SI SENIMAN KIDAL, ALFONSUS KIA NAMANG

SI SENIMAN KIDAL,
ALFONSUS KIA NAMANG

‘Hallo, apa kabar, baik-baikah?’, demikian suara yang selalu terdengar dari ujung telepon. Bapak Alfonsus Kia Namang, ayah mertua selalu damai, tenang, dan menyejukkan ketika berbicara. Dengan segala pengalaman sebagai guru, kepala sekolah, bapak keluarga,dengan makan garam-asam dalam hidup ia selalu mencari terbaik baginya dan sesama.

Alfons yang lahir 22 Juni 1940 merupakan anak ke 2dari 6 bersaudara (4 putera dan 2 putri). Lahir dari pasangan Ignasius Labi Meran Namang (Atawolo) dan Elisabeth Kewa Koban (Lerek). Dari keluarga ini terlahir anak-anak yang sangat ganteng dan cantik.

Juga ketika menikah, ia memilih Yuliana Lier Tukan dengan perawakan putih menyatu. Putera dan putrinya, anak-anak, mewarisi perawakan bak keturuan Portugis. Sebuah dugaan bisa saja benar karena keturunan namang (Labi Namang) darinya lerlahir Alfons berasal dari Lewokukung dengan kisah selanjutnya yang bisa saja menyatu dengan turunan Portugis.

Sejak kecil, Alfons meniti proses untuk menjadi guru. Atas  minatnya, Pater Beeker mengirimnya ke SGB (Sekolah Guru Bawah).  Dari situ, Sejak menjadi guru pada tahun 1950an, ia selalu melewati arena tugas di berbagai tempat seperti: Lewolaga, Bauraja, Atawolo, Lerek, Watuwawer, Mulandoro, Tobilolong, dan akhirnya Lewoleba (SDK 1 Lewoleba).

Seniman Kidal

Saya bertemu dengan bapa Alfons saat berada di SD Lerek. Dia bahkan menandatangani ijazah SDku.

Sejak itu saya kenal bapa guru sangat lincah menggambar dan menulis. Si tangan kidal memang memiliki keahlian dalam melukis. Lukisannya selalu rapi dan indah hal mana diteruskan juga ke puteranya Lame dan Mirus.

Saya ingat ia pernah membuat sebuah kursi di depan rumah yang pada tempat duduk tertulis ‘TOBE’ (DUDUK). Sebuah ukiran yang hanya bisa dibuat oleh seniman.

Darah seniman itu tentu saja membuatnya selalu mencari tempat dan posisi inspiratif. Di Atawolo, kampung halaman, Alfons mencari posisi membangun rumah di Grebek ketinggian, sendirian, dengan pemandangan yang luar biasa indah.

Dari posisi yang tinggi ia bisa melihat ke pantai, menjangkau sampai ke kampung yang hanya kelihatan api pada malam hari, atau seng putih (Udak, Lewuka, Lewaji) pada siang hari. Ia pandang melihat indahnya alam sambil mengonversinya jadi lukisan.

Ada banyak strategi melukis. Saat SD dan harus ke pantai Waibura, gur Kie, demikian kami anak didik memanggil duduk sambil menggoyangkan pinsilnya. Ia melukis anak-anak yang sedang bermain pasir, satu persatu masuk dalam lukisan.

Tentang lukis, ia selalu beri inspirasi. Sebagai seniman ia suka menggambar termasuk lukisan muka karena itu gambaran diri, hal mana kerap dihindari oleh orang yang tidak tahu menggambar. Saya ingat pelajaran berhaga. Baginya, posisi menggambar muka sangat ditentukan oleh posisi mulut. Semakin tua, posisi mulut makin ke atas, hal mana berbeda dengan bayi.

Masih tentang lukis, guru Kie punya inspirasi lain. Ia berkisah tentang temannya yang tidak bisa melukis tetapi cerdas dan lihai menyikapinya. Ketika diminta menggambar anjing, ia pun melakukannya tetapi hanya menggambar rumah dan anjing hanya kelihatan ekornya. Menurutnya, saat digambar anjingnya sedang lari dan hanya bisa tertangkap ekornya.

‘Si seniman kidal’ jadi narasumber bersama sejarawan Jakarta, Thomas Ataladjar’

Cerita yang lucu, tetapi berkesan. Sebuah gambar harus berbicara.Sebuah gambar harus logis termasuk anjing yang lagi berlari (dan hanya kelihatan ekornya). Saya teringat akan hasil gambar lainnya dari kami murid-murid. Ada teman yang menggambar laut dengan perahu yang tengah berlayar. Layar itu tinggi tanda bahwa ia terbantu dengan angin. Pohon kepala di pinggir pantai juga meliuk-liuk, sebuah gambar yang sebenarnya tidak indah tetapi logis.

Gambar lainnya sebenarnya lebih indah tetapi tidak logis. Pohon kelapa begitu tegak beridiri dengan ukiran yang sangat indah, tetapi ia berdiri tegak sementara perahu berlayar. Hal itu tidak logis dan hanya meraih juara 2 sementara gambar yang logis juara 1. Itulah menggambar dengan logika, pengalaman yang kuat terekam dalam diri saya.

Tidak hanya melukis. Guru Alfons terkenal sangat pintar mengarang lagu. Saya ingat lagu “Aku sangat berbahagia, bila aku berada dalam Tuhanku, dalam pelukan kasih mesrah….”. Saya tidak tahu apakah lagu ini diaransir beliau tetapi yang pasti lagu ini dilatih oleh guru Alfons. Juga saat lagu-lagu populer dari Maumere cukup disenangi orang, ia pun mengganti dengan syair lagu komuni: “Jangan bimbang, jangan ragu, makanlah, di meja perjamuan yang kudus, resepilah, kecapilah, bekal hidup, untuk selamanya”.

Darah seni ini sudah dari ‘sononya’. Dikisahkan istrinya, Yuliana Lier Tukan, bahwa saat pacaran ia biasanya datang kunjung dengan gambus kecil. Ia melantumkan lagu-lagu indah membuat si remaja Yuli begitu tersipu-sipu mendengarn lagu itu dan menikah pada tahun 1969 dan dikaruniai 4 puteri (Merty, Karo, Marta, Sismin) dan 2 putera (Lame dan Mirus).

Dari seni belum selesai. Ia sangat lincah menulis drama. Kisah yang berat tidak akan dipaksakan dalam bentuk nasihat tetapi dibuat dalam uraian sendratari. Kisah Lepanbata sudah dibaut dalam seni drama dan tari (sendratari), sebuah keahlian yang kemudian diteruskan dalam putrinya Maria Fatima Kewa Namang.

Rangkaian kisah itu biasanya tersimpan. Semuanya bukan sebuah kesulitan karena Alfons suka sejarah. Dalam beberapa tahun terakhir, banyakn ada mahasiswa yang menulis skripsi tentang adat istiadat dan yang menjadi narasumber adalah Alfons. Bercerita dengan Alfons adalah mengurai kisah yang bercampur sejarah dan mitos, penuh misteri dan pesan. 

Keahlian Alfons tidak kurang. Ia juga seorang pemain sepak bola yang handal. Di lapangan ia bisa begitu lincah meliukan tubuh.Sudah pasti, perawakan atletis dan tampangnya yang ganteng-putih jadi idoal gadis-gadis di luar lapangan. Itulah si seniman kidal yang multitalented.

‘Doa dari Surga 

Sejak pensiun tahun 1999, tidak ada yang lebih serius dilakukan. Awalnya ia masih sempat memberikan les tambahan untuk anak-anak, tetapi hal itu tidak lama dilakukan. Selebihnya, yang jadi pekerjaan utama adalah doa dan misa. Setiap hari, pukul 05.00, gur Kia sudah bangun tidur dan memiliki acara tetap mengawalinya dengan misa pagi.

Baginya, misa pagi adalah kekuatan yang paling besar, apalagi di masa tua dengan bebagai sakit penyakit yang bisa muncul. Saat pulang misa, gur Kia membuka sandalnya dan berjalan kaki di atas kerikil yang berserakan dari aspal jalan yang tidak beraturan.

Kenangan terakhir di HUT alm Alfonsus Kia Namang, Lewoleba 22 Juni 2017. Di saat itu ada janji agar kita semua, anak dan cucu siapkan perayaan HUT emas perkawinan tahun 2019…. 

Sepulang misa, guru Kia bisa lewati hari-hari dengan membaca sambil membantu istrinya memintal benang. Sebuah kerja yang tentu tidak bisa dilaksanakan saat masih menjadi guru.

Di saat yang lain, dengan sang istri ke kebun. Kebun terakhir yang menjadi ‘langganan’ tetap adalah di Bauraja, hal mana biasa dilakukan hanya 4 hari sebelum meninggal.

Kembali ke doa, oleh darah seni dan refleksif, kerap ketika ada masalah, ia berusaah untuk bawa dalam doa. Ia tidak mau merepotkan orang lain, apalagi harus bertikai dengan orang lain. Ia memilih diam, bahkan diam selamanya.

Itulah yang bisa jadi alasan, mengapa kematian itu datang ‘tiba-tiba’, hanya menderita 2 hari dan langsung ‘diam tak sadarkan diri’ pada hari ketiga, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir di RSU Lewoleba, Rabu 20 Juni 2017, pukul 19.15. Ia memilih diam dalam sunyi sambil membuat siapapun juga untuk menilai hidupnya dalam diamnya bapa Alfons.

Kini bapa (dari Merty, Karo, alm Marta, Sismin, Lame, Mirus), opa dari 15 cucu (dari Diego, Mega, Yongki, Avila, Sismin, Ritno, Aris, Eka,Vande, Jordan, Erlin, Erlan, Ervin, Ermin, serta mertua (dari Robert, Lius, Alm Banus, Adi, dan Lin), memilih kembali ke ribaan sang pencipta. Orang baik yang tidak mau menyusahkan orang dan memilih ‘diam selamanya’. Kami semua, cucu, anak, mantu, mengucapkan terimakasih untuk doa dan teladan Bapak.

Opa, mertua, dan bapa yang baik juga selalu tenang melewati hari-hari terakhir. Kini dari Surga, si seniman Kidal lebih leluasa lagi melihat sambil menggambar di telapaknya semua yang pernah berkenan di hatinya maupun yang tak berkenan (kalau ada). Dari Surga pun ia akan terus menyapa dengan suaranya yang damai: “Hallo, apa kabar, baik-baik kah?”

Dari sini, bumi sementara kita injak, kami sampaikan ini: “Bapa, wage dihare, jalan baik-baik, doakan kami yang masih berjuang di dunia ini. Amin. Selamat jalan Si Seniman Kidal’. (Robert Bala, 21 September 2017 pukul 08.00). 

Advertisements