PENGALAMAN BERHARGA DENGAN ‘ABK’

SEBUAH PENGALAMAN ‘BERHARGA’ HARI INI

Hari ini, Jumat 11 Desember 2015, hari terakhir Ujian Semester. Semua guru sibuk memeriksa dan mengola nilai. Waktu hanya seminggu lagi untuk memberikan rapor ke orang tua.

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS4Tiba-tiba, seorang guru bule orang Inggris masuk ke ruang saya. “Mr Robert, how can I score student H, because in my English Native test, he didn’t speak any word. He easily lose her attention, and didn’t do anything” (Pak Robert, bagaimana saya bisa menilai siswa H, karena dalam pelajaran percakapan bahasa Inggris, dia tidak bisa berbicara satu kata pun. Dia dengan mudah kehilangan perhatiannya).

Lalu si Bule melanjutkan pembicaraannya yang kalau diterjemahkan kira-kira demikian: “Barangkali kita akan anjurkan ke orang tuanya agar anak ini bisa disekolahkan di SLB saja. Itu cocok untuk dia dan barangkali mereka lebih perhatikan dia”. Sekilas sepertinya saya setuju. Memang di sekolah saya, ada beberapa ABK (anak berkebutuhan khusus). Dalam pembicaraan dengan orang tua, mereka merasa berat menyekolahkan anaknya di SLB karena banyak alasan, Mereka memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekolah umum.

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS3Ada juga orang tua yang merasa sudah nyaman di sekolah ini. Ini pengalaman karena anak-anak mereka sejak dari SD di sekolah ini dan para guru sudah mengenal anak itu dengan kehususannya. Untuk hal ini memang saya juga akui. Teman-teman selalu ‘care’ dengan ABK. Mereka selalu menjaganya, kadang harus mengajarkan sopan santun kepada sang teman itu. Untuk hal ini sungguh luar biasa dapat saya katakan sikap anak-anak terhadap ABK.

Setelah berpikir agak lama, saya tanyakan kembali ke Mr P. “Mengapa anak itu tidak bisa berbicara satu kata pun? Apakah dia tidak mengerti atau bagaimana? Saya rasa si H, punya kekhususan.”, demikian tanya saya pada Mr P. Saya lalu ceritakan bahwa setiap kali istirahat, si H pasti masuk ke ruang saya dan tanya Koran Kompas hari ini. Dia akan membacanya, terutama mencari informasi terbaru tentang jenis mobil. Hemat saya, anak itu akan berbicara jika kamu ajak dia ngomong tentang mobil”, kata saya kepada si Bule.

Malah suatu kali, demikian cerita saya kepada si Bule, ia ‘kumat’ dan berlari keluar kelas sambil berteriak-teriak. Saya ikut dari belakang dan ketika bisa menahannya, saya lalu sampaikan bahwa ia segera ke kantor saya dan dia bisa baca koran. Emosinya pun meredah. Rupanya ‘koran’ jadi alternatif penyembuhan.

Hal yang sama dibuat dalam mata pelajaran Matematika. Anak ini sangat berminat pada Matematika. Setipa pekerjaan di sekolah pasti diselesaikan. Gurunya pun sebagai ‘bonus’, kadang menanyakan koran ke saya agar ia bisa diberi ‘tugas’ supaya tidak mengganggu teman-temannya.

Kepada Mr P saya juga tambahkan. Barusan minggu lalu, saya panggil kedua orang tua anak itu. Si anak sudah merasa bahwa ada sesuatu dengan dirinya karena itu ia pertanyakan alasannya. Sayapun sampaikan bahwa kali ini saya mau ceritakan hal positif kepada orang tuanya karena dia sudah lebih baik dalam hal tingkah laku.

Kepada orang tuanya juga saya tawarkan, kalau tidak berkeberatan bisa langganan Kompas dan dititip di sekolah. Alasannya karena kerap saya tidak membawa koran saya karena tukang loper koran datang terlambat ke rumah saya. Orang tuanya pun setuju akan usulan itu.

Intinya, anak ini tentu sudah punya sesuatu berupa minat. Barangkali kalau kita bicarakan apa yang ia minati, maka ia akan dengan semangat.

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS2‘Are you sure, Mr Robert?”, tanya Mr P pada saya apakah saya yakin dengan anjuran saya. Saya bilang, ya, saya yakin. Kalau kamu bicara dengan dia harus cari apa yang ia senangi, pasti dia akan berbicara panjang. “Ok, saya akan ajak anak itu jalan-jalan di sekitar sekolah dan coba ajak dia untuk bicara tentang jenis mobil terbaru”, demikian Mr P menerima anjuran saya.

Tiba-tiba si H masuk ke ruang saya. “Itu dia, dia sudah masuk”. Si H lalu ambil posisi di samping kanan saya, dan Mr P berpindah ke samping kanan. Saya lalu bilang ke anak itu “Sekarang duduk sopan (karena dia biasa berdiri dengan perhatian yang terbagi-bagi). “ Setelah duduk, saya bilang sekarang lihat ke Mr P karena dia akan ajukan pertanyaan untuk kamu.ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS1Mr P lalu mulai bertanya “Menurut kamu, mobil mana yang paling terakhir dan apa keuntungan dan kelemahannya masing-masing”. Si H lalu mulai menjawab dalam bahasa Inggris yang lancar. Memang dari segi ucapan (pronunciation), ada kelihatan hal yang perlu diperbaiki. Tetapi dalam kaitan dengan logia berpikir, memang luar biasa.

Ia menggunakan kata-kata yang saya tidak cukup mengerti karena saya memang tidak berminat pada otomotif dan agak jarang dengan istilah-istilah khusus tentang mobil. Mereka dua terlibat dalam pembicaraan yang serius.ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS8

Lalu Mr P tanya, apa keunggulan mobil dimaksud. Si H lalu jawab, mobil itu bersifat ‘green car’. Demi menanya lebih lanjut makna ‘green car’, Mr P bertanya, apa maksudnya. Apakah  itu sekedar warna atau apa? Lalu si H jawab bahwa mobil itu sangat ekologis, ramah lingkungan, demikian penjelasannya dalam bahasa Inggris yang sempat saya tangkap.ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS5Setelah pembicaraan cukup lama dan mendalam, anak itu keluar ruangan. Mr P dan saya saling bertatapan sambil geleng-geleng kepala. Mr P, mengatakan: “Ya Mr Robert, I understand now”.

Dalam hati, saya bilan,  sih bukan baru sekarang juga. Tahun lalu, ada kasus yang hampir mirip. Ada seorang siswa pindahan dari sekolah negeri dengan bahasa Inggris yang sngat minim. Dia tidak bisa berbicara, sementara Mr P hanya bisa kasih nilai kalau anak bisa berbicara karena mata pelajarannya memang tentang ‘conversation in english’.ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS6Tetapi saya bilang anak itu bahwa anak isu sangat suka nyanyi. Dia juga punya band dan katanya punya suara bagus. “Mengapa kamu tidak minta anak itu agar dipelajaramu dia nyanyikan sebuah lagu bahasa Inggris yang harus ia kuasai”. Anjuran itu pun diterima dan anak itu menyanyikan bahasa Inggris. Saya bilang kepada Mr P, tercapai kompetensinya. Kepada siswa kita perlu mencari apa yang ia mau, cara berbeda yang penting tujuannya tercapai.

Pesan Moral-Pedagogis.

Dari peristiwa berkesan hari ini, saya beberapa pesan moral penting bagi saya dan juga bagi para guru.

  1. Mengajar itu seperti memancing ikan. Agar kita bisa ‘dapat’ ikan, kita harus cari umpan yang disenangi ikan dan bukan yang disukai pemancing ikan. Mr P coba meminta si H berbicara tetapi ia berikan apa yang ia senangi dan bukan apa yang disenangi oleh si H. Dalam pelajaran mestinya demikian. Jangan cepat salahkan anak, termasuk ABK. Ia punya kekhususan yang harus kita sesuaikan dan kita perlu hindarkan memperlakukan semua anak sama saja.ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS8
  2. Ujian mestinya dapat dikerjakan dengan baik oleh siswa kalau soalnya dapat disesuaikan dengan anak. Untuk banyak anak yang ‘normal’ barangkali bisa satu soal, tetapi untuk ABK, bisa saja mereka tidak bisa menjawab dengan baik. Mereka lalu kita kategorikan ‘tidak mampu’. Padahal kalau dibuatkan soal khusus, ia akan bisa menjawab seperti teman lainnya (memang ini butuh korban). ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS7mengajar perlu bersabar mendampingi anak…
  3. Perlu mencari kekhususan anak. Setelah si H melewati ujian di depan saya dan di hadapan Mr P, saya bilang Mr P: “Siapa tahu si H ini kelak jadi tokoh terkemuka otomotif? Kalau sekarang kita bisa perhatikan dia, bisa saja kemudian ia bisa jadi orang. Saya katakan ini sekedar mengulang yang disampaikan kepada kami oleh seorang guru senior kemarin sore: Ia merasa tersentuh karena Jokowi mencium tangan para gurunya dulu dalam hari Guru. Siapa tahu, 20 tahun lagi ada anak kita yang undang kita ke istana….
  4. Setiap ABK punya kemampuan khusus dalam bidang pengetahuan. Mereka sungguh punya kekhususan. Yang mereka ‘kurang’ adalah dalam bidang ‘behaviour’, tingkah laku. Si H punya kemampuan luar biasa, hanya kerap ia harus diajarkan tentang tata cara dasar. Si H yang senagn membaca, harus berulang-ulang saya ingatkan untuk mengucapkan ‘terima kasih’ setelah membaca koran. Kerap saya suruh keluar ruangan dan masuk dengan mengetuk pintu. Kemudian ia harus minta izin sebelum membaca. Kemajuan itu sudah bagus dan memang tercapai selama ini.

Robert Bala, Sekolah Tunas Indonesia, Jumat 11 Desember 2015.

Advertisements