PIUS KEDANG TOLOK, ‘TOKOH (KEPALA) BATU’

 

PIUS KEDANG TOLOK, “TOKOH (KEPALA) BATU”

Hari ini, 15 November 2015, saat bangun, kenangan saya melayang ke hampir 20 tahun silam. Saat-saat itu menjelang wafatnya ayah Pius Kedang Tolok. Sebuah kepergian yang tentu saja tidak diharapkan. Sudah 20 tahun, sebuah waktu yang tidak terlalu sedikit.

Lalu, apakah saya harus menulis sesuatu? Rasanya sulit. Sebagai anak, tentu saja gaya menulis dan melambung terasa menyombongkan diri (karena tentang ayah saya sendiri) Selain itu tentu saja tulisan itu tidak obyektif, disertai penilaian yang sangat subyektif.

Tetapi apakah saya tetap menjadikan peristiwa dan kenangan itu menjadi tidak tertulis? Apakah pengalaman seperti itu bukankah suatu hari kelak akan terus diingat oleh cucunya: Afri, Sefy, Essen, Ellen, Diego, dan Mario?PIUS KEDANG TOLOK

Atas dorongan ini, saya coba menulis tentang figur ini. Selain karena hari ini ada doa peringatan 20 tahun kematian ‘sang legendaris’ keluarga, tetapi terutama agar sedikit semangat yang ia miliki, paling kurang diketahui oleh cucu-cucunya.PIUS KEDANG TOLOK4Pius Kedang Tolok bersandar pada ‘batu’ yang jadi altar di Gereja Lerek. Di sini ‘sang tukang batu’, dapat inspirasi.

Untuk merangkum tulisan ini, saya melangkahi prinsip menulis. Biasanya sebuah judul ditentukan setelah sebuah tulisan selesai. Kini saya tetapkan sebuah judul mendahului semuanya: Pius Kedang, “Tokoh (Kepala) Batu”. Sebuah judul yang menunjuk pada pribadinya sebagai ‘tukang batu’ sekaligus ‘kepala desa’ dan perjuangannya sekeras batu.

Jadi Tukang

Di sela-sela map surat yang biasanya disusun begitu rapi oleh almarhum, saya temukan sebuah ijazah dari Ambacschool Larantuka. Saya temui sebuah ijazah. Saya masih ingat tertulis: ijazah sebagai tukang batu: Tukang Batu.20150712_103121

Yang masih saya ingat juga nilai. Kalau setiap ijazah pada umumnya, biasanya teori lebih tinggi di praktik. Seseorang bisa punya teori besar tentang pertukangan tetapi apakah ia mampu mewujudkan? Itu yang terjadi.

Tapi nilai yang saya temukan pada ijazah “Kepala Kedang” (demikian sapa orang Lerek karena hampir 30 tahun jadi Kepala Desa) justru praktik lebih tinggi dari teori. Kalau tidak salah praktik dapat “8” (delapan) dan teori “7” (tujuh). Dalam hati saya bilang, berarti dalam hal praktik, Pius Kedang ini boleh juga (bangga nich yech).

Dari ijazah itu dan kemudian dengan data tambahan, saya peroleh informasi, bersama dengannya, ‘anak-anak’ Paroki Lerek atas dukungan dari Pater Conrard Beeker, SVD, dikirim untuk belajar pertukangan di Larantuka. Dari Atawolo adaa G. Gego Wadan, Wua Labi, Nimo Gole, Kopo Huba dan Ratu Namang. Dari Watuwawer ada Baha Luga, Petrus Temai Ledjab. Dari Waiwejak ada Yohanes Lapit Namang.PIUS KEDANG TOLOK01

Alm Pius Kedang Tolok bersama putera bungsunya, Paskalis Kedang Tolok. Foto saat komuni pertama Paskalis.

Dari Lerek, selain Pius Kedang Tolok, ada Rofinus Raja Ari Tolok, Y. Kia Honi Tolok, Yohanes Pelea Lagan, dan Laba Wajin (catatan: tukang kayu dari Lerek yang saat itu masih sekolah di Larantuka, mereka juga yang membuat peti mati untuk alm Conrard Beeker, SVD yang dibunuh oleh anak asuhnya sendiri, Baha Luga).

?????????????

Anak cucu Pius Kedang Tolok dalam liburan Juli 2015

Tentang urusan tukang, saya tahu bagaimana kiprah lainnya. Mereka semua kemudian kembali ke kampung dan mulai membangun kampungnya. Di Lerek, saya tentu saja berkenalan langsung dengan bp Yohanes Pelea Lagan (tukang kayu) dan Pius Kedang Tolok (tukang bangunan atau yang biasa dikenal sebagai ‘tukang batu). Keduanya terus menjalin pertemanan dan selalu membantu (tanpa bayar). Bila ada bagunan kayu, PIKET (Pius Kedang Tolok) meminta YAPET (Yohanes Pelea Tolok) dan sebaliknya.

Dalam kaitan dengan kiprah di bagian bangunan fisik (menggunakan bata dan semen) ada pengalaman yang susah dilupakan. Saat setelah kembali ke kampung, PIKET tidak membuat usaha sendiri dengan membangun rumahnya. Ia langsung membentuk kelompok POL. Dengan kelompok itu, semua yang sebagai anggota dilatih untuk bisa secara gotong royong membangun rumah. Dia awali dengan mengerjakan rumah kakaknya, Lele Teka. Kemudian menyebar ke rumah lainnya.PIUS KEDANG TOLOK7

Proses dilakukan secara sangat sederhana. Semua anggota kelompok terlibat dalam mencetak bata, membakarnya, dan memiliki bahan baku sendiri. Kemudian baru ditambahkan dengan membeli semen. Pekerjaan itu tidak ada bayaran, hanya mengandalkan tenaga. Dalam waktu yang relatif singkat, cukup banyak orang memiliki ‘rumah batu’, sebuah kebanggaan untuk orang kampung.PIUS KEDANG TOLOK2

Gotong royong bangun rumah ini berlangsung cukup lama, hampir 20an tahun (tahun 1960- 1970an). Sebuah kerja sosial yang tidak ada bayaran. “Kepala Kedang” juga mungkin tidak pusing dengan keperluan uang karena semua orang tinggal di kampung, ada bahan bangunan, dan yang ia berikan hanya keterampilan membimbing orang. Barangkali baginya, berbagi pengetahuan itu lebih penting dari segalanya. Juga merupakan sebuah ucapan syukur karena pendidikan keterampilan di Larantuka tidak lain karena adanya bantuan dari para imam SVD, secara khusus P. Henricus Conrardus Beeker SVD.

Yang ada, barangkali hanya ‘balas jasa’. Setelah rumah dikerjakan, yang ia minta hanyalah bisa membantu di kebun. Itu sudah cukup. Mama saya pun mendukung karya sosial. Jarang atau hampir tidak saya dengar bahwa mama harus pergi ke rumah-rumah untuk tagih hutang. Hampir tidak saya dengar dan moga-moga memang tidak ada hal seperti itu.

Pemimpin Alamiah

Model memberdayakan dan membentuk kelompok seperti itu mungkin saja menarik untuk orang kampung. Yang mereka lihat, seorang anak yang baru selesai sekolah, mengumpulkan orang dan mulai memberdayakan mereka. Tidak juga disertai intensi memperkaya diri. Kelompok yang dibentuk itu pun punya loyalitas dan mendengarkan ‘sang tukang batu’.

Dari situ, barangkali terdeteksi bahwa Kedang bisa jadi “Kepala”. Jadilah, pada awal 70an, ia jadi Kepala Desa (tepatnya saya harus cek kembali). Sebagai Kepala Desa, sebenarnya tidak ada model kepemimpinan otoriter (meskipun kerap dia agak keras). Saat berbicara di depan Gereja, sesudah ibadah Minggu, suaranya kecil tetapi semua orang mendengarkan dengan baik.

Di depan Gereja pula Kepala Kedang kerap memberikan ‘konsientisasi’ alias penyadaran kepada umat tentang pikiran-pikiran baru. Ia mengajak orang kampung untuk menyekolahkan anaknya, jangan berhenti di situ saja. Dalam gaya Lerek, ia menasihati, yang kita ajarkan anak bukan hanya untuk “Pehe helapit”, alias pisau untuk irisi tuak. Anak tidak bisa diajarkan untuk sekedar mengiris tuak tetapi harus disekolahkan.DSC_0472

Juga anak perempuan jangan hanya diajarkan ‘knirek’ (motif tenun) dari mama. Anak harus disekolahkan, baik laki maupun perempuan. Mereka harus dikirim untuk belajar, pertama untuk masuk SMP Tanjung Kelapa Lerek yang sudah berdiri tahun 1965. Sesudahnya baru dipikirkan untuk kelanjutan. Tetapi sekolah ada di depan mata dan anak harus disekolahkan.

Hal lain, adalah penyadaran tentang cara hidup sehat. Saat menjadi kepala Desa, Kepala Kedang mulai dengan instalasi air minum. Proses pembuatan tidak melibatkan tukang ahli dari tempat lain. Ia justru pergi belajar sendiri dan kemudian dari pengetahuannya ia kembangkan dan jadilah air bisa dibagi ke RT. Sebuah bak penampung besar dibangun di mata air, tempat yang sangat keramat dan menakutkan. Di bawah pohon besar, hampir tidak ada orang yang berani untuk bisa melakukan sesuatu.

Namun dengan jiwa besar, Kedang menyadarkan umat bahwa kita harus bangun saluran air. Kita harus mengalahkan rasa takut. Takut itu ada dalam diri kita. (saya ingat saat membuat bak tersebut, pada tengah malam, tepatnya saat orang masih sibuk dengan pesta pernikahan bapak Guru Lado, Kepala Kedang pergi sendirian ke bak untuk cek keadaan bak). Jadilah sebuah proyek besar dibangun. Orang Lerek tidak ‘berdesak-desakan’ alias ‘uduk’ saat mengambil air. Kini, sudah semakin maju dengan pipa air.

Ini sebuah terobosan yang cukup besar. Semuanya dikerjakan sekali lagi secara cuma-cuma. Proses dilaksanakan dengan baik hingga akhirnya acara peresmian bak itu. Warga Lerek bisa makan daging kerbau, dibawa dari Atanila-Bobu. Sebuah proses peresmian yang sangat besar. Ada misa di atas bak dan sebuah pemandangan sangat menarik terjadi.

Kisah air itu bahkan tidak berhenti. Ia bahkan bekerja sama dengan Kepala Desa Atakore Watuwawer dan mengalirkan air sampai ke kampung tetangga. Ada perasaan terharu lihat kampung lain bisa menikmati air dari Lerek. Sayang, air itu tidak bertahan lama. Karena kekurangan air, agak lama tidak dialirkan lagi dan akhirnya pipa mubazir.

Dengan kelimpahan air di Lerek, tugas “Kepala Kedang” tidak selesai. Dari mimbar di depan Gereja, ia sadarkan orang Lerek untuk menggunakan air untuk ‘cebok’. Dengan Ia tunjuk ke masyarakat bagaimana cara ‘cebok’ setelah buang air besar. Kedengaran sedikit aneh, tetapi untuk orang kampung harus disampaikan dengan cara itu.PIUS KEDANG TOLOK3Saat menyampaikan hal itu, orang Lerek ada yang tertawa geli. Memang, terasa geli. Lebih lagi ketika “Kepala Kedang” bilang, stop gunakan ‘kupak’ (tongkol jagung) yang baisanya digunakan untuk membersihkan bokong. Gunakan tangan kiri, dan akan membersihkan lebih rapi bagian belakang. Inilah cara penyadaran yang bisa Kedang sampaikan ke masyarakat. Dengan berani ia sampaikan hal yang ia yakini benar adanya.

Terobosan lain berupa letak rumah-rumah. Pada dekade 70an, semua gudang alias ‘wetak’ masih disatukan dengan rumah. Kelihatan tidak rapi. Dalam rapat kampung kemudian ditetapkan agar semua ‘wetak’ dipindahkan ke kebun. Di kampung hanyalah rumah-rumah.

Tetang rumah, ada aturan. Ia berikan gambaran kalau saja ada kebakaran, pasti dari rumah yang satu akan cepat merambat ke rumah yang lain. (Konsep itu baru bahkan di Jakarta terutama di daerah padat penduduk masih tetap dilaksanakan). Atas kesadaran itu, ia membuat jalan antar tetangga. Rumah-rumah harus dipindahkan posisinya. Ada kontra atas hal ini, tetapi kemudian masyarakat baru sadar, memang penting adanya lorong antar rumah.

Setelah 20 tahun jadi Kepala Desa, masih saja ada ide kreatif. Saat itu sudah ada bantuan dari pemerintah. Tetapi bantuan itu kerap digunakan untuk keperluan konsumtif dan menjadi cepat habis.

Kenyataan itu membuat “Kepala Kedang” berpikir, bagaimana mengolah keuangan desa agar bisa menghasilkan sesuatu. Ia lalu punya ide membuat Kios Desa. Dana itu dibelanjakan oleh sekretaris desa dan selanjutnya ia bertugas menjual kembali. Keuntungan yang diperoleh digunakan untuk membangun desa. Semua anggaran pun dipertanggungjawabkan dengan baik (ayah saya menyimpan dengan rapi semua bukti pembelanjaan).

Ide yang cukup positif itu justeru jadi boomerang karena bahkan ia dijuluki makan uang rakyat alias korupsi. Isu itu bahkan sempat muncul di “Kupang Pos” yang ditulis oleh orang tanpa nama bahwa telah terjadi korupsi di Lerek. Mendengar itu, Kepala Kedang sangat ‘down’. Untuk pertama kali saya melihat ayah saya begitu merasa seakan apa yang sudah dibuat untuk kampung begitu mudah dinilai sebagai korupsi untuk kepentingan sendiri. Ia merasa apa yang dilakukan tetapi di belakang ada yang memprakarsai tulisan yang menyudutkan.

Memang kecurigaan itu sekilas bisa beralasan. Pada saat bersamaan, ia juga punya kios., Ada dugaan uang yang ada disalahgunakan. Tetapi untuk orang yang sudah berkarya 20 tahun untuk kampung, rasanya terlalu mudah untuk dilihat melakukan korupsi. Kekecewaan itu bisa benar, ia merasa sudah berjuang seperti ‘batu’, sekeras-kerasnya. Berbagai cara ditempuh hanya agar kampung halamannya menjadi lebih baik dari kemarin.20150627_152550Kondisi seperti itu antara lain telah melorotkan semangatnya. Ia kelihatan sangat kecewa dan penilaian itu karena baginya, sungguh bertentangan dengan apa yang ia hidupi dan lakukan. Hal itu juga kemudian tidak terbukti karena pertanggungjawaban lengkap dan tidak terjadi seperti yang dituliskan. Namun pada sisi lain, ia pun berpikir, bahwa saatnya kepemimpinan harus dialihkan, meskipun hal itu sulit diterima masyarakat.

“Banting Stir”

Pada akhir 70an dan awal dekade 80an, keadaan ekonomi keluarga cukup mendesak. Cara ‘kerja bakti’tanpa upah tampaknya tidak bisa dipertahankan. Lebih lagi karena dalam rumah, ada beberapa orang yang harus dibiayai sekolahnya.

Kalau tidak salah ada 6 orang. Satu saat itu kuliah Diploma di Kupang. 2 orang di SMA dan 1 orang di STM. Itu belum terhitung tiga adik lagi di kampung, dua lagi di SMP dan 1 SD (yang bontot). Semuanya butuh biaya.

Dengan mengharapkan karya sosial sebagai ‘kepala tukang’ tidak mungkin. Piket lalu ambil jalan menjadi pedagang. Ia mulai ke Maumere. Di sana sebulan sekali berbelanja, membeli barang kebutuhan dan kemudian dijual dengan harga yang terjangkau. (Saat yang sama, Kepala Kedang juga mengembangkan kios desa).

?????????????

Maria Gelole (Kedang), isteri alm Pius Kedang bersama cucu

Kondisi saat itu memang cukup sulit. Piket harus melawan hujan, angin dan ombak. Satu kali, pagi-pagi saat masih di Hokeng, ia datang membawa berita duka. Bapa hampir saja tenggelam dengan Kapal Motor dari Lewoleba – Larantuka. Untung saja saat itu, bapak mengikuti kapal lainnya yang tidak tenggelam. Kebetulan ada mayat di kapal itu dan begitu banyak orang yang pindah ke kapal yang tenggelam itu.

Kisah lain, daalam pelayaran Larantuka – Waibura atau Lebala. Arus sangat besar. Pius sudah melihat sebuah drum yang ada di dekatnya. Dia sudah pikir, kalau Kapal Motor itu benar tenggelam, ia akan memegang drum itu dan berusaha untuk selamat. Ternyata apa yang dipikirkan itu tidak terjadi. Kapal itu bisa mendarat (meski dengan susah payah).

Semuanya hanya dilaksanakan dengan tekad supaya bisa membiayai uang sekolah bagi anak dan adiknya. Ia berusaha dalam keterbatasan agar apa yang diimpikan itu bisa berhasil.

Tentang daya juang ini, banyak kali dalam proses penyadaran masyarakat ia mengatakan: “Mek mi gelegem bo ak ktue bi. Pikir apei yang bisa tite tule been” (Kalau tidur jangan terlalu nyenyak. Kita harus selalu berpikir akan apa yang akan dibuat besok). Ia ajarkan agar orang tidak menyerah pada nasib, harus berpikir untuk perbaikan.PIUS KEDANG TOLOK6

Saya selalu bayangkan, kalau saat itu ayah saya tidak ‘banting stir’ pasti kami semua tidak bisa apa-apa. Inilah kerja keras, kerja sekeras batu yang ia lakukan hanya agar semua beban keluarga dapat teratasi.

Tentang jualan, tidak ada rumus yang baku. Tetapi melaluinya saya peroleh pengetahuan. Kalau membeli barang per kodi atau lusin, maka kemudian harga dinaikan 1,2 dan hasilnya dibagi dalam harga eceran. Akhirnya harga itu tidak terlalu malah tetapi selalu ada kepastian bahwa ada keuntungan sedikit untuk kembali uang itu bisa diputar.

Untuk transport, bila kondisi tidak memungkinkan maka harus ditempuh dengan jalan kaki. Jaranya 45 Km jalan kaki, jarak yang tidak terlalu dekat. Harus berjalan seharian. Untuk menyiasati hal ini, Pius menulis harga pada barang-barang yang akan dibawa. Setiap orang akan mengukur ‘wereten’, apakah bisa memikul atau tidak dan mau berapa harganya. Setiap orang bisa memutuskan sesuai kemampuan.SPANDUK 50 TAHUN PENDIDIKAN LEREK copy

Memang tugas ‘papalele’ ini tidak gampang. Pada setiap hari Kamis, Pius dengan sepedanya dan sebauh tape recorder (yang gunakan 8 baterei) dan diiringi music gambus, ia perdengarkan sambil mendayung sepeda satu-satunya di paroki Lerek, ke Watuwawer. Di sana ia berjualan dengan gembira dengan harapan bahwa ada keuntungan yang bisa diperoleh untuk membiayai kami anak-anak.

Bagi kami sekeluarga, upaya ‘banting stir’ ini tentu saja sangat keras dan serius dilaksanakan oleh sang ayah. Tetapi hasilnya dirasakan. Kami semua anak-anak dan adiknya dapat sekolah sampai kuliah (minimal diploma). Itu bekal yang diberikan.

Mundur

Pada tahun 1987 (kalau tidak salah), Kepala Kedang memutuskan untuk mengundurkan diri. Sebuah keputusan yang tidak mudah diterima. Semua warga Lerek masih menginginkankepala desanya “Kedang”.

Saya ingat pernah dilasanakan Pemilu kepala desa. Ada dua calon dan masyarakat memberiakan batu kerikil. Saat penghitungan, ternyata lawan hanya punya ‘1’ kerikil. Diperkirakan, kerikil itu berasal dari Pius Kedang yang tidak mau agar dirinya jadi kepala desa. Tetapi semua masyarakat memilihnya.

Ia sudah berusaha agar beberapa orang bisa dikaderkan untuk bisa menggantinya. Pada pertengahan 70an, ia sudah kaderkan Bapak Gaspar Hare Gromang untuk menggantinya. Proses itu tidak terjadi karena kemudian isterinya (Ibu Nes harus pindah ke Lewoleba). Ia juga kaderkan Xander Henakin (yang sempat mengenyam pendidikan SMA). Kemudian sekretaris ibu Tuto Koli yang merupakan sekretaris wanita satu-satunya di Lembata. Baginya kaum perempuan perlu mendapatkan kesempatan yang sama. Proses kaderisasi itu tidak berjalan, kecuali pada akhirnya Kepala Kedang harus mundur dan memberi kesempatan kepada Lukas Boli Wathun (yang saat itu jadi sekretaris desa) untuk menggantikannya.EMAS LEREK 13

Selama masa ‘pensiun’ 5 tahunan, sampai wafat, karya sosial dan inovatif terus dilaksanakan. Ia rasa lebih punya waktu untuk luncurkan ide baru. Saya ingat, ayah saya sangat suka membaca. Dia mendalami bagaimana cara mengawinkan babi. Jadilah, di kampung ada begitu banyak orang yang meminta agar babinya dikawinkan. pada tahun 96, begitu banyak babi yang tersebar.

Baginya, meski sudah mundur tetapi ia selalu memberikan pikiran dan masukan agar desa bisa berkembang menjadi lebih baik. Ia juga selalu mendampingi kepala desa yang baru agar bisa meneruskan program yang sudah dibuatnya.

Pada sisi lain, setelah berhenti jadi kepala desa, ia terus melaksanakan fungsi sebagai pedagang. Kebetulan tuntutan sudah menjadi lebih ringan. Anak-anak ada yang sudah mulai bekerja, meski pekerjaannya belum terlalu baik. Paling kurang ia sudah bisa merasa puas atas apa yang ia sudah berikan.

Tentang model pendidikan dalam keluarga, saya selalu ingat nasihat ayah. Baginya, ia tidak tuntut nilai tinggi, yang penting ada peningkatan. Ia sudah senang kalau sebelumnya dapat 4 dan kini dapat 4,5. Sebaliknya ia akan marah kalau sebelumnya dapat nilai 8 dan kemudian dapat nilai 7. Yang perlu ia lihat adalah kemajuan.

Masih tentang dedikasi di masa pensiun, justru digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Saat itu Gereja Lerek dalam proses finishing. Atas permintaan P. Ben Atok, SVD, Tukang Kepala Kedang membantu memasang ubin dan altar dari Gereja di mana ia juga menjadi salah satu arsiteknya.  Kerja dilaksanakan dengan sangat telaten.

Sebagai tukang profesional, tentu saja ia harus dibayar. Ongkosnya, lumayan untuk anak dan istri. Tetapi saat menerima uang itu, di depan Gereja, ia kembalikan ke pastor. Yang saya ingat, dia sampaikan: kerja yang ada untuk pengabdian kepada Tuhan.n

Karena ‘Malor’
Pada bulan Oktober 1995, saat mengikuti pertemuan para bruder seINdonesia di Timor, dalam perjalanan pulang ke Ledalero, saya dapat kabar, ayah saya Pius Kedang jatuh dari atas pohon puor yang ada di sebelah bawah kintal rumah. Saat itu saya ada di Larantuka dalam perjalanan ke Ledalero.

Pater Alex Beding, rektor Biara Larantuka langsung menelepon Pater rektor Ledalero meminta izin agar saya bisa ke kampung menjenguk bapak saya yang tengah dirawat.

Di saat tiba, saya masih dapatkan benjolan di kepala yang ditutupi verban putih. Cukup serius. Luka itu lumayan sudah diobati oleh menteri Puskesmas Lerek, Aster. Tetapi setelah beberapa hari, kelihatan lehernya agak keram. Bapa Tue Laba Kwihal sebagai pemijat pun melaksanakan tugas demi mengurangi rasa sakit.

Karena keadaannya agak menurun, kami putuskan untuk segera membawa ke Lewoleba. Dalam perjalanan itu, kami sempat singgah di Puskesmas Watugolok yang punya dokter praktek. Kepada dokter kami minta surat rujukan untuk seterusnya dibawa ke RS Bukit.

Di Lewoleba, keadaannya menurun. Dari suster perawat (Ursulin), saya dengarn mereka bisik bahwa penyakit yang diderita bapak adalah ‘tetanus’. Luka akibat jatuh itu tidak dibersihkan dengan baik dank arena itu sudah berubah jadi tetanus. Sebaiknya disuntik antitenus.

Apa yang dipikirkan paras suster itu disampaikan kepada dokter praktek yang justeru punya pendapat lain. Tidak ada pengobatan yang memadai. Akhirnya kami putuskan untuk membawa bapak ke Lela. Kebetulan waktu itu ada dokter Aliandu di sana dan diharapkan bisa dapatkan pengobatan yang lebih baik.

Perjalanan pun dilakukan. Dari Lewoleba ke Larantuka selanjutnya ke Lela. Untung saja Ketua DPRD Flotim saat itu Bapak Petrus Lidun Lein BA sangat respons dan menyediakan kendaraan. Dari Larantuka segera dibawa ke Lela. Sampai di Maumera, bapak sempat minta agar singga sebentar di rumah om Blasi tapi saya keberatan., Bapa sempat marah. Mungkin saja dia mau pamitan.

Tiba di Lela, kami sibuk mengurus bapak. Kami lalu langsung ke rumah keluarga untuk mandi. Tanpa kami sadari, saat mandi, ternyata bapa dapat serangan kejang. Tidak ada bantuan yang cukup dan malam itu juga bapak meninggal. Kepergian yang terlalu mendadak. Saya sangat terpukul. Bagaimana bisa terjadi?

Yang menguatkan, di saat yang sangat sulit, justeru dapat bantuan yang sangat besar dari seminari Ledalero. Bantuan peti mati (gunakan peti mati yang saat itu disiapkan untuk seorang frater yang dalam keadaan gawat tetapi kemudian tidak meninggal seperti yang diperkirakan). Juga bisa mengantar ke Larantuka dengan Ambulance. Bantuan yang sangat luar biasa. Selanjutnya almarhum diantar ke Lewoleba. Tadinya hendak dibawa ke Lerek. Orang juga sudah menunggu untuk bisa ‘memikul’ hingga ke Lerek. Tetapi semua keluarga memutuskan untuk menguburkannya di Lamahora, di samping rumah adiknya, Andreas Bala Tolok.

Di sini Pius Kedang dimakamkan selama 17 tahun (1995-2012). 26 Juni 2012, makam Pius Kedang Tolok dipindahkan ke Lerek dalam sebuah acara yang cukup melibatkan banyak orang.

Kalau dirangkai, mengapa Kepala Kedang bisa meninggal dengan alasan yang sangat sederhana? Ia menebang pohon puor hanya agar bisa tumbuh ‘malor’ dengan baik. Dengan malor itu ia gunakan untuk dapat menyajikan kepada tamu. Dengan kata lain, Kedang meninggal bukan hal yang sangat serius.

Kisahnya memang sangat sederhana. Pius sedang memotong dahan ‘puor’. Dahan itu cukup besar. Ia perkirakan, kalau dahan itu jatuh, ia akan timpah pohon lainnya (kenunang) dan akan jatuh keduanya. Yang terjadi lain. Kenunang itu begitu kuat sehingga dahan puor itu terpelanting menimpa dirinya yang berada di atas pohon. Kedang jDatuh, ada luka besar di kepalanya meskipun tidak mendalam. Di sini Kedang jelas jatuh bukan karena ‘perang’ tetapi hanya karena ingin agar ‘malor’ yang ditanam itu bisa luas dan cepat tumbuh dan merangkai di pohon puor.

Mestinya Kedang tidak usah sibuk memotong dahan. Dahan itu hanya untuk ‘tumbuhnya malor’. Tetapi yang ada dalam pikiran “Kedang”, malor sangat penting. Ia bisa menjadi media dalam relasi dengan orang lain, yakni untuk ‘wajak atedikei’. Karena itu malor sangat penting. Kalau ia bisa korbankan nyawanya  hanya untuk membersihkan malor itu menunjukkan bahwa itulah kehidupan.

Seperti Batu
Kisah Pius Kedang Tolok adalah ‘kisah batu’. Pertama, ia adalah ‘tukang batu’dari pendidikan. Pendidikan ini telah mewarnai hidupnya dan menjadi sebuah sumbangan sangat berguna untuk kampung halaman.

Dengan latar belakang pendidikan ini ia merubah ‘batu’ jadi sebuah bangunan. Saya ingat saat membangun Gereja Lerek, di altar, ada sebuah batu. Batu itu akhirnya sulit diangkat. Oleh ‘sang kepala tukang’, batu itu kemudian dilukis jadi sebuah ‘batu sendi’. Di Lerek batu itu jadi pusat yang mestinya mengingatkan orang Lerek bahwa batu yang ‘dibuang’ bisa jadi batu sendi.20150712_173952Para cucu ‘ Pius Kedang Tolok’ (Essen, Ellen, Diego, dan Stella) bergambar di batu, penuh kenangan di Lerek “wat kdoro”

Kedua, perjuanganya adalah usaha kerja keras sekeras batu. Di tengah kondisi masyarakat yang sangat sulit, ia justeru membangun kesadaran bahwa kita bisa lakukan sesuatu. Ia mulai mengadakan konsientisasi alias penyadaran agar bisa bekerja sama (melalui kelompok Pol). Ia juga membangun kesadaran agar orang Lerek dapat bangga dengan kemampuan yang dimiliki. Keadan tidak boleh ditangisi, tetapi harus diubah jadi berkah. Batu harus dijadikan ‘roti’, kalau perlu dan memang hal itu terjadi.

Ketiga, Pius Kedang, bagi keluarga adalah ‘batu sentral’. Dengan posisi sebagai saudara laki-laki tertua, ia selalu berusaha mengayomi tidak saja adik-adiknya tetapi juga saudari perempuannya. Dengan keluarga, ia berusaha memersatukan semua. Peran itu tidak bisa tergantikan.SERTIFIKAT3Pius Kedang Tolok, antara 11 tokoh yang turut membangun pendidikan di SMP Lerek.

Bila ada adiknya yang punya masalah, ia tidak banyak bicara. Ia hanya kunjungi dan tidak lebih dari itu. Tidak banyak nasihat. Ia kadang mengambil jalan yang orang tidak sangka. Suatu saat, seorang adiknya punya kesulitan. Dia sebagai kakak, malah ambil jalan tak lazim, membawa pulang ‘anak’ dari saudarinya untuk pulang kampung. Ia mau supaya adiknya dapat berpikir dengan bebas dan akhirnya mendapatkan jalan kelaur dari masalah yang dihadapi.

Keempat, Pius Kedang adalah pribadi yang konsisten dan percaya diri. Ia yakin, apa yang diyakini akan terlaksana dan berbuat secara baik. Ia satukan kata dan perbuatan dan berusaha agar hal itu terwujud.

Rasa percaya diri dan semangat berkorban inilah yang membuatnya disegani. Namanya masih dikenang sebagai ‘orang baik’. Minimal masih ada cerita. Sebagai anak, saya masih bangga memperkenalkan diri kepada orang dari generasi ayah saya dengan memeprkenalkan diri sebagai “Robert Kedang” (sapaan yang khas di mana seorang anak dipanggil dengan nama ayahnya). Kalau orang tidak kenal lagi, saya pun tidak sungkan pakai nama “anak Kepala Kedang”. Saya pikir dengan nama itu saya sangat terbantu dengan banyak hal.PIUS KEDANG TOLOK8

Kelima, Pius Kedang Tolok adalah tokoh yang kepala batu. Apa yang sudah diyakini sebagai sebuah kebenaran karena sudah didasarkan pada pemikiran yang matang, tidak mungkin membuatnya mundur. Keyakinannya begitu kuat dan bisa melawan pandangan umum.

Sebagai seorang arsitek tamatan ambacschool ia begitu memiliki keyakinan yang sangat kuat. Bebrapa kali ia pertontonkan bagaimana menebang pohon. Sebagaimana kebiasaan, kadang “Kedang’ bisa menebang pohon kelapa yang terletak di antara rumah-rumah. Sebagaimana kebiasaan di kampung, warga mengikat tali di ujung pohon dan bersama-sama menariknya agar pohon mengikuti kemauan para penarik.

Yang dilakukan Kedang tidak menggunakan tali apapun. Ia hanya melihat arah bayangan dari pohon. Dia menebang dengan santai dan yakin bahwa pohon itu akan jatuh di antara dua rumah. Terjadi seperti yang dipikirkan.

Pribadi yang kepala batu pun tercontohkan dengan membuat arah SMP Tanjung Kelapa. Orang merasa heran mengapa SMP mengarah ke hutan dan bukannya ke depan. Yang dipikirkan Kedang adalah kita tidak boleh membelakangi hutan. Selama itu anak-anak saat belajar malam takut. Sekarang kita justeur menghadapi hutan. Selain itu hutan bukan tempat membuang sampah.

Keenam, tidak berlebihan kalau saya menjuluki ayahku “Tokoh Batu”. Batu karena tukang batu tetapi juga ia bisa jadi tokoh. Kalau tidak bisa jadi tokoh di kampung (karena pasti saja ada yang lebih layak), tetapi minimal bagi keluarga dan bagi saya secara pribadi, ia adalah figur batu inspiratif. Selamat, tokohku, tokoh Batu, Pius Kedang Tolok.

Jakarta 16 November 2015.