SANJUNG BPJS, dan THE BEST AWAL BROS

AJAIB, SANJUNG BPJS, dan THE BEST AWAL BROS

Sebuah pengalaman menakjubkan dan barangkali juga mengharukan. Sejak Rabu 19 Juli 2017, pengalaman dengan PBJS terjadi. Sebuah ‘suprise’ karena barangkali seperti saya, bayak orang pun melihat dengan ‘mata sebelah’ BPJS.

Kisahnya berawal dari operasi katarak ibunda saya. Mama yang berumur 77 tahun, dengan penglihatan sudah kabur memang membuatnya sangat menderita. Ia mengelu, kerap ia tidak bisa melihat dengan jelas orang yang lewat di depan rumah dalam jarak 10 meter. Untung telinganya yang meski sudah berkurang, tetapi masih bisa membantu mengidentifikasi orang.

Cerita punya cerita, saat konsultasi dengan dokter, disampaikan bahwa harus dioperasi. Tetapi bagaimana bisa melaksanakannya di sebuah RS bergensi, Awal Bros yang dalam jajaran semua RS Awal Bros di Indonesia, merupakan RS terbaik?

Yang menakjubkan, derita katarak mama ternyata ketika dicek dokter, memiliki keterkaitan dengan gula darah yang menjadikannya berisko. Di sinilah mukjizat terjadi. Dengan identifikasi itu (maaf penyakit jelasnya saya tidak tahu), mama bisa melewati proses di UGD untuk cepat ditangani.

Dari UGD mukjizat terjadi. Meski mama berasal dari luar Jakarta, tetapi bisa dicover oleh BPJS dengan penjelasan, merupakan pasien dari UGD. Syukur kepada Allah. Proses penanganan yagn sangat ‘briliant’ dari dokter jaga dan perawat, dengan segera direkam jantung, dites darah, dirongseng, dan saya tidak tahu apalagi.

Dari sana diperoleh informasi bahwa operasi akan dilaksanakan pada hari berikutnya, Kamis 20 Juli 2017. Proses pun berjalan lancar, meskipun mama membayangkan bahwa tidak perlu opname. Kali ini terjadi, 2 malam, itupun semuanya dicover oleh BPJS.

Ada yang menarik lagi di RS ternama ini. Saat mulai operasi, dokter masih sangat ‘friendly’ menginformasikan bahwa tensi darahnya agak tinggi. Rupanya mama sedikit ‘stress’ menghadapi operasi. Operasi pun tertunda setengah jam. Setelahnya baru dilaksanakan operasi. Dokter mata yang sangat baik itupun masih memanggil saya dan menginformasikan bahwa operasi dapat dilaksanakan dengan sukses.

Saya menarik nafas legah. Minimal ketika berjalan keluar sambil menuruni lift menutu ke tempat parkir,saya masih membaca di lift: biaya operasi katarak dengan pelayanan prima adalah Rp 7.300.000. Tetapi kali ini berkat ada pada mama dan keluarga kami. Uang yang begitu banyak yang tentu tidak mudah didapatkan, ternyata balik menjadi hadiah dalam rupa operasi yang sudah dilaksanakan.

Serangan Jantung
Tepat seminggu setelah operasi mata, datang kabar tidak diingingkan. Kali ini melalui telepon, mama saya meriang. Ia sangat kesakitan. Tanya demi tanya tidak dijawab. Kemudian baru terjelaskan, mama mengalami serangan jantung. Serangan yang baru pertama kali dialami. Sangat sakit memang.

Dengan cepat dibawa ke Karang Tengah Medika. RS yang berlantai 4 atau lima. Sayang agak masuk ke dalam. Saya kesulitan mencari RS tersebut karena bahkan di pinggir jalan tidak ada plang menuliskan RS tersebut. Beberapa kali saya harus putar balik mencarinya, setelah dengan susah payah baru mendapatkannya.

Singkat cerita, RS itu kelihatan begitu sepih. Entah karena lagi pembangunan (kelihatan lagi penataan), atau alasan lain. Saya kurang tahu. Singkatnya, setelah tanya proses UGD yang telah dilewati menangani mama saya, sebuah berita yang membuat keluarga kami berpikir bahwa belum ada kerjasama dengan BPJS.

Dengan cepat kami putuskan agar kembali lagi ke RS Awal Bros. Setelah proses dilakukan (dengan membayar UGD yang tentu tidak sedikit), kami berangkat ke Awal Bros. Di sini kekaguman akan kegesitan paramedis kembali saya rasakan. Proses awal segera dilaksanakan.

Informasi sepintas, mama mengalami masalah di jantung koroner. Ancaman yang tentu sangat serius yang membuatnya mengerang rasa sakit. Penanganan segera disimpulkan perlu penangana intensif di HCU. Saya kagum, sampai sebegitu rapi dan bijaksana penanganan tersebut.

Saya bisa bayangkan kalau tanpa BPJS. Setelah menyerahkan semua dokumen di bagian administrasi, kami diinformasikan bahwa untuk sementara masih dicover PBJS. Luar biasa. Malam pertama yang tentu sangat lain (dibanding pengalaman minggu sebelumnya di kamar umum). Tetapi mama melewatinya dengan tenang dan sabar.

Syukur bahwa proses di HCU hanya 1,1/2 hari. Pada malam kedua, mama sudah diarahkan untuk pindah ke ruang rawat nginap. Tentu saja kami sangat gembira. Tetapi bagaimana bisa pindah? RS Awal Bros yang sangat top itu begitu banyak pasien. Semua tempat tidur lagi ‘full’. Tempat tidur kelas 3 yang jadi ‘langganan’ pasien BPJS lagi full.

Kepada petugas, kami sampaikan bahwa kalau boleh kami bersabar sambil berdoa kalau dalam waktu beberapa jam ke depan masih bisa dapat tempat tidur. Dan doa yang dipanjatkan di saat itu terjawab. Menjelang tengah malam, adik saya yang masih menjaga mama memberitahukan bahwa mama sudah pindah ke Kamar 318.3. Ah, luar biasa sekali lagi. Memang dalam hidup kita harus banyak sabar: buru-buru bakal buruk, biar lambat asal selamat.

Di ruang kelas 3, mama bisa melewati 2 malam. Malam pertama dijaga adik saya. Saya kebagian melayani mama pada malam kedua. Meski jantung mama belum mendapatkan tindakan dokter (karena penyumbatan itu sudah sangat banyak), tetapi proses pengobatan itu telah memberikan rasa kagum: Kagum pada ‘The Best Awal Bros’, kagum pada BPJS, kagum pada keluarga, kagum pada adik-adikku, kagum pada saudara-saudara.

Semoga mama bisa cepat sembuh. Proses penyembuhan total yang hanya bisa terjadi dengan berkat dan rahmat Tuhan. Amin

Advertisements