P. PAUL PEMULET, SVD dan P. ANDE MUA, SVD

P. PAUL PEMULET, SVD dan P.ANDE MUA, SVD

(Dua Figur Mulia)

Di Tahun 1979, tidak ada figur yang lebih dibicarakan ketimbang P.Paul Pemulet, SVD, dan P. Ande Mua, SVD. Keduanya bak bintang yang disanjung, diarak, dan menjadi bintang.

Meski kisah tahbisan 1 Juli, dua minggu sesudahnya, 14 Juli dibisukan oleh Tsunami di Waiteba dan Pantai Harapan, tetapi kisah itu masih kuat terekam. Ia merupakan kisah perdana di wilayah Atadei. Karena itu 25 tahun kemudian saat dirayakan, memori itu masih kuat terekam.

Kisah ikut terlibat dalam persiapan dekorasi, sebagaimaan diungkapkan Penny Ledjab dan Ben Ayung Namang sangat menyentuh. Bukan saja orang Lerek, tetapi semua orang dari Paroki Lerek terlibat memberi dari apa yang dimiliki demi keberhasilan pestatahbisan.Lerek yang hanya sebuah kampung seperti kampung lainnya di paroki Lerek menjadi rapi.

Meski masih siswa SMP Budi Bhakti Waiteba yang saat itu ‘mengungsi’ di Waiwejak kemudian ke Karangora dan Kalikasa, mereka begitu setia melaksanakan tugas menata tempat penahbisan. Bersama para guru mereka speerti Paulus Pana Hayon, Paulus Pati Wawin, dan Andreas Boli Making, mereka menata Lerek menajdi pantas menerima tamu.

Kini, setelah 35 tahun umat Paroki Lerek di jakarta ingin merayakannya lagi. Kali ini dengan wujud doa untuk kedua yubilaris. Yang satu, P. Paul Pemulet, SVD sudah 22 tahun sementara P. Ande Mua, SVD, 40 hari, saat dibuat tulisan ini.

Polus: Periang, Komunikatif, Persaudaraan

Paulus Pemulet Namang, Lahir 27 Januari 1949 dari pasangan Bapak Thomas Bala Namang dan mama Martha Ema. Ia lahir sebuah anak ke5 dari 9 bersaudara (8 laki-laki dan 1 perempuan).P. PAUL PEMULET SVD KARTU TAHBISAN IMAM

Setamat dari SD Atawolo tahun 1961, Paul melanjutkan sekolah ke SMP Lamaholot Boto higga tamat tahun 1964. Cita-cita Paulus hanya satu, menjadi imam. Karena itu ia melanjutkan pendidikan di SMA Seminari Hokeng  tahun 1964-1968.Langkah menuju imam dimulainya dengan menjadi frater novis di Ledalero tahun 1969 -1970. Pada tanggal 9 Januari 1971, Paulus mengikrarkan kaul pertama.

Selanjutnya tahun 1971-1973, pastor yang humoris ini melanjutkan pendidikan filsafat.Tahun 1974-1975, ia melaksanakan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Tentang Ruteng. Setelahnya ia lanjutkan pendidikan teologi dan mengikrarkan kaul kekal pada tanggal 8 Januari 1979. Selanjutnya ditahbiskan diakon tanggal 4 Februari 1979 dan ditahbiskan menjadi imam tanggal 1 Juli 1979 di Lerek Lembata.

Paul yang cerdas tetapiperiang, sudah dipersiapkan agar segera melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itu tahun 1980-1983, Paul melanjutkan pendidikan Pastoral di Manila Philipina.P. PAUL PEMULET, SVDSetelah kembali ke Indonesia, pelbagai tugas promosional panggilan diembannya. Tahun 1983-1985 menjadi direktur panggilan. Selanjutnya diberi kepercayaan menjadi prokur misi dan direktur panggilan provinsi Ende dan Jawa hingga tahun 1987.

Semenjak 1986, Paul aktif menjadi pembina para bruder dan kemudian diminta menjadi dosen tetap pada Sekolah Tinggi Pastoral Ende hingga tahun 1992. Ia wafat tanggal 13 Juni 1992 dan dikuburkan di pekuburan Biara Bruderan Konrardus Ende.

Pengalaman kedekatan dengan P. Paul, sangat dirasakan oleh P. Lamber Lalung, SVD. Imam kedua Atawolo (pertama, P. Paul), yang kini berkarya di Chile, Amerika Selatan, mengungkapkan peran yang sangat penting dari . Pater Paul. Paul hadir sebagai seorang saudara, bapak, rekan, dan semuanya. Saat mengalami ‘kegoncangan’ dan hampir saja memutuskan untuk tidak menjadi imam, Paul justeru hadir meneguhkan’.

Paul juga yang menjadi pengkhotbah pada saat misa perdana dan bahkan tanpa diketahuinya, ia menyediakan semua piala dll untuknya sebagai imam baru. Perhatian Paul juga dengan memberikannya hadiah berupa sebuah kamera yang dipakainya untuk merekam ‘semua kegiatan pastoral’. Sayang, kamera pemeberian itu belum digunakan secara maksimal, paling kurang dengan menunjukkan kepad apastor yang suka senyum itu hasilnya karena pada tangagl 13 Juni 1992, ia sudah dipanggil Tuhan.

Tentang kepribadiannya, Justin Wejak, dosen pada University of Merlbourne, Australia menulis: “Paulus sangat humanis, Seorang pelawak spiritual”. Hal itu menggambarkan semangat humorisnya yang sangat segar. Paul bisa bergaul dengan siapa saja tanpa pandang kedudukan.

Meski demikian, ia adalah pribadi tegas dan berani. Terhadap hal-hal mendasar, Paul tidak mau ambil kompromi. Ia pernah berkisah, tentang ketegasannya menurunkan mahasiswa pastoral di tengah jalan hanya karena pemberitahuannya dilanggar. Baginya, ketika naik bis kayu tidak boleh duduk di atas atap bis kayu,  tetapi sang mahasiswa melanggar. Ia pun menurunkannya dan menyuruh sendiri mencari jalan untuk bisa ketempat tujuan.

Justin juga mengungkpan pengalaman di mana ‘Ande dan Paul’ disatukan untuk sebuah masalah di mana Justin hampir dikeluarkan di Novisiat Ledalero. Untung saja waktu itu Paul ada di Ledalero dan Justin sempat mengelu kepadanya. Paul hanya mengatakan: “Oh, nanti saya sampaikan ke Ande. Dia sembarang saja”, ungkapan pendekatan Paul ke Ande sebagai sahabat.

Dalam kaitan dengan keluarga, Hypo Namang, seorang keponakannya yang kini guru di SMA Negeri Larantuka menulis kedekatan Pater Paul. Ia selalu akrab dengan keluargatetapi tahu kapan harus memosisikan dirinya. Nasihatnya pun ringan tetapi mengena. Saat memimpin retret di Seminari Hokeng, melihat bahwa para seminaris tidak menjaga keheningan, ia menegur: “Kalian itu perasaan halus tetapi muka tebal”.

Kedekatan sebagai anggota keluarga juga dirasakan sangat mendalm oleh Ben Ayung Namang. Saat masuk Seminari Menengah hingga Seminari Tinggi, Pater Paul yang disapa “nenek” (baca: kakek), selalu ada dan memberikan arahan. Setiap kali datang ke Ledalero, ia selalu menjenguk para frater dari paroki Lerek, terutama dari Atawolo, seperti: fr Lamber Lalung (kini misionaris di Chile, Fr Ben Ayung (kini kepala sekolah Saint Paul School Bekasi), dan Fr Bernard Bala Ile, SVD (sekarang Kepala Sekolah Seminari Labuan Bajo).

Lain lagi kesan Kris Tere Pukay. Yang paling berkesan dari Pater Paul adalah berkat imam baru yang diucapkan dalam bahasa daerah logat Atawolo yang sangat kental: “Ina, go lokep limag ne be, nore ga ker lapit lomeneg”. Ia punya suara khas yang menggambarkan bahwa Paul memang orang yang sangat tegas dan berprinsip.

Di Lerek, setiap kali liburan, pasti Pater Paul harus singgah. Selain mengunjungi tempat di mana ia ditahbiskan, tetapi juga untuk  bertemu dengan saudari satu-satunya, maka Tuto Ata. Di situlah perayaan ekaristi yang dirayakannya selalu dengan bahasa sederhana tetapi mengena.

Kesan lain datang dari Markus Meran Koban, yang kini tinggal di Kepulauan Salon-Australia. Paul sangat disiplin dalam memulai kuliah. Terlambat satu menit saja sudah masalah, apalagi lebih dari itu. Kalau soal disiplin, siapa pun dia ‘sikat’. Ada suster, mahasiswi yang sampai menangis. Yang ia inginkan hanya menanamkan kedisiplinan.

Markus yang mengaku tidak mengenal lebih dekat, mendengar bahwa memang P. Paul sangat biasa, seperti orang biasa. Kalau soal maki, dia dapat cap khusus: “bnume weuken”. Kata-kata makian akan muncul ‘bebas’ terutama bila ada hal yang tidak sesuai. Kadang dia ungkapkan dalam bahasa daerah biar tidak dimengerti.

Adolphus Reku dari stasi Ekoleta Detusoko punya catatan tersendiri. Setiap Natal dan Paskah, Pater Polus selalu melayani mereka. Semua orang disapa bak keluarga. Kedekatan itu membuat umat sangat merasakan kehilangan ketika mengetahui bahwa Pater yang mereka cintai itu meninggal dunia.

Reaksi umat saat itu selain doa, mereka juga mengumpulkan beras terbaik untuk dikirim ke BBK Ende. Beras tersebut dimasak pada perayaan 40 hari wafatnya sanggembala.

Ande, Perenung, Pembina Utuh

Andreas Mua Tolok, demikian nama lengkapnya, lahir 9 Juni 1948 dari pasangan Bapak Yosef Hulut Tolok dan mama Ana Hiba. Ande adalah anak ke 6 dari 7 bersaudara.

Tahun 1956-1962 melewati pendidikan di Sekolah Rakyat Katolik (SRK) Lerek. Dari Lerek, Ande langsung ke SMP Seminari Hokeng hingga tamat tahun 1965. Selanjutnya melanjutkan pendidikan di SMA Seminari dari tahun 1965-1968.

Pendidikan selanjutnya dilanjutkan di Novisiat Ledalero (1969-1970) hingga mengikrarkan kaul pertama tanggal 8 Januari 1971. Pendidikan filsafat dilalui hingga tahun 1973 di mana Ande mendapat gelar BA.

Pada tahun 1974-1975, Ande melaksanakan Tahun Orientasi Pastoral di Niki-Niki Timor. Selanjutnya tahun 1976 Ande melanjutkan pendidikan teologi hingga mengikrarkan kaul kekal pada tanggan 8 Januari 1979. Tanggal 4 Februari 1979 ditahbiskan diakon dan tanggal 1 Juli 1979, ditahbiskan imam di Lerek, bersama P. Paul Pemulet SVD.

Penempatan untuk Pater Ande sebenarnya untuk provinsi Ruteng. Namun perpindahan P. Silvester Pajak, SVD ke Jawa, menyebabkan lowongan socius, pembantu magister lowong. Ia pun dipindahkan segera ke Ende dan melayani para frater novis tahun 1979-1981. Saat bersamaan, ia diangkat jadi pastor paroki Wairpelit, menggantikan P. Ozias Fernandez, SVD.P. ANDE MUA SVDTahun 1982-1984, Ande menjalani masa studi spiritualitas di Roma hingga mendapatkan gelar licenciat. Tugas belajar diselesaikan tepat waktu. Setelah itu ia mendapat kesempatan untuk mendalami studi spiritualitas di Institute for Religious formation di St. Louis University, Amerika Serikat.

Proses belajar pun tidak lama karena tugas baru di Ledalero menanti jadi magister novis yang dijalani satu periode tahun 1984 – 1987. Melihat bahwa masa novisiat itu penting, ia pun mengupayakan perpindahan novisiat dari Ledalero. Nenuk jadi pilihan. Karena itu sejak tahun 1987 – 1994, ia menjadi magister di Nenuk, Timor.

Setelah tugas 10 tahun, atas permintaan untuk menjadi pembina para frater di Montreal Kanada, maka ia dipindahkan dan berkarya hingga tahun 1988. Dari Kanada, mengingat lembaga pendidikan para frater itu ditutup, maka Ande kembali ke Indonesai dan bertugas pada Lembaga Pendidikan Berlanjut Arnoldus Janssen hingga tahun 2007.

Semestinya, saat kembali ke Ledalero, langsung ditawarkan untuk menjadi magister di Madagascar. Tugas itu tidak bisa diterima karena ingin melewati beberapa tahun dengan para frater di lembaga pendidikan. Permintaan kembali dianjurkan lagi tiga tahun kemudian tetapi Pater Ande akhirnya memilih untuk tetap di Ledalero dan memercayakan tugas kepada yang lebih muda.

Semenjak berhenti dari Lembaga Pembentukan Arnoldus Janssen, Ande lebih berkonsentrasi dalam memberikan pembinaan dan retret untuk para pastor, biarawan-biarawati. Karena tugas itu, ia mendapatkan kesempatan mendalami workshop pembinaan dan retret di Steyl Belanda tahun 2010.

Kesempatan yang indah ini juga dia manfaatkan untuk mencari informasi tentang asal dari P. Conrard Beecker, SVD yang menjadi martirdi Watuwawer Lembata. Dari informasi tersebut, ia kemudian menulis buku tentang P. Beecker dan menjadi inisiator hingga makamnya dipindahkan ke Watuwawer pada tahun 2006.kubur

Setelah itu, P. Ande juga menulis buku tentang P. Nicholas Strawn, SVD yang merupakan pastor paroki terlama di paroki Lerek. Ande juga mengupayakan agar sang misionaris itu dapat dikuburkan di Lerek. Tugas itu kemudian disatukan dalam perayaan 50 Tahun P. Niko pada tanggal 28 Juni 2012 yang lalu.

Pada masa akhir hidupnya, P.Ande sangat dibutuhkan tenaganya dalam aneka retret dan pembinaan. Namun tugas mulia itu tidak bisa dilanjutkan oleh sakit diabetes (gula) dan terutama ketika pada saat akhir ditemukan bahwa ia menderita kanker paru-paru stadium terminal yang mengakitkan Pater Ande wafat pada tanggal 24 Juni 2014.lerekkPater Ande memprakarsai perayaan 50 tahun Imamat P. Niko di Lerek dan berusaha menyiapkan kubur untuk pastor parokinya di Lerek.

Tentang P. Ande, Pastor Niko Koban, SVD dari Jerman menulis keutamaan yang dimiliki sang pioner, pastor sulung dari Paroki Lerek (setelah Mgr Leo Laba Ladjar, OFM). Pribadinya sangat dedikatif pada pekerjaan yang dipercayakan padanya.

Valens Daki Soo, seorang mantan muridnya, yang kini menjadi politisi PDIP menulis bahwa pastor Ande sangat humanis, penuh persaudaraan, tetapi ketika tiba pada hal prinsipiil, ia tidak tawar-tawar lagi. Baginya hal yang sangat mendasar harus dilaksanakan.

Tentang Pater Ande, Ben Ayung Namang mengungkapkan, tugas sebagai magister sangat penting memberikan dasar bagi para frater untuk hidup selanjutnya. Novisiat adalah masa terindah dan karena itu perlu diberi bobot. Kehadiran dan peran P. Ande sangat penting. Meski terkadang keras, tetapi semuanya itu hanya demi kebaikan para calon imam.

Karel Koban, guru di SMA Negeri Lewoleba menulis perasaan kagumnya saat perayaan 25 tahun imamat Pater Ande di Lerek. Barisan panjang para biarawan-biarawati, misionaris, menjadi sebuah kekuatan luar biasa. Dua tokoh, Pater Ande dan Pater Paul layak menerima perayaan karena itulah gambaran kematangan.

Bruder Rony Namang, SVD dari Paraguay, menulis tentang kedekatan dan spiritualis hidup Pater Ande. Ia adalah seorang pendoa sejati. Ia selalu membawa semua beban hidup dalam doa. Untuk itu kunjungan pekuburan selalu dilakukan karena yakin di sana kita mendapatkan kekuatan.

Secara pribadi, saya mengalami dan merasakan bahwa P. Ande Mua adalah seseorang yang berusaha mengenal orang lain secara mendalam. Ia tidak ‘ceplas ceplos dalam menyampaikannya. Ia tunggu sampai pada momen yang pas untuk menyampaikannya. Di sana apa yang diungkapkan tidak sekedar menyenangkan orang lain tetapi disertai data dan bukti yang jelas.

Gambaran itu bisa telrihat dalam tulisannya, baik tentang P. Becker maupun P. Niko. Pengalaman hidup didalami melalui analisis yang tajam dan bukti yang jelas. Ia juga ternyata selalu mengikuti tulisan saya di beberapa medai seperti Flores Pos, Pos Kupang, dan Kompas. Tahun 2001, saat bertemu beliau setelah 10 tahun lebih,  ia bilang, gayamu (gaya saya), seperti Iglas Kleden.

Hal itu membuat saya semakin percaya diri dalam menulis. Saya tahu jarak antara tulisan saya dengan Igngas tentu sangat jauh tetapi katakata yang membesarkan itu memberi semangat untuk terus maju.

Biji Gandum Harus Mati

Kematian dua tokoh, terutama P. Paul Pemulet, SVD, sudah lama. Meski demikian semakin lama, perbuatan baik yang dibuat ternyata menjadikan selalu baru. Pengalaman dan keteladanan hidup sungguh menggugat sehingga akan terus diingat.

Sementara itu kematian P. Ande barusan 40 hari yang lalu, tetapi ada sebuah keyakinan, teladan yang baik yang telah mereka berikan akan terus diingat puluhan tahun kemudian.

Hal ini sejalan dengan Sabda Tuhan dalam Yohanes 12, 24: Aku bertaka kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandumg tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Kesaksian ini juga ditambahkan dengan pengalaman penulis sendiri.

Jelas, biji hanya bisa di tanam kalau ia sudah tua dan mati. Itu adalah bekrat.Buah yang masih muda, biji yang belum matangakan susah tumbuh atau bumuh tetapi sulit menghasilkan sesuatudarinya. Inilah rahmat yang diterima dari kematian P. Ande Mua SVD dan P. Paul Pemulet, SVD.

Secara pribadi, dua tokoh ini, P. Ande dan P. Paulus sangat dekat. Mereka berdua sedikit banyak memengaruhi hidup saya, meski saya akhirnya tidak seteguh dan mulia mereka. Bagi saya, Ande adalah seorang pendoa, reflektif, dan sangat serius dalam tugas. Kelihatannya kaku, itu rasanya sebagai anak binaannya. Apalagi berhadapan dengan hidupnya yang sangat tertib, kita menjadi sangat tidak nyaman bila tidak berhasil disiplin.

Namun secara pribadi, saya harus akui, kedekatan saya sebagai saudara, lebih banyak saya alami dengan  P. Paul Pemulet, SVD. Ia adalah pribadi yang sangat humanis, akrab, dan tidak mengambil jarak. Ia bisa berkisah apa saja dalam suasana persaudaraan yang sangat dekat.

Setiap kali datang ke Ledalero, ia tidak lupa memanggil saya untuk ngobrol, sambil kalau ada yang dibantu, saya bisa membantunya. Kadang ngobrol sampai tengah malam untuk cerita tentang apa saja.

Sayangnya, sakit asma merupakan halangan yang sangat besar. Di Ende, ada dr Regina yang bisa dengan cepat ‘melerai’ asma P. Paul. Suatu saat ketika datang untuk sidang di Ledalero, ia dapat serangan. Kami harus cari ambulans untuk mengantarnya ke Ende.

Hal terakhir yang saya kenang dari Pater Paul, saat kematiannya kami ada di Lewoleba sehingga tidak bisa menghadiri penguburannya. Saat itu liburan besar. Tetapi hal yang bisa saja bukan kebetulan, perayaan 40 hari bertepatan dengan tanggal di mana ia harus memimpin kami untuk retret di Ledalero.

Singkatnya, dua tokoh ini sangat mulia baik sebagai pribadi maupun dari sisi karya misi. Mereka tegar dan menunjukkan diri sebagai orang ‘luar biasa’, hal mana terlihat dari kepercayaan SVD agar mereka bisa studi lanjut.

Dari sisi semangat misi, mereka telah berkarya dan berkanjang sampai akhir. Inilah teladan yang luar biasa (meski secara pribadi saya tidak setegar mereka). Inilah teldan bisu yang diharapkan menjadi juga kebanggaan karena dari Surga, mereka dapat terus berdoa untuk siapa saja yang memiliki kehendak baik dalam berkarya.

Hal ini pula yang jadi alasan bagi panitia kecil di Jakarta untuk merayakan Misa Syukur bagi keduanya. Dengan tema: “KEMATIAN YANG MENGHIDUPKAN”, muncul kerinduan bahwa mereka telah menjadi biji yang berguna. Kehidupan mereka telah menjadikan pribadi mereka matang dan akhirnya mati. Kini tugas kita untuk melanjutkannya dalam kehidupan, menghidupkan kematian mereka. PAUL DAN ANDE MUA

Terhadap semua jasa itu, tidak adakata selain ucapan terima kasih. Bruder Rony Namang, SVD dari Paraguay, menulis doa dalam bahasa daerah, meminta doa dari kedua tokoh untuk gereja an panggilan:

Juam mer nolung, tule nokan lalan untuk kam mujeng kmehu. Norega mek been ra nawe, er juam amet panewem peken kam wolem. Puken juam mio lala mulur aluhen, kam mujeng met dir pane, mei mupul mua, hebaya no kreje, mule lepit Ama rayan ne maketei. Kam wolem meten, juam mi ete surge ore, puken mojipem grie prata hare hare. Kam giar prohe, prata untuk mio wolem ete surge ore; tua – magu, opu – maki, nara – bine, kneu – breung, han mio nek hebaya poe kam wolem bele tane ekan. Lala knehak, ke ba elor teke, whole heneke dere. Juam mol ke nepo kam dor.

Robert Bala, 27 Juli 2014

Advertisements

2 Responses to P. PAUL PEMULET, SVD dan P. ANDE MUA, SVD

  1. Justin Wejak says:

    Pada tahun 1985 saya bersama beberapa kawan novis SVD di Ledalero hampir dikeluarkan oleh P. Ande Mua SVD, Magister Novisiat, gara-gara ada “kenakalan kecil”. Pak Ben Ayung Namang pasti masih ingat peristiwa itu. Saya kemudian mengadu kepada P. Paul Pamulet SVD, yang kebetulan saat itu berkunjung di Ledalero dari Ende. P. Paul hanya bilang, “Pater Ande sembarang saja”. Ia meyakinkan saya, “Jangan khawatir, nanti saya bicara dengan Pater Ande”. Syukur, P. Ande lantas membatalkan niatnya. Bagi kebanyakan frater novis, P. Ande adalah magister yang tegas dan humoris, cerdas dan setia dalam doa. Tentang P. Paul Pamulet SVD, saya ingat perjumpaan kami terakhir di Surabaya pada tahun 1990. Kami berdua ke rumah Susteran PRR di Perak naik becak. Beliau sempat beberapa kali menjadi pemberi retret bagi para frater SVD di Ledalero. Gaya refleksinya yang humoris-humanis membuat retret yang panjang dan membosankan menjadi sangat menarik dan refreshing. Suasana dalam ruangan retret sering kali dipenuhi dengan tawa. Dan menurut P. Paul, “Tawa adalah juga bagian dari doa”.

    • robert25868 says:

      Ama Justin, terimakasih itu sharing pengalaman yang mendalam. Dari sharing ama, minimal meenguhkan permenungan saya bahwa pribadi Ande dan Paul kalau ‘disatukan’, kita hasilkan manusia sempurna yang “KE ATAS” (Ande Mua yang sangat spiritual), dan Paul yang “KE SAMPING” seama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s