MAMA BIDAN (ANTONIA BAO TERENG)

MAMA BIDAN,

ANTONIA BAO TERENG

Hari Senin 22 Agustus 2016, saya dapat kabar. Kabar itu dikirim via Facebeook, tanpa destinasi pasti. Tetapi saya bersyukur bisa mendapatkan informasi cukup dini. Beberapa saat setelah meninggal, seorang facebooker mengirim pesan demikian: Telah meninggal dunia di Watuwawer, Mama Bidan Antonia.ANTONIA BAO TERENGSejenak saya terdiam. Nama itu begitu akrab dan terasa sangat dekat. Ia melekat dengan kehidupan banyak orang, juga keluargaku. Karena itu saya memberi komentar lepas: Bidan Antonia, Mama yang Memberi Hidup bagiku. Ia punya peran dalam banyak hal, nyarsi bisa dihitung.

Sahabat Keluarga

Persahabatan dengan Mama Bidan (Antonia Bao Tereng) dan Bapa Menteri Niko Noning setua umur saya, malah sebelumnya. Tapi itu yang saya rasakan saat saya lahir, besar, hingga kini. Semasa kecil, waktu pasangan ini ditempatkan di Lerek, pada tahun enam puluhan, mereka yang membantu persalinan mama saya.alat tes jantung

Alat sthetoscope sederhana ini yang saya lihat pada Mama Bidan Antonia saat memeriksa ibu Hamil.

Memang saat itu tidak banyak tenaga medis. Bidan Antonia dan suaminya Niko adalah perawat kesehatan. Dengan pendidikan dan pengetahuan yang mereka miliki, mereka sangat berperan membantu tidak saja persalinan tetapi mencakup membantu merawat pasien dari berbagi penyakit.

Menteri Niko dan Bidan Antonia berada pada momen di mana cacar menjadi salah satu masalah besar. Mereka berkeliling untuk ‘mencacar’ orang. Dengan peralatan sederhana, mereka menusuk lengan orang. Ada yang membekas besar.

Saya ingat baik, saat berkunjung ke kampung-kampung, mereka membawa dalam sebuah kotak yang terbut dari aluminum. Di sana semua peralatan dibawa, termasuk jarum suntik dan alkohol untuk mencuci jarum suntik karena jarum itu bisa dipakai oleh banyak orang.

Dari Lerek, pasangan Menteri dan Bidan ini berpindah ke Waiteba. Waiteba saat itu jadi ibu kota kecamatan. Saya masih ingat, di sana, tempat mereka juga adalah tempat mereka. Setiap kali ke Waiteba, pasti singgah di rumah mereka, karena rumah mereka adalah rumah kami.ALAT SUNTIK

Mama bidan Antonia dan bapa Menteri Niko Noning. Dengan jarum suntik ini, banyak yang jadi sembuh. Malah orang merasa belum berobat kalau belum suntik. Jarum suntik satu untuk semua

Dari Waiteba, sejalan dengan pindahnya kecamatan ke Karangora, mereka dua juga berpindah ke sana.  Kalau tidak salah, untuk menambah wawasan dalam mengobati orang, pasangan ini akhirnya harus bersekolah lagi di Ende. Setelahnya dipindahkan ke Wulandoni.

Sayang di Wulandoni, sekaligus menjadi tempat tugas terakhir bapa Menteri Niko. Jasadnya dikembalikan ke Watuwawer. Tahunnya saya tidak ingat pasti tetapi pada pertengahan tahun delapan puluhan. Dalam kesendirian, mama Bidan masih dapat penempatan kembali di Lerek. Di situ saya kenal maam Bidan lebih jauh, tidak hanya cerita mama tentang mama Bidan yang membantu kelahiran saya.

Saya ingat, saat masih di SMP, ia juga meminta untuk turut menulis laporan. Saya ingat berapa banyak CC obat yang harus diberikan. Dengan laporan itu, atasannya akan menilai, apakah jenis pengobatan yang diberikan sudah tepat atau tidak. Semuanya ditulis tangan.

Kehadiran mama Bidan di rumah kami, saat bertugas di Lerek selalu memiliki arti sendiri. Dengan pengetahuannya sebagai bidan, ia banyak sekali memberikan kami pelajaran tentang bagaimana menjaga kesehatan.

Tidak hanya itu. Ia juga mengajar tentang tatakrama. Saat makan bersama, ia memberitahu salah satu cara menjadi sopan saat ada tamu. Katanya, kalau kita harus mengambil makanan di satu piring, misalnya mencicipi daging atau ikan, kita akan mengambil mengikuti irama dari tamu. Kalau tamu ambil, baru kita ambil, begitu seterusnya.

Dia juga menasihati, kalau ada orang meletakkan makanan di piring, jangan pernah kita habisi. Harus disiakan beberapa meskipun kita begitu ingin. Singkatnya, kehadirannya mama Bidan untuk tinggal bersama kami adalah sebuah berkat.

Untuk orang kampung, mendapatkan pelajaran tentang etika seperti itu sangat kuat dan menjadi bekal. Kita pun jadi tidak canggung saat bergaul dengan orang lain. Lebih lagi karena di rumah, karena ayah yang menjadi kepala desa, kami sering mendapatkan tamu. Saat itu kita bisa praktikkan tata krama seperti yang diajarkan mama Bidan.

Sepeda dan Motor

Hubungan keluarga kami dengan Menteri Noning dan Bidan Antonia membang begitu dekat. Saat itu sepeda di Lerek dan Watuwawer hanya satu, dan sepeda itu milik Menteri Noning.

Rupanya ia tidak banyak berminat dengan sepedanya. Ia lebih memilih jalan kaki. Karena itu sepeda itu diberikan ke bapa saya. Sepeda hitam, punya palang di tengah atau disebut sebagai sepeda laki-laki.

Dengan sepeda itu kami pergi pulang Lerek – Watuwawer. Ayah saya yang mengambil profesi juga sebagai papalele, bisa menggunakan sepeda itu, juga menggantung tape recorder dan dengan lagu gambus biasanya ia naik sepeda sambil memutar keras tape yang berbaterei 8 kalau tidak salah.

Mungkin saja untuk pamer karena di dua kampung itu tidak ada yang punya sepeda, barangkali juga tape berbaterei 8 tidak banyak. Meskipun yang bapa saya lupa, sepeda itu milik orang. Tetapi bagi dia tidak ada masalah, itu adalah sepeda milik saudaranya: Menteri Niko.ANTONIA BAO TERENGMenteri Niko selangkah di depan. Saat pindah tugas di Karangora, ia membeli juga motor Honda warna merah. Tetapi jalan yang sangat jelek, akhirnya sepeda itu parkir begitu saja. Lebih lagi ketika pasangan ini harus pindah ke Wulandoni. Motor Honda merah itu parkir begitu saja di Karangora. Sesekali saat lewat di rumah, supaya ada kesan pernah naik motor, kami pun naik sebentar, meski motor itu tidak berjalan.

Baru kemudian sepeda itu dipakai, meski agak terlambat. Sepeda itu juga yang kemudian jadi alat transport, sesekali Herman dan Goris kalau menggunakan motor dan sempat, kami bisa ikut menikmati.

Saya ingat awal tahun sembilan puluhan, saat jalan baru mulai dibuat, Goris yang saat itu ada di Watuwawer menjemput saya. Kami berdua ke Lewoleba dengan motor tua tetpai yang ukuran saat itu masih menjadi barang elit.

Pada tahun 2008, saat pulang kampung, rupanya Tuhan mengatur, kami harus singga di rumah Herman. Kebetulan motor kami gembos bannya dari Petung Oren. Kami lalu mengantarnya sampai di rumah Herman untuk bisa memperbaiki bannya. Sudah laru tmalam dan tidak bisa memperbaiki. Karena itu Herman memberikan motor tua agar kami ke Lerek. Sementara ban motor itu diperbaiki dan esok harinya baru diantar ke Lerek.

Santa Ana

Setelah masa pensiun, mama Bidang melewatkan waktunya dengan cucunya. Saat awal pensiun ia tinggal dengan anaknya Goris (anak bungsunya yang tamat kuliah di Yogya dan kemudian jadi montir setelah kursus di Makassar).

Sayangnya, Goris yang bekerja sebagai montir itu, pada tahun 2006 dijemput kematian begitu cepat. Mama Bidan juga pergi-pulang ke Watuwawer. Di sana ia hidup dengan puteranya yang lain, Herman. Tetapi beban mama Bidan menjadi bertambah karena isterinya Goris, Rince, juga meninggal pada tahun 2013 yang lalu. Di sana mama bidan jadi mama, nenek, dan segalanya untuk anak-anak yang ditinggalkan.

Di Watuwaer, mama Bidan sangat aktif di kelompok Santa Anna. Dengan senyum dan semangatnya, mama Bidan selalu sangat khusuk kalau berdoa. Dengan kelompok mama Santa Anna, mereka bisa keliling ke paroki, sesekali ikut kegiatan lomba Santa Anna di Lewoleba.

Singkatnya, di masa tua, mama bidan tidak mau merepotkan banyak orang. Ia berusaha bekerja untuk menghidupi dirinya. Dengan uang pensiunnya ia masih bisa lakukan banyak hal.

Dengan aktif sebagai anggota kelompok Santa Anna, mama Bidan melewati masa tuanya, dan juga mempersiapkan dirinya hingga dijempt maut. Selamat jalan Mama Antonia (Antonia Bao Tereng) wage dihare, Wafat di Watuwawer Senin 22 Agustus 2016 pukul 10.00.