MERRY RIANA DAN PASKAH

,

MERRY RIANA DAN PASKAH,

Kesempatan yang Menghidupkan

Renungan Malam Paskah

Saat krismon 1997, begitu banyak orang yang ‘diPHK’. Perusahaan bukan saja tidak mampu membayar gaji tetapi memang collapse. Dengan demikian setiap orang harus mencari jalannya sendiri-sendiri. Singkatnya, Indonesia, terutama Jakarta bukan menjadi tempat yang nyaman untuk hidup.merry-riana

Masa ini sungguh menyeramkan. Tidak ada harapan. Tetapi dalam kondisi yang tak pasti, justeru banyak orang mulai berpikir bagaimana bisa ‘survival’. Mereka mencari jalan agar bisa bertahan hidup. Berjuang atau mati.

Pengalaman yang sama juga dialami seorang gadis keturunan Tiongkok. Tadinya, gadis kelahiran Jakarta 29 Mei 1980 yang baru tamat SMA Santa Ursula Jakarta, itu mau melanjutkan ke Universitas Trisakti jurusan Teknik Elektro. Tetapi keadaan Jakarta sangat tidak kondusif. Ia lalu dikirim orang tuanya ke Singapura untuk belajar di Nanyang Tercnological University.merry-riana-enterpreneurship-11Tetapi di sini justeru ada masalah. Singapura jadi pilihan hanya karena aman bukan karena orang tuanya mampu. Ia dibeli apa adanya. Bisa dipahami. Ayahnya hanya seorang pengusaha kecil. Belum lagi dalam keluarga masih ada dua adiknya.

Di situlah sang mahasiswi itu harus berjuang, tetapi tidak mudah. Pelbagai masalah dihadapi mulai dari gagal tes bahasa Inggris, uang kiriman orang tua yang sangat tidak mencukupi. Ia pun meminjam dana beasiswa dari pemerintah Singapura sebesar $ 40.000 dan harus dikembalikan setelah lulus. Artinya dari uang itu, ia hanya bisa punya uang saku $10 dollar per minggu hal mana sangat tidak cukup.merry-riana-enterpreneurship-2Sang gadis yang berumur 18 tahun itu mulai keluar rumah: menjual pamphlet, menjaga kios, menjadi pelayan banquette di hotel. Untuk makan minum ia sangat hemat: pagi hari hanya makan mie instant, ikut seminar dan perkumpulan malam hari demi makan gratis. Untuk minum pun ia mengambil air keran / tap water di kampusnya.

Di tengan kondisi yang sangat tidak mungkin, ia justeru bermimpi. Saat berumur 20 tahun, ia buat resolusi. Meski kondisi sangat keras, tetapi ia tekad, sebelum berumur 30 tahun, ia sudah punya kebebasan financial. Sebuah mimpi yang bahkan terdengar aneh karena beberapa saat kemudian, ia kehilangan S$2.000 saat bisnis MLM dan malah S$ 10.000 saat bermain saham.Merry-Riana-Mimpi-Sejuta-DOllarIa tidak putus asah. Di usia 23 tahun ia sudah berapenghasilan S$ 200.000 atau sekitar 1,5 miliar. Pada usia 26 tahun, ia menghasilkan S$ 1 juta di perusahaannya. Ia membuka usaha sendiri: Mary Riana Organization (MRO), juga MRO Consultancy yang memotivasi dan melatih ribuan professional dan eksekutif dalam bidang penjualan, motivasi dan pemasaran. Dalam perusahaannya, Mary menanungi 40 penasihat keuangan. Di usia 30 tahun, ia membuat resolusi, mau membagi dan menginspirasi 1 juta pengusaha muda di Asia. Itulah Mary Riana yang film tentang kisah hidupnya sempat menjadi tontonan tidak sedikit orang pada tahun 2015 lalu.

Menghidupkan

Pengalaman tapal batas, tanpa harapan juga ada dalam diri murid-muid Yesus. Kematian Yesus telah memupuskan segala harapan. Yang ada dalam benak, kebersamaan Yesus adalah sebuah kenangan frustratif. Mereka terlanjur mengharapkan sebuah revolusi hal mana membuat mereka telah meninggalkan pekerjaan pasti: petani, nelayan, pegawai, dan lain-lain.kubur_kosong

Meski kecewa, pengalaman kegagalan tidak membuat mereka melupakan sama sekali Yesus. Karenanya, di Hari Paskah, beberapa wanita pergi ke kubur. Bisa juga mereka mengajak para rasul, tetapi selain karena takut, rasa frustrasi dan malu juga masih kuat. Mereka memilih tinggal di rumah. Wanita yang lebih mengandalkan perasaan, berjuang sendirian ke makam. Itulah pertemuan terakhir membawa rempah-rempah sekaligus pamit karena mereka akan memulai juga hidup yang baru.

Perasaan tanpa harapan inilah adalah paling manusiawi. Setiap peristiwa kematian slealu menjadi batas suram. Lebih lagi yang di wafat adalah orang yang paling dikagumi seperti Yesus. Tidak ada bayangan sedikit pun untuk mengharapkan kebangkitan. Ia sudah wafat berarti mati untuk selamanya.empty-tomb-of-jesus-christ-early-sunday-morning-

Yang dipikirkan, hanyalah siapa yang akan membantu menggulingkan batu penutup kubur agar mereka bisa meletakkan rempah-rempah. Mereka berharap, minimal ada pria yang bisa membantu. Bisa dipahami, mereka hanya wanita. Lengan mereka tidak mampu mengangkat batu penutup kubur yang ditutupi oleh para tentara.

Di tengah ketakmungkinan itu, justeru mereka mendapat kabar dari 2 orang yang berdiri dekat: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati. Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit?” (Lk 24.5-6).kubur kosong1

Mereka sadar, kematian yang dikira menjadi akhir ternyata tidak. Memang, bagi banyak orang, kematian adalah final segalanya. Tantangan, ancaman, penderitaan adalah batas kelam yang mestinya membuat orang menyerah. Itulah kondisi manusiawi, sebuah kondisi yang ‘mematikan’. Di situ Ia mestinya ‘mati di antara orang mati’.

Kondisi seperrti itu pula yang mesti terjadi dalam diri Mary Riana. Di tengah bencana krismon di Indonesia tahun 1997-1998, mestinya ia gagal tidak saja tidak bersekolah di dalam negeri tetapi malah lebih tidak mungkin di luar negeri. Dengan kondisi uang orang tua yang bahkan tidak membiayainya untuk makan pagi, ia mestinya gagal, minimal mati kelaparan.

Mary Riana justeru tidak saja bertahan hidup tetapi telah tampil sebagai wanita paling inspiratif di Asia, bukan saja Indonesia. Ia menunjukkan bahwa kematian bukan kata akhir seperti pandangan banyak orang. Kematian justeru menjadi jalan. Hal itu pula yang membuka mata para wanita. Kematian bukan kata akhir.jesus-resurection

Mengapa kematian seperti ini justeru menghidupkan? Pertama, kematian terhadap rasa pesimisme. Wajarnya, setiap orang yang mengalami situasi tapal batas, penderitaan malah yang hebat, akan berakhir dengan kegagalan. Pandangan ‘mematikan’ seperti ini yang harus dimatikan. Penderitaan bukan kata akhir. Tuhan Yesus dan pengalaman Mary Riana serta banyak orang, bisa juga termasuk sebagian besar dari kita yang hadir di sini membenarkan hal ini.

Yesus justeru membenarkan hal ini. Ia hidup di antara orang mati. Ia bangkit di antara pesimisme. Semuanya hendak membuka horizon baru bahwa ada sesuatu yang menghidupkan di balik setiap peristiwa tragis.kubur-kosong_worksheet_png_468x609_q85

Kedua, kita beriman pada Yesus sudah bangkit bukan karena kubur itu kosong. Bukan karena Yesus sudah tidak ada di sana. Tetapi terutama bahwa apa yang dilakukan oleh Yesus dari Nazareth selama 2000 tahun yang lalu, hingga kini diakui kebenaranNya. Kata-kata, perbuatan, pengajaran, diakui kebenarannya. Kebenaran yang dimaksud adalah seperti yang disampaikan oleh Rasul Paulus: kematianNya sekali untuk selamanya. Dengan demikian, ‘barang siapa yang telah mati dengan Kristus, percaya, bahwa ia akan hidup bersamaNya’ (Rom 6,8). Artinya peristiwa itu sudah sangat jelas. Seperti Dia yang mati tetapi bangkit, maka barangsiapa yang ikut dalam kematian akan bangkit bersamaNya.

Ketiga, kebangkitan adalah sebuah kesempatan. Seperti yang dilakukan Mary Riana, ia pergi ke Singapura bukan karena orang tuanya mampu. Bukan juga karena ia pintar (karena tidak lulus tes bahasa Inggris). Yang ada, karena itu merupakan sebuah peluang dan kesempatan: negeri itu masih lebih aman.gondong ijo1

Paskah adalah kesempatan untuk ada bersama orang lain

Yesus juga tidak menawarkan kebangkitan kepada para murid dan para rasul. Ia justeru menawarkan kembali kesempatan agar mereka merekam kembali semua kebersamaan dan mengonstruksi kembali dalam kisah-kisah. Ia tidak memberikan mereka jabatan pasti tetapi kesempatan untuk memaknai kembali setiap kebersamaan dan membangunkannya menjadi sebuah kesempatan baginya dalam berusaha.

Itulah yang terjadi. Jabatan kepala gereja bagi Petrus tidak diberikan apalagi dihadiahi tetapi sebuah proses di maan Petrus memaknai kembali kebersamaan dengan Yesus. Rasul seperti Paulus, harus mengalami hidup jatuh-bangun untuk dapat menjadi pewarta. Singkatnya, yang dibawa Paskah juga bagi kita bukan kata akhir melainkan peluang dan kesempatan.merry-riana-enterpreneurship-5

Merry Riana sebuah inspirasi Paskah yang membangkitkan

Peluang dan kesempatan untuk memaknai setiap penderitaan sebagai kesempatan. Kesempatan untuk mengubah kondisi yang (dikira) mematikan menjadi peluang terwujudnya kesuksesan.

Keempat, peluang dan kesempatan tidak bisa sekedar dimaknai secara pribadi. Mary Riana tidak memaknai kesuksesan bagi dirinya sendiri. Ia beresolusi agar sebelum 30 tahun ia sudah mengalami kebebasan finansial (pribadi). Hal itu tercapai bahkan di usia 26 tahun.

Tetapi itu tidak selesai. Di usia 30 tahun ia beresolusi mau membagi inspirasinya pada sejuta anak / remaja Asia. Artinya, kesuksesan itu tidak dimiliki sendiri. Pengalaman kebangkitan itu tetap jadi inspirasi. Hal itu sudah dicontohkan Yesus. Pengalaman kematian dan kebangkitanNya 2000 tahun lalu jadi inspirasi bagi jutaan orang kini dan miliaran selama 2000 tahun lalu.

Kita pun terpanggil untuk menjadikan hidup kita sebuah peluang dan inspirasi minimal bagi keluarga kita masing-masing, tetangga yang ada di sekitar kita. Amin

Renungan Robert Bala. Malam Paskah 26 Maret 2016