hubungan kekeluargan merupakan anak makin, maka perhatian yang lebih dari wajar tentu saja diberikan.

21 April 2017, Rm Uran mengikuti acara JAGUNG PERDANA di rumah adat di Lerek, rumah leluhur. Dalam perjalanan ke Lerek, ama Uran menulis: MENJAWAB PANGGILAN LELUHUR. Sebuah persiapan kematian?

Perawaan Uran darn Markos Kia Wuwur memang sangat menarik perhatian. Tubuh mereka sangat kecil. Warisan tubuh sejak di SMPK Santu Pius X Lewoleba. Julius Tolok, teman sekelas Uran melukiskan bahwa Uran waktu itu dikenal sebagai “IPK” alias: “Imut”, “Pendek”, “Kecil”. Jalannya selalu tunduk, serius dengan apa yang dilihat di bawah. Sesekali baru angkat kepala, itu pun kalau ada halangan di depan atau panggilan supaya harus mengangkat kepalanya.

Karena berbadan pendek, awal-awal di Seminari Hokeng, Uran masih mau pakai celana pendek. Celana yang ‘pas’ dengan badannya yang pendek. Tetapi Uran tidak merasa risih atas teguran tuan Vermolen “tikus kecil” (anak kecil), harus pakai celana panjang, demikian kesaksian Paul Saban, teman sekelas di Sesado Hokeng.

Kepolosan itulah yang terpancar secara asli dan alamiah. Meski kemudian badannya menjadi besar (malah sangat besar) dengan hiasan jenggot yang kelihatannya angker, tetapi sebenarnya itu sebuah ‘tipuan luar’. Ketika dekat, berbicara, memandang wajahnya yang polos dan jujur, akan terasa keaslian Uran Bala.

Rendah Hati

Pertemuan dengan Romo Uran agak terputus. Pada awal tahun 2001 atau 2004, kalau tidak salah, secara tidak sengaja saya ketemu kembali dengan Romo Uran saat liburan. Dengan polos sambil garuk kepala (merasa diri tak pantas), Uran mengatakan: “Epo, de huda kai kuliah dere lew Kupang” (Om, saya diminta untuk kuliah lagi di Kupang).

Sebuah perubahan yang tentu sangat besar. Uran merasa lebih nyaman kerja di Paroki sebagai pastor. Kerendahan hati, kepolosan, dan semangat menolong yang jadi kekhasan, jarang marah, akan merasa dia lebih nyaman bekerja di tengah umat daripada harus bekerja jadi guru, dengan segala model dari anak didik yang bervariasi.

Tetapi itu tugas. Yang jadi berat, karena harus duduk kembali menjadi ‘murid’, meski dinaikkan derajatnya menjadi ‘mahasiswa’. Sesuatu yang berat. Selain itu harus duduk jadi ‘anak didik’ dengan mahasiswa lain yang tentu saja umurnya sangat ‘jauh di bawah’. Di sana Romo Uran harus ‘belajar lagi, bersaing lagi’.

Tetapi itu diterima dan dilewati saja. Namanya Uran. Kerendahan hati telah membuatnya harus menerima dan menjalani saja. Apa pun yang terjadi di depan harus dilewati. Proses yang berjalan alamiah dan dilewati dengan senang hati tidak salah. Ketepatan ‘pembesar’ melihat ‘bakat mengajar’ yang diwarisi sang ayah, Guru Sius, menyakinkan bahwa Uran harus kembali ke bakat untuk mengajar.

Setamat dari UNIKA Kupang Jurusan Bahasa Inggris, berbagai tugas penting segera menunggunya. Tugas sebagai Kepala Sekolah SMK Darius Larantuka. Tugas baru kembali menanti ketika Larantuka hendak membangun SMK ST Fransiskus Asisi Larantuka. Di sana tangan dingin Uran, yang berbadan kini gemuk dan pendek, dirasakan dan dinantikan.

Yang barangkali tidak disangka-sangka meski itu sudah dalam proses bidikan adalah kembali ke Seminari Hokeng sebagai Kepala Sekolah. Sebuah posisi yang barangkali hanya ditempati orang yang pintar dan cerdas, sementara Uran yang rendah hati tidak menempatkan diri sebagai orang dengan kualifikasi seperti itu.

Dalam sebuah perayaan misa di Loang, ia mensharing ketidakmampuan dan ketidakberdayaannya harus menerima tugas yang maha penting itu. Ia merasa banyak orang lain yang lebih mampu darinya. Malah orang yang lebih hebat dan lebih pintar bahkan telah memilih jalan lain (kemudian lewat keluarga saya mendapatkan informasi bahwa Romo Uran menyebut saya dalam barisan ini).

Semuanya hanya gambaran kerendahan hati. Sebuah ekspresi diri yang tidak dibuat-dibuat. Itulah keaslian diri seorang Uran Bala, demikian panggilan polos dari teman-temannya sejak kecil.

Tanda-tanda (pada) Dinding Facebook

Bulan terakhir sebelum wafat, sepintas tampilan Romo Uran agak menarik perhatian saya. Di tengah minimnya komunikasi, saya memperhatikan beberapa cuitan Facebook yang ketika telah terjadi sesuatu seperti kematiannya, baru terpikir.

Pada 21 April, saat membuat status dalam perjalanan ke Lerek, ia menulis: “Menjawab Panggilan Leluhur”. Saya tersentak, ada apa dengan ‘maki Uran?’. Ternyata yang dimaksud, saat itu semua putera dari suku Koban, harus kembali ke “Una Rajan” (rumah besar) untuk melaksanakan aktivitas membakar jagung hasil panen.Tidak disangka kegiatan itu hanya sebulan sebelum wafatnya. Ia pergi mengikuti Panggilan Leluhur sebelum panggilan dari ‘Si Empunya’ kehidupan itu sendiri. Saya tidak tahu apakah aktivitas itu sudah biasa dihadiri Romo Uran setiap tahun atau tidak. Minimal kali ini yang sangat menarik perhatian.

Di sela-sela kegiatan BAKAR JAGUNG di UNARAJAN (Rumah Besar/ Rumah Adat Lerek 21 April 2017

Bisa saja untuk pertama kali, kegiatan ‘bakar jagung’ dilaksanakan secara bersama dalam dua suku yang sama meski dengan cabang berbeda yaitu Koban Atlolo dan Koban Atlenge alias Koban Wutun. Di sana kegiatan yang diramu oleh pak Leo Waleng dan Bapak Karel Kia Koban telah menjadi momentum luar biasa mengajak seluruh keluarga bersatu. Tetapi kegiatan ini secara khusus yang mengharuskan Uran hadir karena merupakan putra sulung dalam keluarga menjadi sebuah pengalaman khusus. Sayang bahwa kegiatan terobosan ini hanya diikuti sekali dan tepatnya sebulan sebelum dipanggil oleh ‘Si empunya kehidupan’.

Tanda-tanda lain yang bisa terbaca, Uran begitu galau atas bangsa ini. Pada dinding FB nyaris lagi tertulis sesuatu yang sederhana. Ia kelihatan kehabisan kata untuk berbicara ketika melihat keanehan yang terjadi di negeri ini. Ahok yang terpanjara, bagi Uran yang adalah pendidik adalah sebuah manipulasi luar biasa. Ada keanehan di mana yang seharusnya menjamin kebenaran dalam kenyataannya justru merancang kebusukan yang tidak bisa ditoleril.

Uran melihat perbedaan agama mestinya tidak jadi masalah. Agama hanyalah ‘cara’ menuju kepada ‘Yang Ilahi’. Para pemeluk agama berbeda mestinya bersaudara, menjadi sesama peziarah. Karena itu pas dalam perjalanan pulang dari Lerek kembali ke Hokeng, Uran melihat pengalaman menarik. Di sana seorang biarawati dan seorang muslimah berkerudung duduk bersamaan, berbincang secara santai, tidak melihat hal luar sebagai perbedaan tetapi yang lebih dalam: sikap dan perilaku.

Bidikan kamera Sebast Ranla, sebulan sebelum wafat. Kegelisaan akan negeri yang terkoyak oleh egoisme dan sektarianisme.

Hal seperti itu alamiah di NTT yang terkenal dengan Nusa Terdepan Toleransi. Terhadap pemandangan indah itu, Uran menulis: Di dalam motor pagi menyaksikan keakraban dalam keberagaman.alangkah indahnya hidup bersama dalam keberbedaan” (24 April 2017).

Tulisan itu merupakan sebuah ‘tamparan’ terhadap kepicikan yang justru terjadi di ibu kota negeri ini. Di sini sebenarnya toleransi menjadi indikator kedewasaan kehidupan berbangsa. Tetapi justru yang terjadi pengkotak-kotakan yang tentu saja tidak terjadi secara alamiah tetapi ‘by design’, sesuatu yang dirancang oleh calon pemimpin picik.

Foto yang sudah diunggah Romo Uran kembali diupload meski dengan latar belakang berbeda tetapi nuansa sama. Postingan itu hanya seminggu sebelum kematiannya. Kegalauan yang luar biasa. Mayoritas postingan Romo Urang hanyalah ‘membagikan kembali’ tulisan tentang ketidakadilan yang terjadi. Uran merasa tanpa kata lagi untuk berbicara. Baginya sudah cukup membagikan tulisan orang yang mengungkapkan kegelisahan tentang negeri ini. Hanya sekali ia menulis pendek dan itulah tulisan terakhirnyam 10 Mei 2017 “Hanya satu kata: LAWAN”. Terhadap kepicikan dan kebohongan hanya bisa dilawan. Tentu saja bukan melawan kekerasan dengan kekerasan, kepicikan dengan kepicikan, mata ganti mata, tetapi melawan dengan memberi kesaksian yang lebih positif’.

Postingan terakhir lain yang menarik perhatian adalah tentang Seminari Hokeng. Pada tanggal 26 April 2017, sekembali dari kampung, Uran menulis tentang pemugaran atap Kapela Seminari Hokeng oleh alumnus pertama: Pater Paulus Boli Lamak SVD. Sebuah upload sekaligus menunjukkan kecintaannya pada Seminari Hokeng.

Beberapa saat bersamaan, Uran menulis tentang kegiatan Live in kelas X dan XI, di Lite. Saya merasa terenyuh dengan postingan itu. Sebuah kegiatan yang diselenggarakan barangkali juga sebagai ekspresi nyata ‘mendidik’ siswa seminari bukan saja mengajarkan mereka. Mereka perlu mengalami hidup nyata di tengah umat, mengalami perjuangan mereka dan kehidupan riil.

Tetapi melihat proses itu saya juga tersentuh. Sebagai alumni Seminari Hokeng dan terutama juga melihat prestasi akademik Seminari Hokeng pada Ujian Nasional, saya rasakan bahwa sebagai kepala sekolah, pasti hal itu juga menjadi perhatian. Di level NTT, seminari Mataloko dan Kisol selalu menjadi juara, banyak alumni dan saya sendiri bertanya: mengapa tidak ada nama Seminari Hokeng? Apa yang bisa saya buat sebagai alumnus untuk almamaterku?

Lalu ada pikiran spontan, kalau di daerah Jakarta bisa memberikan pelatihan kepada orang lain, mengapa hal itu tidak dilakukan dengan almamaterku? Mengapa saya tidak membantu ‘anak makin’ keluargaku dan orang yang saya kenal dari seminari kecil dulu yang kini jadi kepala sekolah di Seminari Hokeng? Kebetulan lagi dalam rencana liburan nanti saya akan lewat Seminari Hokeng dalam perjalanan dari Maumere ke Larantuka. Saya coba tawarkan kegiatan pelatihan INTERACTIVE TEACHING untuk para guru Seminari. Karena itu pada tanggal 7 Mei 2017 pukul 20:17, saya menulis berikut ini:Sayangnya, sampai wafatnya Romo Uran tidak menjawabnya. Romo Uran tidak juga membuat janji. Ia tetap membiarkannya. Terlihat bahwa Romo sudah membacanya tetapi tidak menjawabnya hingga wafatnya. Saya tidak tahu apa maksudnya. Sebuah pertanyaan terbuka yang juga membuat saya ikut bertanya menjadikan sebuah pertanyaan tentang Seminari Hokeng yang kini ditinggal pergi oleh Rm Sebast Uran Bala Koban Pr. Ia tinggalkan terlalu cepat padahal ia harus menandatangani ijazah. Tetapi yang paling penting ia tinggalkan pertanyaan tanpa jawaban dan hanya mengingatkan saya bahwa kita semua harus siap pada PANGGILAN LELUHUR, PANGGILAN PADA YANG PUNYA KEHIDUPAN.

Dari kebisuan dan keheningan, saya hanya menulis: WAGE DIHARE MAKI.Selamat menjawabi PANGGILAN LELUHUR dengan kerendahan hati dan kepolosan. Doakan Kami yang masih berjuang. Semoga PR yang ditinggalkan, pertanyaan yang tak terjawab, jadi sebuahh PR bagi kami.

Yang tidak kalah penting, semua tanda di atas hanyalah tanda, seakan Romo sudah menyiapkan kematian. Secara fisik menjelang kematian, wajah seram berubah jadi ‘lebih ramah’ dengan jenggot yang dicukur. Romo siap kembali kepada panggilan leluhur. Di sana tidak ada wajah seram, jenggot menakutkan tetapi lebih ramah. Selamat jalan. Minggu terakhir sebelum wafat, Romo Sebast ‘rupanya’ tahu bahwa waktunya semakin dekat. Jenggot yang menyeramkan diubah dengan wajah yang lebih ramah karena harus menghadap sang khalik.