P. Yohanes Bele Jawa, SVD Guru Sejarah Luar Biasa

P. Yohanes Bele Jawa,  SVD

Guru (Sejarah) ‘Luar Biasa’

Minggu pagi, 01 November 2015, Saya dapat kabar via FB. Telah berpulang P. Yohanes Bele Jawa, SVD di RS St. Vicentius a Paulo di Surabaya pukul 06.30 pagi.

Nama itu sagat akrab. Ia pernah jadi guru, rektor Seminari Hokeng, Admonitor SVD Ende, Provinsial, Rektor Unwira Kupang, Rektor Syuradikara. Itu hanya sederet jabatan. Di baliknya, aneka karya menakjubkan ditorehkan. Hal itu hanya memungkinkan bahwa “Nani” demikian panggilan akrabnya adalah figur pemimpin yang kuat dengan visi besar.

Tetapi apa yang paling mendalam untuk Pater Yan yang semasa masih jadi guru Sejarah di Seminari Hokeng biasa memanggil siswa dengan ‘kemamu’ ini? Apa sebenarnya paling kuat dalam pengalaman pribadi saya?

Hal yang ‘wuah’ biasa ditulis dan sangat mungkin diketahui oleh banyak orang. Tetapi saya hanya ingin menulis hal kecil yang hemat saya berimbas besar dalam hidup saya. Ia adalah guru SMAku dengan cara mengajar yang nota bene bagi saya merupakan guru terbaik yang pernah saya miliki.

Hidup Sejarah

Saya kenal Pater Yan Bele, SVD saat masuk ke Seminari Hokeng tahun 1984. Ia baru kembali dari San Carlos Cebu Philipina setelah mendalami ilmu sejarah. Saya tidak tahu mengapa ia dalami sejarah. Bisa saja karena uskup Larantuka waktu itu, Mgr Darius Nggawa, SVD juga belajar sejarah di Filipina.Tetapi alasan paling dalam, hanya karena memang ia mencintai sejarah. P. YOHANES BELE JAWA SVD6

Di Hokeng, sebelum terpilih jadi Rektor, ia mengajar sejarah bagi kami anak-anak orang kampung. Dengan segera saya merasa sangat tertarik pada sejarah. Sejarah dunia dan sejarah Indonesia yang begitu rumit dibuatnya sederhana dan menarik.

Meski kemudian (hanya sebulan di Hokeng), ia terpilih jadi rektor, tetapi semangat mengajar tidak pernah ditinggalkan. Awalnya hanya sebagai guru. Hanya sebulan kemudian, ia terpilih jadi Rektor Seminari Hokeng.

Memang dengan tugas baru itu, ia cukup sibuk dengan urusan yang bukan mengajar, seperti kontrol ke kebun, cek para tukang, cek dapur, dan lain-lain. Kadang dia datang terlambat ke kelas, hal mana membuat saya paling jengkel karena merasa kehilangan pelajaran waktu itu. Tetapi kalau sudah tiba terutama mendegar bunyi bel dari sepeda warna hitam (agak tinggi, berbeda dengan sepeda kecil P. Philipus Djuang), hati mulai senang.

P. YOHANES BELE JAWA, SVDP. Yan Bele SVD, guru sejarah yang tidak ada bandingannya (Robert Bala)

Dari sejarah, ia sangat hebat menguasai peta buta. Saat bercerita tentang perang Dunia atau perang klasik, atau apapun, ia pasti menggambarkan peta secara garis besar. Gambaran peta itu tidak terlalu indah. Tetapi minimal memberikan gambaran tentang posisi dari semua pelaku dan gambaran umum tentang letak tempat tersebut.

Yan memang hebat. Ia membuat semua siswa seakan terlibat dalam sejarah. Kadang ia ajukan pertanyaan provokatif membuat ilusi kita melanglangbuana. Kemudian ia perlahan menjawabnya, sebelum ia coba berikan kesempatan kita berpendapat.

Dari Yan Bele saya tahu bahwa sejarah harusnya menarik. Sejarah bukan sekedar menghafal tahun dan nama yang barangkali tidak punya kaitan dengan kehidupan (misalnya menghafal nama-nama gundik para raja). Sejarah adalah hidup. Tetapi pengajaran Yan Bele selalu punya konteks. Ia tahu, kisah itu penting karena punya kaitan dengan kehidupan kini.

Di sinilah kepiawaian Yan Bele. Sebagai guru, saya melihat dua hal penting. Pertama, ia bisa menggambarkan konteks ketika peristiwa itu terjadi. Sebuah peristiwa terjadi dalam rangkaian peristiwa. Ada latar belakang yang ada di baliknya. Ia menempatkan peristiwa pada masa itu ‘in illo tempore’.

Tetapi kisah itu tidak diceritakan sebagai ‘dogma’. Ia juga tidak sekedar dicatat rapi. Ia dikisahkan secara naratif dan hidup. Inilah kepiawian Yan Bele yang hemat saya menjadi contoh dalam pengajaran dan terutama ketika saya harus mengajar Sejarah atau PKn.P. YOHANES BELE JAWA, SVD - CopySebagai guru, kehadirannya di kelas selalu dinanti murid-muridnya.

Kedua, sejarah tidak bermakna kalau tidak punya kaitan dengan kehidupan kini. Sebuah sejarah akan mati ketika ia hanya dikisahkan sebagai kebanggan masa lalu. Ia harus jadi aktual karena orang yang hidup kini dan di sini memahaminya sebagai sesuatu yang bermakna tidak saja untuk orang di masa lalu tetapi juga untuk masa kini.

Melalui Yan Bele, saya mengetahui, memahami, dan melaksanakannya dalam hidup sebagai guru bahwa sejarah itu penting. Namun lebih penting bagaimana mengajarkan sejarah itu kepada orang lain. Di sini Bele hadir sebagai guru sejarah yang hemat saya tidak ada bandingannya dengan siapa pun (minimal dalam hidup saya).

Dalam kaitan dengan masa kini, Yan biasanya mengaharahkan pandangan pada hal menakjubkan kini. Ia memberikan visi dan membangkitkan harapan akan masa depan. Di sini ia justeru begitu kuat membangkitkan semangat.

Semasa di Hokeng, kemudian jadi provinsial dan juga rektor UNWIRA, kebiasaan membangkitkan visi itu begitu kuat. Ia bisa adakah pertemuan umum, dihadiri banyak orang. Di sana ia memberikan ‘coloquium’, menggambarkan visi umum dan terbuka mendapatkan masukan. Pertemuan umum dengan dia selalu membawa hal baru. P. YOHANES BELE JAWA SVD5

Singkatnya, ia selalu membuka ruang baru untuk berangan tetapi selalu disertai tindakan nyata. Itulah Nani.

Menutup Pelajaran

Hal menarik lain sebagai guru adalah bagaimana menutup pelajaran. Di antara pelajarannya yang sangat menarik, Yan selalu mengagetkan siswa dengan cerita 5 menit sebelum pelajaran berakhir.

Sebagai siswa, kami selau mengingatkan dia bahwa pelajaran segera akan berakhir. Dia sudah berjanji, kalau 5 menit akhir ada kisah menarik hal mana membuat kami tunggu. Di situ, dengan menarik ia berikan kisah-kisah bermakna. Kisah itu tidak kurang diingat, malah sangat kuat membekas.

Kisah itu menjadi sebuah pembelajaran menarik. Minimal saya diingatkan kembali oleh Mr Anderson dari USA dalam workhsop: How to Finish your Lesson dalam workshop pada Juli 2015 silam. Ia justeru mengingatkan pentingya mengakhir pelajaran. Di situ saya teringat, hal yang kini diajarkan 33 tahun lalu oleh Pater Yan, kini diingatkan oleh praktisi pendidikan.

Mengakhiri pelajaran mestinya menjadi bagian yang sangat menarik bagi siswa hal mana kerap dilupakan siswa. Tidak sedikit guru yang malah menyepelehkan kesempatan ini. Lima bahkan 10 menit mengakhiri pelajaran sudah tidak ada ide lagi yang mau disampaikan. Tak heran, 10 menit menjadi hal yang paling melelahkan. Siswa sudah ingin beristirahat dan menunggu 10 menit adalah waktu yang paling terasa lama.

Kerap ketika sudah tidak ada yang mau disampaikan, guru lalu memberikan ‘free time’. Siswa disampaikan untuk ‘berbuat apa saja’, yang penting jangan ribut. Di situ tanpa disadari, guru menciptakan kebosanan tidak saja atas pelajaran hari itu tetapi juga telah membuyarkan harapan akan pelajaran berikut.P. YOHANES BELE JAWA SVD2Yang Bele justeru menjadikan pelajarannya kian menarik dalam 5 atau 10 menit terakhir. Kisah tentang kehidupan begitu kuat terasa dan diingat sampai sekarang. Ia penuh nilai-nilai mengagumkan yang diingat sampai kini. Kisah itu kerap berkaitan dengan pelajaran yang diajarkan tetapi juga tidak terbuka kemungkinan untuk hal-hal lain. Yang terpenting, ada sesuatu membekas yang dibawa pulang sebagai pesan.P. YOHANES BELE JAWA SVD7

Selamat jalan guru sejarahku. Pribadi yang sekaligus murah hati dan suka menolong

Model menutup pelajaran seperti itu justeru punya makna lain. Yan ingin mengaitkan pelajarannya dengan pelajaran berikutnya. Ia informasi bahwa yang akan disampaikan kesempatan berikut tidak kalah menarik malah lebih dari itu karena memberi jawaban lanjut.

Cara seperti itu maka membuat pelajarannya selalu dinanti. Kini, sang guru sejarah itu telah pergi. Ia pergi tetapi sebagaimana cara mengajarnya, ia pasti ingin melanjutkan kisahnya. Kini, berita pergi baru seperti kisah 5 menit mengakhiri pelajaran. Menggugah, membuat hati terenyuh, dan menggoncangkan.

Tetapi di akhir kisah, ia selalu mengajak untuk episode berikutnya. Saya pun yakin, episode berikut, di Surga, kita bertemu. Adios, mi mejor profesor de historia. No puedo compararte con nadie (Selamat jalan, guru sejarah terbaikku. Saya tidak bisa membandingkanmu dengan siapapun).P. YOHANES BELE JAWA SVD3Yang membuat P. Nani Bele kuat dan tegar, karena di dasarnya ada akar budaya Nagekeo. Pesta Syukur Pancawindu 40 tahun imamat P. Yan Bele SVD Juni 2015

Kepergianmu semoga jadi inspirasi untuk guru-guru tidak saja dalam mengajar sejarah atau menutup pelajaran tetapi terutama dalam kehidupan. Itulah yang ditunggu dan dinanti.

Robert Bala. Murid P. Yan Bele Jawa SVD di Seminari Hokeng 1984-1988.

Foto-foto: Umberto Verbita