P. ANDE MUA, SVD

SE(MUA) UNTUK ANDE

In Memoriam, P. Ande Mua, SVD

P. ANDREAS MUA, SVD (FOTO TAHBISAN)Berita kematian P. Ande Mua, SVD, bisa saja sudah tidak mengagetkan lagi. Pasalnya, saat sakit parahnya tersibak dan para dokter ahli di RKZ Surabaya ‘angkat tangan’, sebuah ungkapan tentang tidak bisa tertolong lagi, menunggu waktu adalah ungkapan tepat. Karena pula, ketika pada tanggal 8 Juni yang ‘diSMS’ P. Kristo Bala, SVD dari Malang, juga disertai sms lainnya dari Lewoleba, dengan serta merta informasi itu disebarkan di media sosial. Ternyata berita itu cepat diralat: “P. Ande masih hidup”. Ia masih diberi hidup 15 hari dan sempat meniup lilin ulang tahun. ULTAH TERAKHIR P. ANDE MUA, SVD. MESKI SAKIT, TEMAN-TEMAN TIDAK LUPA MERAYAKAN ULTAHNYA

 (Pater Ande masih merayakan Ultah ke 66, 8 Juni 2014)

“Ulu Wat-Wat”

Saya mengenal Ande, sejak kecil di era pertengahan 70-an. Seingat saya, saat mulai mengenalnya, ia sudah menjadi frater. Namanya begitu melekat dalam diri kami anak di kampung. Penampilannya selalu menarik perhatian, apalagi gayanya yang sedikit feminis tetapi sekaligus anggun.

Raut mukanya selalu ceria. Terasa ada pancaran sesuatu yang lain. Hal itu disertai cara bicaranya yang tersasa sangat segar dan menyenangkan. Gerak mulutnya hingga terlihat barisan giginya yang menarik, yang selalu mengeluarkan kata-kata indah ketika berbicara. Tak heran Ande jadi pusat perhatian kami anak-anak.

Dongeng-dongeng yang diceritakan “Frater Mua” saat berkhotbah, masih teringat sampai sekarang karena ia menuturkannya dalam gaya orang Lerek. “Anak tu ne bo ulu wat-wat” (ada seorang anak yang kepala batu), demikian salah satu cerita tentang anak kecil yang kepala batu tetapi kemudian menyesal dan berbalik.KONDISI DESA LEREK LEMBATA TAHUN 1940 an SAAT P. BEEKER, SVD MENDIRIKAN PAROKI LEREK

Wajah Lerek tahun 70an. Sederhana tetapi diperkenankan menjadi tuan rumah tahbisan Pater Ande Mua dan Paul Pemulet.

Mendengarkan Ande adalah sesuatu yang selalu kami nantikan saat liburan. Setelahnya, seperti biasa, kami anak kecil selalu menirunya. Ada kebahagiaan ketika bisa menirunya. Sebuah gaya integratif antara gaya seorang pria dan keramahtamahan seorang ibu. Di situlah yang membuat Ande berbeda dari orang lain.

Rasa kagum dan bahagia seakan jadi begitu lengkap saat Ande bersama teman separokinya, P. Paulus Pemulet, SVD (yang wafat pada bulan Juni tahun 1991) ditahbiskan di Lerek, tanggal 1 Juli 1979. Keduanya memang merupakan imam kedua di paroki, setelah Mgr Leo Laba Ladjar, OFM (kini uskup Jayapura), tetapi merupakan perayaan pertama yang disaksikan oleh orang paroki Lerek di kampung halamannya.

Acara itu sampai saat itu masih langka di Lembata. Bisa dibayangkan persiapan seputar tahbisan. Bisa dirasakan, orang kampung, harus menerima ribuan orang. Aneka strategi mendadani kampung agar bisa membuat orang kota ‘nyaman’ pun dilaksanakan. WC di tiap rumah dibuat, padahal masyarakat masih terbiasa dengan ‘tongkol jagung’ pengganti tisu WC.

Rumah-rumah pun didandani. Tempat tidur dirapikan. Singkatnya, Lerek yang tadinya hidup ‘seadanya’ harus berdandan. Minimal agar selama perhelatan itu, Lerek tampak anggun dan tidak kalah dengan daerah lain.

GUNUN MAURAJA DESA LEREKWajah Lerek di lembah, berhadapan dengan gunung Mauraja nan indah.

Sebagai anak SD, peran tentu tidak banyak, tetapi yang paling menyentuh adalah tugas untuk mewarnai semua acara dengan suling bambu. Semenjak penerimaan sebagai diakon hinga selesai acara, musik suling tak henti-hentinya mengantar sang ‘bintang’. Kadang mulut terasa kaku, tetapi rasa hormat dan kagum pada “Tua Mua”, membuat segala kecapean hilang. Sebuah acara yang tidak bisa dilupakan.

GEREJA LEREK DIDIRIKAN TAHUN 1926

 

 

 

Gereja Lerek, tempat Ande memulai benih panggilan. Gereja, jauh di dusun yang sunyi…

Setelah semua acara itu berakhir, bukan namanya Ande kalau tidak menulis surat panjang kepada seluruh orang Lerek. Di depan gereja, kami dengarkan suratnya yang sekitar 20an lembar (malah lebih) melukiskan menit demi menit terselenggaranya acara itu. Ia selingi dengan ucapa bangga dan pujian atas partisipasi umat di Lerek khususnya dan paroki Lerek pada umumnya.

Tegas (dan Keras?)

Pater Ande Mua Tolok, SVD (marga Tolok ini jarang digunakan), berasal dari kampung kecil Lerek (meski di antara kampung yang lebih kecil lagi, Lerek disebut kampung besar).

Di lembah Lerek, bisa saja disebut cukup subur karena berkah dari sisa letusan gunung api, tetapi selebihnya adalah daerah tandus. Padang belantara, terutama di daerah pantainya. Di sana masyarakat hanya bisa bertanam kacang tanah, tidak lebih dari itu. Ada tanaman lain, tetapi hidup seadanya sekedar memenuhi kebutuhan.

Keadaan tandus itu terjadGUNUNG ADOWAJO LEREKi karena di kampung yang kecil ini ternyata punya 4 gunung (tiga diantaranya aktif). Lerek karena itu sungguh berada di atas persilangan cincin api (ring of fire). Setiap saat, bencana bisa datang.

Kesan utuh tentang bencana ini justeru terwujud hanya beberapa hari secara tahbisan nan meriah. Ratusan orang dibawa oleh gempa bumi dan tsunami yang melanda Waiteba (bekas ibu kota kecamatan Atadei dan longsor di daerah Batanamang, Bauraja.

Alam seakan tidak mau agar kegembiraan dalam tahbisan itu terus dirayakan. Masyarakat harus ingat akan asal muasal, sebagai daerah bencana dan karena itu harus selalu siap.CONRARDUS BEEKER, SVD PASTOR PAROKI PERTAMA LEREKP. Henricus Conrardus Beeker, SVD. Pastor Paroki Lerek Pertama tahun 1940-1956. Wafat dibunuh oleh Bernardus Baha Luga di Watuwawer 19 April 1956.

Keadaan derita itu direfleksikan Ande dalam buku Darah Emas, kisah tentang martir P. Conrard Beeker, SVD. Ia gambarkan bahwa orang Atadei selalu siap dan berdiri (ata = orang dan dei = berdiri). Mereka harus selalu siap karena setiap saat bisa datang bencana alam yang menimpa. Keadaan itu juga tercermin dalam bukunya tentang P. Niko Strawn, SVD. Di sana realitas sosial di Lerek dinarasikan begitu hidup.IN  MEMORIAM P. CONRARDUS BEEKER, SVDKeadaan yang sangat keras inilah yang terekspresi dalam kepribadian Ande. Baginya, setiap orang harus selalu siap. Tidak boleh asal-asalan. Kalau sudah memutuskan, harus konsekuen. Hal inilah yang barangkali terkesan Ande sangat tegas dan tidak ambil pusing ketika menemukan hal yang tidak sesuai. Tak heran, di antara para frater novis, kesan tegas itu selalu melekat dalam kepribadian Ande Mua. ANDE MUA1

Sebuah watak yang tidak secara kebetulan. Ketika ia meyakini sesuatu, ia akan konsisten, apa pun tantangannya. Hal itu juga bisa terlihat saat setelah tiga tahun jadi Magister Novis di Ledalero.

Dalam permenungannya, ia sadari, kehidupan novisiat sangat penting dan mendasar.

Sementara itu ia melihat, ketika novisiat digabungkan dengan tingkatan filosofen dan teologan, seorang novis bisa saja cepat terpengaruh. Karena itu di tahun 1997, ia denga tegas meminta dan akhirnya terwujud, memindahkan novisiat ke Nenuk.

Di sana ada hal lain lagi. Para calon pastor dan para calon bruder bersatu dalam basis yang sama. Sebuah langkah yang berani. Ia mau menjalin persahabatan dan sekaligus perlahan mengikis anggapan bahwa para bruder itu ‘kelas dua’.  Selain itu, ia bernai memulai sesuatu, meski saat itu Nenuk belum siap sama sekali. Angkatan pertama harus tidur seperti anak asrama, STM, tetapi itulah bagian dari awal yang harus dijalani.

Pengalaman membimbing frater delapan tahun di Nenuk, kemudian ia memulai periode baru sebagai pembimbing frater di Montreal Canada. Tentu tidak mudah karena dengan umur hampir berkepala lima, dan harus belajar bahasa baru (Perancis) dan tentu saja bahasa Inggris harus lebih baik, agar bisa membimbing para frater.

Tetapi tantangan itu justeru disambut dengan baik. Ia jalani dengan baik. Orang sekampung tidak pernah dilepaskan tanpa berita. Selalu ia kirimi surat dengan cerita yang selalu dikaitkan dengan istiliah-istilah dari kampung: “kam bele pnua mere lale papengen” (kami bicara dengan bahasa orang seberang), demikian ungkapannya saat menulis surat untuk keluargaku menceritakan bahwa ia merayakan misa arwah pakai bahasa seberang untuk ayah saya yang meninggal tahun 1995.

Justeru pengalaman di Canada itu tidak sekedar asal lewat. Di Canada, ia isi dengan mendalami psikologi hidup membiara. Hal itu justeru menghadirkan wajah Ande yang lebih humanis. Setelah beberapa tahun di Kanda, Ande yang keras dan tegas tampil beda menjadi begitu lembah lembut, mengembalikan wajah Ande yagn saya kenal waktu kecil. Tetapi tentang prinsip, tidak ada bedanya.

Ande membimbing para pastor yang mengalami kesulitan untuk menemukan dirinya, tanpa ada usaha untuk meninabobokan dalam status sementara orang lain dirugikan.ande

Secara pribadi, pengalaman dan kepribadian Ande yang demikian selalu kuat saya rasakan. Ketika saya mengalami kesulitan dan harus memutuskan untuk mundur, tidak ada hal yang ada dalam pikiran selain, konsisten. Harus berani mengambil keputusan dan rela menanggung resiko terhadap keputusan. Sebuah keputusan yang tentu sangat pahit ketika ia mendengarnya, tetapi beberapa tahun kemudian saat bertemu ia dengan besar hati berkata: “Robert, Saya gembira karena kamu berani ambil keputusan dan menghidupinya dengan konsekuen”.

Menyiapkan Kematian

Sepulang dari Kanada, selalin mendedikasikan di Lembaga Pembentukan Berlanjut, Ande juga sangat ‘concern’ dengan akar sejarah terutama dalam kaitan dengan kematian Pater Conrard Becker,SVD tahun 1954.

Baginya, kematian itu perlu diingat dan dihidupkan kembali. Kematian itu tidak bisa begitu saja. Di sana ia mulai membongkar kembali arsip yang berkisah seputar kematian Beeker. Selama cuti di kampung, nara sumber yang masih hidup diwawancarai untuk mendengar kesaksian mereka dan menyusunnya dalam buku.

Usaha mencari informasi juga dijalankan saat mendapatkan kesempatan berada di Belanda. Ia pergi ke kampungnya Pater Becker untuk menelusuri masa hidupnya. Tak disangka-sangka, di taman, ia ternyata menemukan orang yang masih keluarga dengan Pater Becker. Mereka begitu gembira, karena ternyata Ande berasal dari kampung di mañana om mereka dibunuh dan mengajak mereka untuk berkunjung ke Watuwawer dan Lerek yang akhirnya terwujud dua tahun sesudahnya.

Tidak berhenti. Agar peristiwa historis itu bermakna, ketika tempat 50 tahun kematian Beeker, Ande menjadi inisiator agar tulang belulang itu ‘dibawa pulang’ ke Wautawawer. Hal itu menjadi begitu bermakna. Aneka proses itu terjadi dan menghidupkan kembali kisah duka yang terjadi seabad kemudian. Peristiwa kematian pun disiapkan sehingga pada peringatan 50 tahun, proses meriah itu dilaksanakan. Ande berhasil menghidupkan kembali memori yang barangkali sudah banyak dilupakan oleh kaum muda.

Ia pun secara sangat gamblang menampilkan kisah pembunuhan dan menganalisis watak si pembunuh, ‘si psikopat’, “Baha Luga” dengan sangat deteil pada buku Darah Emas. Meski terkesan menyeramkan, tetapi beberan data itu menjadi begitu penting. Ande melukiskan proses ‘gletekera’ sebagai bentuk penyembuhan dan penerimaan kembali si pembunuh di kampungnya Watuwawer. Hal itu tentu bukan untuk membenarkan tindakan membunuh sang misionaris, tetapi sebagai bentuk rekonsiliasi.

Persiapan itu belum lengkap. P. Nico Strawn SVD, adalah satu-satunya pastor ‘bule’ di Lembata. Ia punya makna khusus bagi paroki Lerek karena hampir 25 tahun pertama, ia abdikan di Lerek. Pada masa pastor dari Techny ini, Ande ditahbiskan. P. NICHOLAS STRAWN, SVDKarenanya, dalam perayaan 50 tahun emas imamat, Ande sangat gencar melobby para pembesar agar suatu saat, ketika tiba saatnya, Pastor yang biasa disapa “Niko Konok” itu bisa dikuburkan di Lerek. Tak heran, bersama panitia di Jakarta, diusahakan agar suatu kelak dapat terwujud, dengan menyiapkan taman doa di Lerek.

Sebuah taman yang pasti menjadi sangat lengkap ketika para peziarah yang sebelum ke Lerek, berdoa di makam P. Becker di Watuwawer dan melengkapi ziarahnya dengan makam P. Niko di Lerek.WELCOME P. NICHOLAS STRAWN, SVD, BACK TO YOUR VILLAGE

Ande begitu menghargai benih dan teladan yang telah ditanamkan oleh Pater Niko. Ia mengusahakan agar Niko dimakamkan di Lerek.

Rencana Tuhan ternyata lain. Setelah menyiapkan semuanya, justeru kabar tak gembira hadir tentang dirinya. Lima bulan sebelum meninggal, ia mengalami suasana drop dalam hal kesehatan. Dengan cepat, pertengahan Januari segera terbang ke Jakarta untuk berobat. Sebuah usaha yang cukup berhasil karena sampai saat itu disangka bahwa diabetes merupakan penyakit satu-satunya yang diderita.

Ternyata penyakitnya lebih jauh dari itu. Karena itu dua bulan sebelum kematiannya, ternyata P. Ande menemukan fakta yang tidak menggembirakan. Penyakitnya ternyata lebih parah (yakni kanker paru-paru) dari yang dibayangkan. Dari sananya ia mulai perlahan mempersiapkan diri. Di Surabaya, dalam suasana humor, ia mengatakan bahwa temannya alm P. Yoseph Suban Hayon, SVD, alm Felix Mado Doni, SVD, telah menjemputnya ingin pergi ke sana.

Di situ sebuah persiapan dilakukan. Tetapi bukan Ande kalau menyelingi dengan humor yang segar dan malah balik menghibur orang yangP. ANDREAS MUA SVD 'PULANG KAMPUNG'. mengunjunginya.

Tiba di Maumere, 18 Mei 2014 setelah ‘divonis’ menderita kanker paru-paru dan berada pada stadium akhir dan tidak bisa tertolong lagi di Surabaya.

 

“Ke Rumah”

Selasa, 24 Juni 2014, tepat di usianya yang ke 66 tahun 15 hari, Sang Khalik memanggilnya. Ande tentu sudah memersiapkan kematiannya, tetapi ia pun tidak tega karena banyak hal yang masih harus dibuatnya.

Aneka tugas yang diemban, tugas bantuan baik kepada para frater bahkan para pastor yang dalam kesulitan juga tak lupa banyak biara suster yang sangat menjadikan Ande sebagai ‘bapa pengakuan dan bapa pembimbing’, masih harus diembannya. Hal itu sangat terlihat dalam hari-hari terakhir.

Secara fisik tidak ada harapan apa-apa lagi. Badan yang kian kurus, tinggal kulit pembungkus tulang, tetapi semangat untuk bisa berjalan, terus bicara masih kuat. Ia mau tunjukkan bahwa secara rohani, manusia memiliki sesuatu yang bisa membuatnya hidup. Tetapi itu tidak membuatnya mundur. Seseorang harus berani, pantang mundur menghadapi risiko, apa pun terjadi.

Hal itu ia tunjukkan sampai detik-detik akhir sebelum meninggal. Secara fisik tidak ada yang diharapkan. Tetapi dengan tenaga yang tersisa, dengan suara yang masih jelas dan pikiran yang masih cemerlang, ia masih mengenal semua orang. Tidak ada kesan ‘bicara sembarangan’ sebagai tanda kehilangan kesadaran sama sekali. Ande sadar sampai detik terakhir. Ia meninggal dalam kesadaran.

Rententan pengalaman itu, justeru akan terus dikenang karena dalam dirinya terpampang dan terekspresi hidup membiara yang sesungguhnya dan terbacara bahwa dalam diri Ande, se(mua) hal bisa diekspresikan. Ia menghidupi apa yang disampaikan dan menyampaikan apa yang dibicarakannya. Kata dan perbuatan menyatu dalam diri Ande.

Pertama, Ande adalah orang yang selalu bersyukur. Kadang ada kesan ‘membesar-besarkan’ kebaikan orang, tetapi hal itu menunjukkan bahwa dalam pertemuan dengan orang lain, ia selalu berusaha memberi arti kepada orang lain yang telah berjasa pada dirinya.

Dalam pertemuan terakhir di Jakarta, akhir Januari 2014, ia begitu berapi-api menceritakan sebuah hal kecil. Pagi hari ketika demi mengikuti nasihat dokter untuk jalan pagi, ia secara kebetulan melewati pius kedangtempat penjualan barang-barang antik. Di sana ia temukan sebuah alat cukur yang membuatnya tidak aman.

Hari berikutnya, ia harus melewati lagi tempat yang sama untuk membelinya. Itulah alat cukur kecil yang dihadiahi oleh Pius Kedang Tolong, yang adalah ayah saya ketika Ande menginjak dewasa dan tentu saja membutuhkan alat cukur.

Ande juga menceritakan bagaimana suster salah satu kongregasi menghadiahinya HP Blackberry. Para suster merasa sangat terbantu dengan kehadiran P. Ande di biaranya. Lebih lagi, agar lebih mudah dihubungi, mereka menghadiahinya sebuah HP, dmeikian kisahnya ketika saya tanyakan dari mana HPnya berasal.

Para suster  tahu, Ande tidak pernah mau membeli HP, karena baginya sudah cukup dengan peralatan teknologi yang ada.

Tetapi para suster melihatnya lebih jauh dan mengajarkan Ande cara menggunakannya dengan menghadiahinya sebuah HP. Meski harus belajar, tetapi namanya Ande kalau ia tidak mengungkapkan hal yang membesar-besarkan: “He.. terimakasih, saya tahu apa yang aku mau”….(padahal saya tahu, ia tidak menghendaki HP, tetapi dengan kata-kata itu ia memberi rasa berharga pada si pemberi, meski barangkali bukan untuk dirinya).

Kedua, Ande selalu agar se(mua) orang bersatu. Itulah ekspresi dari namanya “MUA” artinya bersama-sama dan bersatu. Setiap kali pulang kampung, ia pasti mengunjungi satu per satu orang terutama mereka yang sakit. Dengan jubah putihnya tetapi juga jacket hitamnya di luar, ia mengeliling lembah Lerek yang dingin untuk memberi semangat kepada orang sakit.TADONG

Begitu banyak orang menemani Pater Ande di saat-saat terakhir hidupnya. Para suster dan keluarga (foto di depan dalah Kakak Pater Ande, Bapak Tadong)

Ia juga mengajak para ibu untuk berjalan kaki, berziarah ke Watuwawer. Dan ketika tiba saatnya bergembira ria, ia selalu mengingingkan agar semua orang bisa terlibat dalam acara itu.ANDE MUA1

Hal itu juga ditunjukkan dengan sanak keluarga di Maumere. Ia selalu hadir pada saat penting dan berusaha menyatukan semuanya. Semua orang paroki Lerek di Maumere merasakan kesatuan itu berkat Ande yang menjadi figur pemersatu.

Saudaraku, Kandidus Latan, yang juga pegawai pada Pemda Sikka, selalu menginformasikan dari saat ke saat keadaannya karena tahu, begitu pentingnya Pater Mua bagi mereka, ia memersatukan se(MUA) agar hidup dalam keakraban dan persatuan.

Ketiga, Ande selalu merasa ikut ambil bagian dan penuh empatik merasakan apa yang dialami orang lain. Hal ini sangat kuat. Kenyataan ini saya rasakan secara pribadi. Saat di Jakarta baru-baru ini, ia tahu apa yang harus dibuat. Ketika meminta untuk bertemu di Soverdi, dengan cepat ia jawab “Ya”. Kemudian baru saya tahu, ia ada janji dengan keluarga lain, tetapi ia tahu bahwa ada hal yang lebih mendasar yakni mengunjungi orang yang barangkali perlu dapat kunjungan yakni keluarga saya, terutama melihat perjuangan keluargaku setelah memutuskan untuk hidup seperti sekarang ini.

Tak kusangka, saat berbicara dan menuturkan tentang ‘alat cukur’, ia ajak: “Robert, kita ke rumahmu”. Saya sempat menolak karena tidak ada persiapan, tetapi atas permintaannya, kami harus datang. Dalam hati juga terlintas pikiran, barangkali ini seperti permintaan Yesus kepada Zakeus untuk menginap di rumahnya. Kami pun datang ke rumah, berbicara tentang banyak hal dalam perjalanan dan juga di rumah.

 

P. ANDREAS MUA SVD MEMBERKATI  JUAN DIEGO PIUS KEDANG TOLOKGDiego mendapatkan berkat dari Pater Ande saat berkunjung ke rumah….

 

Di rumah itu kami merasakan kekeluragaan dan dukungan. “The show must go on”, pertunjukkan harus tetap berjalan. Kamu harus berjuang dan menunjukkan bahwa di tempat lain kamu masih bisa bermisi. Itulah kata-kata yang masih kuat teringat dan tentu akan diwujudkan. Terimakasih ama Mua, Pater Ande, Tua Mua yang telah menyatukan dan memberi semangat agar se(Mua) orang bisa bersatu dalam Dia….

Keempat, figur yang selalu mengingatkan sejarah dan selalu ingin agar sejarah itu tidakd dilupakan. Itulah yang ia buat dengan alm Conrard Becker yang sudah meninggal 50 tahun lalu dan dikebumikan di pekuburan misi Larantuka.

Kuburan itu bisa saja tidak ada yang mengenal lagi. Untuk itu Ande merasa perlu ada aktualisasi menghidupkan kembali apa yang sudah dimulai, apalagi menyangkut seorang misionaris yang jadi martir di Paroki Lerek.

Kesadaran seperti ini memunculkan keyakinan bahwa mengapa tidak, suatu saat Ande bisa pulang kampung. Apalagi di paroki Lerek, sudah disiapkan taman doa yang sedianya untuk Pater Nicholas Strawn, SVD, yang hingga tulisan ini dibuat, masih dii Amerika untuk berobat.

Muncul kesadaran bahwa kalau suatu saat sudah tersedia seluruhnya dan sang buah sulung di Lerek itu bisa kembali, tentu sangat bermakna. Masyarakat akan setiap hari menyalahkan lilin, berdoa di depan imamnya yang sangat suci dan sangat dihormati.

Apa pun yang terjadi, Ande selalu ada untuk siapa pun. Semoga ia pergi, membuat SEMUA keluarga besar mendapatkan hiburan. Juga untuk para pastor, ia jadi pendoa, karena ia jadi figur, contoh, dan teladan.

Foto-foto: Kandidus Latan Tolok, Karel Koban, dan Robert Bala.

 

12 Responses to P. ANDE MUA, SVD

  1. P. Endi Tolok SDB says:

    Terimakasih saudaraku atas tulisan yang sangat menginspirasi kita. Sedikit sharing bahwa ketika terakhir kali beliau pater ande ke Jakarta dia meminta saya untuk menjemputnya di bandara soeta. Bagi saya hal ini mengagetkan karena tidak pernah terjadi Seblumnya. Tak disangka kalau itu pertemuan terakhir saya dengan beliau. Bagi saya seperti penyerahan tongkat estafet. Sofa keteladanan beliau menginspirasi dan menggugah kita semua untuk terus maju dan konsekuen dengan pilihan hidup kita masing-masing masing. Mempertanggungjawabkan apa yang sudah menjadi pilihan kita. Amin. Selamat jalan Kene tuan mo mol ke nepo kam dor. Wage dihare tuan….

  2. Yosef says:

    ma kasih. akan saya coretkan beberapa kenangan indah berkenaan dengan pater Ande Mua Tolok, svd (almarhum).

  3. Marc Coenders says:

    In 2013 we visited with father Andreas Mua svd the places on Lembata where father Beeker lived and worked. Father Beeker was the youngest brother of my grandfather. Under guidance of father Andreas we experienced an extraordinary series of events and meetings. His death has touched us deeply. With help of automatic translation I could read your blog and we are grateful for this tribute.

    • robert25868 says:

      Dear Marc, thans for your extraordinary comment. I am from Lerek, was Father Andreas’ student in Noviciate Nenuk. In February this year (2014) when he came to Jakarta, he visited me and asked me to follow up communication with Fr Beeker family in Holand. He told me how did you come to Lerek, the visit in Holand when he met family in your hometown, etc. I hope, even Fr Ande now always pass away, Lerek still your ‘second hometown. Any ideas we can work together. I live in Jakarta and we can keep contact to follow up some ideas abotu Fr Beeker, Fr Andrew, etc. Thanks

      • Marc Coenders says:

        Dear Robert, thanks for your answer. I am currently travelling. We could meet via email or Skype perhaps beginning November. My Skype-name: mcoenders. Looking forward to talk to you. Kind regards, Marc

        > Op 22 okt. 2014 om 23:10 heeft “MENAFSIR TANDA ZAMAN (SIGNO TEMPORUM)” het volgende geschreven: > > >

  4. robert25868 says:

    Ok. Marc Coenders. Hope to contact you in November. Keep in touch

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s