MENCARI HENDRIKUS (P. HENDRIKUS DORI WUWUR, SV)

MENCARI HENDRIKUS

(P. HENDRIKUS DORI WUWUR, SVD)

Hari ini saat membuka FB sebelum mengawali pekerjaan, saya terkejut dengan berita wafatnya P. Dr Hendrikus Dori Wuwur SVD. Rasayanya terlalu cepat. Terbilang masih terlalu muda untuk harus pergi sekarang. Dengan umur 71 tahun (lahir tahun 1946), sebenarnya masih belum tergolong tua untuk ‘pergi’.  Lebih lagi karena tenaganya masih dibutuhkan di lembaga pendidikan Ledalero.

Tetapi Tuhan punya rencana lain. Sang guru homiletik dan retorika itu pergi. Apa sebenarnya yang paling mendalam teringat dari imam yang masuk SVD tahun 1966 dan berkaul pertama pada 2 tahun kemudian itu?

Tak Mengenal

Secara pribadi saya sebenarnya tidak mengenal Pater Dori. Boleh dibilang hanya perkenalan sepintas saja. Saya kenal nama Dori Wuwur saat masih di Seminari Hokeng. Ia datang dengan motornya yang waktu itu terhitung berukuran CC besar yakni 125. Pada bagian motor terpasang kaca pengaman yang bisa melindungi dari terpaan angin.pater-dori4

Saat tiba di Ledalero 1989, kami tidak mendapatkan kuliah dengannya. Pater Hendrik memberikan kuliah Retorika untuk tingkat 2 (kami yang masih di tingkat 1). Saat naik tingkat 2, Pater Hendrik harus ke Jerman untuk melanjutkan studi. Ia kembali waktu kami sudah selesai.

Selaama 1 tahun di Ledalero, kontak dengan Pater Henrik nyaris ada. Lebih lagi saat itu ia sudah jadi Koordinator para prefek. Satu atau dua kali sempat ke kamarnya, tetapi hal itu sangat terbatas.

Hanya saja menjelang ke Jerman melanjutkan studinya, ia sempat bertemu dengan para novis. Kepada kami diserahkan angket tentang homili yang akan diisi selama liburan kami.

Tentang Pater Dori, saya hanya bisa melengkapi dari cerita orang. Kakak kelas yang berada satu tingkat di atasnya, saat itu memegang buku Retorika dari P. Hendrik. Untuk ukuran waktu itu, dosen yang menerbitkan buku sangat minim. Kemudian buku Seni Berkhotbah, berisi petunjuk praktis.pater-dori8

Diam-diam saya menaruh minat pada homiletik dan retorika. Barangkali karena sejak seminari menengah sudah dipercayakan jadi ‘protokol’ atau ‘pengacara’, yang istilah krennya ‘MC’. Dengan demikian saya rasa bahwa bidang ini tentu sangat penting. Saya punya kerinduan untuk mendalaminya, minimal mendapatkan kuliah dari orang yang ahli dalam bidangnya.

Tapi sampai selesai di Ledalero, Pater Hendrik belum kembali dari Jerman. Saya hanya berbekal membaca 2 bukunya yang tentu berbeda nuansa kalau pernah mendapatkan kuliah dari sang pengarangnya. Masih tentang buku, sudah sebuah terobosan besar. Pada era delapan puluhan, Hendrik Dori sudah sangat giat mendorong para frater menulis khotbah. Hasil karya para frater kemudian diterbitkan dalam Pastoralia.

Bagai gayung disambut. Ketika melewati masa di Paraguay, minat yang lama itu muncul kembali. Lebih lagi ketika Seminari Tinggi Asuncion justeru mencari orang yang bisa berkolaborasi dalam bidang homiletik. Saya lalu teringat dengan Pater Hendrik Dori Wuwur. Saya coba menghubunginya, meminta nasihat dan petunjuk.

Karena itu sesaat liburan, saya sempatkan diri berbincang dengannya. Banyak masukan dan pengalaman yang diberikan, meskipun dalam hati ada rasa sesal karena pengalaman pribadi langsung terutama dalam kuliah tetap menjadi sebuah ruang kosong yang terus saya bawa.

‘berkat kata pengantar’

Setelah proses yang lama dengan mengambil jalan hidup lain, kontak dengan Pater Dori pun sangat berkurang. Hanya saja beberapa saat lalu, setelah selesai memperoleh laisasi dan ingin menulis tentang homili dari bangku umat sebagai evaluasi, saya berkontak dengan Pater Hendrik.pater-dori1

Orang pertama yang jadi ‘bidikan’ untuk bisa membuat kata pengantar adalah P. Hendrik. Saya pun mengontaknya, tetapi hingga buku itu hampir diterbitkan belum ada kabar. Tetapi rupanya, justeru dalam diam itu ia berusaha untuk bisa menjawabi email saya.

Untung saja dalam proses finalisasi, Pater Hendrik menulis email pada 25 November 2016, tidak saja meminta maaf tetapi juga mengisahkan penyakit yang kini dialaminya. Penyakit inilah yang bisa jadi sharing dan saya merasa untuk bisa menuliskannya.

Pater Dori mengisahkan, sejak akhir 2013 dan sepanjang 2014 hingga akhir Juni 2015, ia mengalami sakit koroner jantung yang pernah dideritanya pada tahun 2011. Selama periode itu, pagi hari terasa sakit di dada. Ia pun harus minum tablet dari dokter 1-2 jam. Dengan demikian kuliah baru bisa pada jam ke-3 dan ke-4, itupun selalu duduk.

Pada Juli 2015, Pater Hendrik ke dokter Jantung RKZ Surabaya, dan diputuskan operasi katerisasi atau pasang cincin pada 3 Agustus 2015. Setelah 3 jam operasi, dokter memutuskan untuk stop operasi karena terjadi 7 peyumbatan di jantung. Dokter lalu menganjurkan agar diadakan operasi ‘by pass’ di Penang atau Singapura.pater-dori5

Operasi akhirnya dilaksanakan di RS Premiere Surabaya pada tanggal 8 September 2015. Operasi berhasil tetapi kondisi sesudahnya belum bisa normal, soalnya buah pinggang hanya sebelah dan ada indikasi sakit gula (gejala diabetes). Sejak saat itu aktivitas menjadi ‘tidak norma. Pada kontrol September 2016, dokter mengingatkan agar berhati-hati dalam pola makan, pola hidup, dan pola kerja. Sejak saat itu dokter belum memberikan ketegasan tentang aktivitas ilmiah karena belum ada hasil yang stabil dalam kaitan dengan gula darah, creatin.cover-final-homili-yang-membumi

Buku ‘Homili yang Membumi’ yang seharusnya dibuat kata pengantar oleh P. Hendrik Dori Wuwur, SVD.

Tentang kondisi terakhir, pater Hendrik hanya menulis berikut: Saya sekarang hanya bisa baca teks-teks sederhana sebelum makan siang. Teks berat yang perlu konsentrasi tinggi, dianjurkan jangan dulu. Sesudah makan malam, praktis tidak boleh bekerja atau belajar lagi.

Saya beruntung, dengan meminta beliau membuat kata pengantar, saya bisa mendapatkan informasi lengkap tentang sakitnya pater Hendrik Dori.

Mencari Hendrikus

Apa sebenarnya yang mau disampaikan di balik kisah tentang Pater Hendrik? Hal yang paling inspiratif adalah makna yang bisa ada di balik namanya dan kerja yang sudah ditunjukkan. Nama ‘Dori’ artinya ‘mencari’. Di sana terpetik bebeapa hal dalam kaitan dengan Pater Hendrik “yang selalu mencari’ (Dori).pater-dori6

Pertama, Pater Hendrik adalah tipe orang yang selalu ‘tidak puas’. Di masanya dengan minim fasilitas, ia sudah memberikan inspirasi tentang menulis. Buku tentang Homiletika dan Retorika dan kemudian Seri Pastoralia telah menjadi inspirasi. Baginya, seorang mahasiswa atau dosen harus terus mencari kebenaran.

Minimal Hendrikus mau mengajarkan, menulis adalah bagian dari ‘adanya’. Dengan menulis maka seseorang ada. Sebaliknya tanpa tulisan, seseorang meski kaya, dianggap tidak ada.

Kedua, Pater Hendrik melalui dedikasinya selalu tidak puas dengan pastoral sebagai bagian praksis dari teologi. Baginya, karena ibadah dan terutama perayaan ekaristi masih menjadi ‘jantung hidup orang Katolik’, maka peranan homili menjadi sangat sentral.

Homili memiliki peran sentral karena menghubungkan antara ‘liturgi sabda’ dan liturgi ekaristi. Ia iabarat engsel pintu yang menutup dan membuka. Ia mengarahkan dari yang sebelumnya kepada ruang baru. Apabila inti dari liturgi ekaristi adalah perayaan iman yang ditandai syukur dan gembira, maka homili perlu menemukan hal itu.

Kesadaran ini telah mendorong Hendrikus untuk terus mencari ‘homili’ yang baik. Ia juga pasti merekam keluhan umat terhadap homili yang abstrak, eksegetis, doktrinal, eksegetis, dan moralistis. Ia sadar akan hal itu. Melalui buku Retorika ia ingatkan bahwa homili adalah bagian dari ‘public speaking’. Berbicara saat ekaristi harus ada ‘seninya’. Umat yang datang dengan ‘sopan’ tidak bisa dianggap ‘penuh perhatian’.pater-dori7

Selamat tidur Pater Hendrik,  dan kita mencarinya.

Kenyataan bahwa banyak homili yang tidak tepat sasar. Karena itu dengan mengajar, menulis, dan memberikan pelatihan homiletik., Pater Hendrik mendorong agar para pengkhotbah harus terus mencari (dori) cara terbaik untuk berkhotbah.

Tetapi apa yang ‘dicari’ Hendrikus tidak berarti sudah terpenuhi. Dalam proses ‘penyusunan kembali kurikulum STFK Ledalero’, sebagai dosen homiletika dan retorika, Hendrik beursaha gar mata pelajaran ini benar-benar ada dan efektif. Sayangnya, apa yang diperjuangkan harus berhadapan dengan urgensi mata kuliah yang lain. Dikabarkan, apa yang ‘diharapkan’ (dan barangkali dicari’ oleh Hendrik tidak terlalu diakomodir. Dalam keseluruhan mata kuliah, homiletika belum mendapatkan tempat sebagaimana diinginkan oleh Pater Dori.

Ketiga, kepergian Hendrikus dan kini tidak ada, bisa saja akan memunculkan sebuah pencarian. Sayangnya, biasanya kita merasa kehilangan karena sesuatu sudah tidak ada. Mengakhiri suratnya ke saya di November lalu, Pater Hendrik malah merekomendasikan beberapa tokoh homiletic di Jawa yang bersamanya pada tahun 2011 menyusun Petunjuk Praktis Berkhotbah.

Artinya bidang ini yang sangat esensial ternyata tidak banyak diberikan perhatian. Dengan demikian dari sedikit yang kita miliki dan kini pergi, maka ketakhadirannya justeru akan membuat kita terus mencarinya. Kita mencari agar teologi yang begitu tinggi tidak tinggal di atas tetapi harus turun membumi. Teologi kata Boff, hanya bisa bermakna ketika ia bisa dialami dan dirasakan dan malah orang sederhana sendiri bisa ‘berteologi’ dari realitas hidupnya.pater-dori9

Pater Hendrik pergi, kita terus ‘mencari’. Mencari inspirasi teologis….

Itulah teologi pastoral dengan salah satu cabang yang tentu sangat dibutuhkan adalah homili. Melalui homili orang bisa merasakan secara nyata Sabda Tuhan yang disampaikan ‘in illo tempore’ (pada waktu itu) dapat menjadi Sabda kini.

Kepergian Hendrikus Dori justeru membuat kita mencari. Mencari agar mendapatkan model pastoral yang baik dan tepat. Selamat jalan dan selamat mencari (dori).

Advertisements