‘MARATON’ KOKER NIKO BEEKER DI LEMBATA

‘MARATHON’ KOKER NIKO BEEKER’

Setelah proses hukum selesai dengan lahirnya Yayasan “Koker Niko Beeker” pada 31 Oktober 2016, tugas yang sangat menentukan adalah konsolidasi dengan team di lapangan (baca: Lewoleba). Atas kesepakatan ini, maka dalam pertemuan panitia dianjurkan agar Ketua Yayasan harus turun ke Lewoleba.logo-koker02Logo Yayasan “Koker Niko Beeker”, karya Carel Use Bataona. Dua tangan simbol kerjasama (nilai persatuan). Burung merpati lambang Roh Kudus (kekuatan agama dan budaya). Sementara warna hijau adalah simbol kemakmuran / kewirausahaan. Ketiga simbol membentuk huruf “K” (Koker).

Di satu pihak hal ini menyenangkan. Minimal setelah 30 tahun lebih tidak pernah lagi Natalan di Kampung. Kini kesempatan yang sangat indah. “Kenangan Natal di dusun, yang sunyi”, itulah lagu yang akan menjadi kenyataan.

Saya juga bisa ketemu dengan ibunda dan sanak keluarga. Mama masih kuat, meski kondisi tidak setegar beberapa tahun lalu. Bisa ketemu dua saudari yang mengabdikan diri jadi guru (PNS) di Lembata. Bisa juga ketemu keponakan. Dan banyak lagi kenangan yang akan terjadi.

Tetapi itu bukan tanpa masalah. Rencananya saya akan pulang pada bulan Juni 2017 bersama keluarga. Itu berarti mestinya dana yang akan dikeluarkan kini (meskipun tiket dibayarkan oleh donatur / sponsor) bisa digunakan pada bulan Juni nanti. Orang tidak akan mau tahu siapa yang bayar tiket. Yang mereka tahu, ini orang Jakarta (apalagi dengan embel-embel ketua Yayasan hehehe) datang pasti dengan segala konsekuensinya (hehehe).

Jakarta – Lewoleba

Penerbangan dengan Batik Air pada dini hari Sabtu 17 Desember merupakan pengalaman indah. Dihantar isteri dan keponakan (bersama sopir Pa Kace). Di Bandara, saya langsung ketemu 2 orang anggota DPRD Lembata (Ferry Koban dan Ipi Bediona). Di situ maksud dan tujuan langsung dikemukakan.ferry-koban

Ferry Koban, anggota DPRD asal Lerek

Sambutan positif mulai terasa. Keduanya (terutama Ferry) memberikan beberapa usulan tentang orang yang harus ditemui di Lewoleba. Saya catat sambil berusaha mengyesuaikan agenda perjalanan. Saya juga dapat gambaran tentang Pak Yoakim Tange, mantan camat Atadei yang sangat giat memajukan olahraga di Atadei saat jadi camat (kebetulan ia jebolan olahraga).

Di Kupang, sambil menunggu penerbangan ke Lewoleba pukul 12.00, saya menyempatkan diri mengunjungi John Lengari dan Marlyn Baok, suami isteri. John, eks bruder SVD yang bekerja 20an tahun sebagai ekonomi di Ghana. Tentu saja bahasa inggrisnya sudah bagus. Lebih lagi kejujuran. Kejujuran merupakan nilai pertama yang kita tekanakn dalam Koker adalah kejujuran karena itu diharpakan bisa klop dengan persiapan.john-lengari

John Lengari, pernah berkarya di Ghana selama 20 tahun. Bisa jadi team di Lewoleba?

Oh ya, supaya saya bisa tinggalkan Bandara, tentu saja barang-barang tidak bisa dibawa semuanya. Saya harus titip di bandara. Tetapi maksud ini rupanya tidak akan mudah tercapai. Saya coba tawarkan dengan pihak Trans Nusa untuk ‘titip sebentar’ tetapi mereka berkeberatan. Saya lalu sempat ‘mutar-mutar’ (seperti Jessica di Café Olivier hehehe). Segera ada ide muncul. Di Bandara El Tari ada juga banyak ‘umat Allah’. Saya ingat pak Gaby Keraf. Beberapa saat kemudian beliau lewat dan atas instruksinya, saya titip tas di counter Taxi (saat ambil barang, saya kasih tip tetapi petugas tidak menerimanya). gaby-keraf

Gaby Keraf, Bagian Umum Bandara El Tari Kupang. Teman saat masih di Penfui dulu dan kini sudah berbeda. Atas pertemuan itu, Pak Gaby dapatkan sebuah buku: Homili yang Membumi, langsung dari penulis…

Marlyn sementara itu sudah pernah bekerja di SMK. Diharapkan ia bisa mendedikasikan waktu untuk bisa menata kesiswaan, konseling, dan sedikit kurikulum (Kebetulan S2 Pendidikan). Kepada Marlyn dan John tidak ada waktu untuk makan dan minum (meskipun ayam sudah diikat dan siap ‘dikorbankan). Saya bialng “Saya mau makan, karena memang lapar, tetapi saya rasa lebih baik kita bisa mengisi waktu yang ada untuk dapat beribncang-bincang karena ada hal yang lebih penting”.visi-misi-koker-niko-beeker1

5 (LIMA) NILAI YANG DIPERJUANGKAN DAN DIPERTARUHKAN DALAM KOKER NIKO BEEKER sebagai inspirasi dari pendiri.

Memang saat berangkat darumanya yang berada di ketinggian Penfui, saya lapar dan harus beli roti seharga Rp 15.000 (roti Boy). Tetapi paling penting adalah maksud dan tujuan kegidan tercapai.

Kepada saya, keduanya mengungkapkan antusiasme untuk membangun bersama. Mereka siap berangkat ke Lewoleba meski untuk pertama mereka harus ‘numpang’ di rumah orang. Pada bulan Agustus, baru mereka bisa menempati rumah mereka yang kini dikontrakkan.

Setelahnya saya segera ke Bandara. Pada pukul 12 harus berangkat ke Lewoleba. Cuaca lagi kurang bagus. Di pasawat terasa goncangan yagn sangat hebat. Tetapi syukurlah, kami akhirnya tiba dengan selamat.

Di Lewoleba, saya dijemput oleh adik Ipar, Mirus Namang. Kami segera meluncur ke rumah. Di sana istirahat, mandi, dan makan (yang tentu sudah disiapkan secara khususu) karena malama sudah harus lagi dengan pertemuan lanjutan.

Maraton Pertemuan dan Konsolidasi

Pada Sabtu 17 Desember, malam hari, langsung diadakan pertemuan konsolidasi. Pertemuan berlangsung di rumah Pak Yosef C Pati Lajar. Yang hadir dalam pertemuan kali ini tiga orang yakni: Bernardus Baha Lajar, Yosef C Pati Lajar, dan Marsel Lidun Tolok. Pertemuan kami untuk vahas visi dan misi. Agak malam, hadir pula Wilem Lojor (Pendiri dan Pembina) bersama pak Wis Nedabang. Pembicaraan mengarah kepada agenda yang akan dilaksanakan selama di Lewoleba.Beberapa agenda pentign adalah segera menghadap penjabat bupati dan mengdaakan pertemuan dengan para guru olahraga.koker-lewoleba2Peserta pertemuan perdana Sabtu 17 Desember:

Minggu, 18 Desember 2016 sedikit kurang enak pagi hari. Malamnya ada informasi tentang wafatnya Bapak Wua Labi Namang. Pagi itu saya harus segera melayat karena tengah menunggu informasi untuk dapat ketemu dengan Pak Penjabat Bupati, Sinun Petrus Manuk lalu pada malamnya ada pertemuan koordinasi dengan pemuka masyarakat di Lewoleba.visi-misi-koker-niko-beeker

Pertemuan yang dinantipun terjadi. Pada minggu pagi, segera diadakan pertemuan dengan Pak Piter. Kepada Penjabat dijelaskan tentang visi dan misi dan ia terkagum. Bukan saja pada visi dan misi tetapi pada persiapan yang sudah dilaksanakan terutama dengan kelengkapan administrasi. Ketika diminta untuk menandatangani persetujuan, Bupati menyerahkan sepenuhnya: “Ama atur saja suratnya dan saya tinggal ‘wegor’ (ungkapan tangan yang digoyang untuk menggoreng jagung).koker-lewoleba4Sinun Petrus Manuk, penjabat bupati Lembata. “SMK San Bernardino harus sudah jalan. Bulan Maret saya kembali ke Kupang dan akan mengawal izin pendirian”. Dokumen pertemuan Minggu 18 Desember 2016 pukul 10.00 pagi. 

Dari Pak Penjabat, kami singgah sebentar ke rumah kene Ande Bala Tolok di Lamahora. Dapat tuak segar pada pagi dan siang hari itu. Hitung-hitung bisa membuka kegiatan dengan semangat hari itu. Pertemuan terjadi sampai siang dan kemudian dengan bantuan mobil dari Ketua cabang Yayasan Koker Niko Beeker, kami ‘hijrah’ ke rumah Bapa Anton. Kebetulan hari itu bapa dan mama mertua pergi ke Atawolo.visi-misi-koker-niko-beeker2

Di rumah kene Anton beberapa topik dibicarakan. Terutama lagi mempersiapkan pertemuan sore hari bersama pemuka masyarakat Lewoleba. Kelihatan sangat positif sehingga dalam pertemuan nanti bisa menguasai suasana dengan baik. Tiba pada pertemuan yang sangat menentukan. Undangan yang disebarkan adalah 30 orang, tetapi yang hadir setengahnya. Ada perwakilan dari Kedang, Nagawutun, dan sebagian besar berasal dari Atadei tentunya.koker-lewoleba5Tokoh masyarakat Lembata hadir dalam pertemuan sosialisasi Yayasan KOKER NIKO BEEKER dan SMK San Bernardino. Minggu 18 Desember 2016 pukul 16.00 – 19.00

Masukan yang sangat penting dalam pertemuan tersebut adalah: Konsolidasi team cabang di Lewoleba dan dana yang dibutuhkan. Team di Lewoleba akan segera dilengkapi. Kepada team di Lewoleba diharapkan bahwa tidak melihat apakah masuk dalam anggota atau tidak.koker-lewoleba6Kontribusi adalah salah satu nilai yang ditonjolkan dalam Yayasan KOKER NIKO BEEKER. Kontribusi spontan dari Yayasan Koker Niko Beeker cabang Lembata. 

Penegasan ini berkaitan dengan dana. Semua menyadari bahwa dana 100 juta itu sangat minim untuk mengelola sebuah sekolah. Terus apa yang harus dilakukan? Kepada team di Lewoleba, Ketua Yayasan menegaskan bahwa ini adalah soal kesediaan. Akan diedarkan list dan setiap orang bisa secara bebas mengungkapkan kesediaan untuk menyumbang atau tidak. Kalau kita merasa bahwa hal itu positif, maka kita akan menyumbang dengan senang hati. Dan terjadilah. Saat itu terkumpul sedikit dana untuk mendukung kegiatan.

Pelatihan Guru dan Chris John

Pada hari Senin pagi, kegiatan workshop guru di SD Waikomo 1. Persiapan pagi itu cukup bagus. Pak Marsel Lidun Tolok, Pak Bernardus Baha Lajar, dan Pak Yohanes Bagur segera turun tangan mempersiapkan kegiatan dimaksud. Cukup positif kegiatan. Kepada 94 peserta dari 100 orang yang hadir tidak diberikan teknik menulis (barangkali seperti mereka harapkan). Tetapi yang diberikan adalah bagaimana membaca sebagai langkah strategis untuk dapat menulis sebuah karya ilmiah.koker-niko-beeker46Kegiatan setengah hari itu cukup menarik (kata orang). Masalah hanya di penandatanganan sertifikat oleh kepala Dinas. Setelah itu saya juga baru dapat masukan bahwa mesetinya disertai dengan nilai. Dalam nilai itu minimal diberikan sebuah nilai dengan 30an jam. Ke depan akan lebih diperhatikan lagi he…koker-lewoleba7koker-lewoleba10koker-lewoleba19

Selain itu, tidak lupa mengawali pertemuan, dijelaskan tentang ‘visi dan misi’ Yayasan Koker Niko Beeker. Kalau dihitung-hitung, inilah ‘hidden agenda’ yang menginspirasi pertemuan ini. Kepada para guru dijelaskan tentang 3 nilai penting yang harus dimiliki yakni budaya, kerjasama, dan kewirausahaan. tiga-pilar-koker

Setelah pertemuan segera meluncur ke rumah Pak Marsel Lidun Tolok (mantan guru saya di SMP Lerek). Kami makan siang. Saat makan rombongan Chris John lewat. Itu berarti semua proses malam hari itu akan menjadi catatan sejarah yang sanat penting.koker-lewoleba25

Ada catatan penting, saat menuju rumah Pak Marsel, saya sempat lewat Perpustakaan Daerah Lembata. Sempat melihat kondisi buku-buku dan ruangan yang ada. Juga sempat menanaykan buku-buku yang sudah dikirim ke Lembata (tetapi jawabannya belum tiba. Kebetulan dua minggu sebelum keberangkatan ke Lewoleba, Pater Yosef Tote Ofm dibantu Pak Thomas Ataladjar mengepak 350 buku untuk dapat dikirim ke perpustkaaan Lewoleba.

Seusai pertemuan dengan Pa Marsel dan Pak Bernardus terutama mengonsepkan launching SMK San Bernardino dengan meminta bupati menandatangani di atas ring referensi pendirian SMK, acara dilanjutkan dengan mengunjungi Wilem Lojor di hotel Rezeki.koker-lewoleba18

Chris John petinju juara dunia, menandatangani persetujuan pendirian SMK San Bernardino di Lewoleba, Senin 20 Desember 2016 pukul 20.00

Pertemuan sebentar untuk meminta rangkain kegiatan malam itu dan juga pengambilan spanduk yang akan ditempelkan di Lewoleba. Pendiri begitu menjaga Chris John sehingga agak sulit ditemui. Tetapi dengan insiatif, akhirnya diadakan pertemuan. Hal itu dialnjutkan malam itu. Bersama Pa Piter Cupertino kami kemudian pergi temui Chris John dan mengendari satu kendaraan (milik Pak Cupertino).koker-lewoleba17

Chris John yang tengah mendirikan Yayasan sendiri akan bekerjasama (MOU) dengan Yayasan Koker Niko Beeker.

Proses tinju malam itu cukup memuaskan. Acara partai awal cukup banyak (sehingga sedikit membosankan). Tetapi ketika sampai pada parti inti, yang diawali dengan launching sekolah, maka semuanya berjalan begitu menarik. Di atas ring, Bupati Sinun Petrus Manuk mengumumkan secara resmi berdirinya SMK San Berardino. Lebih lagi karena Ketua Yayasan menunduk dan punggungnya dijadikan ‘meja’ untuk menandatangani persetujuan pendirian SMK San Bernardino.koker-lewoleba24koker-lewoleba23

Di atas punggung ketua Yayasan, Sinun Petrus Manuk penjabat Bupati Lembata (disaksikan Chris John) menandatangani surat referensi pendirian SMK San Bernardino. Lewoleba 19 Desember 2016 pukul 10.00

Promosi yang diberikan oleh bupati juga merupakan nilai lain yang sangat penting. Pak Penjabat menghimbau kepada masyarakat agar dapat mendaftarkan anak-anaknya di SMK San Bernardino.

Guru Olahraga, Safari Politisi’ dan Pater Nicholas Strawn, SVD

Hari Selasa, kegiatan agak longgar. Ada beberapa rencana pertemuan penting. Awalnya direncanakan pertemuan dengan guru olahraga di kantor Pak Wis Nedabang. Pa Marsel mengira kantor Bidang Olahraga berada di Kantor Dinas PPO. Ternyata kantor tersebut berada di kantor lama.koker-lewoleba42

Pertemuan dengan perwakilan guru Olahraraga yang kini bertugas di berbagai sekolah di Lewoleba. Peran mereka sangat penting. Pertemuan di rumah Bapak Marsel Lidun Tolok (Selasa 20 Desember 2016)

Tetapi tidak ada masalah. Kantor Dinas PPO ternyat aberada di depan kantor Bupati. Dengan demikian Pa Marsel dan saya mampir sebentar meminta cap bupati Lembata untuk menshahkan tanda tangan yang sudah dibubuhkan pada malam hari di atas ring.koker-lewoleba22

KOKER NIKO BEEKER mencap sendiri surat yang sudah ditandatangani oleh Penjabat Bupati pada malam pegelaran tinju di Lewoleba.

Saat masih berada di halaman kantor bupati, saya sudah ditelpon Pa Thoamas Ola Langoday calon wakil bupati Lembata. Saudara saya Marosis Ali memberikannya nomor telepon dan beliau menghubungi saya. Pertemuan dengan pa Thomas pun berjalan cukup lancar karena saya temui di kantor pemenangan Sunday. Bertemu dengan Pak Thomas memang menarik karena ternyata beliau adalah pemain bola kaki PSK Kupang.koker-lewoleba30

Dr Thomas Ola Langoday, dosen UNWIRA Kupang. Kini juga calon wakil bupati Lembata dari Paket Sunday.

Pa Thomas yang adalah seorang doktor juga memberikan masukan dan dukungan terhadap SMK San Bernardino. Ada nilai penting yang saya ambil dari Pak Thomas bahwa kita bisa menjadikan olahraga sebagai sarana untuk mencapai sesuatu. Olahraga bukan tujuan tetapi hanyalah ‘jalan’. Beliau sebelumnya hampir saja ke Malaysia mencari dana untuk dapat kuliah karena dana yang dibutuhkan waktu itu tidak ada.

Tetapi berkat olahraga, ia bisa melanjutkan sekolah dengan mendapatkan banyak dispensasi. Melalui sharing ini, kita sadari bahwa olahragawan adalah orang-orang cerdas. Mereka biasanya lebih percaya diri karena selain cerdas, mereka mampu membumikan ide-ide mereka dalam kerja.vian-burin

Pertemuan dengan Vian Burin, mendapatkan masukan tentang pemahaman paket TITEN tentang Olahraga pada khususnya.

Dari Pa Thomas, saya menuju ke rumah Vian Burin. Pertemuan dengan Burin terjadi malam tinju. Kami sepakati bahwa bisa bertemu pada jam 11. Saat melewati jalan di Gua – Bluwa, saya berpapasan dengan saudara dan teman kelas saya Lukas Onak Narek. Kami dua langsung menuju ke rumah Vian. Motor saya ditinggalkan di rumah teman Lukas (eh, jangan sampai saya lupa helem di rumah Lukas Onak…).

Di rumahnya Vian, saya bertemu Pa Sintus Burin dan P. Mikel Peruhe, OFM. Saya memperoleh beberapa informasi tentang program yang dimiliki oleh Titen. Kelihatna ide mendirikan sekolah juga mendapatkan masukan yang sangat positif dan menguntungkan. Vian juga memiliki klub bola (meski sebagaimana saya tahu ia bukan seorang pemain bola yang hebat, paling-paling penjaga gawan).

Pertemuan lanjutan dari rumah Vian, saya diundang teman Lukas Onak Narek makan siang di rumahnya. Makan ‘ala kadarnya’ kata Lukas karena isterinya bertugas di Kedang (konsekuensi dari terlalu vocal sehingga isteri dipindahkan begitu jauh ke Kedang). Yang saya lihat, Lukas ternyata memiliki visi yang bagus dan konsisten dalam perjuangan. Dia seorang yang sangat komit. Dari melihat anak-anaknya, saya tahu bahwa Lukas benar-benar mendidik anaknya secara baik.

????????????????????????????????????

Ketika mau pulang, isterinya Lukas datang. Saya sempat ketemu sebentar. Saya pun makin lengkap mengetahui. Terutama ketika Lukas menyambuat isterinaya dengan ciuman hanagat, saya sadari bahwa Lukas adalah orang yang konsisten dengan tugas dan ia merupakan seorang figure yang bagus dan mengapa tidak harus diperhitungkan khususnya dalam bidang legislatif karena memiliki potensi yang saya kira perlu diperhitungkan.koker-lewoleba29

Pater Niko sangat antusias dengan Yayasan Koker Niko Beeker terutama nilai-nilai yang akan ditanamkan.

Pada sore hari, saya bersama Pak Cupertino mengunjungi Pater Niko. Pertemuan terjadi di RS Bukit Lewoleba. Pater Niko sangat antusias. Saya mengambil data-data dari keluarganya, Rosmarry dan menginformasikan tentang rencana menghubungi keluarga Pater Niko untuk menginformasikan bahwa nama Pater Niko akan diabadikan dalam sebuah Yayasan. Dengan demikian anggota keluarga dapat ambil bagian minimal untuk mengetahui Yayasan tersebut tetapi juga tidak tertutup kemungkinan untuk tuturt membnatu baik dalam pikiran maupun dana.

Dari Pater Niko, kami berdua mampir di rumah Om Simeon Raja Koban. Pertemuan itu sekaligus merancang pertemuan terakhir, Rabu malama sebagai evaluasi atas kegiatan selama ini. Pertemuan kekeluargaan terjadi, meski singkat tetapi benar-benar bermakna. Sementara itu kami juga akan berangkat menuju rumah Pak Marsel Lidun Tolok untuk bertemu guru olahraga.

Pada malam hari, karena siangnya tidak terjadi pertemuan dengan guru olahraga, maka saya mengirimkan SMS melalui Apron Wawin untuk mengumpulkan beberapa guru olahraga. Yang datang pada malam itu empat orang guru olahraga. Kepada mereka dijelaskan tentang visi dan misi serta keikutsertaan mereka dalam rencana besar ini. Mereka semua harus mengikuti fit and proper test dan menetapkan siapa yang akan menjadi guru olahraga. (Catatan: Para guru olahraga akan mengisi dafatar riwayat hidup mereka). Pertemuan seperti biasa setiap malam selalu berakhir tengah malam. Ada banyak agenda yang disampaikan. Semuanya selalu dalam catatan.koker-lewoleba42

Pada hari Rabu 20 Desember 2016, ada rencana bertemu dengan paket Victory (Victor Mado Wathun). Pada pagi hari saya menelepon Om Simeon Raja Koban untuk menyampaikan terimakasih karena telah menawarkan untuk menggunakan mobilnya. Saya mengambil mobil tersebut. Tetapi mereka berangkat ke Wulandoni. Untung saja pada jam 10 ada konfirmasi untuk dapat bertemu Paket Winners (Lukas Witak). Pertemuan dengan Pak Lukas juga menarik. Dia seorang birokrat sejati yang memahami dengan baik masalah birokrasi. Kepada Lukas saya menyampaikan apresiasi atas strategi politik yang menurut saya cukup baik untuk diperhitungkan.koker-lewoleba32

Dari Pak Lukas Witak yang rumahnya dekat Bandara Wunopito, saya mengambil waktu untuk sedikit refreshing. Saya hanya bawa motor karena mobil yang tadinya saya bawa kurang ‘sreg’ dalam remnya. Saya dnegan motor menuju ke Pada (cari parang untuk mama yang saya tidak dapatkan karena penjual parang hanya bisa datang pada setiap hari pasar, Senin). Selanjutnya saya ke rumah Ka Maksi dan Kaka Katarina. Kami berpapasan dengan sepupu saya, Pak Simon Nimo Koban.koker-lewoleba33

Setelah pulang (siang) saya masih sempat tidur siang. Setelahnya langsung ambil mobil jalan-jalan sore. Tetapi tidak begitu ‘sreg’ karena HP ada gangguan. Saya coba menyusuri pelabuhan Jeti tetapi Karena HP tidak berfungsi, saya sedikit membatalkan rencana mau jalan-jalan ke bukit Doa sore itu. Dari pelabuhan, saya menyurusi jalan mau ke Lamahora. Saya sempat singgah di sekolah SMK Stella Maris. Saya sempat mengambil gambar., Dari SMK Stela Maris saya mengetahui bahwa gedung yang ada adalah bantuan dari pemerintah. Sayangnya pengelolaan yang tidak biak sehingga sekolah itu sekarang tidak maksimal lagi. Murid sudah menurun drastis.koker-lewoleba34

SMK Kesehatan Stella Maris. Sempat jadi sekolah ‘favorit’ tetapi perlahan jumlah siswa menurun. Gedung yang ada sebagian merupakan bantuan pemerintah melalui program DAK. Kita bisa belajar dari ‘Stella Maris’

Dari Stella Maris saya meluncur ke Biara PRR Lamahora. Saya ngobrol dengan Suster Kepala Sekolah. Kepadanya saya berikan bahan workshop saya. Sekaligus saya menanyakan informasi tentang kemungkinan menggunakan gedung mereka untuk SMK San Bernardino. Informasi yang saya peroleh, gedung mereka pas.koker-lewoleba35

Dari susteran, saya meluncur ke rumah Kene Ande. Untung saja keduanya ada di rumah. Saya bertemu sebentar dan ngobrol. Saat itu hujan lebat sekali. Sementara itu tidak ada kontak lagi dengan siapapun. Tetapi karena sudah sepakat, maka saya meluncur ke rumah Om Simeon seperti yang sudah disepakati bersama.koker-lewoleba41

Pertemuan malam itu cukup panjang dan melelahkan. Kami mengevaluasi poin demi poin dan membicarakan secara baik. Intinya kami semua merasa puas dengan kunjungan kali ini. Ada beberapa hal yang perlu ditangani dan diperbaiki antara lain: pertemuan dengan guru olaraga, proses rekrutmen dan syarat-syarat yang harus diberikan, fit and proper test, serta kepengurusan di Lewoleba.koker-lewoleba43

Selain itu disepakati juga tentang pemajangan spanduk dan brosur yang harus segera dilakuakn (tanggal 10 Januari) dan usaha untuk promosi. Yang harus dilakuakan adlaah memaksimalkan promosi serta sekretariat yang disepakati akan dilakukan di rumahu Pak Marsel Lidun Tolok (kami harus meminta kesediaan Ibu Veronika Peni Bean) untuk membantu sekretariat dalam pendaftaran siswa baru.

Tetapi pertemuan malam itu bukan yang terahir. Ada seorang figur yang dari awal sangat diperhitungkan, tetapi oleh kesibukan, tidak bisa bertemu, Bapak Karel Kia Koban. Rupanya lewotana tidak mengizinkan agar saya kembali dengan tangan ‘hampa’. Dan sepertinya sudah diatur. Hari Kamis, dalam perjalanan Lewoleba – Lerek, saya meminta pak Sopir Tanjung Atadei, ama John untuk menempatkan saya bersampingan dengan beliau. Di situ perjalanan Lewoleba – Lerek selama 3 jam terasa hanya 3 menit oleh keasyikan berbincang dengan maki Karel Kia Koban.karel-koban

Tuhan ‘mengatur’ pertemuan dengan Bapak Karel Kia Koban dalam bis Tanjung Atadei Lewoleba ke Lerek, Kamis 21 Desember 2016.

Oh ya, selama di Lerek, nama Koker Niko Beeker ternyata sudah banyak didengar. Minimal sanak keluarga tahu maksud kedatangan saya kali ini. Kepada siapapun, pastor paroki, para guru, kenalan, umat, selalu disharingkan tentang Yayasan ini. Karena itu pula, pada malam terakhir di Lerek, Senin 26 Desember, saya mengajak para tokoh di rumah adat Lewoguna Tolok untuk ‘durut tuak’ meminta restu leluhur untuk kegiatan yang mahaluhur ini.koker-lewoleba38

Restu Lewotana untuk KOKER NIKO BEEKER, acara ‘durut tuak’ pada Senin 26 Desember 2016 pukul 19.00

Dana kiranya masih kurang. Dalam perjalanan pulang Lerek – Jakarta yang ditempuh hanya dalam 12 jam, peristiwa demi peristiwa terus terjadi. Dalam peneberbangan pulang Lewoleba – Kupang, kami sepesawat dengan Pak Yentji Sunur, Pak penjabat, Sinun Petrus Manuk, dan sejumlah anggota DPRD termasuk ama Ferry Koban. Tidak cukup itu. Ada juga dalam pesawat pak Wis Nedabang, Kabid Olahraga Dinas PPO Lembata. Apakah semuanya kebetulan? Hanya Tuhan dan lewotana yang bisa menjawabnya. koker-lewoleba40

(Catatan Robert Bala).