(2) TIDUR DI BANDARA SIGAPURA, JALAN KAKI MERLION-GARDEN BY THE BAY

(2) TIDUR DI BANDARA SIGAPURA, JALAN KAKI MERLION-GARDEN BY THE BAY

Perjalanan sebenarnya dimulai. Pak Kace, rekan kerja di STI telah siap pukul 17.00. Setelah makan sore yang bisa disebut sebagai makan malam, kami pun mulai berangkat dari rumah.

Perjalanan cukup lancar karena pas jam buka puasa. Tol Alam Sutera ke Karang Tengah sangat lancar. Hanya dalam sekejab, kami sudah ada di Bandara. Di Bandara pun Pak Kace dan ka Ines langsung pulang.20160624_071850

Bertiga langsung antrian untuk JetStar yang saat itu sebenarnya masih diperuntukkan bagi penerbangan pukul 20.00 (sementara giliran kami adalah pukul 21.30). Awalnya saya tanyakan bahwa proses check ini sudah dilakukan sebelum berangkat hanya tidak bisa print out. Setelah dijawab bahwa kalau tidak diprint maka harus dibuat manual lagi.20160623_231119[1]

Dari Check Ini, kami lalu ke Terminal D. Saat itu melihat bubur sumsum, Diego minta dibeli 2 kotak. Bagus juga karena dengan itu dia bisa punya kekuatan fisik untuk melewati perjalanan hari pertama di Singapura yang tentunya sangat melelahkan.

Menunggu tidak terlalu lama. Pada pukul 21.00, kami sudah boarding. Di dalam pesawat, Diego sangat gembira. Tetapi tidak terlalu lama, ia ingat akan kaka sepupunya, Ines yang masih di rumah. Diego menangis, tetapi setelah diberi pengartian, ia pun terdiam.

Diego pun perlahan mulai gembira. Lebih gembira lagi ketika landing. Dia berteriak beberapa kali sampai ditegur mamanya. Tetapi itulah kesenangan anak-anak. Dia mau ekspresikan kegembiraannya, kan tidak apa-apa.

Proses imigrasi selanjutnya lancar. Kami ada di Terminal 1. Sesuai bacaan dari para blooger, kita bisa tidur lebih enak di terminal 3. Makanya kami tersmabung dengan sky train. Petunjuk yang ada hanyalah Aviation Gallery, tempat di mana katanya ada tempat bisa tidur.

Tempat tersebut ditemukan tetapi di mana tempat yang nyaman untuk tidur? Karena susah dapat, kami akhirnya tidur di karpet lantai 2. Tidak aman juga soalnya petugas kebersihan sudah mulai bersihkan karpet. Diego pun tidak bisa tidur. Sesekali dia minta ke toilet.20160624_045928[1]

Saya pun cari tempat yang lebih baik lagi. Saya kembali ke lantai 3 dan luar biasa, saya dapatkan di depan PARADISE DYNASTY sebuah deretan kursi yang sangat empuk. Ada sepasang suami isteri yang berumur di atas 50 tahun lagi tidur. Ketika terbangun karena kami di situ, dia bertanya: “Are you from Cebu” (No, we are from Indonesia). Sesudah itu saya tahu bahwa ia orang Filipina tetapi temannya (mungkin suaminya) adalah orang Bule (bisa saja Belanda, tetapi saya tidak sempat konfirmasi lebih lanjut).20160624_002021[1]

Di tempat itu kami 6 orang tidur. Pasutri itu kemudian bangun lebih awal karena harus meneruskan perjalnana ke Cebu. Seorang bapak, chinese, juga bangun. Tinggal kami. Saya pun ambil laptop untuk bisa menulis sedikit, sementara melihat bagaimaan Diego tidur dengan pulasnya.

Tidur malam akhirnya pulas juga. Diego hampir lupa bangun. Pagi hari waktu dibangunkan, masih ingin terus tidur. Tetapi ketika disampaikan rencana perjalanan hari ini, ia pun bangun dengan segera.

Pukul 07.00, bertiga menuju MRT Changi. Awalnya harus beli tiket. Untung saja anak di bawah 6 tahun masih gratis. Karena itu hanya beli dua tiket, yang kalau tidak salah SD 5 dengan tujuan Changi sampai Raffles Place.20160624_014611[1]

Untuk pembelian tiket ini harusnya mesin otomatis. Tetapi di situ ada seorang ibu berseragam. Ia membantu para turis agar bisa mengganti dengan uang kecil. Bisa dipahami karena mesin otomatis tentu tidak bisa memberikan pengembalian.

Dengan tiket itu, kami segera ke MRT. Jangan cemas, di sini tujuan MRT hanya satu yakni ke Tanah Merah. Selanjutnya semua penumpang haru turun di Tanah Merah dan mengganti dengan tujua tujuan: Joo Koon dan Pasir Ris. Kami karena mau ke Merlion (bacanya Merlaion), maka ambil arah Joo Koon dan turun di Raffless Place.

Saat turun hujan turun. Wah kasihan. Diego mulai ngamuk memersalahkan memersalahkan hujan. Tetapi itulah anak kecil. Harus sabar mom… Saat keluar Raffles Place, jangan lupa ambil exit H. Sesuai informasi dari blog, harus turun di exit B, padahal itu keliru. Kami pun kembali mengikuti exit H sampai di sebuah hotel. Tadinya mau duduk-duduk saja, tetapi karena Diego mau minum susu coklat, maka kami beli segelas dengan harga SD 6. Kalau di Indonesia itu sekitar Rp 60.000, kemahalan tentunya. Tapi kalau libur jangan pikir dan hitung rupiah, nanti lama-lama tidak bisa makan.20160624_085048

Setelah menunggu agak lama, hujan yang gerimis tak tahu diri (maksudnya tidak mau berhenti), maka kami putuskan untuk jalan kaki saja di tengah gerimis. Hitung-hitung biar bisa menikmati udarah segar. Perjalanan melewati Cavanagh Bridge, terus ke jalan Espalanade. Saat itu hujan tidak besar tetapi lumayan.

Kami akhirnya berteduh di bawah jembatan. Bagi yang punya payung, dengan mudah bisa berjalan ke pinggir Merlion (dibaca Marlaion) patung Singa berbadan Duyung itu. Sementara itu kami nonton dari jembatan. Dari perbendaharaan, isteri saya mengambil makanan (ayam panggang) yang secara khusus dikemas sebagai makanan pagi itu.20160624_092157

Hujan akhirnya selesai dan kami dapat mengarah ke Merlion. Pemandangan sangat indah dan menyenangkan. Setelah beberapa foto diambil, kami pun berjalan kaki menyusuri Espalande, Gedung Pertunjukkan seperti Durian. Selanjutnya kami melewati jembatan Helix, melewati tempat pertunjukkan besar dengan posisi duduk seperti stadion sepak bola.20160624_095311

Perjalanan cukup melelahkan karena harus melewati jembatan tetapi termasuk indah juga. Melelahkan karena harus memikul tas dan kopor jinjing. Tetapi indah karena bisa berjalan-jalan tanpa beban (pikiran maksudnya). Awalnya kami menyusuri pinggir sungai, sampailah di Marina. Kami lalu naik ke tingkat di mana banyak bunga.20160624_095702

Di sana kami melihat kondisi sambil isteri saya yang luar biasa, membawa juga taperware untuk mengisi air di mana tertulis: air untuk minum. Dengan demikian tidak banyak anggaran yang dikeluarkan untuk membeli air minum. (Memang air di Singapura bisa di minum se mana saja, apalagi ada keterangan drinking water).

Setelah berpikir, kami akhirnya hanya konsentrasi ke Pohon alamiah, yang jadi sentral utama: Marina Super Tree. Kami tidak sempat masuk ke tempat bunga-bunga. Saya kira biasa dinikmati di mana saja (tentu di dalam lebih bagus). Yang jadi acuan adalah pohon raksasa. Awalnya kami hanya berdiri di bawa sambil mentapa ke atas. Tetapi Juga saat melihat harga 13 dollar, maka kami putuskan untuk naik (sudah jalan jauh-jauh haru dinikmati). Diego dan saya naik, sementara mama Diego karena takut ketinggian (juga karena hemat), ia hanya lihat dari bawah saja.20160624_115255

Setelah senang berfoto-foto, akhirnya kami lanjutkan mencari MRT Mont Bye yang tidak terlalu jauh. Kami sempat berjalan menyusuru Marina Bye, melihat bagaimana hotel dibuat dengan sangat indah dengan perahu ala Venezia. Saya puji orang Singapura. Beberapa tahun lalu daerah itu tentu saja masih menjadi laut. Tepatnya tahun 1960, tetapi kini beberapa kilometer itu sudah jadi bangunan megah. Semuanya lewat reklamasi (tentu saja dengan pasir dari Indonesia).20160624_113226

Dari MRT Marina ke Bugis ternyata hanyar3 perhentian. Dengan demikian tidak terasa sudah sampai. Saat tiba di Bugis, kami langsung mencari Terminal bis untuk ke Johor Bahru. Letaknya di dekat Gereja Katolik Lourdes, samping Auston. Kami berdoa sambil menunggu dua adik: Marni dan Ani. Ada kesulitan mencari alamat mereka karena harus gunakan HP Singapura. Kami coba hubungi gunakan nomor HP orang Singapura (penjual es krim) yang berbaik hati setelah kami beli es krim seharga 1,2 USD.

Setelah berdoa, menggunakan kesamaan iman (dan kepercayaan), kami minta bantuan seorang ibu yang baru selesai ikut misa. Melalui HPnya kami hubungi dua adik: Ani dan Marni. Ternyata adik Ani yang biasa kusapa luku Ani sudah berada di terminal. Kami pun langsung berjalan bersama, menikmati makan siang di McD. Tentu saja makan dengan lahap karena perjalanan pagi dan siang waktu itu sangat melelahkan. Apalagi harus pikul tas ke mana-mana.CHURCH OF OUR LADY OF LOURDES SINGAPORE

Pertemuan kemudian ditambahkan dengan kedatangan luku Marni. Kami ngobrol sedikit. Yang tdidak terlupakan dalam ngobrol adalah pengalaman mereka bekerja di Singapura. Sudah 24 tahun, waktu yang cukup lama. Anak yang dulu mereka asuh masih bayi, kini bahkan sudah selesai kuliah. Luar biasa.20160624_144334

Sesudahnya, berlima berjalan ke pasar di mana Diego dan sepupunya mendapatkan kiriman coklat dan lain-lain. Luar biasa hadiah yang diberikan untuk mereka berdua. Hadiah yang diperoleh Diego sangat membuat Diego berbunga-bunga. Terimakasih Kaka Ani dan Kaka Marni.20160624_150614

Catatan:
(1) Demi penghematan, jangan lupa membawa botol minum. Di Singapura, kita tidak perlu lagi membeli air, cukup dengan mengisi botol kosong.
(2) Jangan bawa barang terlalu banyak. Kalau bawa koper, bisa pakai yang beroda sehingga bisa ditarik ke mana-mana.
(3) Untuk tiket bus / MRT bisa diperhitungkan dengan berapa banyak tujuan. Kalau mau keliling sehari, bisa diberi tiket USD 10. Tetapi bila hanya beberapa tujuan, maka bisa membeli tiket per perjalanan.