SR EPIFANI, CIJ DAN TRAGEDI SEMANA SANTA

SR EPIFANI, CIJ DAN TRAGEDI SEMANA SANTA

Saat berada di Gereja, dalam perayaan Jumat Agung, muncul sebuah SMS. Biasanya saya tidak ‘repot’ karena lagi situasi ibadah.

Tetapi kali ini kog saya tidak melakukannya. Rasanya ada sesuatu yang terjadi. Dan memang benar, SMS itu tertuliskan kematian seorang teman dan sahabat: “Sr Epifani, CIJ,”. Ia menjadi salah satu dari  8 korban tenggelamnya kapal nelayan Fiber di Larantuka, 18/4 yang mengangkut peziarah dalam prosesi.

Saya belum juga percaya. Saya harap itu salah baca dan tidak menimpah orang yagn sangat dekat dengan saya, seorang sahabat sejati. Saya coba mencari lagi informasi lagi dan ternyata yang tidak diharapkan terjadi. Ia ada bersama tiga suster lainnya. Mereka selamat dan dia tidak. Kepalanya terbentur karean itu meski masih bernyata saat diselamatkan, tetapi kematian terlalu cepat menjemputnya.

Sahabat dalam arti sebenarnya

Mengisahkan Sr Epi, CIJ, akan terlalu panjang karena harus mengurai kisah seorang pribadi yang ‘luar biasa’.Sr Epifani Krowin K, CIJ

Latarbelakang pribadinya yang pernah masuk biara setelah tamat SPG tetapi kemudian dikeluarkan karena (katanya) terlalu ‘manja’ (mungkin karena anak bungsu), merupakan kisah pribadi yang dimiliki suster bernama asli Kristina Krowin itu.

Tetapi ia tidak ‘mundur’. Puteri kelahiran 10 Mei 1969 itu sangat koko. Baginya, penilaian luar itu hanyalah ujian. Ia tetap konsisten pada pendiriannya untuk menjadi suster pengikut Yesus, dalam biara CIJ. Ia pun mengalahkan semua ‘sangkaan’ yang dibuktikannya.SR EPIFANI KROWIN, CIJ

 

 

Sr. Epifani, CIJ, sahabat sejati.

Sebagai sahabat dan teman, persahabatan kami begitu kuat terjalin terutama ketika menjadi mahasiswa di  STKIP Ruteng, tahun 1996 – 2001.

Saat itu berdua jadi mahasiswa tertua di kelas. Dengan umur hampir kepala tiga, kami harus gabung dengan anak-anak muda yang barusan tamat SMA. Tetapi di situlah kepiawaian seorang Epi. Ia bisa bergaul dengan teman-teman (atau yang lebih tepat adik-adik).

Di ‘kos kami’, sekaligus jadi rumah bagi banyak orang, terutama rekan mahasiswa yang karena halangan tertentu tidak memiliki makanan seperti kami. Di sana terlihat ‘keibuan’ seorang Epi. “Makanan itu harus kita nikmati bersama, dan pasti Tuhan akan berikan gantinya”. Memang demikian. Meski banyak memberi, kami tidak pernah kekurangan. Sampai tamat kami selalu kelebihan makanan.

Dari Ruteng, berdua punya jalan yang sama. Hanya beda setahun kami berdau ke Roma. Di sana, kesederhaan, semangat saling membantu, kerja keras, selalu ditunjukkan. Selama liburan kami dua harus ‘berjuang’ kerja sambilan biar dapat memperoleh tambahan uang saku.

Singkatnya, terasa tahun-tahun itu Epi adalah diriku dan diriku adalah Epi. Makanya ketika saya putuskan untuk keluar dari biara, ia adalah orang yang paling menderita. Tetapi bukan namanya Epi kalau ia juga berhenti menghubungi saya, meski saya sudah jadi ‘orang luar’. Ia tunjukkan bahwa persahabatan harus tetap lestari, tidak bisa berhenti setelah kondisi seseorang berubah. Itulah sahabat sejati: tidak saja mengenal teman pada saat sang teman dalam keadaan baik tetapi justeru ditunjukkan saat sahabat itu dalam keadaan susah.

Ada untuk Orang lain

Tepat 10 tahun, persahbatan kami dialami dalam ruang berbeda. Sepulang dari Roma, tahun 2005 hingga kini, ia menjadi Ketua Sekolah Tinggi Pastoral Waibalun. Posisi itu digelutinya dengan senang hati.

Sekolah Tinggi itu berkat usahanya dalam proses menjadi Institut Pastoral. Dengan demikian, tidak sekedar menjadi tempat bagi para katekis tetapi terbuka untuk umum dengan jurusan baru. Sebuah tugas yang tentu membutuhkan korban yang sangat besar.

Sebagai teman, ia berkisah bahwa diminta agar bisa berpindah ke tempat lain, apalagi sudah agak lama. Posisi lebih tinggi menunggunya. Tetapi ia memohon agar kalau boleh diizinkan membangun Institut Pastoral menjadi tidak sekedar sekolah pastoral tetapi lebih luas.

Upaya itu terlihat sangat jelas dari perjuangannya. Ia mondar-mandir Larantuka – Kupang – Jakarta. Berbagai upaya dilaksanakan. Hal itu terlihat dalam perubahan di Institut ini. Perpustakaan, bangunan gedung baru, sumbangan sana dan sini, harus diakui itu kerja banyak orang, tetapi tidak bisa dibayangkan kalau tanpa campur tangan Epi.

Ada hal lain lagi. Epi tidak membina team kerjanya agar tidak sekedar meminta tetapi harus kreatif. Bayangkan saja. Sebuah peternakan dengan ratusan babi kini menjadi sebuah bidang yang dapat membantu kehidupan Sekolah Tinggi. Singkatnya, sekolah harus hidup tidak saja dari peluang bantuan tetapi harus ditopang oleh kemandirian.

Minta Salib

Sebagai pribadi, Epi adalah orang yang luar biasa. Tidak saja kepada saya, temannya, tetapi kepada semua orang. Setiap kali datang ke Jakarta, tidak lupa meminta saya temani ke Tanah Abang. Di sana ia sibuk berbelanja bukan untuk dirinya tetapi untuk rekan kerja, dosen, mahasiswa, pekerja. Semua mereka dibelikan hadiah. Setiap kali itu pula saat pulang selalu ‘kelebihan’ bagasi.Dan banyak sekali pengalaman yang intinya kekaguman. Beberapa kali berjalan bersamanya di Jakarta, kadang saya ‘tegur’ karena setiap kali bertemu dengan pengemis, pasti ia tidak bisa lewatkan dengan memberi. Baginya itulah hidup: ada untuk memberi.

Sr Epifani CIJ (2)

 

Semua itu dilaksanakan seakan tanpa beban. Ia tentu saja menderita tetapi bagainya itu adalah bagian dari panggilan hidupnya. Tugasnya adalah untuk membuat orang lain bahagia. Tidak ada yang lain. Ia mengikuti prinsip fortier in re suaviter ini modo. Jadi keras dengan diri sendiri dengan berkorban agar bisa lembut dengan orang lain.

Baginya itulah panggilan hidup. Berat tetapi harus dilewati. Karena itu barusa seminggu yang lalu ia kirim sebuah foto dengan gambar salib yang harus saya cari di Penerbit Obor. Ia butuh salib itu tentu tidak sekedar hiasan tetapi ingin berguru dan mendapatkan keringanan dari Tuhan Yesus agar lebih kuat lagi memikul salibnya.

Salib itu belum saya kirim, padahal ia sangat butuhkan. Sambil menunggu, ia tentu mau jadikan momen prosesi bahari Jumat 18/4 bukan untuk ‘gagah-gagahan’, tetapi benar-benar mau minta agar “Yang Tersalib”, bisa menguatkannya dalam memilkul Salib.

Usahanya itu terjawab. Yang tersalib memintanya untuk ada lebih dekat. Di Larantuka itu Epi, Kristina Krowin, puteri asal Solor, memilih ada bersama dia yang Tersalib. Ina, Epi, teman yang baik, amica bona, teman baik jalan ‘bae-bae e…’

Maria FK Namang. Sahabat dan Temanmu.

Sumber: Flores Bangkit, 18 April 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s