NARASI WISATA KE SERIBU PULAU (SERIBU)

NARASI SERIBU PULAU (SERIBU)

Semenjak mengunjungi Kepulauan Seribu pada Oktober 2015 bersama Agen Perjalanan Eropa, antusias terus hadir. Sebuah keunggulan alam yang ada di dekat, sayang nyaris diketahui. Terimakasih pada Dinas Pariwisata DKI dan penulis buku Kepulauan Seribu, Hidden Treasure, Thomas Ataladjar, saya punya pengalaman. Dengan berbekal sebagai penulis opini Kompas, saya pun mendapat kesempatan bergabung dengan team dari Kemenlu, Dinas Pariwisata DKI dan Kepulauan Seribu, dan Agen Perjalanan mengelilingi puluhan pulau mulai dari Pramuka, Nusa Keramba, Pulau Puteri, Pulau Pelangi, Pulau Macan, dan beberapa lagi.

Sejak saat itu, kerinduan membawa siswa ke Kepulauan Seribu. Setelah persiapan dan penjajakan, akhirnya kegiatan itu terlaksana. Dengan 40 siswa dan 6 guru, team mulai melakukan ‘traveling’ yang bagi banyak orang masih menjadi tanda tanya. Isu kapal tenggelam, topan, dan lain-lain begitu memengaruhi orang. Tapi semua orang kan bisa bebas berpendapat. Yang tidak mencengangkan, tidak sedikit orang yang begitu antusias. Apresiasi untuk kelas 8 yang hampir semuanya. Kelas 7 sementara itu beberapa orang yang boleh disebut berani.

Marina Port 17
Tempat berkumpul sesuai pemberitahuan adalah Pelabuhan 17. Inilah pelabuhan khusus kapal yang ke pulau Pramuka. Rencananya semua berkumpul pukul 06.30 dan terlaksana sebagaimana direncanakan.

Sebelumnya pukul 05.00, semua berkumpul di STI (tepatnya di Sevel). Kemudian secara bersama menuju ke Kepulauan Seribu. Semua team tiba tepat waktu, kecuali dua mobil yang tiba pukul 07.00. Tapi tidak ada masalah. Kapal masih berangkat pukul 08.00.

Di sana kami bertemu Ms Yati dari Pulau Seribu Traveling. Setelah befoto dan orientasi umum, perjalanan pun dimulai. Meski terlambat 30 menit karena baru ‘take off’ pukul 08.30, antusias anak tetap tinggi. Saat dipanggil sebagai rombongan “Mr Robert”, semua cepat menuju kapal. Hampir semuanya menempati dek atas sambil menikmati pemandangan yang indah. Tapi jangan lupa, semua harus kenakan ‘life jacket’, biar menjamin keselamatan.

Dari pinggir pantai orang tua yang sempat mengantar melambaikan tanggannya. Mereka tentu merasa cemas dan was-was. Barangkali ini juga pengalaman pertama ‘berpisah’ dua hari dari anak.

Ada orang tua yang barangkali sudah terbiasa. Mereka juga tahu bahwa kegiatan seperti ini tidak saja dilakukan trip tetapi juga pembelajaran. Juga di sana ada latihan kemandirian. Ketika berjalan sendiri, mereka dilatih untuk memerhatikan barang-barangnya. Mereka dilatih untuk tidak lagi menjadi ‘anak mama dan papa’, tetapi sudah mulai bersosialisasi.

Bersnorkeling Ria

Speed boad berpenumpang sekitar 90 orang melaju begitu cepat. Hanya sejam (lebih sedikit), kami sudah tiba di Pulau Pramuka. Dari jauh terbaca” Cyber island”. Tidak tahu apa artinya, barangkali karena di pulau ini semua fasilitas ada hingga ATM (Bank DKI). Ada juga BRI tapi dalam bentuk kapal dan dia bisa keliling dari pulau ke pulau (hebat sekali. Kalau di Jakarta, masyarakat cari bank, kalau di sini, Bank cari masyarakat).

Setelah berfoto bersama, rombongan berjalan kaki menyusuri pantai menuju ke Kedaton Homestay. Pulau Pramuka memang dipenuhi Homestay di pinggir pantai. Sesuai informasi, homestay itu dimiliki masyarakat setempat. Biasanya dibuat dalam satu kawasan yang terdiri dari beberapa rumah dengan kamar besar. Kami sendiri menempati 9 kamar. Masing-masing diisi 4,5,6 bahkan 7 orang. Anak-anak lebih memilih tidur ramai-ramai. Itulah pengalaman yang tidak bisa tergantikan.

Kondisi ruangan cukup bagus, berAC. Kamar mandi dalam. Semua orang mendapatkan 1 kasur dan bantal (meski awalnya kekurangan). Setelah ‘check in’, langsung makan siang. Makanan ikan waktu itu belum terlalu dinikmati. Mungkin sudah cukup dengan makan pagi banyak sehingga tidak terlalu antusias.

Saat makan siang, sudah mulai briefing tentang rangkaian kegiatan. Kegiatan yang sangat mendebarkan karena harus ‘snorkeling’. Sebuah kegiatan yang menantang tetapi juga menakutkan. Ada orang tua yang pesan secara khusus: “Anak saya tidak tahu berenang jadi kalau boleh tidak ikut berenang”. Perasaan takut memang wajar. Tetapi apakah anak akan duduk saja di kapal ketika semua temannya ikut snorkeling?

Kegiatan yang dinanti pun tiba. Di depan Kantor Bupati Kepulauan Seribu, team debriefing dan dibagikan alat. Setiap orang mendapatkan: (mask and snorkel, kaki katak, dan baju pelampung). (Menurut kabar, peralatan itu seharga Rp 600.000). Siswa diminta berhati-hati karena kalau hilang, harus bayar). Ya, peralatan itu kalau dibawa di kapal pasti tidak tenggelam. Kalau tenggelam, mengapa dipakai?

Untuk apa alat-alat tersebut? Ini pertanyaan sering diajukan oleh pemula, saya coba jelaskan. Masker selam adalah jendela kedap air yang melindungi sebagian wajah, terutama mata dan hidung dari air. Bagian lensa dibuat dari kaca pengaman sementara kantong hidung serta kerangka masker dibuat dari silikone atau karet. Di bagian sisi masker terdapat tempat untuk memasang snorkel

Sewaktu mengenakan masker, penyelam bernapas dengan mulut. Masker dapat menjadi berembun atau kemasukan air bila penyelam memaksa untuk bernapas melalui hidung. Rambut penyelam juga tidak boleh terjepit di antara masker dan wajah supaya masker tidak kemasukan air.

Snorkel terdiri dari dua bagian: selang udara dan pelindung mulut. Selang dibuat dari plastik atau karet keras, dengan ukuran diameter sekitar 2 cm dan panjang sekitar 30 cm. Selang yang terlalu panjang membuat bernapas menjadi sulit, dan memperbesar kemungkinan penyelam menghisap kembali karbon dioksida yang tertahan di dalam selang.

Pelindung mulut dibuat dari silikone atau karet, dan terdiri dari penutup berbentuk lengkung, dan bagian untuk digigit. Ukuran pelindung mulut juga harus sesuai dengan ukuran mulut. Ketika menyelam di bawah air, udara di dalam snorkel keluar, dan air masuk ke dalam snorkel. Ketika sampai di permukaan, air dalam snorkel dikuras dengan cara menghembuskan udara keras-keras dari dalam mulut

Kaki katak adalah sepatu karet dengan sirip yang melebar di bagian ujung kaki. Snorkeling bisa saja dilakukan tanpa kaki katak, tapi alat ini bisa menambah daya dorong kaki manusia ketika berenang.

Kaki katak terdiri dari dua jenis: tumit terbuka (open heel) dan kaki tertutup (full foot atau pocket foot). Jenis kaki katak kaki tertutup tersedia dalam berbagai ukuran seperti halnya ukuran sepatu. Dibandingkan kaki katak tumit terbuka, jenis kaki katak tertutup memiliki ujung sirip yang lebih pendek. Ketika memakai kaki katak tumit terbuka, penyelam mengenakan sepatu bot dari bahan neoprena. Sepatu bot berfungsi sebagai pelindung kaki dari dari luka, dinginnya air, atau pencegah lecet. Kaki katak tumit terbuka hanya dibuat dalam beberapa ukuran: kecil, sedang, besar, dan ekstra besar. Ukuran kaki katak disesuaikan dengan kaki pemakainya dengan mengencangkan sabuk di bagian tumit.

Setelah mendapatkan penjelasan umum dari tour guide, rombongan pun kemudian menuju kapal tradisional. Semuanya terisi secara penuh. Kapal motor kemudian menyusuri selat antara Pulau Panggang dan Pulau Karya. Oh ya, pulau Panggang adalah pulau terpadat di Kepulauan Seribu. Mala hada yang mengatakan bahwa inilah pulau terpadat di dunia. Bayangkakan, dengan hanya 6 hektar tetapi ditempati oleh 5000 penduduk.

Pulau Karya yang berada di samping kanan, merupakan pulau ‘kantoran’. Di sini ada Pores, Kodim, Dinas Pertamanan dan Pariwisata, dan kantor lainnya. Pulau ini juga sekaligus jadi ‘kuburan’. Bila ada orang yang meninggal di pulau Pramuka dan Pangganggang, mereka dihantar dengan perahu dan selanjutnya dikuburkan di pulau Karya.

Kapal kemudian merangkak perlahan ke Pulau Semak Daun atau kerap dipelesetkan jadi “Smack Down”. Dermaga kapal ini sedikit miring. Mungkin karna sudah tua atau karena sering diinjakin, dikunjungi. Tetapi pulau itu sangat alamiah. Tidak ada penduduk kecuali penjaga pulau (Jadi di Kepulauan Seribu berlaku: a man an island).

Kegiatan di sini diawali dengan penanaman mangrove. Tiap anak memperoleh satu mangrove. Mereka tahu, kepualaun seribu sangat mudah diterjang ombak. Pulau sangat kecil sehingga sekali air laut naik, semuanya bisa langsung tenggelam. Mangrove menjadi seperti ikat pinggang yang melindungi masyarakat.

Pemangan mangrove itu hampir kini menjadi pemandangan umum di kepulauan seribu. Terkesan masih kecil. Artinya barusan ditanam dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi daripada tidak sama sekali, masih lebih baik terlambat. Kali ini, Tunas Indonesia ikut berkontribusi memagari pulau Semak Daun biar lebih tahan ombak.

Setelahnya, langsung dengan latihan snorkeling. Latihan di laut yang dangkal, di pinggir pantai. Mulai dengan warming up. Otot-otot harus dikencangkan agar tidak mudah keram waktu berada di dalam laut. Latihan kemudian dilanjutkan dengan cara pemasangan alat snorkeling dan cara mengigit alat pernapasan. Ujungnya harus masuk dalam mulut dan ditutup rapi sehingga tidak masuk air.

Penamping pun memberikan petunjuk apa yang terjadi kalau air masuk ke kacamata atau masuk dalam pengisap. Latihan di sini hanya sekitar 10 menit. Siswa sempat menyelam (tetapi tangan masih bisa meraba pasir). Sesudahnya semua diinstruksikan ke kapal lagi untuk menuju ke tempat snorkeling yang sebenarnya.

Saat keluar dari percontohan snorkeling, ada siswa yang mengira snorkeling sudah selesai. “Mr Robert, kog snorkeling sudah selesai, cepat banget”… Sesudah dijawab bahwa itu hanya latihan, warna mukanya mulai gembira. Dia mulai perkirakan, betapa indahnya snorkeling yang sebenarnya.

Perjalanan dari Pulau Semak Daun ke Pulau Air tidak terlalu lama, sekitar 20 menit. Lautnya tenang. Dari jauh sudah terlihat ada dua pulau air, hanya dibatasi selat dangkal. Warna laut yang tidak terlalu dalam (hanya 2-3 meter saja. Awalnya, instruktur duluan sambil memberi contoh bagaimana loncat ke laut, setelahnya harus balik muka dan mengangkat jempol tanda sudah OK.

Semua peserta mulai perlahan turun. Ada yang tidak antusias lagi. Ada yang masih ragu-ragu. Inilah pengalaman pertama. Mereka mengira, akan berbahaya kalau tidak tahu berenang. Setelah lihat bahwa semua yang loncat, termasuk yang tidak tahu berenang bisa snorkeling melihat pemandangan, maka akhirnya semuanya ikut snorkeling.

Pemandangan yang ditampilkan sangat indah. Ada karang dan ikan, Kita bisa bermain dengan ikan. Hanya saja kalau ikan itu ditangkap, ia lari ke dalam. Bagi yang memakai snorkl, ia hanya didisain untuk berada di permukaan. Kalau semakin ke delam, berarti air bisa masuk melalui lubang napas (Oh ya, pakai napas perut ya? Napas melalui hidung, katan instruktur, diistirahatkan dulu).

Kegiatan snorkeling satu jam tidak terasa. Sesudahnya ada tempat yang lebih menarik lagi yakni di selat Pulau Air. Tetapi langit menampilkan wajah ancaman hujan. Arus pun mulai sedikit ‘nakal’ oleh angin. Karena itu kami putuskan untuk tidak snorkeling di tempat lain melainkan pulang menikmati sunset sore. Rencannya singgah di pulau Karya.

Tetapi dalam perjalanan, melihat anak-anak kedinginan, kami putuskan untuk pulang terus ke Pramuka, Sebuah keputusan yang tepat. Meski akhirnya tidak hujan dan matahari sore sempat ‘lirik’ sebentar kemudian tenggelam, tetapi kegiatan snorkeling itu sendiri sudah puas.

Menulis Pengalaman
Sesampai di penginapan, semua langsung ‘berbilas ria’. Rupanya sangat kecapaian sekaligus lapar hehehe. Bagi yang cekatan, terutama boys, dalam 30 menit setelahnya sudah siap dan langsung teriak: “lapar-lapar” (macam pengungsi di Brundi aja nich anak-anak. Tetapi mereka butuh kekutan setelah snorkeling sepanjang sore.

Makan malam dengan ikan yang lebih besar langsung disantap. Ada yang mengambil porsi kecil ‘karena solider dengan teman lainnya’. Tetapi ketika semua teman sudah makan dan kelihatan masih banyak sisa, mereka mendekat dan minta makan lagi (memang masa pertumbuhan). Ikan yang ada disantap habis.

Acara malam masih panjang. Istirahat setelah makan hanya 30 menit. Kemudian, karena ini Field Study, ada kegiatan ‘belajar malam’. Mr Akim sebagai guru Biologi mengarahkan siswa mengisi LKS tentang ekosistem laut / biota laut, dan juga mangrove serta karang (yang sorenya mereka saksikan di Pulau Air).

Kegiatan dilanjutkan dengan orientasi tentang jurnalistik. Mr Dimas memang ahlinya dalam warming up dan orientasinya. Gaya narasinya membuat siswa yang tadinya ngantuk memerhatikan seutuhnya. Dikisahkan tentang seorang yang bisa naik pesawat kelas bisnis dari satu kota ke kota besar lainnya di dunia. Ia menginap di hotel berbintang.

Mr Dimas menanyakan, kira-kira budget yang diekeluarkan berapa? Semua menjawab 50 dan 100 juta. Memang harga sekitar ‘segitu’. Tetapi orang itu ternyata gratis, tanpa bayar karena dia seorang penulis, seorang bloger, orang yang bisa menulis pengalaman dan dipublikasikan.

Orientasi diakhiri dengan empat syarat dalam menulis: Informasi, Personal, Subjektif, dan (apalagi ya, saya sudah lupa)., Itu menjadi prasyaraat menulis.

Acara selanjutnya adalah sharing pengalaman menulis oleh saya (yang oleh anak-anak dipanggil Mr Robert). Sharing diawali meminta siswa membuka google dan mencari judul berita: Turut Melahirkan Jokowi, Robert Bala. Dalam sekejap siswa sudah dapatkan informasi. Di situ ada pengalaman, bagaimana mengorbitkan seorang kepala daerah local di Amerika Selatan yang kini jadi Presiden. Itulah pengalaman Uruguay, Brazil, dan Chile. Pengalaman itu ditampilkan saat Mr Robert diminta menjadi narasumber dalam Kongres PDIP di Bali.

Pengalaman itu disharingkan dalam Kongres PDIP di Sanur Bali pada April 2010. Tidak disangka, pikiran itu mendapatkan sambutan positif dari PDIP. Sejak saat itu, PDIP serius mencari pemimpin lokal yang sukses. Mereka lalu dapatkan antara lain Jokowi yang diorbitkan untuk DKI dan kini jadi presiden. Ada kebanggaan bahwa pikiran yang sederhana dalam kongres PDIP itu bisa terwujud sampai sekarang ini.

Pengalaman itu kemudian ditambahkan dengan bonus yang diterima sebagai pembicara hanya 10 menit tetapi mendapatkan Tiket PP Bali dan uang saku ‘terbanyak’ atas penghargaan berbicara begitu singkat. Hal itu kemudian ditambahkan dengan cara menulis yang menarik yakni tulisan yang senang dibaca. Sebuah tulisan yang menarik akan memenuhi syarat: tidak menggurui, menulis apa yang disukai pembaca (bukan yang disenangi penulis, ibarat memancing ikan, carilah umpan yang disenangi ikan bukan disukai pemancing).

Menulis juga harus gunakan piramide terbalik. Tulisan yang palin menarik diletakka pada awal. Kemudian ditambahkan dengan informasi lain yang semakin kecil / sedikit. Dengan menulis informasi pada awal, kita bisa menahan pembaca untuk lebih lama lagi.

Selesai sharing menulis: Jurnalistik, acara masih lanjut: BBQ. Api pun dipasang. Ikan disiapkan (kelihata lezat). Yang lebih menarik dan nanti jadi rebutan adalah cumi-cumi. Wah… lezat. Semua siswa mengelilingi api. Kali ini rencannya acara ekspresi bebas tetapi karena kecapaian, anak-anak mau makan saja. Dan terjadilah. Ketika cumi-cumi diambil, semua langsung serbu. Yang tetinggal hanya piring yang kosong.

Ada yang melihat bahwa ikan juga enak dank arena itu langsung santap habis. Mereka makan bisa saja bukan karena ingin sekali tetapi juga karena lapar. Tetapi kalau perkara lapar, kan barusan makan malam. Tadinya saya ragu-ragu apakah BBQ akan menarik sekali. Ternyata memang mereka sangat menikmati. Makan kenyang dan bisa tidur pulas…

Hunting the Sunrise

Acara menarik pada pagi hari ini adalah jalan kaki keliling pulau. Kebanyakan siswa sudah bangun pagi. Apalagi kegiatan jalan pagi sudah diinformasikan termasuk bagi yang ingin naik sepeda.

Rute perjalanan pun tidak sulit. Kebetulan sejam sebelumnya, bersama Adrian, kami sudah menyisir pantai. Jalannya variatif. Bisa jalan di atas tembok penyanggah ombak / laut. Kadang harus lewat sampah dan sedikit hutan. Tetapi sebagian besar jalan yang baik.

Berjalan di pinggir pantai memang menyenangkan. Sempat melewati ‘turtle santuary’, tempat penangkaran penyu yang akan disaksikan siangnya. Setelah berjalan 20 menit, tibalah pada saat yang dinantikan yakni keluarnya matahari pagi. Pemandangan sangat indah. Terlihat matahari pagi begitu indah. Saya pun minta beberapa siswa dan guru merentangkan tangan sehingga terlihat seperti memegang matahari. Memang matahari harus dipegang. Ia adalah sahabat (seperti kata Santu Fransiskus).

Perjalanan kemudian dilanjutkan. Di dekat dermaga, terlihat pengalaman menarik. Siswa yang berasal dari pulau Panggang, naik perahu motor untuk dapat bersekolah di pulau Pramuka. Bisa dimengerti. Di Kepulauan Seribu hanya ada satu SMA Negeri di Pulau Pramuka. Itulah pengalaman indah dan dapat disaksikan siswa dari kota.

Perjalanan mengeliling pulau sekitar 90 menit. Itu pun karena diselingi dengan foto-foto yang agak lama. Kalau non stop, seperti yang saya lakukan dengan Adrian, bisa saja hanya sejam. Kembali ke Kedaton Homestay, segera makan pagi. Siswa yang sudah lelah berjalan pun langsung menikmati hidangan pagi. Ada mie goreng, telur, dan lain-lain. Kebanyakan siswa mengambil mie, akhirnya yang lain tidak kebagian (ya, tidak apa-apa. Harusnya ditambah dengan nasi biar semua dapat).

Makan pagi berlangsung dengan cepat. Siswa langsung check out. Barang-barang di tiap kamar langsung diberesin. Kemudian semua barang disimpan di sebuah kamar. Tepat pukul 09.00, rombongan mengarah ke tempat penangkaran penyu. Jalan kaki sekitar 15 menit. Di tempat ini, anak-anak menyaksikan bagaimana usaha menjaga habitat penyu dan penyu itu sendiri.

Yang dikerjakan adalah menampung telur penyu yang didapatkan. Biasanya penyu akan bertelus di tempat yang aman dan bisa mencapai hingga 100an telur. Kalau telur itu didapatkan petugas, maka mereka akan mengambilnya dan menyimpannya di ember yang diselingi dengan pasir. Setelah 3 bulan, telur dapat menetas dan keluarlah anakan penyu.

Tapi tidak semua anak penyu dapat bertahan hidup. Mereka muda dimakan oleh ikan / predator lainnya. Sebaliknya kalau sudah besar mereka bisa bertahan hidup. Karena itu pelepasan anak penyu senantiasa diselingi harapa agar semuanya dapat aman selalu. Di sini anak anak dan guru dapat berfoto bersama.

Big Lunch Nusa Keramba
Dari Penangkaran Penyu, perjalanan dilanjutkan ke dermaga. Kali ini sambil menunggu makan siang, rombongan masih berjalan ke satu pulau yang seharusnya disinggahi kemarin yakni: Pulau Karya.

Pulau itu hanya untuk perkantoran. Ada Polres dan Kodim serta kantor lainnya. Pantainya sangat indah. Ada mangrove yang ditanam tetapi belum terlalu besar. Ada yang masih kecil. Ternyata mangrove ini ditanam sebulan sebelumnya oleh Jokowi.

Ke depan Pulau Karya akan sangat menarik. Ada kegiatan pembangunan sarana olahraga dan rekresasi seperti Flying Fox dan lain-lain. Ini pasti pengalaman indah kalau bisa meluncur di pinggir laut. Kalau jatuh masih hidup karena akan sampai di laut (hehehe).

Istirahat santai di sini memang terkesan lama. Siswa yang kehausan berusaha cari kantin tetapi tidak ada. Ada satu tetapi air aqua yang disiapkan hanya beberapa. Ada yang terpaksa membeli fanta atau coca cola, padahal yang dibutuhkan adalah air minum.

Tepat pukul 12.00, rombongan naik kapal kembali ke Nusa Keramba. Jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 15 menit saja. Di sana, kami saksikan penangkaran hiu. Menarik sekali. Kelihatan hiu ini kelaparan. Maka ketika dibagi makanan, mereka langsung mencaploknya, padahal yang diberi sejenis risol.

Waktu yang dinanti menikmati makan siang pun datang. Ada variasi makanan, yang semuanya makanan laut. Ada udang, ada cumi, dan ikan tepung. Ada sayur juga yang dalam sekejab habis (ternyata anak-anak senang makan sayur juga yah).

Tetang minum, disiapkan Aqua. Hanya bagi yang butuh tambahan seprti es kelapa muda, harus rogo kocek dalam-dalam. Satu kelapa Rp 25.000 (wah, kalau di Jakarta sudah dapat 3 kelapa. Di sini begitu mahal). Untuk es krim juga sedikit mahal. Tetapi kalau mau lepaskan dahaga, yah… tidak apa-apa.

Guru-guru ambil posisi lebih meminggir. Setelah semua siswa makan (seperti biasanya), kini giliran guru. Biasanya makan sambil evaluasi tentang kegiatan dan antisipasi tentang hal-hal yang akan terjadi. Lebih lagi rencana sore hari mencek penjemput di dermaga dan lain-lain. Acara makan pun lancar. Pukul 13,30, sudah mulai beranjak dari Nusa Keramba. Kali ini harus kembali ke Pramuka dan siap-siap untuk ‘back to Marina Ancol’.

Syukur acara siang itu lancar semuanya. Di homestay, hanya sempat briefing sebelum mengambil barang-barang. Ada ojek motor tetapi anak-anak pilih jalan kaki ramai-ramai. Tidak lama, pukul 14.30, Black Pearl sudah sandar di dermaga. Semua harus cepat naik setelah dihitung satu persatau 46 orang. Meski lelah tetap anak-anak tetap bersemangat. Semua pilih kembali berada di dek atas biar menyaksikan pemandangan indah.

Tiba di dermaga Ancol pukul 4 sore. Orang tua sudah menanti tak sabar. Ada yang langsung membidikan kameranya saat lihat kapal mendekat. Anak mereka sudah pulang. Waktu di dermaga hanya sebentar. Semua sudah menjemput masing-masing dan tepat pukul 4.30, semua sudah beranjak. Sayonara, selamat tinggal Kepualaun Seribu, Selamat tinggal Black Pearl, Selamat tinggal Ancol. Till we meet again.