Maria Kewa Lajar

MARIA KEWA LAJAR, INA MOTE RAJAN

Jumat pagi, 27 September 2013, pukl 06.30, saya menerima sebuah SMS dari saudaraku, Kandidus Latan di Maumere. Saat itu saya lagi nyetir sehingga agak tergangganggu. Tetapi yang lebih membuat saya tidak konsentrasi, karena sepertinya SMS itu tidak saya harapkan.

Isinya singkat: mama Maria Kewa Ladjar, meningga dunia di Maumere. Saya langsung meminggir sebentar karena harapan saya, semoga ini tidak menimpa orang yang sangat saya kenal ini atau moga-moga salah ketik. amistad Kewa LadjarTernyata harapan meleset. Kematian Mama Maria Kewa Ladjar yang dimaksud adalah istri Om Blasi Koban di Maumere, keluarga yang saya kenal dan mengingatkan saya akan begitu banyak pengalaman dengan keluarga dan terutama dengan Mama (yang biasa saya panggil Epoi Kewa).

‘Pekerja Keras’

Saya mengenal secara lebih dekat keluarga Om Blasi sebenarnya ketika orang tua saya ‘banting stir’ dalam pekerjaan. Pada akhir dekade delapan puluhan, karena kami begitu banyak dalam serumah yang harus sekolah, maka bapak yang sehari-harinya adalah ‘tukang batu’, harus beralih profesi.

Ia harus memikirkan untuk beralih pekerjaan karena tugas sebagai Kepala Desa, lebih merupakan pengabdian murni. Tidak ada sesuatu yang diperoleh secara material. Selama 10 tahun tugas itu diemban hanya sebagai pengabdian total.

Sejak saat itu ayah saya ke Maumere dan di sana ia ‘belajar’ bagaimana berdagang di keluarga Om Blasi. Kebetulan sejak mudanya, om Blasi sudah melakukan tugas sebagai pedagang keliling.

Tentang Om Blasi dan Mama Kewa, bisa dikishkan sebagai berikut. Mereka menikah pada tahun 1978. Om Blasi sudah sejak muda berdagang. Sementara mama Kewa, hanya seorang gadis dari Lerek yang lebih bercocok tanam daripada berdagang.

Tetapi rupanya perkawinan keduanya merupakan sebuah ‘chemistry’ yang bagus. Semangat berdagang itu secara perlahan dijalani dan mengapa tidak, akhirnya dialami juga sebagai sebuah panggilan jiwa. Keduanya secara bersama mengembangkan bisnis dalam berdagang.

Om Blasi lebih melaksanakan tugasnya ‘keluar’ setiap hari dengan mengikuti hari pasar. Kalau tidak salah jadwalnya sebagai berikut: Minggu-Senin-Selasa, ke Boru, Rabu ke Nangablo, Kamis ke Nita, Jumat ke Kewapante, Sabtu (entah ke mana lagi). Ritme itu dilaksanakan secara rutin.

Jadwal itu selalu saya ingat karena kalau ada kekurangan dan ingin bertemu Om Blasi, kemungkinan hari Kamis saya tunggu di Nita. Di sana bisa pulang dapat oleh-oleh…

Tugas mama Kewa menjaga di sebuah blok di pasar Baru Maumere. Posisi kios mereka cukup strategis karena berada di perempatan. Di depannya adalah kios seorang saudara juga, bapak Petrus Kiwan Koban. Tak jauh dari situ, ada warung kecil untuk makan minum miliki bapak Juang Magun. Mereka semua berdekatan.

Tugas itu dilaksanakan sendan sangat telaten. Banyak kali saya menenami juga Mama Kewa di kios ini, atau ketika masih di Ledalero, saya sering ‘lewat’ di kios (terutama kalau tidak bisa naik angkot ke Ledalero karena ketiadaan uang).

Di kios itu dijual beraneka pakaian. Setiap tamu yang lewat dilayani dengan senyum. Ditawarkan barang, dan diberikan harga pas. Tidak pernah terlintas pikiran untuk memanipulasi orang. Rupanya itu, umumnya sudah ada pelanggan. Terutama lagi ibu-ibu tukang tenun. Mereka tahu, harga benang di Kiosnya Mama Maria itu bisa dengan harga terjangkau dan tidak akan dibohongi.

Setelah melayani di Pasar Baru, di depan rumah juga ada kios kecil untuk jual barang makan minum yang letaknya di depan rumah, di Kampung Beru. Tempat ini biasanya dilayani oleh Kaka Vene. Kios kecil tetapi karena posisinya yang strategis di perempatan jalan, hampir selalu ada pembelinya. Itu pun dilayani dengan baik. Awalnya makanan tetapi dengan berjalannya waktu, sudah dilengkapi juga dengan pakaian.

Karena itu praktisnya seluruh hari dipenuhi dengan pekerjaan. Kalau lagi ‘bebas’ biasanya mama Maria Kewa selalu membungkus sesuatu. Gula pasir dialihkan ke bungkusan yang lebih kecil. Juga barang-barang agar tetap bersih, sesekali dicuci, distrika, dan lain-lain. Intinya, sore dan malam hari seakan ada persiapan khusus agar besoknya pekerjaan dapat berjalan dengan lancar.

Ini adalah sedikit gambaran. Jelas terlihat, Mama Maria Kewa adalah seorang pekerja sejati. Ia bekerja bukan lagi 12 jam tetapi 24 jam. Luar biasa. Seorang perempuan luar biasa.

“HOE GOE”!

Di Maumere, tepatnya di Kampung Beru (depan Dispenda), itulah alamat yang sering ditulis banyak orang kalau ke Maumere dan ‘nyasar’. Biasanya hanya diberi alamat ini. Semua orang akan tahu bahwa itu rumah Om Blasi Pana (itu sapaan umum).

Para sopir pun tidak akan kebingungan karena hampir semua orang dengan bis dari Larantuka kalau tidak ada lagi keluarga maka tempat itu jadi ‘mote’ alias tempat singgah untuk semua orang. Mereka tahu, kalau singgah di ‘mote’ ini pasti diterima dengan SENANG HATI.

Bila masuk di sini, orang akan segera merasa ‘at home’, seperti di rumah sendiri. Itu semua karena ‘sang ibu’, Mama Kewa, memperlakukan semua orang seperti anaknya sendiri dan tidak pernah membeda-bedakan. Semua orang yang datang dianggap keluarga. (Sejauh yang saya tahu, tidak ada yang ditolak). Semua mereka diterima dengan senang hati.

Tak heran, di keluarga ini seperti ‘pesta’ tiap hari. Maksudnya, makanan yang disediakan sehari itu untuk di atas 10 orang dan makan paling kurang tiga kelompok. Kebetulan mejanya agak kecil, ukuran untuk 4 orang saja sehingga yang lainnya haru antre.

Bisa dibayangkan kesibukan seorang ibu yang bisa mengatur kehidupan makanan dan minuman begitu banyak orang. Kalau tidak tekor, sudah keterlaluan. Tetapi itu dilaksanakan dengan diam. Mama Kewa tidak jarang bicara. Ia hanya terdiam. Tetapi tidak terlihat kemarahan apa pun. Ia tenang dan merasakan semuanya itu seakan berkat.

Bukan hanya tempat singgah. Rumah ini juga jadi seperti tempat ‘magang’. Kalau kerja bersama orang China, kita hanya sebagai pekerja. Itu beda bekerja dengan om Blasi dan Mama Kewa. Di sini semuanya diperlakukan sama dan diajakan ‘rahasia berbisnis’.

Banya orang yang telah berhasil setelah melewati proses magang di sini dan mereka cukup sukses. Hampir semuanya keluar ingin membuat sesuatu untuk mereka sendiri. Mungkin itu konsekuensi memperlakukan orang sebagai tempat magang sehingga ketika sudah pintar, mereka mau berdiri sendiri.

Di Mote ini juga tempat singgah baik kami yang tinggal dekat terutama di Ledalero. Setiap ada kesempatan pasti ‘turun’ ke Maumere dan pasti singgah di Kampung Beru. Itu sudah jadi rumah begitu banyak frater, pastor, dan bruder. Itu rumah kami. Inilah rumah bagi banyak orang. Malah bagi yang lebih dekat, pesta kaul pun dibuat di sini.

Di sini tentu para frater dapatkan perlakuan sangat khusus. Karena itu, ketika memutuskan untuk mengambil jalan lain, terasa sangat berhutang budi. Betapa banyak sekali pengorbanan yang telah dikeluarkan untuk kami.

Rumah di Kampung Beru karena itu jadi rumah kedua. Karenanya ketika tahun 1992, ketika terjadi Tsunami, saya segera berangkat ke Maumere. Waktu itu bersama P. Matis Daton, SVD yang sekarang bertugas di Chile.

Kami berdua jalan kaki ke sana (karena jalan putus di Nangaliman). Sampai di Kampung Beru kami dapatkan rumah kosong. hati dug-dag. Tetapi dengan segera ada informasi bahwa mereka sekeluarga lagi mengungsi dekat pekuburan Iligetang.

Di sana saya temui mereka di bukit Iligetang dengan tenda kecil. Tempat ini sangat kuat dalam ingatan. Karena itu waktu dengar bahwa Mama Kewa dikuburkan di Iligetang, saya ingat bahwa waktu itu sudah ada latihan untuk meninggal.

Ini hanya mau menjelaskan, di rumah ini semua orang dianggap sebagai saudara. Tidak ada pembedaan. Hal itu lahir dari sebuah praksis kehidupan yang dibuat oleh Mama Kewa. Secara pribadi saya tidak bisa membedakan mana anak kandung dan anak lainnya. Semuanya diperlakukan secara sama baik dalam makan, pakaian, dan lain-lain. Tidak ada anak emas.amistad Kewa LadjarAnak sendiri bekerja seperti ‘orang lain’ dan orang lain bekerja seperti anak sendiri. Itu adalah kunci memperlakukan orang lain yang dibuat oleh Mama Kewa, sebuah contoh yang agak sulit saya temukan (barangkali itu pengalaman terlalu pribadi).

Singkatnya, mama Kewa Blasi telah menjadikan rumahnya sebagai sebuah mote rajan alias tempat singgah besar. Sangat yakin, setelah beristirahat di tempat teduh ini, sebagaimana kebiasaan orang-orang sekampungnya bila beristirahat di ‘mote’, mereka merasakan adanya kekuatan baru.

Di mote ini mereka berteriak dalam sebuah seruan khas orang Lerek: ‘HOE GOE’, sebuah seruan kegembiraan karena sudah mencapai tempat itu dan bisa beristirahat menikmati angin sepoi-sepoi basa. Jelasnya, ia adalah ungkapan gembira orang Lerek setelah mencapai MOTE dan mengalami KEGEMBRIAAN. Sangat pasti semua orang yang lewat di Kampung Beru, dan setelah mengalami kasih dari Mama Kewa mereka juga akan berseru: HOE GOE…

Kata yang sama pasti juga diucapkan oleh Mama Kewa saat setelah mengembuskan napasnya yang terakhir. Ia lega dan berucap “HOE GOE” karena perjalananya sudah selesai. Kini ia beristirahat dalam damai.

Lupa Diri

Ada banyak hal yang saya ingat dari Mama Kewa, tetapi satu kata kunci pasti bisa mengungkapkan hal ini. Ia adalah orang yang ‘lupa diri’. Seluruh dirinya digunakan untuk memerhatikan dan melayani orang lain dan lupa mengurus dirinya.

Baginya, yang paling penting adalah membuat orang lain senang dengan melayani sepenuh hati. Karen itu hal-hal tentang dirinya kurang diperhatikan, termasuk kesehatannya. Kejadian terakhir hingga meninggal adalah satu bukti akan usahanya untuk menyenangkan orang lain dan berusaha untuk menderita sendirian.

Semuanya itu dibuat hanya baginya, kita ada untuk melayni. Dari pengalaman ini, ada tiga hal yang bisa diangkat sebagai pesan.

Pertama, Mama Maria Kewa adalah seorang pekerja sejati. Hal itu dilakukan dari hal kecil, dilaksanakan dengan senang hati, dan dijiwai sebagai sebuah panggilan. Tugas itu dilaksanakan dengan telaten. Ia mengingatkan pesan Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Laborem Excercens bahwa kerja bukan sekedar untuk mendapatkan sesuatu materi tetapi untuk mewujudkan diri secara subyektif.

Kedua, mama Maria Kewa telah membuktikan bahwa dengan memberi, seseorang tidak pernah kekurangan. Rumanya adalah mote tempat siapa pun akan diterima, diberi penginapan dan rumah. Ia sudah memberi begitu banyak kepada orang tetapi ia tidak kekurangan karena tahu dengan memberi ia semakin menjadi kaya.

Ketiga, ia ajarkan bahwa hidup yang baik adalah mengorbankan diri untuk orang lain. Kita tidak pernah ada untuk diri kita sendiri. Kita ada untuk orang lain. Ia ada untuk orang lain. Hal itu mengingatkan akan korban Yesus di Salib untuk umatnya, sebuah pemberian diri.

Keempat, mama Maria Kewa menyebarkan kasih secara original, apa adanya. Ia jiwai secara ke dalam dengan menjadi ibu yang baik dari 5 anaknya yang disekolahkan hingga Perguruan Tinggi (kecuali Ferdy,si bungsu, yang setamat SMA, ingin mengembangkan usaha orang tua). Kelima anaknya melewati pendidikan di pulau Jawa (Jogjakarta dan Jakarta). Hal itu menunjukkan, bila mama Kewa berhati baik dengan orang lain, itu tidak seperti banyak kita yang ‘baik secara keluar’ tetapi secara ke dalam ‘berantakan’. Ia bisa ramah dengan orang lain karena itu lahir dari kesaksian hidup keluarganya.

Kelima, kepergian mama Maria Kewa mengejutkan sekaligus menjadi pengakuan bahwa ia benar-benar menjadi INA MOTE RAJAN UNTUK BANYAK ORANG. Kepergiannya merupakan sebuah kehilangan. Tetapi biji tidak bisa tumbuh kalau ia tidak mati dahulu. Kepergiannya membawa teladan yang baik, itu seperti menanam biji. Semoga dengan kematiannya, ada inspirasi untuk menjadikan diri kita juga jadi MOTE (meski kecil), tempat di mana kita sekeluarga merasa nyaman dan mengapa tidak, menyebarkan kasih itu kepada orang lain.

Advertisements

4 Responses to Maria Kewa Lajar

  1. Kandidus says:

    Di mote ada air yang tersisa dalam nawi lelun, ada siri pinang yg masih ada di dalam giling, disana kita dapat minum air dan mengunya siri pinang sambil melepas lelah sejenak, memperoleh tenaga baru untuk melanjutkan pendakian kita dan banyak orang

  2. luislajar says:

    Sebuah guratan kasih yang memang lahir dan ada dari kasih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s