JOSEF PIENIAZEK, NAMA YANG BERZIARAH

JOSEF PIENIAZEK, NAMA YANG BERZIARAH

Saat membaca berita wafatnya Pater Josef Pieniazek, SVD (atau yang akrab disapa Pater Pinon), begitu banyak hal yang muncul. Tetapi sesungguhnya yang paling kuat adalah ‘sebuah nama yang berziarah’. Meminjam pertanyaan Shakespeare, ‘apa nama itu  bagi sebuah lembaga pendidikan seperti Ledalero dan terutama bagi para pecinta filsafat?

Sebuah Tugas

Sebuah tugas yang selalu saya emban, minimal untuk angkatan kami yang memulai filsafat 1989, disadari betapa sulitnya menulis nama itu di kelas. Biasanya semua mahasiswa harus menandatangani daftar hadir kuliah. Di bagian akhirnya harus ditulis nama dosen.JOSEF PIENIAZEK 5Bagaimana menulis nama pastor karena menurut ucapannya bernama ‘Pinonzek’? Semua sadar bahwa sebagai orang Polandia, nama itu tidak bisa ditulis seperti diucapkan. Bandingkan saja nama sebenarnya dari Paus Yohanes Paulus II yang bernama ‘Karol Wojtyla’, tetapi dibaca “Wojtiwa”.

Agar kelas  tidak salah dalam menulis, maka pada bagian penulisan nama dosen saya (meskipun bukan ketua kelas) diberi tugas. Karena dipercayakan, saya pun belajar menulis nama menurut apa yang tertulis: Josef Pieniazek. Sebuah tugas sederhana tetapi mengena sampai sekarang.Josef PieniazekZiarah terjauh adalah dari kepala ke hati (P. Josef Pieniazek, SVD)

Minimal itulah yang tetap saya ingat karena saya tahu bahwa hal yang sangat sederhana itu bisa saja jadi masalah. Dan benar, ketika sang filsuf ini pergi di usia 81 tahun, masih banyak alumninya yang salah tulis namanya (Pinonzek, Pianiazek). Ia adalah dosen kebanggaan para frater, tetapi cara menulisnya tidak tepat.

Hal itu sederhana, tetapi cukup mendalam. Pinon tidak bisa ditulis sesuai apa yang didengar. Butuh ketelitian. Demikian hal itu jadi refleksi atas pengajaran filsafat yang diberikannya. JOSEF PIENIAZEK 4Mengantar sang filsuf kepada “SANG PEMILIK KEBENARAN’

Sebagai dosen Logika, Metafisika, Epistemologi, dan Filsafat Ketuhanan, semua mahasiswa tahu bahwa apa yang diajarkan perlu ditelaah. Apa yang diberikan di bangku kuliah perlu dimaknai lebih jauh. Dengan ketelitian dan kesabaran, akan tergapai hal yang lebih jauh. Jelasnya, seorang filsuf perlu menjadikan apa yang disampaikan dari luar sebagai pertimbangan untuk membuatnya menjadi miliknya. Tidak ada yang langsung diterapkan. Butuh proses menjadi milik sendiri.

Bisa jadi atas kesadaran ini pula, Pinon tidak pernah begitu lepas dengan bahasa lisan. Semua yang ingin disampaikan dalam kuliah (yang seharusnya lisan), selalu ia catat di lembaran kertas kecil berukuran  10 x 20 cm. Di atas kertas itu, Pinon mempertanggungjawabkan apa yang disampaikan.

Sebagai dosen logika ia tidak mau memberikan catatan yang keliru. Karena itu tentang definisi ia selalu berikan sebagai dasar. Lebih lagi karena urusan mendifinisi (di mana yang didefinisikan tidak boleh hadir sebagai definisi), juga merupakan topik logika, maka catatan itu selalu jadi acuan. Hal itu menunjukkan, apa yang diberikan harus selalu mendapatkan refleksi yang tajam.

Butuh ‘Jembatan’

Bagi para mahasiswa, memasuki dunia filsafat dengan penampilan yang sangat kering dan kaku dari Pinon tentu saja tidak mengenakkan. Lebih lagi selalu ada ketakutan karena dalam mata kuliah yang diajarkan Pinon, selalu ‘langganan’ HER, alias uji ulang.JOSEF PIENIAZEK SVD 2Lebih lagi bahasa Indonesia Pinon yang masih kedengaran seperti orang asing, membuat kesulitan itu berlipat.  Saya waktu itu bersyukur, saat giliran harus mendapatkan mata kuliah Filsafat Ketuhanan dengan 4 kredit yang sangat berarti pada penilaian akhir, Ledalero kedantangan filsuf tamatan Leuven, P. Leo Kleden, SVD. Dengan Leo, kelihatan mendapatkan nilai A terbuka karena apa yang diajarkan dengan bahasa yang sangat lugas dan uraian yang ‘terang benderang’.

Dengan Pater Pinon hal itu terasa sangat sulit. Saat saya membuka semua daftar nilai ‘kenangan’, untuk Logika, Epistemologi, dan Metafisika hanya bergerak antara C dan B. Saya masih bersyukur bahwa tidak pernah melakukan uji ulang untuk mata ajarnya, tetapi ‘pendapatan’ saya memang hanya ‘segitu.’

Kekuatiran ini tentu beralasan dan kadang masih susah dijawab mengingat bidang lain nilai saya (sedikit membanggakan diri) cukup bagus. Ada beberapa semester bahkan mencapai IPK sempurna untuk semua mata kuliah. Tetapi saya sadar, di dhadapan Pinon saya tidak ada artinya sama sekali (ya, sudah beruntung tidak pernah uji ulang, tetapi nilainya, ya begitu-begitu saja).JOSEF PIENIAZEK SVD 3Namun dengan berjalannya waktu, akhirnya saya temukan sebuah rahasia. Yang dimaksud, secara pribadi (mungkin juga banyak orang) akhirnya tahu bahwa kita tidak bisa ‘berhadapan langsung dengan Pinon’. Duduk mendengarnya memberikan kuliah adalah seperti berada di planet lain.

Ini bukan saja kesan mahasiswa dari calon pendeta yang biasanya selama 2 mingguan belajar bersama di Ledalero (dan sebaliknya), tetapi juga jadi beban berat para mahasiswa filsafat.

Hal itu akan menjadi jembatan untuk bisa mengikuti pola pikir Pater Pinon. Tak disadari, jembatan itu justeru bernilai positif. Terasa dengan segera bahwa pemahaman filosofis menjadi lebih luas karena tidak bisa mengandalkan satu sumber, yakni dari Pater Pinon.

Memang, dari angkatan ke angkatan, selalu saja tampil mahasiwa luar biasa yang bisa mengambil dengan bernas pikiran Pater Pinon dan menghasilkannya dalam diktat dengan bahasa ‘ala Pinon’, tetapi bantuan itu bisa dilakukan setelah mendapatkan pemahaman tambahan.P JOSEF PIENIAZEK SVD 6Kesadaran ini (minimal bagi saya) menjadi hal yang sangat penting. Saya sadar untuk bisa langsung berhadapan dengan Pinon, bisa saja sama dengan kosong. Diperlukan usaha kerja keras untuk memampukan diri sebelum berhadapan dengannya. Di sinilah salah satu ‘kondisi’, yang bisa kita sebut jembatan penghubung yang bisa membantu mahasiswa teruatma saya untuk bisa mengikuti kuliahnya.

Sejak saat itu,  membaca menjadi sebuah keharusan. Keharusan mencari dan memperdalam merupakan sebuah kewajiban. Di sini bisa dimengerti, mengapara para mahasiswa filsafat harus membaca dan akhirnya kemudian harus rajin membaca. Pinon, seakan memberikan keharusan ini (kalau memang ingin memahami filsafat).

Ziarah Terjauh

Ada hal yang jauh lebih bermakna dari Josef Pieniazek yakni  hidup dan kehadirannya. Penampilannya yang selalu rapi, pengajarannya yang selalu disiapkan, kesukaannya berada di kamar untuk membaca, dan terutama wajahnya yang selalu tenang tetapi memancarkan sesuatu dari dalam memiliki ketertarikan tersendiri.JOSEF PIENIAZEK SVDMinimal ia hadir sebagai figur yang menyadarkan bahwa karya yang nantinya menjadi bagian dari hidup tidak bisa dipisahkan dari refleksi diri. Antara kata dan perbuatan harus sejalan. Kalau salah satunya disepelehkan, maka akan membuat kehidupan menjadi tak seimbang.

Di sini Pinon, lebih terutama lagi melalui pengajaran epistemologi, ia membangun kesadaran baru untuk selalu konsisten dalam mencari kebenaran. Persesuaian antara apa yang dikatakan dan perbuatan di lapangan harus sejalan. Nilai kejujuran menjadi sebuah hal yang tidak bisa dibelokkan karena justeru di sana menjadi salah satu ukuran kualitas diri.

Niliai inilah yang dalam hemat penulis menjadi sebuah kekhasan dari pengajaran filsafat. Perjuangan akan kebenaran inilah yang menjadi ‘senjata’ dan sekaligus membedakan pencari filsafat dalam hidup. Ketika kebenaran bisa dialihkan, bisa dibeli, dan ketika kejadian tidak dimaknai seperti apa adanya, ketika yang dikatakan menyangkali realitas, maka di situ degradasi diri bisa dengan mudah terjadi.PINON SVDPinon juga sebagai pengajar filsafat dan pembina para frater,  ia berusaha untuk melaksanakan apa yang diajarkan. Saya teringat saat gempa bumi 1992. Tidak sedikit orang yang tahu cara mengantisipasinya, dan karena itu ada yang cedera, bahkan meninggal (Fr Pius Usboko). Semua orang pontang-panting, lari. Hal itu tentu sangat mengkuatirkan berada di bangunan tua seperti beberapa bagian di Rumah Induk Ledalero.

Pinon justeru punya kiat yang seharusnya dimiliki semua orang. Ia menempati gedung tua, tetapi dengan tenang mengelak semua runtuhan. Ia duduk, mengambil posisi aman di bawah meja, dan berlindung. Setelah keadaanya redah, ia baru keluar tanpa luka apa pun.

Di sana Pinon mengajarkan hal penting. Antara diam dan bicara, masih lebih baik diam. Dengan diam, seseorang akan fokus pada apa yang ada di sekitarnya. Ia perlu tenang sebelum bisa menenangkan orang lain. Selain itu, alam yang ‘mengamuk’ tidak bisa diredahkan selain kita meredahkan diri kita.

Keakraban pada diam, hemat saya bersumber juga pada kekuatan doanya. Meminjam peribahasa orang Spanyo: el silentio es la cuna de la palabra  (diam adalah induk darinya lahir kata-kata). Dalam diam dan doa,  Pinon mengambil kekuatan  yang menjadikannya semakin intim dengan diri karena tahu bahwa dalam kesendirian mendalam ia justeru menemukan yang memberi kedirian kita.PIENIAZEK SVD 8Refleksi merupakan sebuah ‘autokontrol’ untuk mengevaluasi sejauh mana diri mengalami kemajuan. Kehidupan tidak bisa dimakani otomatis tetapi sebuah ziarah yagn harus selalu dimaknai. Di sana tidak bisa tidak yang menjadi ukuran refleksi bukan kecemerlangan berpikir (meskipun filsafat mengajarkan hal itu). Berpikir hanya merupakan sarana yang mengatar orang kepada kedalaman diri. Tidak berlebihan kalau seorang muridnya yang kini di Brazil merangkum pribadi Pinon dalam kata-kata “Uma pessoa de muita oração, dedicado e tem entrega total a Deus” seorang pribadi dengan banyak doa, dedikasi dan penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan.

Bukan sebuah kebetulan dan malah sampai kini terus saya ingat dan banyak kali saya ulang kepada anak didik saya. Pinon mempertanyakan kepada kami mahasiswa sebuah pertanyaan sederhana, saat berbicara tentang ziarah hidup. Ia ingin tahu, bagaimana mahasiswa tahu tentang ziarah terpanjang dalam hidup. Beberapa nama mulai dari perjalanan ke Roma, Lourdes, Tanah Suci, hingga ke ‘ujung dunia’ sebagai ziarah paling jauh.PIENIAZEK SVD 7Pinon menatap dengan tentang dan mengatakan: ziarah terjauh adalah dari otak ke hati. Sejauh mana apa yang dipikirkan dan menjadi pergunjingan filsafat dapat membantu agar bisa sampai ke hati. Hal yang disampaikan itu dimaknai sendiri. Sang filsuf telah menjiwai apa yang diajarkan (di kepala) dengan apa yang dihidupi. Sebuah ziarah yang meskipun jauh tetapi ia berusaha mendekatkan dan banyak mahasiswa justeru terdorong ke arah itu. Selamat berziarah.

Robert Bala. Murid Pater Josef Pieniazek, SVD.

Advertisements