PETRUS BUNGA WITIN, SEBUAH GAMBAR DIRI

 


Petrus Bunga Witin

Sebuah Gambar Diri

Di hari wafatnya ‘bapa Petrus Bunga Witin’ yang dipanggil Etus’, sebuah foto dikirim adik iparnya, Andreas Muhu Pukay. Sebuah foto tentang Etus yang lagi memfoto sesuatu.

Entah apa yang difoto: anak-anak yang lagi bermain pasir, indahnya pantai. Singkatnya, Etus lebih sibuk melihat sesuatu yang indah dan menarik ketimbang memfoto dirinya (selfie).

Sebuah gambar yang sederhana tetapi bisa saja menggambarkan siapa itu Petrus Bunga Witin. Ia nyaris ‘selfie’ hanya mapun menampilkan diri sendiri. Gambar sederhana ini barangkali bisa berbicara. Ia menyampaikan sesuatu tentang Etus.

Kegembiraan Etus adalah ketika melihat orang lain bergembira.

Bapa Rumah Tangga

Kombinasi antara Kris dan Etus memang agak ‘terbalik’ dari banyak orang. Biasanya istri berada di rumah dengan aktivitas seputar rumah tangga. Sementara itu suaminya harus keluar dan mencari sesuatu.  Atau agak aneh bila dalam sebuah keluarga, keduanya (suami istri) sibuk. Harus ada yang tetap di rumah. Hal inilah yang terjadi dalam Etus dan Kris.

Satu keluarga dengan peran berbeda tetapi satu tujuan. 

Etus tahu bahwa dalam keluarga mesti ada pilihan, dan keduanya sama. Ketika satu (sang isteri) sibuk dalam urusan Gereja, urusan sosial, maka ada yang ‘harus mengalah’. Etus memilih jalan ini yang tidak populer untuk banyak suami. Ia pilih ‘mundur’ demi memberi ruang pada sang istri. Ia mundur dan mengambil peran sebagai ‘bapak rumah tangga’, sebuah istilah yang tidak umum. Biasanya ibu rumah tangga, tetapi Etus memilih jalur sebaliknya sebagai ‘Bapak Rumah Tangga’.

Sebagai Bapak Rumah Tangga, Etus memilih lebih banyak di rumah. Ia melaksanakan tugas yang bisa dilaksanakan seorang ibu. Sebuah peran yang ditambah lagi karena keluarga ini memiliki usaha berupa warnet, travel (Kowa Ape Travel), dan karena itu perlu selalu ada orang di rumah melayani orang. Usaha ini pula yang menopang hidup keluarga.

Tetapi ia tidak sekedar ada dan pasif. Meski di tengah kakinya yang agak terseok-seok membuat jalannya tidak terlalu lurus, Etus masih lincah mengantar sang istri dan anak dengan sepeda motor. Sebuah bantuan yang membuat sang istri dapat ada secara tepat di waktu yang berdekatan.

Tentu saja hal ini tidak lepas dari konflik. Lebih terutama ketika sang istri lebih banyak keluar dan lupakan yang lain. Tentu saja ada rasa tidak puas, tetapi Etus selalu menanggapi dengan kerendahan hati. Tetapi selagi dinamika ini diatur, maka konflik itu tidak menjadi masalah. Malah, terjadi perpaduan yang harmonis (seorang pembaca menganalogkan Etus dengan St. Yosef yang pendiam dan menyimpan semuanya dalam hatinya).Keterlibatan sang istri selalu didukung, malah dalam banyak hal disyukuri. Dalam sebuah pembicaraan lepas, setelah mengadakan pelatihan fasilitator di paroki Tanung Priok, saya dengar ungkapan ini dari Etus:  “Saya bersyukur ama, karena dengan keterlibatan istri di Parokik banyak orang kenal kami”. Etus bangga bahwa pelayanan itu juga memberi berkat bagi keluarga. Yang didapatkan adalah ‘dikena’ bukan karena hal besar yang dibuat tetapi atas hal kecil.

Ia melihatnya dengan sangat positif bahwa apa yang dilakukan sang istri selalu baik dan positif. Ia harus mendorong dan memberikan bantuan bila diperlukan.

Gereja adalah ‘rumah’ kedua.

Ada banyak kisah yang bisa menggambarkan bahwa Etus memang seorang pribadi berjiwa mulia. Ia tidak pernah memerhatikan dirinya. Ia justru lebih perhatian pada orang lain.

Dalam sebuah pembicaraan kekeluargaan, saya menangkap sesuatu yang luar biasa dari magun Etus. Dia kisahkan saat pulang dari Flores, mereka bersama-sama dengan sebuah keluarga yang mau ke arah Jawa Tengah. Mereka tidak punya keluarga di Jakarta. Etus lalu menawarkan untuk nginap di rumahnya sampai beberapa hari. Itulah sisi penuh perhatian dari Etus. Dengan siapapun ia akan tawarkan sesuatu.

Saya pun lebih kenal Etus. Ia adalah orang yang sangat tulus, malah tulus sekali. Dalam kesederhanaan bahkan ia masih ingat akan orang lain. Baginya, berbuat baik tidak tunggu sampai kita punya sesuatu, tetapi justru bisa dilakukan saat kita kekurangan.Beriman dan Sederhana

Model pengabdian tulus seperti ini rasanya kerap sulit dijelaskan. Bagaimana mungkin keluarga ini bisa sangat aktif dalam kehidupan sosial padahal bagi banyak orang hal ini mestinya jadi alasan untuk tidak melakukan apa-apa.

Biasanya orang berpendapat, kita hanya bisa lakukan sesuatu bila ada waktu, tenaga, dan uang, hal mana wajar adanya. Kita harus pentingkan ‘perut’ dulu baru bisa bekerja. Tetapi itu tidak terlihat dalam keluarga ini. Di mata manusia yang tidak mustahil, keduanya membuatnya menjadi mustahil.Dalam beberapa ngobrolan dan kegiatan, terlihat hal itu sangat nyata. Orang akan dengan cepat pada kesimpulan sungguh besar iman Etus dan Kris. Yang saya maksud, mereka tidak pernah melihat bahwa untuk melakukan sesuatu harus memiliki sesuatu. Justru dalam keterbatasan mereka bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.

Mereka tahu bahwa memang benar yang dikatakan Yesus: Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Mat 6,26). Artinya, burung di udara tidak pernah cemas akan apa yang dimakan. Kita pun mestinya tidak cemas bahwa keterlibatan dalam kehidupan sosial, menggereja harus terbayar dengan materi. Ada ‘rezeki lain yang bisa diterima.

Artinya berbuat sesuatu mestinya bisa dilakukan kapan dan dimana saja, serta dalam keadaan apa pun. Ketika masih ada waktu dan kesempatan, siapa pun bisa berbuat baik, hal mana yang keluarga sederhana ini coba ungkapkan. Dalam kehidupan di Gereja tidak ada kata ‘tidak bagi Kris’. Ia bisa buat apa saja, karena tahu bahwa di rumah, bapa Etus ada.

Menitip cahaya buat bapa Etus, semoga terus bercahaya terutama buat keluarga kecilmu yang ditinggalkan.

Lain lagi tentang hidup sederhana. Di saat harus pulang kampung seperti banyak orang harus kembali, mereka tidak sangkali bahwa ada kerinduan yang sama. Di saat banyak orang yang jadi teman harus menggunakan pesawat, mereka berdua dengan kondisi apa adanya dan hanya bisa pulang dengan kapal laut, tetapi itu dinikmati. Tidak pernah dilihat merendahkan, meski setiap hari tugasnya untuk jual tiket pesawat.

Meski sederhana, keduanya juga dengan mudah memahami kesusahan orang lain. Dalam ngobrolan lain saat bicara dengan satu ‘usaha’, mereka malah masih merasa kasihan dengan orang lain dengan memberikan harga ‘di bawah’ (padahal orang itu punya pekerjaan yang lebih baik). Mereka tidak berpikir harus ‘memgambil sebanyak-banyaknya’, tetapi sewajarnya. Bagi mereka, itulah yang bisa kita buat dengan tulus kepada siapa pun termasuk saudara.

Hal-hal besar ini dilakukan hanya karena Etus dan Kris punya iman. Mereka percaya bahwa Dia yang punya kehidupan ini punya banyak rencana dan semuanya tidak bisa kita ukur dair materi.

Kehilangan Besar

15 November pagi, saat mendengar telepon bahwa Bapa Etus telah meninggal dunia, saya tidak percaya. Beberapa menit sebelumnya, Kristina sang istri barusan menginformasikan di group Koker bahwa ia berada di RS Koja karena bapa Etus dalam keadaan sakit karena trombosit yang turun.Tidak ada rasa curiga pun bahwa informasi itu sekaligus membuka informasi baru beberapa saat kemudian bahwa Bapa Etus sudah pergi selamanya. Sebuah kepergian yang menjadi kehilangan yang sangat besar tentu saja bagi keluarga. Carol dan Oning masih terlalu kecil untuk hanya bisa dibesarkan oleh hanya seorang ibu. Lebih-lebih karena mulai memasuki remaja, hal mana membutuhkan kedua orang tua.

Sebuah kepergian yang sangat berat buat anak-anak. Di tengah dinamika keluarga, kehadiran ayah yang sangat tulus yang jadi teman untuk dua anak lakinya tentu sangat dirasakan. Terlihat dari gambar awal yang dikirim, saat puteranya tidur sambil menangis di samping ayah yang lagi kaku. Mereka teriak histeris karena orang yang paling baik itu telah pergi.Kepergian suami tentu punya arti yang sangat besar bagi Kris sang istri. Meski dengan kondisi sakit akibat kecelakaan kaki beberapa tahun lalu, tetapi dengan ketulusan, ia selalu siap mengantar sang istri dengan motor untuk hadiri pertemuan terutama di Gereja.

Itulah ‘separuh hidup’, kata Kris suatu saat. Bapa Etuslah yang membuat Kris bisa cepat ke sana dan ke sini. Meski marah (seperti suami pada umumnya kalau sang istri terlalu sibuk), tetapi ia tetap melihat secara positif apa yang dibuat Kris. Etus adalah orang yang selalu berpikiran positif karena ia tahu bahwa semua yang dilakukan sang istri selalu demi orang banyak dan mendatangkan kebahagiaan juga bagi mereka. Itulah hikmahnya.

Kepergian Etus tentu menjadi sebuah kehilangan untuk Paroki St. Fransiskus Xaverius Tanjung Priok. Sayap sebelah yang telah patah tentu akan terasa dalam pelayanan sang istri yang selama ini selalu bisa melakukan apa saja demi gereja karena tahu ‘di rumah ada orang’. Kini, tentu saja sebuah kepergian yang sangat terasa.

Terutama juga bagi para katekis yang selama ini merasakan bahwa kegiatan apapun pasti Kristina Tere Pukay (disingkat KTP) selalu tidak pernah mengatakan tidak. Ia berani mengatakan ya karena tahu bahwa ‘di rumah ada Bapa rumah tangga’. Di sana ia menjaga usaha mereka, menjaga kedua putera yang lagi bertumbuh.

Kepergian magun Etus, juga sebuah kehilangan bagi Yayasan Koker Niko Beeker. Etus tidak pernah tampil di depan, tetapi ketika ada sesuatu yang harus dikirim ke SMARD Lewoleba, Etus selalu menjadi yang terdepan. Pada awal tahun ajaran, di saat harus mencari komputer, laptop, printer untuk sekolah, tidak ada yang melakuakn selain ‘om Etus’. Ia mencari yang terbaik dan melakukan dengan tulus.

Pagi itu, jam 5 pagi, saat sakitnya sangat serius mendera pun seharusnya ia ke Pelaburan Tanjung Priok. Ia harus kirim 1 karung seragam sekolah, tetapi Tuhan punya rencana lain. Ia panggil ‘sang bapa rumah tangga’, pria yagn tulus membantu untuk ke rumahNya. Dari sana, ia pasti membantu dengan lebih banyak, menopang banyak tangan lagi.

Bapa Etus, selamat jalan. Semoga ketulusan, pengorbanan, kerendahan hati yang dimiliki, dapat terus hadir menopang keluarga kecilmu (Kris, Carol, Oning), memberi jalan keluar untuk semua kegiatan sang istri, dan mendoakan Yayasan Koker Niko Beeker yang baru setahun umurnya.Kami mohon dari surga, kamu terus ‘mengambil setiap gambar indah’ yang ingin kami wujudkan dalam hidup. Seperti kamu mengambil foto di pinggir pantai itu, kami minta agar ama bisa terus ambil gambar indah dari dua puteramu yang melewati masa remaja dengan gembira; gambar istrimu yang penuh pengorganan, dan semua yang menjadi bagian dari hidupmu….

Doamu, akan membuat duri kehidupan berubah jadi bunga yang harum mekar, seharum namamu “BUNGA”.  Selamat jalan ama. “Naroi….., wage har-hare”.

Advertisements