BLASIUS OLA (HAREN) KOBAN

BLASIUS OLA (Haren) KOBAN

Hari Jumat, 09 Oktober 2015, pukul 16.00 sore, ia memanggil satu persatu adik, anak, keponakan, dan cucunya. Dengan tenang, ia beri tanda salib pada semua mereka. Ia mau berpamitan. Tidak ada lagi kata yang keluar, hanya anggukan kecil, pratanda berkat diberikan.BLASIUS OLA KOBAN2Diapiti Willy dan Rita, di saat-saat terakhir

Tapi sesudahnya masih ada napas. Ia masih bangun, meluruskan punggung. Ternyata ada yang belum datang. Saat yang ditunggu tiba, ia pun kembali menarik napas. Itulah pukul 17.45, Blasius Ola Koban, yang kelahiran 31 Desember 1948 pergi untuk selamanya, berumur 67 tahun.

Itulah gambaran yang terjadi di saat-saat di mana opa, kakak, Om, Blasius Ola Koban meninggalkan dunia ini. Semuanya dihadapi dengan begitu tenang. Semuanya dinantikan sampai semuanya datang. Ia bersyukur, saat meninggal, dihadiri oleh semua anak dan cucu, yang berasal dari darah dan dagingnya sendiri.

Mulai dari Bawah

BLASIUS OLA KOBAN19

BLASIUS OLA KOBAN

Kenangan saya untuk Epoi Blasi (demikian sapaan kami sejak kecil, epo sama dengan om), sekitar tahun 1973an. Saat itu saya baru berumur 5 tahun. Saya ingat di salah satu sudut di Lerek, di samping rumah bapak Paulus Raja Ata Koban, ia menggelar pakaian. Di sana, Epoi Blasi, dibantu beberapa orang (saya ingat Bapa Laba Ago), menjejerkan barang-barang dagangan.Untuk ukuran kami orang Lerek, itu sudah sangat sukses. Ia membawa barang-barang yang sangat dibutuhkan masyarakat, terutama para ibu. Yang dibawa antara lain  benang, bahan dasar untuk tenun-ikat, kain. Selain itu ada kain yang oleh orang kampung disebut ‘kain lipa’, dan barang kebutuhan harian.

Sejak saat itu, nama itu begitu menyatu dengan keluarga. Ayah saya, yang akhirnya meninggalkan profesi sebagai ‘tukang batu’, oleh karena desakan ekonomi, lalu ikut nimbrung jadi pedagang atau papaleleh. Niat itu kemudian juga diteruskan agar desa tidak saja diam dengan dana dari pemerintah tetapi kalau boleh dikembangkan. Adapun tempat berbelalanja adalah Maumere, dan tempat singgah selalu rumah Epoi Blasi Koban.BLASIUS OLA KOBAN3Senang masih mengunjungi orang yang memiliki peran sangat penting dalam hidup saya dan keluarga saya.

Di situlah, saya mengenal dengan begitu dekat Epoi Blasi. Selama liburan, kami pun diajak bapak ikut belanja ke Maumere. Bagi ayah saya dan Epoi Blasi, mereka hampir bertemu tiap bulan, seirama dengan sirkulasi barang-barang di kampung. Tetapi pertemuan itu sekaligus jadi momen untuk mereka bisa bertukar pikiran.

Dari sana saya dapat ‘bocoran’ tentang masa kecil  Epoi Blasi, usahanya yang dari awal sangat kecil, perlahan mulai besar. Saya ingat cerita kaka Maria Magun. Ia masih ingat, saat pertama kali keluar dari kampung, Epoi Blasi hanya berbekal sebuah boka berisi jagung titi dan sebuah kelombu (bekas sak terigu), tempat menyimpan pakaiannya yang bisa bisa dibawa.

20150718_065028Syukur, masih bisa satu penerbangan dengan om Blasi dari Kupang ke Jakarta, 20 Juli 2015

Langkahnya begitu sederhana. Ia ingin mengubah hidup. Ia rasa bahwa bertahan di kampung Lerek, bukan solusi. Tetapi usia itu sangat terlalu muda. Hanya belasan tahun, itupun baru tamat SD. Tetapi tekad itu sudah ada dalam diri ‘si kecil Blasi’.

Di Hokeng dan kemudian di Maumere, ia mulai belajar berjualan, ikut orang. Yang dikerjakan awal adalah sebuah tukang cuci, seterika, dan masak. Pekerjaan sederhana tetapi dijalankan dengan setia. Yang jadi keungulan, ia selalu mau bertanya (sehingga tidak sesat di jalan). Apa pun dipelajari, ditanya. BLASIUS OLA KOBAN18Seorang pekerja keras, suka berdiskusi, cari pengetahuan baru. Ia mulai merangkak dari tukang cuci dan masak hingga jadi pedagang yang cukup berhasil

Dari sana, ia melihat bahwa profesi itu hanya perantara. Ia  melihat bagaimana orang berjualan. Nampaknya di sini ia bisa kembangkan lebih jauh sebagai pedagang. Awal 70an, ‘Blasi’ mulai berdagang kecil-kecilan. Ia lalu bergabung dengan pedagang lainnya dan mulai menjajakan barang dagangannya dari pasar ke pasar: Geliting, Boru, Nita, dan beberapa tempat lainnya. Semuanya dilaksanakan dari Senin sampai Minggu, secara rutin.  BLASIUS OLA KOBAN15Persiapan pemberangkatan jenazah dari RS Pondok Indah Puri Indah ke Bandara Soetta untuk diterbangkan ke Maumere

Perkembangan usaha terlihat cukup menonjol pada tahun 80 dan 90an. Kios di depan rumah diperbesar. Kemudian kios tetap di Pasar Lama pun bertambah karena menempati dua lokasi. Pada saat bersamaan, pasar mingguan di beberapa tempat berbeda yang dijajaki selama seminggu pun mulai berkembang.

Di sini terjadi peningkatan yang cukup baik. Epo Blasi mulai memperbaiki rumah di Kampung Beru, membuat rumah baru di Wai Oti, memiliki kendaraan sendiri (truk Bakung Indah 2 buah), dan sederatan hal lagi.BLASIUS OLA KOBAN8Bunga Bakung di Lembah, Tuhan yang  merawatnya. Hidupmu lebih berharga dari bunga Bakung

Dominikus Bliko Namang saat dikonfirmasi, berkisah bahwa ia bersyukur selalu jadi partner dialog di saat-saat pengambilan keputusan penting. Saat pembangunan rumah di Waiotir (yang kini cukup diminati orang untuk dikontrak), Domi yang ahli bangunan selalu memberikan nasihat yang semuanya diterima almarhum. BLASIUS OLA KOBAN14Dominikus Bliko Namang, salah seorang sahabat yang selalu ada saat pengambilan keputusan penting seperti pembangunan rumah, pembelian kendaraan Bakung Indah.

Saat pembelian kendaraan Truk Bakung Indah pun Domi diajak untuk ikut meninjau kualitas barang. Keduanya pun sampai pada kesimpulan bahwa Truk sangat dibutuhkan. Truk sudah punya penggunaan yang sangat jelas karena setipa hari harus mengantar barang-barang dagangan ke pasar-pasar.

Semuanya tidak terjadi secara cepat. Semuanya butuh proses dan seorang ‘Blasi Pana’, demikian orang kampung mengenalnya tidak pernah berhenti berjuang. Ia selalu ingin belajar dari orang lain, dengan siapa pun. Dengan kerendahan hati dan ketulusan, ia bisa mendapatkan pandangan baru dari orang dan hal itu membuat usahanya bisa maju.

Beberapa tahun lalu, saat sudah mejadiadi ‘pedangang besar’ di Maumere, saat kembali ke kampung, ia berbisik: “Sekarang, kita harus pintar-pintar merantau. Orang di kampung sudah punya banyak urang, lewat jualan hasil kebun. Kita perlu lebih pintar lagi merantau, kalau tidak, saat kita kembali lagi ke kampung, orang kampung akan tertawain kita”, demikian tutunya.

Usaha dalam 2 bulan terakhir dari anak-anak  untuk bisa sembuh. Aneka upaya di Jakarta telah ditempuh, tetapi Tuhan punya kehendak lain.

Hal itu hanya mau mengingatkan, ia tidak pernah puas dengan apa yang diperoleh. Selalau ada usaha dan kerja keras. Siapa yang tidak berjuang akan kalah. Lebih lagi, kita harus terbuka dengan orang lain agar bisa belajar dari mereka.

Tangan Dingin dan Tak Tergantikan

Pengalaman diri Om Blasi yang dilewati dengan susah payah tidak pernah dilupakan sama sekali. Tanpa perlu menceritakan satu persatu kepada orang akan pengalaman hidup, tetapi ia wujudkan dalam usaha membantu orang untuk mandiri seperti dirinya.BLASIUS OLA KOBAN7Bertangan dingin membentuk anak dan kini memomong cucu.

Rumahnya di Kampung Beru, depan Kantor Dispenda Sikka, adalah jadi tempat ‘magang’ bagi tidak sedikit orang. Bagi yang ingin memilih jalan sebagai ‘pedangan’ tempat itu jadi tempat belajar. Tak heran, tidak sedikit orang yang setelah bertahun-tahun belajar, keluar dari rumah itu dan mengambil profesi sama sebagai pedagang.

Ada hal menarik. Sudah sejak tahun 70-an hingga kini, Blasi sudah punya konsep pemberdayaan. Tidak ada teori muluk-muluk tetapi ia laksanakan dengan sadar bahwa itulah yang terbaik. Yang dilakukan, setiap orang yang berada di rumahnya tidak pernah dijadikan ‘pekerja’ seumur hidup. Ia melatih, mendidik, menunjuk cara dagang dan  mempercayakan penanganan barang-barang.

Ketika melihat bahwa yang bersangkutan sudah bisa mandiri, ia pun memberi sepaket barang datangan dan meminta orang itu untuk mandiri. Ada nama-nama seperti: Natus Lima (alm), Natus Bulet, Yoseph Wua (alm), Bertus Nuba, sekedar menyebut beberapa orang, sukses didampingi dan kepada mereka diserahkan barang dagangan.

Ada juga sederetan adik-adiknya yang dibina untuk belanja tetapi saat yang bersamaan mereka harus bersekolah. Di tengah kesibukan, perhatian itu selalu diberikan. Tak heran, semua yang dibimbing di rumah, bisa menyelesaikan sekolahnya dengan baik.

BLASIUS OLA KOBAN6Keluarga berdatangan karena tahu, ‘Ola Haren’, pergi.

Tak heran, menghitung-hitung kemudian orang yang pernah ‘lewat’ di kampung Beru, rasanya tidak terhitung. Tidak hanya itu. Bagi keluarga dekat, terutama adik-adiknya yang cukup banyak, rumah itu jadi tempat belajar, tempat bekerja, dan tempat memahirkan kehidupan.

Saya ingat, seorang teman kelas saya, Vinsensius Ola Koban, yang saat itu pergi dari kampung karena tidak naik kelas (bisa dimengerti karena anak bontot, agak manja sehingga gagal belajar), tetapi di tangan kakanya, Blasi, ia bisa lewatkan Pendidikan dengan sangat cemerlang.

Saat ditanya di malam terakhir, Vinsen dengan mata berkaca-kaca mengisahkan pengalaman paling indah bersama sang kakak yang dipanggilnya “Kaka Blasi”. Sebagai sepupu, Vinsen selalu merasa menjadi bagian. Kakanya (Blasi dan Kewa) tidak pernah menganggapnya sebagai ‘saudara’, tetapi sebagai ‘anak’. Dala setiap wacana membuat rumah atau pun membeli kendaraan, ia selalu katakan “ne bobo titehe” (itu kita punya), bukan “ne bobo goen” (itu saya punya).

Semua pengalaman ini sekedar membenarkan, Blasi Pana, demikian orang kampung memanggilnya sungguh bertangan dingin. Ia bisa mencapai semuanya karena kerendahan hati, terbuka, dan selalu ingin mengambil keputusan secara matang. BAKUNG DI LEMBAH

Hal yang sama saat membeli kendaraan truk barang untuk bisa mengantarnya berjualan bersama pedagang lainnya. Yang ia jadikan tempat berkonsultasi, tak jarang para pastor, bruder, dan frater dari Ledalero. Ia minta pikiran mereka. Juga termasuk saat harus memberi nama atas kendaraannya. Nama yang dipilih: “Bakung Indah”.BLASIUS OLA KOBAN9Terhadap naam itu, tidak berlebihan kalau itu jadi refleksi atas hidupnya. Seluruh perjalan hidupnya hingga mengantarnya sampai ke tingkat ini, hanya karena penyerahan diri. Bagi Epoi Blasi, nasib semua orang sudah diaturnya, karena itu yang diminta hanyalah pasrah dan pasrah pada yang Empunya. Diri dan perjalanan pun mirip bunga bakung di ladang. Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.” (Matius 6, 28-29).

Ada hal lain. Blasi selalu sadar bahwa ia tidak punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Ia hanya sapai SD saja. Tetapi hal itu jangan terulang lagi di asa anak dan sepupunya. Karena itu ia berjuang agar pendidikan itu mulai dilaksanakan. Ada dua hal penting.

Doa penutupan jenazah. “Wage dihare epo”.

Pertama, meski hanya ‘tamatan SD’, tetapi Blasi selalu memperdalam ilmunya dengan membaca. Sangat aneh melihat bahwa Blasi berlangganan Kompas karena tahu bahwa ia harus terus memperdalam pengetahuannya. Majalan lainnya seperti olahraga (terutama tinju, bola kaki) juga selalu ‘dilahapnya’. Dengan cara itu, ia tidak menjadi sangat ketinggalan dalam hal berita, seperti orang lain yang pernah sekolah lebih tinggi.

Kedua, ia selalu menempatkan sekolah sebagai hal utama bagi semua anaknya. Lima dari enam anaknya (Yufri, Ida, Estin, Rita, Willy,), memperoleh kesempatan sampai menyelesaikan studinya di Perguruan Tinggi di Yogyakarta dan Jakarta. Ferdy, si bontot, sudah didaftarkan untuk kuliah di Jakarta, tetapi karena sakit, ia pulang kampung dan kini menjadi pelanjut dagang di Maumere.

Pendidikan semua anak bisa terwujud, bukan karena ia jadi pedagang sukses. Tentu saja hal itu ada pengaruh. Tetapi yang paling utama, sejak usia dini, ia sudah buatkan asuransi pendidikan untuk anak-anak. Semua anak bisa bersekolah semampunya karena ditopang oleh asuransi.

Bpk Blasius Ola Koban dan Estin, Puterinya

Dua bulan sebelum wafat, ada usaha tak henti dari anak-anak dan adik-adik agar Bapak Blasius mendapatkan pengobatan yang bisa menyebuhkannya dari penyakit kanker hati yang tengah menggerogotinya.

Tidak hanya anak kandung. Saudara sepupu pun dibiayai sampai ke tingkat lebih jauh. Mereka merasakan bahwa sampai mencapai prestasi kini, tidak bisa terlepas dari peran sang kakak yang benar-benar mengayomi semuanya. Ia bertangan dingin, bijaksana, dan merangkul semuanya. Tak heran, semua adiknya sepakat bahwa kaka Blasi adalah orang yang tak tergantikan. Kebijaksanaan, kepiawaian, kesederhanaan, dan kemurahan hati tidak bisa dibanding. Ia tetap menjadi yang terbaik.

 Ola Haren” (Orang Berbudi Baik)

Melihat keseluruan pengalalaman pribadi dan kesaksian orang lain termasuk figur ini, mestinya tidak ada orang yang berkeberatan kalau Epoi Blasius Ola Koban dijuluki ‘orang baik’ (ola haren).BLASIUS OLA KOBAN5Ia baik karena pengalaman perjalanan dirinya tidak dimiliki sendiri tetapi dibagi. Pengalaman penderitaan, proses meniti dari bawah selalu jadi pelajaran bagi dirinya dan orang lain. Tetapi dengan orang lain, ia tidak pernah memaksakan. Ia hanya laksanakan dalam diam dengan teladan dan diamnya.

Dengan demikian bagi yang pernah hidup bersamanya, ia tidak pernah menunjukkan diri sebagai ‘bosnya’ dan yang lainnya hanyalah ‘pembantu’. Semua yang pernah berada di bawah bimbingannya selalu dianggap rekan. Sudut pandang mereka dihargai dan ditanyai karean ia tahu, semua orang dengan keterbatasan, tetapi bisa memberikan masukan penting.

Pengalaman perjuangannya pun tidak saja dibagi dengan orang lain, tetapi juga bagi anak-anaknya. Ke enam anak (Yufri, Ida, Estin, Rita, Willy, Ferdy), adalah anak yang tidak pernah merasa diri mereka lebih dari begitu banyak pekerja yang tinggal serumah. Semua anak diperlakukan sama seperti para pekerja, yang sebenarnya adalah saudara-saudara juga. Di meja makan, semua orang menikmati hidangan yang sama.BLASIUS OLA KOBAN11Di rumah yang nota bene selalu rame, ia selalu memerhatikan anak-anaknya untuk belajar. Ia hanya mau katakan, pengalaman pendidikan terbatas yang dipunyai ayah, tidak harus dimiliki orang tua. Tak heran, semua anaknya disekolahkan hingga sarjana, meskipun yang bontot Ferdy, akhirnya memilih jalan untuk membantu ayah jadi pedang.JOSEF PIENIAZEK 4Kesaksian bahwa ‘Blasi’ adalah ‘Ole Haren’, itu dirasakan juga oleh orang lain. Rumah di Kampung Beru adalah tempat singgah bagi tidak sedikit orang. Bagi yang pernah ke Maumere dan tidak ada keluarga, sangat boleh jadi diantar oleh sopir ke Kampung Beru. Karena itu, sebuah keuntungan. Kalau ke Maumere menumpangi Bis dan hanya bilang di depan rumah Om Blasi, para sopir seakan sudah menghafalnya.

Di rumah itu selalu ada keakraban. Untuk tambah semangat, bagi yang suka minum, biasanya dapat teman. Memang yang diminum tidak sedikit. Saya tidak pernah mendengar bahwa Om Blasi pernah mabuk. Baginya, minuman dengan sedikit alkhohol dalam ukuran normal, untuk tambah keakraban.BLASIUS OLA KOBAN20BLASIUS OLA KOBAN22BLASIUS OLA KOBAN23

Berada di tengah keluarga besar dan berbagi merupakan sebuah panggilan hidup yang melekat pada diri Blasius Ola Koban

Memang alkohol seperti ini bisa jadi salah satu penyebab penyakit yang diderita kini. Tetapi bagi yang mengenalnya secara mendalam, minum sedikit hanya membawa semangat kerja, dan itu ia tunjukkan. Ia tahu, segala yang ia miliki dapat dipakai hanya utnuk menambah persahabatan, membuat orang bisa bercerita dengan semangat, tetapi dalam batas-batas tertentu.BLASIUS OLA KOBAN10Kebaikan terhadap tamu tidak berhenti di situ. Bagi yang sempat singgah dalam perjalanan dari Maumere ke Makassar atau ke Jakarta, kebaikan Epoi Blasi tidak pernah selesai. Ia tahu apa yang dirindu karena tidak dimiliki orang di Jakarta seperti mengalami pemandangan indah sambil bakar-bakar ikan. Ia tahu cara mendapatkan ikan yang terbaik dan dapat menikmati sehari di pinggir pantai. Kisah itu akan tidak terlupakan.BLASIUS OLA KOBAN6Seluruh pengalaman hidup, Blasius Ola Koban yang wafat pada umur 67 tahun, seakan menyadarkan bahwa ia pergi terlalu cepat. Tetapi dari sisi kebaikan, terlalu banyak hal baik yang telah dilakukan Opa Blaisius Ola Koban Selama hidup. Bahwa ia dipanggil kini, karena apa yang telah dilakuakn ‘sudah selesai’. Di RS Pondok Indah, Puri Indah, ia juga menarik napas lebah seperti Yesus di Saling “Sudah selesai”.

Kini tugasnya sudah selesai. Ia pergi sebagai ‘orang baik’. Tetapi hal itu tidak sekedar ‘hiasan bibir’. Ia tidak sekedar tampil ‘baik’ di depan orang, tetapi secara ke dalam justeru sebaliknya. Yang ditampilkan “Blasi Pana” adalah sebuah hidup jujur, dari dalam dan keluar.”BLASIUS OLA KOBAN22

Ke dalam ia kokoh mulai dengan keluarga sendiri. Blasi sebagai suami dan Kewa sebagai isteri (yang sudah wafat 2013 lalu), membentuk sebuah pasangan yang sangat harmonis. Keduanya tanpa kata, tetapi pekerja keras.MARIA KEWA LAJARKini bapa Blasius Ola Koban bertemu isterinya terkasih Maria Kewa Lajar yang meninggal 2 tahun yang lalu,

Dari keduanya terlahir dan terbina 6 putera dan puterinya. Mereka semua tidak nyaman dengan apa yang dimiliki a yahnya tetapi harus melalui Pendidikan. 3 anaknya sekolah hingga memperoleh sarjana di Jakarta; 2 puterinya melewati Pendidikan di Jogja, sebuah bukti bahwa ia tangguh membentuk keluarga yang harmonis.

Di atas kekohohan keluarga itu, Blasius Ola Koban menyebarkan kepada adik-adik, keluarga besar, siapa pun yang berkehendak baik dan ingin belajar tentang hidup. Ia membentuk satu kesatuan.

Karena itu, saat ini, saat mendengar kepergiannya untuk selamanya, siapa yang mendengar pasti berucap :” Memang Blasi Pane, ole haren,”, dia orang baik. Kebaikan yang ditinggalkan. Om Blasi Pana, Pane dihare. Terimakasih untuk kesaksianmu.

(Robert Bala, Sabtu dini hari, 10 Oktober 2015)