ZIARAH KE LEMBAH KARMEL CIKANYERE

Ziarah Lembah Karmel Cikanyere

Awalnya tidak ada rencana sama sekali untuk pergi ke tempat ziarah Lembah Karmel Cikanyere. Ia berada di luar agenda liburan Natal kali ini. Bisa saja karena menghemat anggaran, mengingat ada pengeluaran yang tidak sedikit pada akhir tahun ini.

Tetapi saat Pastor Laurens da Costa, SVD dan Pastor Felix Kosat, SVD berada di rumah pada Jumat, 27/12/13, untuk bercerita sambil juga memberkati mobil, mereka menyinggung rencana ke Cikanyere pada hari Minggu 29/12, saya pun merasa, barangkali inilah saat yang pas untuk mengisi libur.CIMG6942(Diego membantu P. Laurens da Costa, SVD, (disaksikan P. Felix Kosat, SVD menyiapkan air berkat untuk memberkati mobil)

Ya meski STNK resmi belum ada mengigat saat pemesanan pas akhir tahun dan tidak bisa mengejak time limit, tetapi plat sementara B 744 RFA yang berbekal sebuah ‘surat sakti’, dari Polda Metro Jaya bisa dibawa keluar kota, asalkan tidak sampai ke luar pulau, demikian kata sales, Firman yang menurut pengakuannya itulah mobil pertama hasil jualannya sebagai sales di Tunas Toyota.

Tetapi kepastian pergi ke tempat ziarah yang berada hampir 120 km dari Tangerang itu baru diambil setelah saya ‘ngebrowsing’ di internet untuk mengetahui letaknya secara pasti. Lebih lagi ketika adik saya, Paskalis (dan istri serta anaknya Mario) yang mestinya ikut karena dia sangat lincah membawa kendaraan dan juga pernah ke tempat itu membatalkan keikutsertaannya.

Rencana kilat pun dibuat termasuk mengundang kerabat, terutama keponakan untuk ikut serta. Setelah sepakat, akhirnya 8 orang (termasuk anak-anak) bisa ikut mengisi mobil Avanza G, silver.

Istri pun yang sangat gesit dalam merencanakan pengeluaran pun mulai memutar otak. Belanja kilat dilakukan yang diikuti dengan  masak. Memang dalam hal ini dia sangat cekatan. Beberapa ekor ayam, berikut nasi yang diletakkan di termos menjad, dan tidak lupa Pop Mie menjadi ‘senjata’ kami.  Wah, bisa dibayangkan kalau harus membeli makan di jalan. Apalagi anak-anak lagi ‘masa makan’. Bisa melampaui biaya bensin.

Untuk hal ini biasanya menjadi keahlian istri saya. Dia sudah tahu apa yang saya perlukan termasuk kalau lagi nyetir dan ngantuk, makanan kecil segera disiapkan. Diselingi percakapan yang kadang ‘diada-adain’ supaya saya tidak ngantuk.

Angka “Ajaib?”

Setelah menyiapkan segala yang perlu, pukul 04.08, dengan berbekal ‘satu Bapa Kami’ dan ’10 kali Salam Maria”, pemberangkatan pun dimulai dari Graha Raya Serpong. Perjalanan melewati Bintaro, dan masuk pintu tol Pondok Aren. Karena perjalanan sepi maka hanya 40 menit sudah berada di seberang Rambutan.

Setelah menunggu 15 menit kehadiran keponakan yang pagi-pagi buta harus diantar oleh ayahnya ke tempat itu (biar juga hemat anggaran dan waktu, bayangkan kalau harus ke Cipayung, pasti sangat terlambat ‘mendaki’). Pukul 05.00 pun perjalanan dilanjutkan.CIMG7056Rombongan “berdelapan”

Tol Jagorawi pagi itu cukup lancar. Meski volume kendaraan sudah agak banyak, tetapi kecepatan 100 km/jam tidak pernah berubah. (Ya itu kecepatan maksimal saya dalam berkendaraan, karena saya selalu ingat kisah tentang seseorang yang pernah kecelakaan mortal dengan mobil barunya, meskipun mobil itu baru diberkati oleh pastor. Ia mengelu kepada Tuhan dan mempertanyakan :”di mana Tuhan Kau berada saat saya kecelakaan padahal sudah diberkati mobil saya?”. Jawab Tuhan: “Saya ada di dalam mobilmu. Tetapi ketika kecepatanmu melebih 100 km/ per jam, saya keluar dari mobilmu.”

Suasana lengang pun masih terasa saartt keluar dari tol Jagorawi dan mulai ‘mendaki’. Dalam waktu yang relatif cepat, 1 jam (tepatnya pukul 06.32), kami sudah bisa menikmati udara segar di Rindu Alam puncak Bogor. Saya pun melihat spidometernya tertera angka yang sangat fantastis, jarak dari rumah ke Puncak Bogor, 100 km (pasnya sih 101.6km) Wah, angka ajaib, demikian saya informasikan ke para penumpang (yang kebanyakan anak-anak sehingga nyaris ada tanggapan tentang angka keramat itu.

Istirahat sejam pun tak terasa di zona paling tinggi, Rindu Alam. Waktu terasa sangat cepat, lebih lagi karena Diego, puteraku yang merengek minta dibelikan pedang mainan dan penutup muka ala satria Baja Hitam, belum lagi permainan burung plastik yang bisa ditarik sehingga sayapnya tergoyang membuat nyaris ada waktu yang disia-siakan.CIMG7000Diego, Prajurit dengan pedang…

Tidak lupa juga ‘tukang foto’ kilat yang begitu mendekati sambil membujuk membelikan foto hasil jepretannya. Tadinya saya agak acuh, tetapi ketika melihat hasil jepretannya yang jauh di atas hasil jepretan amatir saya, akhirnya dua lembar foto pun dibeli dengan harga Rp 40.000.

Tadinya ada rencana melihat perkebunan teh. Dalam bayangan saya, setiap orang yang menyetopkan kendaraannya bisa bebas menaiki tangga dan dapat menikmati udara di perkebunan teh di puncak itu. Tetapi saya kaget tertulis ‘seadanya’, biaya Rp 3.000. Wah, kog bisa? Saya lalu kalkulasi bila dikalikan 8. Akhirnya kami ‘turun’ dengan tenang kembali ke mobil dan siap melanjutkan perjalanan.CIMG7007(Gagal jalan-jalan ke Kebun Teh karena harga ‘tiket masuk’ Rp 3000)

Pukul 07.32, waktu yang pas untuk menuruni bukit melewati By Pass. Tidak lupan angka nol dipasang untuk menghitung jarak yang akan ditempuh hingga Lembah Karmel. Perjalanan menurun pun tidak banyak hambatan. Tidak lupa saya beritakan ke anak-anak, di samping kiri jalan nanti ada satu warung bertuliskan ‘Adonara’, sekedar mengingatkan bahwa pemiliknya bisa jadi orang Flores. Meski tidak singgah tetapi minimal mereka tahu, nama itu menunjukk pada orang Flores (Adonara) yang lagi cari hidup di situ.

Setelah 5 km menurun, sampailah di pertigaan. Petunjuk yang saya miliki tentang Lembah Karmel adalah mengikuti arah Taman Bunga Nusantara, yang kebetulan tiga tahun sebelumnya (Desember 2010, saat Diego puteraku baru berumur 6 bulan), saya pernah ke sana. Jalan ke Taman Bunga sebenarnya bisa lebih cepat ditempuh tetapi jalan berlubang masih saja ada seperti 3 tahun lalu). Langkah perlahan terpaksa diambil.

Mengingat misa di Lembah Karmel baru akan berlangsung pukul 09.30 maka langkah santai pun dilakukan. Setelah berhenti di pinggir sawah melihat para petani padi lagi memanen, sambil memperkenalkan kepada Diego tentang proses hidup padi hingga saya mengupas bijinya yang bisa jadi beras, kami pun sampai di Taman Bunga Nusantara.

Istirahat sebentar di depannya sekedar memberitahukan anak-anak tentang Taman Bunga yang sangat bagus itu. Kataku kepada mereka, Taman Bunga itu sangat bagus, menyamai Taman Bunga di Versailles, Paris, sambil isteriku  mennyakan biaya tiket per orang (kalau nanti bisa mampir). Biayanya Rp 30.000 per orang. Saya pikir angka itu ‘reasonable’ sesuai dengan bunga yang sangat variatif itu.CIMG7016

Taman Bunga Nusantara

Waktu di HPku menunjukkan pukul 08.30, dan perjalan pun dilanjutkan. Setelah memastikan bahwa untuk sampai ke Cikayere harus melewati Taman Bunga Nusantara dan mendapatkan kepastian tentang arahnya, perjalanan pun dilanjutkan. Perjalanan melewati sebuah jembatan yang lagi diperbaiki. Meski sempat menunggu ‘buka-tutup’ jalur (kayak Puncak ajah…), akhirnya perjalanan bisa dilanjutkan. Oh ya, bila harus ujian SIM, bisa-bisa tidak goal karena tidak bisa lurus mobil saya meluncur di atas balok.

Sekitar 3 km setelah Taman Bunga Nusantara, dan setelah melewati Mesjit Baru di pinggir kanan Jalan, terbaca petunjuk untuk belok kanan: Lembah Karmel. “Biaya” Rp 2000 perak pun diberikan kepada pengatur jalan yang kelihatan begitu ‘ramah’ menerima para peziarah. Juga karena saya membaca kisah perjalanan bahwa sebelum masuk ke Lembah Karmel harus membayar ‘pajak’ tak resmi seperti itu.

Ternyata keliru. Itu baru ‘pos pertama’. Setelah pertigaan, masih ada dua ‘pungutan liar’, berbekal ‘karcis warna kuning’. Ya, anggaplah itu ‘berkat’ untuk orang kampung yang bisa menikmati berkah dari ‘peziarah’ yang kebanyakan bermata sipit yang tentu tidak merasa dirugikan sama sekali dengan uang ribuan perak itu..CIMG7028Halaman Tengah Lembah Karmel

Akhirnya setelah pukul 08.50 kami pun tiba. Setelah mengambil ‘Kartu Parkir’ yang cukup modern dengan uang parkiran hanya berupa ‘sumbangan tak wajib’, kami pun memasuki tempat itu. Tempat parkir yang masih kosong pun segera ditemukan. Saya melirik spidometer sekali lagi. Tertulis angka cukup ajaib: 120.2 km. Wah luar biasa…., sambil saya menghitung. Dari rumah ke Puncak 100 km, dari Puncak ke Lembah Karmel 20 km. Angka yang pasti tidak mudah dilupakan.

“Diurapi”…..

Melewati zona yang cukup besar yang sangat terawat oleh Biara yang didirikan Rm Yohanes Indrakusumo, O’Carm / CSE itu, susana doa sudah terlihat. Untuk menambah persiapan pribadi, saya pun segera mencari ‘Toko Benda Rohani’ untuk mencarikan satu gambar kudus atau patung kecil untuk bisa ditempelkan di mobil. Wah, untung saja, sebuah gambar kecil pun didapat, pas pada saat tokoh hendak ditutup. Kata frater yang menjaga, toko harus ditutup karena misa segera akan dimulai.

Sesudahnya, saya langsung ajak rombongan untuk menuju ke tempat perayaan ekaristi. Dengan berbekal pengetahuan di internet tentang peta lokasi,  saya pun mengajak mereka melewati Gereja dan singgah sebentar menikmati air ‘wudhu’, air berkat di samping kiri, sebelumnya befoto ria di depan pohon Natal raksasa.CIMG7034

Penakian melewati Gereja menuju Aula Serba Guna pun dilanjutkan setelah befoto ria di depan patung Santa Teresa dari Avila yang juga mengambil gambar di depan patung Malaikat berwarna pink.

Dalam hati saya bilang, ini semua berkat jamahan tangan wanita… Gedung perayaan ekaristi pun berada di bagian paling tinggi, sebuah aula yang bisa menampung sekitar 500 orang atau lebih,  perkiraan saya. Pasalnya, dibangun bak sebuah ‘stadion’ atau thatre atau koloseum.  Semua orang akan bisa mengikuti perayaan karena posisinya yang melingkar.

Tadinya kami memilih tempat di bawah, tetapi karena harus membawa anak kecil, pilihan duduk di tempat yang lebih tinggi pun akhirnya jadi pilihan. Udaranya sangat segar untuk bisa melewati ekaristi, hingga Diego yang tadinya cukup merepotkan dengan minta bergantian tempat pun akhirnya tertidur lelap. Inilah yang terbaik agar bisa melewati perayaan misa itu dengan baik, pikir saya.CIMG7060

Sejenak saya mengamati suasana dalam aula. Ada para suster dan pastor yang mengisi tempat terdepan, duduk di atas satu karpet berukur setengah meteran dengan satu bangku kecil. Pemandangan sangat indah, kata saya, suasana biara pertapaan. Di pinggir panti imam, ada koor gabungan frater, suster, dan beberapa awam.Tadinya saya pikir ‘postulan’ biara, tetapi dari pakaiannya, bisa saja umat biasa.CIMG7048Berdoa untuk keluarga di hari Keluarga Kudus

Saya membayangkan suasana kontemplatif. Ya, ibarat pertapaan begitu. Tetapi saat memulai misa, yang diawali dengan lagu ‘puji-pujian’ yang terus dinyanyikan meski imam konselebran 6 orang sudah berarak masuk, saya mulai rasakan sesuatu yang berbeda. Apalagi disertai tepuk tangan dan bernyanyi ria, saya berbisik dalam hati, bayangan pertapaan itu menghilang.CIMG7047Qui bene cantat bis orat, siapa bernyanyi baik, berdoa dua kali

Ini tentu bukan biara pertapaan. Ini biara yang sudah ‘modern’, mengakomodasi kepentingan masyarakat ‘modern’, apalagi suasana modern juga sangat terlihat. Deretan lagu yang dengan mudah diikuti oleh semua umat karena syairnya selalu ditampilkan secara sangat jelas di depan, membuat suasana kaku tidak ikut bernanyi pun dengan mudah menghilang. Yang ada, ikut bertepuk tangan diselingi dengan gaya menari. Wah, bagus juga. Yang biasa menari pasti bisa menemukan tempat ekspresinya.

Suasana misa yang lain pun berlangsung cukup normal, meski di depan saya ada seorang anak ‘berkebutuhan khusus’, yang sesekali melakukan gerakan aneh. Saya juga memperhatikan dari belakang ekspresi oragn tuanya yang kelihatan cukup penat, tetapi dengan penuh gembira menghadapi anaknya.

Dalam hati saya memuji orang tua yang barangkali dengan tahu dan mau datang ke Lembah Karmel, tepat pada hari Minggu Keluarga Kudus. Mereka ingin membawakan duka mereka dan komitmen untuk terus membimbing dan mendampingi anaknya yang kelihatan sangat ganteng tetapi memiliki kebutuhan khusus.

Hal lain dalam misa, adalah pastor Konselebran Utama, seorang pastor muda (tadinya saya pikir Rm Yohanes akan memimpin perayaan ekaristi. Pastor pastor muda itu cukup meyakinkan, hanya saja beberapa kali salah ucap saat homili. Juga pada saat prefasi, ia melantumkan dengan nada yang tidak lazim, ekspresi kurang dipersiapkan. Mestinya tidak usaha paksa menyanyikan prefasi….

Hal lain tenatng homili yang secara umum bagus, meski sebagai pastor muda sebenarnya ia berani ‘menyentil’ cara hidup keluarga yang tidak sesuai nasihat Injil, karena memang hari Minggu pertama sesudah Natal adalah Pesta Keluarga Kudus. Ia menasihati para pasutri untuk saling mencintai dan mengasihi disertai dosis nasihat lainnya yang kelebihan. Itulah kecendrungan homili banyak pastor. Umat dianggap ‘awam’ yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan dan darinya harus ‘diajarkan’ bagaimana hidup kristiani yang baik.

Dari sedikit pengetahuan homiletik yang pernah saya pelajari, cara seperti itu sebenarnya keluar dari esensi homili yang sebenarnya. Homili dari kata ‘homilein’ adalah percakapan kekeluargaan. Mustahil dalam relasi kekeluargaan dan persaudaraan, ada yang hanya menasihati dan menganggap yang lainnya tidak punya apa-apa selain mendengarkan.

Suasana 2 jam perayaan ekaristi terasa sangat cepat. Semuanya berjalan seperti biasa, kecuali saat komuni, terutama mereka yang duduk di tribun, bukannya umat yang mendekati pemberi komuni tetapi justru prodiakonlah yang berjalan melewati dua baris. Ini cara yang bagus pikir saya. Paling kurang saya ingat model komuni saat saya masih kecil di kampung saya Lerek di Flores sana.CIMG7055Diego ikut berdoa… (latihan konsentrasi)

Saat misa selesai, ada pengumuman bagi umat yang ingin didoakan secara khusus. Saya pun mengajak keluarga untuk turun dan berlutut sambil menunggu berkat. Yang meminta didoakan tidak banyak sekitar 50an orang, tetapi dengan cepat pula karena yang membawakan doa dan berkat cukup banyak suster dan frater (biarawan).

Saya pun berbisik sendirian, biasanya dapat berkat dari pastor yang selama ini ‘menguasai’ semua berkat. Kini, ada suanaa lain, saya dapat berkat dan pengurapan dari para suster (dan frater).  Saya kira perubahan mendasar dimana kaum wanita lebih diberi peran dalam Gereja perlu diperhatikan. Eh, dengan Paus baru, harus ada terobosan, atau paling kurang saya sudah alami sebelum terobosan dari Paus Fransiskus.

Ada perasaan dan suasana lain. Puteraku yang masih berumur 3 tahun pun kelihatan cukup tenang saat dijamah suster. Dari mulut suster saya mendengar doa dengan kata-kata yang saya tidak mengerti (mungkin bahasa Ibrani atau bahasa Roh). Tetapi suster juga ‘menerjemahkan’ dengan mendoakan agar dia bertumbuh menjadi anak yang menghormati orang tua, sesuai tema misa Keluarga dan juga homili pastor.CIMG7052

Saya yang mendapatkan berkat sesudahnya secara pribadi merasakan sesuatu yang lain. Doa yang sangat ikhlas dan tulus membuat saya juga ikut terharu. Apalagi ada minyak di tangan suster yang dioleskan di dahi saya (biar lebih rajin ke Gereja lagi). Dalam hati saya hanya berdoa, semoga hidup baru di tahun baru dapat saya jalani bersama keluarga saya.

“Pulang”
Berada di Lembah Karmel, bak berada di Tabor. Setelah misa, kami pun segera mencari tempat istirahat. Agak grogi karena bekal yang dibawa akan ‘kesulitan’ mencari tempat makan. Tadinya mau minta di tempat makan umum, tetapi setelah mendapatkan informasi bahwa bisa membentangkan tikar di atas rumput, kami pun akhirnya memilih tempat yang baik, dekat mainan anak-anak.CIMG7065Bermain sesudah berdoa

Rencana membentangkan tikar yang sudah dibawa itu pun batal karena rumput sudah sangat tertata rapi sehingga tidak perlu lagi. Wah luar biasa. Makanan pun dapat disantap dengan santai, apalagi hidangan istriku itu selalu enak. Diego yang tidak terbiasa makan pun ikut melahapnya, bisa jadi karena sepupunya yang sangat ‘serius’ dengan makanan sehingga ia tertular.

Setelah makan dan istirahat dua jam-an, akhirnya pukul 15.00, kami meninggalkan tempat ziarah itu. Suasana pulang menjadi lebih tenang karena anak-anak yang sudah capeh dan tidak mendapatkan sesuatu yang baru di jalan, berbeda ketika datang tadi. Yang membuat mata mereka terbuka, ketika singgah di sebuah tempat sayuran. Saat istriku membeli sayur, kami melihat seorang penjual pisang yang lagi ‘menyemprot’ pisangnya dengan satu cairan.
Dengan saya mengambil gambar karena say atahu, dia menggunakan ‘zat’ aneh agar pisangnya cepat matang. Rasa muak pun muncul. Wah, jangan-jangan sayur-sayur pun disemprot seperti itu… Dasar penjual…. Hanya agar barang dagangannya laku, mereka menggunakan zat aneh seperti ituCIMG7079Penjual pisang memberi ‘zat’ khusus agar pisang bisa cepat masak… cara tak elok karena mendatangkan penyakit

Perjalanan pulang cukup lancar. Meski sempat ‘macet’ sebelum pertigaan menuju puncak, tetapi penantian hanya sebentar saja. Kami pun lancar menaiki lagi puncak dan kembali istirahat sebentar di Puncak. Tempatnya tidak jauh dari yang kami singgah sebelumnya. Tidak lama juga hujan, akhirnya kami numpang di sebuah warung kecil sambil rombongan disuguhi Pop Mie yang sudah disiapkan. Saya pun membayar tempat duduk itu dengan membeli beberapa potong jagung bakar….CIMG7086

Pukul 17.00, perjalanan menuruni puncak pun dilakukan. Kabut agak tebal, sehingga jarak pandang tidak lebih dari 5 meter. Untung saja jalur buka-tutup itu berfungsi sehingga nyaris ada kendala, meski di tengah jalan agak macet karena banyaknya volume kendaraan yang turun. Jangka waktu perjalanan pun meski ada ‘kemacetan’ kecil, tetapi umumnya lancar, dan bisa sampai di Cipayung, mengantar pulang rombongan.

Setelah menikmati pisang rebus dan istirahat hampir 2 jam, pukul 22.00, perjalanan dilanjutkan dan tiba di Graha Raya pukul 23.00. Wah, cukup capeh. Tapi hal aneh saya temukan lagi. Di spidometer tertulis angka ajaib: 250 km. Angka kebetulan. Pergi 120 km. Pulangkarena harus lewat di rumah keluarga,tercapai130 km. Total250 km. Angka fantastisyang tidakakan dilupakan: 100, 120, 250. Terimakasih…

Catatan Akhir: Lalu di manakah Pastor Laurens dan Pastor Felix? Karena tidak melihat mereka, saya pun menelepon. Ternyata pastor Felix setelah pulang dari rumah saya, sakit sehingga membatalkan ziarah ke Karmel. Tetapi tidak apa-apa Pater, kami menggantinya)

2 Responses to ZIARAH KE LEMBAH KARMEL CIKANYERE

  1. Kandidus Tolok says:

    Kisa perjalanan yg menyenang dengan Gerobak baru, semoga Tahun 2014 lebih sukses…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s