GURU MOSES, SEBUAH PEMBELAJARAN

GURU MOSES, SEBUAH PEMBELAJARAN

(Di balik kematian Kepala SMPN 4 Atadei, SATAP Ile Kimok)MOSES HENAKIN

Senin 19/1 pagi, sebuah pesan di FaceBook mengejutkan. Moses Bala Henakin, yang adalah Kepala SMPN 04 Atadei Satu Atap Ile Kimok, ditemukan meninggal menggantungkan diri. Di kebunnya di Lerek, pada sebuah pohon jambu mente, ia memilih mengakhiri hidupnya.

Ia membawa terang sejumlah misscall pagi hari tanpa henti tetapi tetapi tidak sempat dijawab. Nampaknya saudara sekampung hendak menginformasikan sesuatu yang kini terjawab. Guru  yang ramah, murah senyum, lucu itu memilih jalan yang mestinya tidak terjadi.

Deretan tanya seakan tanpa henti meminta jawab atas alasan di baliknya. Tetapi kehidupan telah berpamit dari tubuhnya, hal mana menutup rapat alasan yang bisa saja disembunyikan. Tak pelak, pak Moses yang pernah menjadi guruku, saat masih ‘fresh graduate’ setamat SPG pergi tanpa meninggalkan jawaban tuntas.

Tetapi mengurai konteks yang menyelimuti, kita tidak saja memiliki ruang untuk menafsir, tetapi lebih dari itu sebuah pembelajaran bisa dipetik, meski kenyataan mengakhiri hidup seperti itu tidak bisa kita terima, apa pun alasannya.

Sebuah Beban

Gambaran yang sempat saya ingat dari guruku di tahun 1980, saat masih ‘fresh graduate’, tamatan SPG, adalah pribadi periang. Tak bisa terbayangkan sebuah bicara tanpa canda. Bersamanya, segala yang berat terasa ringan. Candanya pun selalu menyegarkan, tanpa ada kesan menyakiti.

Sebuah canda tiga puluh tahun silam masih saya ingat. Saat bermain bádminton, ia mengajak seorang anak duduk dekatnya. Bukan Moses kalau tidak disertai lucu: “Mari, duduklah di samping kanan Bapak”, sebuah ungkapan sangat teologis, seruan dari Tuhan, menghendaki orang berkehendak baik untuk duduk di sampingNya.

Bertemu Moses adalah memperoleh ceriah. Tatapan polos dan celoteh yang menyegarkan menjadi bukti bahwa baginya hidup adalah membahagiakan orang lain. Itulah yang terjadi dengan dirinya terutama dalam mengemban tugas sebagai guru dan sejak beberapa tahun terakhir sebagai Kepala Sekolah di SMPN 04 Atadei, Satu Atap Ile Kimok.

Di atas rasa itu, Moses tidak suka membankan orang lain. Ia memilih mengerjakan sendiri. Meski secara manajerial hal itu tidak dibenarkan karena kerja dalam team dapat meringankan beban, tetapi ia memilih untuk memikulnya tanpa perlu memberi beban kepada orang lain.

Rasa terbeban dan tidak mengerti pun bahkan meluas pada usaha memahami ‘instruksi’ atasan dalam menyelenggarakan proyek pembangunan atau aneka bantuan yang diterima. Terhadap dana yang mestinya ‘swakelola’, ia dan mungkin sekolah lain yang mendapatkan proyek merasa ‘terbantu’ lewat ‘usulan’ (bahkan malah kewajiban) atas arahan Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas PPO, Andreas Mbele untuk menggunakan kontraktor (Flores Bangkit 19/1).

Di sinilah tragedi terberat. Seorang guru ‘dari kampung’, yang ‘lugu’ tidak punya selain Dinas PPO yang bisa memberi arahan dan bimbingan. Tanpa disadari ia dijerat untuk ‘meminta bantuan’ mengatasi hal yang sebenarnya bersifat swakelola. Baginya, adalah sebuah kepercayaan buta. Ternyata kepercayaan itu dibalas dengan minggatnya kontaktor, hal mana menambah beban luar biasa.

Hidup ramah dan penuh tawa kadang dipahami juga berlebihan. Malah mengapa tidak, tak jarang ia disepelehkan dalam hal administrasi. Manajemen modern yang sangat tegas menuntut bukti otentik dan alokasi yang wajar sesuai nomenklatur mestinya dipahami. Apalagi ketika biaya yang dialokasikan itu sudah mendekati ratusan juta.

Tetapi justeru di sinilah bebannya. Proses yang panjang telah menimbun beban yang akhirnya terasa tak mudah menjawabnya ketika semuanya sudah terlanjur. Karena itu, meski diletakkan di atas kesadaran bahwa tidak pernah ‘memakan’ uang, tetapi minim bukti administrasi menjadi hal yang memberatkan.

Lebih dari itu, timbunan beban administrasi justeru menghadirkan sebuah rasa tak mengerti. Bagaimana mungkin sesuatu yang ‘tidak dimakan’ tetapi terasa habis? Inilah beban psikologis yang tidak mudah terjawab. Ada rasa sesal oleh beban yang menggunung tetapi juga oleh rasa terkejar oleh mereka yang sangat butuh pertanggungjawabkan administatif.

Jelasnya, sang guru yang punya irama hidup tak beda orang desa yang masih mempertahankan harga diri sebagai satu-satunya yang harus dibela merasa tak berdaya ketika ia diperiksa bagai tersangka yang menghabiskan miliaran rupiah. Yang terjadi justeru rasa malu dan tak bermakna. Lebih lagi wakil rakyat yang katanya sangat mendengarkan, begitu ‘gesit’ bertindak mengadili sang ‘guru kampung’.

Rangkaian inilah yang barangkali mengantar Moses mengambil jalan pintas tak terpuji menggantungkan diri di sebuah pohon. Ia rasa, mengakhiri hidup (yang tak kita setujui) adalah jalan terbaik sebelum ia ditunggu fajar untuk menghadap sang pemeriksa yang bakal hadir dengan tuduh bukan sikap mendengarkan apalgi memahami dari logika seorang guru kampung.

Pembelajaran

Kematian Kepala Sekolah SMPN 04 Atadei memberikan pembelajaran penuh makna. Pertama, otonomi pendidikan yang memberi ruang bagi sekolah mengelola dana yang tidak sedikit mestinya diikuti pendampingan secara sangat ketat.MOSES

Hal itu perlu agar sekolah yang tidak diberi ruang untuk melakukan kesalahan sedikit pun dalam prosesnya. Kenyataan, proses itu minim bimbingan. Pengawasan atau permintaan pertanggunjawaban justeru terjadi pada saat akhir, saat di mana hal strategis bisa saja telah dilakukan. Di sana sebuah kesalahan yang dilakuakn tidak mudah diganti bak mengubah telapak tangan.

Kedua, keputusan mengakhiri hidup dengan menggantungkan diri seperti yang dilakukan Pak Moses bisa saja menjadi sebuah kritik atas pemerintah sebagai kekuasaan yang tidak bisa dilawan.

Yang dimaksud, dalam tidak sedikit kasus, sekolah yang merupakan penandatangan dan pemegang MOU kerap diarahkan untuk memberi ruang bagi hadirnya pelaksana proyek yang diklaim dapat memberi bantuan dalam menyelesaiakn proyek yang sebenarnya menjadi swakelola sekolah.

Dalam konteks ini, sekolah kerap pasif mengikuti saja kerja dan kinerja proyek yang bisa saja berlaku ‘seadanya’. Prasyarat yang harus dipenuhi dalam pembangunan dikangkangi dengan hadir ‘apa adanya’.

Dalam konteks seperti itu dan berhadapan dengan pribadi yang sangat ‘tersenyum’ seperti Moses Bala Henakin, akan lebih diterima sebagai sebuah beban sendiri tanpa usaha untuk memprotes atasan atau siapa pun yang bisa saja telah diberi perintah dari atas. Baginya, barangkali paling penting adalah menanggung derita itu sendiri tanpa berusaha tampil membela diri.

Ketiga, mengakhiri hidup dengan menggantungkan diri (yang nota bene sangat kita tentang), adalah sebuah contoh untuk secara sahaja menerima hidup dan kematian. Sebagai guru, Moses yang sangat kerap mengajarkannya kejujuran pada anak didik tahu, adalah manusiawi seseoang untuk melakukan kekeliruan, hal mana bisa saja terjadi pada dirinya.

Tetapi kekeliruan itu akan tidak jadi pembelajaran ketika pada tidak sedikit orang dan daerah, upaya tangkas membela diri demi keluar dari jeratan hukum begitu kuat. Sebagai guru ia pasti gerah melihat bahwa di negeri ini, tidak sedikit orang yang sudah ketahuan belangnya dan secara jelas telah melakukan korupsi dengan jumlah yang tidak sedikit, justeru bisa melenggang bebas.

Moses Bala Henakin justeru meninggalkan rasa bersalah sebagai sebuah pesan pembelajaran. Baginya, rasa malu mesti kian diberi ruang di negeri ini. Kesalahan yang dilakukan secara sengaja patutnya diterima dan diakui tanpa perlu menambah duka lewat sikap tak tahu malu dengan melipatgandakan korupsi. Di sinilah sebuah pembelajaran yang tidak bisa dianggap kecil. Mengorbankan nyawa demi menitip pesan rasa malu adalah sebuah pembelajaran yang masih bisa dimaknai.

Di sini kita patut berterimakasih pada keluguan, kejujuran, dan kepolosan Moses Bala Henakin. Tanpa membenarkan sikap nekad mengakhiri hidup, tetapi pesan polos itu akan tinggal sebagai makna pembelajaran tanpa tara.

Robert Bala. Mantan murid Moses Bala Hendakin. Penulis opini pada Harian Kompas. Artikel ini dimuat di Media Online Flores Bangkit 20 Januari 2015 dan Edisi Cetak Flores s 21 Januari 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s