P. Laurens da Costa, “MENDIDIK DENGAN HATI”

P.Larens da Costa, SVD. MENDIDIK DENGAN HATI

Apa pengalaman yang paling mendalam dan diingat dari P. Laurens da Costa, SVD? Itulah pertanyaan yang muncul dalam diri saya ketika dihubungi untuk menulis tentang Pater Laurens. Tidak bisa disangkal, demikian jawaban saya, bahwa dia telah mengabdikan dirinya dalam pendidikan. Hal yang paling mencolok dalam dirinya adalah mendidik dengan hati.

Meskipun jawaban ini begitu mudah didapatkan tetapi tidak semudah itu menemukannya. Ada sebuah proses panjang hingga memberikan saya ketegasan bahwa terhadap figur ini tidak ada frase yang lebih kuat. Mengapa demikian?

Hati, Terutama

Dari segi pendidikan, biasanya tiga aspek ini ditekankan sebagai unsur integratif yang perlu dikembangkan yang bisa disingkat 3H (head, hand, and heart).

Umumnya, yang paling dikenal dengan pendidikan adalah kaitannya dengan otak. Pengembangan otak menjadi salah satu unsur dominan. Aneka pelajaran yang ditawarkan, punya tujuan agar ‘kepala’ (otak) bisa diasah.P. LAURENTIUS DA COSTA SVD

Ia tidak berhenti di situ. Apa yang diketahui, mestinya digerakkan untuk selanjutnya diwujudkan dalam tindakan. Tangan (hand) adalah ekspresi dari perwujudan apa yang ada di kepala turun ke realitas. Pendidikan keterampilan misalnya menjadi hal yang sangat ditekankan dewasa ini. Pada tataran ini, peserta didik akan merasa sangat tertarik karena tidak hanya diajarkan pada tataran teoritis tetapi membumi.

Memang kadang hal ini dibesar-besarkan. Ada lompatan yang cukup besar untuk memperkenalkan dunia kerja kepada anak. Tetapi ketika hal itu dilaksanakan dalam proporsi yang wajar, maka sungguh mengena pendidikan itu sendiri.

Di dasar dari pendidikan sebenarnya terdapat ‘hati’ (heart). Ketika hati digerakkan maka ia lebih mudah memahami (level pengetahuan) dan mudah tergerak untuk berbuat. Inilah dimensi afektif yang semakin ditekankan. Tak heran, mengawali pelajaran, para guru dan dosen perlu menggerakan hati dan semangat. Ia bak percikan api yang bila dinyalakan pada saat yang tepat, akan bisa ‘membakar’ semangat itu sendiri.

Dalam pengalaman pendidikan di negeri ini, sangat disadari bahwa aspek ini tidak dikembangkan secara utuh. Banyak kali dimengerti sekedar ibadah (yang tentu saja penting). Ia harus mengarah lebih jauh dan dalam, menyentuh kepekaan hati, lalu dari sana diharapkan dapat membangkitkan semangat. Ketika hati disapa, maka akan akan berusaha untuk belajar dengan sendirinya (tidak dipaksakan). Ketika hatinya dijamah, ia bisa menjelajah sendiri. Inilah pendidikan yang membelajarkan. Guru menyapa dan siswa menjawab dalam proses pencarian.

Dasar hati menjadi jawaban tentang kendala pendidikan di Indonesia selama ini. Ada begitu banyak pengalaman yang nota bene kaya sebenarnya, tetapi tidak sanggup dijadikan sumber inspirasi. Hal ini terjadi karena selama proses pendidikan, yang begitu ditekankan adalah kepala dengan tendensi hanya berupa transfer ilmu yang didapatkan dan diterapkan tanpa menjadikannya sebagai milik diri sendiri.

Kesaksian Hidup

Tiga hal ini secara sangat jelas terwujud dalam diri pribadi P. Lorens da Costa, SVD. Sebagai seorang dosen, ia memiliki dedikasi atas apa yang diajarkan. Tujuannya agar pengetahuan yang ada bisa jadi inspirasi bagi mahasiswa.

Tetapi kepala yang ingin dibentuk tidak sekedar dalam pengetahuan teoritis belaka. Lorens selalu melihat peristiwa dalam konteksnya. Teringat dalam pengajaran Filsafat Pancasila, Lorens menampilkan apa yang tidak ada dalam buku. Bisa dipahami, masa Orba, informasi bersifat sangat terbatas. Pater Lorens justeru menampilkan konteks dan membacakan kepada mahasiswa apa yang tidak tertulis.P. LAURENS DA COSTA SVD

 

Setiap liturgi ‘sesederhana pun’, P. Laurens pasti siapkan dengan stensilan lagu-lagu yang sesuai.

Dimensi melakukan juga sangat dominan. Pengajaran Lorens tidak sebatas berbicara, tetapi ia lakukan. Ia contohkan dalam hidupnya. Saya ingat ada sebuah kebijakan sebagai rektor yang cukup banyak ditentang oleh para frater adalah penekanan untuk hidup hemat. Bagi tidak sedikit frater, menjadi frater apalagi pastor nanti, adalah menjadikan seseorang pada ‘elite’ berbeda. Kalau bepergian, ‘harus’ dengan pesawat.

Lorens membuka wawasan baru. Ia menekankan bahwa demi pengghematan, maka sangat diharapkan untuk bepergian dengan kapal laut dan itu ditunjukkannya sendiri. Pada intinya ia mengajarkan tentang bagaimana kehidupan yang harus dipraktikkan. Sebuah cara pandang yang sangat jauh saat banyak orang masih terlena dengan aneka fasilitas yang bisa dinikmati.

Dua dimensi di atas tidak bisa hadir dan menjadi begitu menarik kalau tidak didasari pada hati. Hati jadi awal dan sumber yang memberi dorongan dan inspirasi agar pengetahuan itu dapat didalami lebih jauh. Hati mengarahkan agar orang tidak saja mengetahui tetapi lebih dari itu perlu memahami dan menjadikannya sebagai milik dirinya sendiri.

Hati juga yang mewarnai medan pengabdian. Terlihat berbeda sebuah pengabdian karena ‘tugas’ dan karena terdorong oleh hati. Hal sederhana yang bisa dilihat dalam diri Pater Laurens saat merayakan ekaristi. Ia bawakan juga aneka stensilan lagu untuk bisa dinyanyikan. Ia tahu, umat begitu mudah melupakan buku nyanyian. Karena itu, ia persiapan, karena tahu, merayakan ekaristi adalah sekaligus terekspresi korban dari dirinya. Lebih lagi karena Pater Laurens ingin mempersembahkan sebuah misa di mana Sabda dan lagu harus berpadu.

Pada akhirnya hati yang menjadikan seseorang menjadi dirinya sendiri. Sebuah komitmen teguh yang tidak berhenti pada apa yang dibicarakan orang tetapi konsiten melakukan karena merasa itulah pilihan terbaik.Inilah hal yang paling menonjol yang bisa diselami dari diri Pater Lorens. Ketika merayakan 40 tahun imamat, menjadi jelas bahwa tidak ada yang membedakannya baik dulu dan kini. Pribadi sederhana, tulus, rela berkorban tetap menjadi warna khas dirinya.

Kesaksian hidup itu membuat saya ingat akan sebuah kalimat bahasa Spanyol: Lo que importa no es agregar AÑOS a nuestra VIDA sino agegar VIDA a nuestros AÑOS (yang terpenting bukan menambahkan tahun-tahun pada hidup kita tetapi menambahkan hidup pada tahun-tahun kita).

Selama periode 40 tahun imamat, Pater Lorens telah memberi arti pada hidup. Ia telah menunjukkan koherensi antara kata dan perbuatan. Semuanya bisa terjaga selama periode pancawindu imamat karena sumbernya yang tidak pernah mengering yakni: hati. Dari hati yang tulus telah menjadikan Laurens dosen yang dicintai, bukan saja atas pengajaran tetapi terutama atas teladan hidup.

Robert Bala.

Advertisements