NARASI NATAL, TADA DAN BALA

NARASI NATAL, TADA DAN BALA

Kandidus

Oleh Kandidus Latan Tolok

Karena musim hujan dan rumput di kebun kacang tanah harus segera dibersihkan maka Bapa Bala dan Mama Tada sepakat untuk setelah misa Natal Tahun, mereka berdua langsung ke kebun.

Jarak rumah dan kebun ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan. Mereka harus menelusuri kampung, melewati dusun di kaki gunung Mauraja, Lamaheku. Dari sana mereka menurun perlahan melewati Wolmata, Kerbauniju, Gletetoko, lalu menelusuri Ebak Rajan (kali besar). Perjalan diteruskan diantara pohon bidara (kahar), melewat Belebo.  Perjalanan dilanjutkan melewat Belebo dan akhirnya menyisir di pinggir gunung Adowajo, hingga sampai di Manukli, kebun tempat tujuan.BIG HOLIDAY TO LEREK 065(Gunung Mauraja, dilihat dari Lembah Lerek Lembata)

Untung saja, jalan ke kebun yang berada di bibir pantai Waibura itu sudah lebih baik. Beberapa tahun lalu bahkan mobil sudah melewati daerah itu untuk sampai ke Dulir. dengan demikian kondisi badan yang sudah tidak segar lagi mampu melewatinya dengan baik. Sekarang, jalan tersebut masih dilewati motor, meski jalannya tidak bisa dianggap enteng.

“Di sana kita merayakan Natal,” demikian kata Bapak Bala memperkuat alasan kepergian mereka ke kebun. Dengan itu, mama Tada yang tadinya berkeberatan, akhirnya memutuskan untuk ke kebun.

Kepergian mereka pun tidak dengan tangan kosong. Dengan pertimbangan bahwa ada Tuak putih sedikit dan pisang dan ubi yang akan mereka bawa untuk dibakar di kebun sekedar untuk makan siang dalam suasana Natal.

Persiapanpun dilakukan sejak malam Natal 2012, Satu hal yang harus dipastikan Bapa Bala adalah Pemantik (berbahan bakar batu) yang sudah ada dalam Giling (tempat sirih pinang).

Misa Hari Natal 2012 usai mereka berdua bergegas pulang ke rumah dan selanjutnya ke Kebun. (Tadinya mau ‘denge prete kie’ dari magun kepale, tetapi juei pikir, hiang ne hen te wage di bere). Dari semua perlenngkapan, tidak lupa Bapak Bala membawa bekal tuak putih satu Motok (tempat tuak terbuat dari bambu) kecil dan kebutuhan lainnya.

ADOWAJOKU

(Gunung Adowajo Lerek, meletus pertama kali tahun 1870. Meletus terakhir tahun 1999)

Tiba di Kebun mereka berdua beristirahat sebentar sekedar melepas lelah. Saat itu Bapa Bala menawarkan kepada Sang Istri ”Ter tu tu kie?” (maksudnya sebelum kerja kita dua minum dulu satu satu kali (konok krapung).

Mama Tada tidak keberatan karena sebagai pelepas dahaga sekaligus untuk ambil tenaga baru untuk memulai kerja. Selain itu, ia adalah cara terbaik merayakan Natal mereka.

Sambil mentap pantai Waibura dari kejauhan, di mana ombak-ombak kecil m dengan deburan putih, dan dihiasi lagi dengan sebuah dermaga dari kayu semmi permanen, keduanya membayangkan masa-masa kecil ketika masih bersama anak-anak mereka membuat garam dalam istilah setempat: HOR KEBAKU, yakni mengisi tempat garam dan menjemurnya di panas matahari hingga mengering dengan menyisahkan garam.  BIG HOLIDAY TO LEREK 309(Dermaga semi permanen dibangun tahun 2010 di pantai Waibura)

Tak beberapa lama, setelah tuak itu diteguk, semangat kerja Bapak Bala dan mama Tada kian bertambah. Akhirnya agak siang, setelah mama Tada memperhatikan bahwa suaminya  sudah beberapa kali berteriak dalam teriakan khas orang Lerek “Hoe goe”, (ekspresi capeh), mama Tada mengajak suaminya yang kepalanya agak gundul dan sedikit helai rambut tersisa itu berwarna putih, untuk istirahat, sebentar di bawah pohon mente.

Sambil memandang pohon Mente yang sudah agak tinggi dan sudah berbuah itu, Mama Tada tiba-tiba mengenang sesuatu. “Magu, mo ukei e take. Bluwe (mente) ne be bo yang mule bo ene”? (Pak, kamu ingat tidak, siapa yang tanam Mente ini). Bapa Bala terdiam. Dia ingat jambu mente itu ada sejarahnya tersendiri, terutama dalam kaitan dnegan anak-anaknya: Baha, Ope, Bulet, dan Beto.

Yang sulung, Baha, memang sudah pergi sejak tamat SD. Ia ke Maumere, kerja di Toko. Tapi kemudian karena diajak temannya, akhirnya sekarang dia Di Malaysia. Yang kedua, Ope, sampai tamat di SMP Tanjung Kelapa. Tetapi rupanya bukan dia karena kesenangannya lebih banyak untuk ikut oto Tanjung jadi Konjak (sebutan pembantu sopir). Beberapa tahun lalu ketika omnya, Lagar, datang dari Jakarta, dia bawa ke sana dan sekarang jadi satpam di perusahaan otomotif Daihatsu.

Yang terakhir Bulet, dia sangat suka menyelam untuk tembak ikan dan kesenangan lainnya, bila laut lagi tak bersahabat, dia suka menanam pohon-pohon. Karena rajin, dia dibawa ke daerah trasnsmigrasi di Tanjung Selor.

“He, gu ukei. Yang mule pasti Bulet ”, jawab Bapak Bala. ‘Tapi no klore ne bela bo Beto yang mule’. Oh ia. Bala pun mulai ingat anak perempuannya Beto yang juga ikut Bala ke Malaysia. Setelah pesiar cukup lama di Lerek, jadi anggota Mudika, dia ikut merantau dan dapat suami orang Lamalera. Beto juga sudah lama idak ada kabar.

Kemudian mama Tada menyambung: “Weol daleu enei raja” (semua mereka di Tanah Besar, sebutan untuk pulau Jawa, khususnya Jakarta dan Kalimantan/Malaysia).

Mama Tada nyeletuk “Magu !” “Anekei ba da leu lon Natal de ka no keluo aluhei ba grei-grei di… (Pak, pada saat Natal seperti ini, anak-anak di sana pasti makan enak dan lagi ramai-ramainya).
Bapa Bala membalas, Nero e Tua “Anekei kede geu panau dei meranto han de alhu han bang be en jem jeu de ukei genat no tite doit etihi han te op kleru mal ka…. (Ya, demikianlah ma. Anak-anak ketika dewasa, mereka pergi merantau supaya cari hidup yang lebih baik, agar besok lusa mereka dapat mengirim sesuatu agar kita bisa beli sirih pinang).

Mama Tada terdiam…. sambil mengingat anak-anak). Sudah lama mereka pergi. Ada yang sempat mengirim surat, ada yang hanya lewat telepon. Untung tetangga ada HP, sehingga sesekali kalau ke Balbewa, bisa dapat pesan. Kadang juga ada ‘kiriman’, tetapi itu tidak tetap. Kata anak-anak, mereka juga hidup susah sehingga tidak banyak yang dikirim.

Menjelang siang mereka berdua istirahat untuk mempersiapkan makan siang, sambil membagi tugas: Mama Tada mengupas ubi dan pisang untuk nanti dibakar Bapa Bala, mengumpulkan kayu bakar untuk menyiapakan api…. Pemantik dikeluarkan dari Giling (hujan sementara rintik halus).

Pehik-pehik-pehik tek neber hoding hi, pehik dere tek ne hoding hi, pehik dere-pehik dere, ne hod langsung matei, (upaya menghidupkan pemantik dengan menggesek rodanya agar bisa mengeluarkan percikan api).

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Bapak Boli membuka pemantik untuk mengetahui masalahnya. Ternyata…. malam sebelumnya, ia lupa mengisi batu pemantik yang berfungsi bak bensin penghidup motor. “Aduh Tua … pemantik bele Wator ipok bo… haya le….” (Aduh, kasihan sekali. Ternyata batu pemantik habis).

Upaya mereka berdua untuk makan siang tidak bisa terwujud… Hari semakin siang,…. dengan perut yang sudah lapar, mereka dua terpaksa menghabiskan tuak putih yang masih ada sebagai minuman dan makan siang.

Haya le…. Amei Bala no Inei Tade, Leyon alhura er juam men mio tuak kenakoten di saat kam anak menikmati kue natal dan minuman segar di tanah Rantau….. (Sayang sekali Bapak Bala dan Mama Tada, hari yang begitu baik, tetapi berdua hanya merayhakan Natal dengan tuak saja).

Selamat Natal 2013 untuk Ina Ama, Kaka Waji, Opmaki, Luku rubo Je leu jenei, ni kam wihe leu rantauan, Semoga suka cita Natal 2013 dirasakan oleh Ina Ama Tua Magu je Leu enei……

Pesan Moral:
1. Seramai-ramainya merayakan Natal di tanah rantau, adalah lebih baik, kalau bisa merayakan dalam kebersamaan dengan orang tua, sanak keluarga di kampung. Selamat Natal. Atau kalau terpaksa merayakan di tanah rantau, jangan lupa ‘bingkisan’ untuk tua-magu di kampung.

2. Tempat rantau hanya untuk ‘geut tuak pan manuk’ (iris tuak dan piara ayam. Kampung halaman tetap di Lerek. Karena itu, meski merantau, jangan lupa meninggalkan sesuatu dalam bentuk tanaman atau sesuatu yang menjadi bukti ketika kita pulang lagi ke Lerek ada sesuatu yang membuat orang terus mengenang kita.

3. Mek mi baca ke orem gei bo eka bera-bera er MEK UKEI TEKE BO OLIGEM LEI..

Kandidus Latan Tolok (diedit: Robert Bala).

9 Responses to NARASI NATAL, TADA DAN BALA

  1. Kandidus Tolok says:

    No…Robert, merang dir alhu no, ele te ukei no mame no bape de jeleu enei…

  2. Jhon Namang says:

    mantapssstt

  3. Lambert tolok says:

    Slmt natal dan tahun baru buat adik sek,dan sahabat handai baik dar daje leu no dalau perantauwan…..membaca narasi natal tada dan bala timbul berbagai mcm rasa dlm hati.
    Dialog antara mereka sangat sederhana,tapi sangat menyentu bagi kita yg hidup di rantau bagi yg pintar mencerna dialog diatas…..

    Nb…Ada kandidus…pesan terakhir dari narasi ini sangat menusuk bak sembilu bisa….er keing terang apeken……” kame merkhian gutu “……

    • robert25868 says:

      Terimakasih ka Lamber. Narasi sederhana, untuk tua anakei juei der luat lew Manukli. Ba mek daje le bo de kruit mek atedikei teke je une er tek no anam wei hi… Semoga tite yang geut tuak nawu manuk tek gupang der je lew enei jenei hi.

  4. theo keban says:

    terhibur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s