03. RAHASIA SEBUAH ORGANISASI

03. RAHASIA SEBUAH ORGANISASI
(Refleksi sehari Pasca Pemberian Izin Operasional)

Setelah proses penyerahan Izin Operasional SMA Keberbakatan Olahraga San Bernardino pada Kamis 8 Juni 2017, yang hemat saya SANGAT LUAR BIASA, ada beberapa hal yang mengusik kesadaran saya. Meski belum ada laporan tertulis, yang menarasikan secara detail selain foto yang berbicara, selalu ada hal yang hadir untuk direfleksikan.

Pertanyaan penting adalah: bagaimana organisasi kita yang disebut YAYASAN KOKER NIKO BEEKER dapat berlangsung langgeng, sukses, dan membawa dampak yang besar? Bagaimana kita semestinya membina hubungan yang ada menjadi lebih profesional?

Pertanyaan ini hadir karena kita tengah menghadirkan sebuah model kerjasama. Seorang anggota kita Bapak Vinsen Ola Koban yang menjadi pengamat sangat aktif di KOKER dan telah berkontribusi, mengungkapkan bahwa inilah model kerjasama baru dengan melibatkan kaum muda dengan pikiran yang luar biasa.

Benar ungkapan ini. Barangkali Yayasan satu-satunya di Lembata atau malah di NTT yang dibangun dari banyak orang malah sangat banyak orang. Biasanya sebuah Yayasan terdiri dari anggota keluarga atau orang terdekat. Yayasan KOKER adalah kumpulan orang (malah terlalu banyak orang) yang mau menyatukan visi dan misi bersama.

Kelompok Inti

Sebuah organisasi besar dengan anggota banyak sangat mudah jatuh kepada ‘anonimitas’. Ketika semakin besar, rasa memiliki itu semakin kecil. Dengan demikian rahasia sebuah kelompok terdapat pada ‘kelompok kecil’ yang menjadi jiwa atau motor penggerak.

Yayasan Koker, meskipun membuka diri kepada keanggotaan yang lebih luas, harus disadari memiliki kelompok inti adalah putera dan puteri paroki Lerek. Mereka bukan saja bersatu sekarang tetapi terseleksi dari beberapa kegiatan yang mendahuluinya.

Sebut saja ada beberapa kegiatan terakhir yang jadi benih hadirnya Koker kini. Kegiatan Emas martir Pater Beeker pada tahun 2006 atau sebelumnya Pancawindu martir Beeker pada tahun 1996, kemudian diperteguh dalam Emas Pater Niko Strawn SVD tahun 2012 dan terakhir kegaitan Emas SMP Lerek tahun 2015 serta pemberkatan Gereja Santu Paulus Atawolo tahun 2015 juga merupakan tonggak penting.

Dari proses ini terlahir atau terdata keikhlasan anggota yang bekerja secara tulus ikhlas. Mereka yang memiliki visi dan misi. Mereka yang berpikir ‘out of the box’, berpikir di luar kotak yang lazim digunakan. Dari sana, terbentuk sebuah kerjasama berdasarkan ‘nilai’ bukan berdasarkan ikatan keluarga. Inilah kekuatan kelompok kita.

Yang paling penting, dari proses perjalanan ini akhirnya kita temukan 3 prinsip yang menjadi dasar dari Yayasan KOKER NIKO BEEKER yakni nilai budaya (ikatan budaya dalam simbol Koker), nilai persatuan (dalam diri Pater Niko) dan nilai kewirausahaan dalam diri Pater Beeker, SVD. Ketiga nilai yang menjadi kekuatan. Dengan nilai budaya, kita terus menimbah kekuatan. Kita tidak bisa hidup jauh dari leluhur. ‘Durut tuak’, ‘amet (pori)-prate’, adalah simbol bahwa apa yang kita buat sekadarang adalah inspirasi yang diberikan oleh leluhur. Kita hanya menggali kebijaksanaan yang mereka tinggalkan dan meneruskannya kini.

Kita pun mewujukan apa yang dibuat oleh Pater Beeker. Sudah pada 5 tahun sebelum kemerdekaan dan 16 tahun setelah merdeka, atau tepatnya 21 tahun jadi Pastor paroki Lerek hingga dibunuh tahun 1956, ia secara intens menggerakan kewirausahaan dengan memberikan bekal pendidikan bagi putera dan puteri paroki Lerek. Pembangunan fisik yang kita alami kini di Paroki Lerek adalah buah dari Beeker.

Pikiran kreatif dan kewirausahaan inilah yang perlu kita hidupi dalam upaya memberikan bobot yang lebih baik kepada hidup kita. Kita harus lebih dari Beeker dengan merancang kegiatan yang lebih bermakna sesuai konteks kita. Pendirian SMA Keberbakatan Olahraga adalah contoh bahwa inilah satu lahan yang pada masa Beeker belum terpikir tetapi kini kita merancangnya menjadi lebih aktual.

Sementara persatuan menjadi hal yang kita hidupi dari Pater Beeker. Pater Niko selalu mengulang-ulang PKK, Pesatuan Konok Kerapung. Hal itu merujuk kepada persatuan ‘minum-minum’, tentu bukan untuk ‘mabuk-mabukan’, tetapi menjalin kedekatan. Pater Niko dengan sabar memberi nilai ini. Dengan bersatu kita bisa berbuat sesuatu. Tanpa persatuan, kita tidak akan berbuat apa-apa. Segala yang terjadi hingga kini di Yayasan Koker Niko Beeker lahir dari persatuan ini.

Kembali kepada kelompok ini, yang menyadari semua nilai di atas ‘HANYA ORANG-ORANG PAROKI LEREK’. Hanya kita yang bisa memaknai kelompok ini lebih jauh. Dengan demikian KOKER adalah ‘MILIK PUSAKA’ orang Paroki Lerek. Orang lain yang masuk hanya karena kita telah meyakini nilai yang sudah kita hidupi. Dengan demikian kita tidak bisa membandingkan diri kita dengan orang lain. Mereka yang partisipasinya ‘Senen – Kamis’, yang kurang aktif, khususnya dari luar paroki Lerek tidak bisa disamakan. Mereka masih ‘orang asing’, yang perlahan-lahan kita sadarkan berkat nilai yang sudah kita yakini.

Tentang nilai memiliki Yayasan KOKER NIKO BEEKER ini saya patut merasa bangga dengan apa yang dicontohkan oleh 2 orang (maaf saya menyebutnya, Bapak Cypri Atta Wator dan Bapak Yosef Dai Luon). Kalau dibandingkan dengan ‘kampung besar’, demikian orang Lerek, Watuwawer, Atawolo, Waiwejak, membanggakan diri, maka keduanya berasal dari kampung kecil yakni Lewokurang dan Bauraja (Bauraja sebelum bencana alam adalah kampung besar).

Rasa memiliki dari Pa Cypri Ata Wator memang luar biasa. Sampai kini, beliau merupakan anggota KOKER yang PALING AKTIF dalam KONTRIBUSI. Hal itu bukan karena dia kayak arena beliau seperti kita. Ke mana-mana masih dengan motor tuanya. Tetapi yang saya rekam, dia sudah punya RASA MEMILIKI YANG LUAR BIASA. Segala pekerjaannya sudah pakai ‘prosentasi’. Kalau adapat untung dari kerjanya, 5 – 10% sudah disisikan untuk KOKER. Hingga kini kalau saya tidak salah hitung, bersama proposal yang sudah dikumpulkan, sudah hampir 8 juta. Beliau selalu membuat kita yang lain malu karena kita justru memilikirkan harus menyumbang yang ‘besar-besar’, tungguh ‘BANYAK DULU’ baru beri. Cypri Ata Wator justru memberi dari kekurangan karena KOKER ADALAH MILIKnya.

Yosef Dai Luon, sejak beberapa tahun terakhir, harus pergi pulang Palembang. Di masa pensiun, seharusnya ‘duduk santai’, tetapi oleh kerja keras yang dikenal oleh atasan, ia masih dipekerjakan di masa tua. Tetapi jarak Palembang – Jakarta tidak jadi masalah karena KOKER sudah ada di hatinya. Kalau ke Jakarta dan ada pertemuan pasti dia hadir. Kalau tidak bisa karena ada di Palembang, ia akan menginformasikan. Terakhir kita terkejut malah ‘TEW PERIOTEHE’ dengan kontribusi melalui proposal sebesar Rp 50 juta. Semua itu tentu tidak terlepas dari kebaikan hati beliau.

Saya telepon untuk mengetahui rahasia kenapa pa Santo bisa menyumbang begitu banyak. Jawabannya: Pa Santo bilang ke pa Yos: “Saya yang harus berterimakasih kepada Pa Yos karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa berbagi”. Artinya, dia mau berbagi tetapi dia baru temukan bahwa dalam diri orang yang dedikatif, sederhana seperti bapak Yosef Dai Luon, dia menemukan alasan untuk berbagi.

Masih ada figure yang lebih banyak lagi. Tetapi saya hanya menyebut dua orang ini tanpa usaha melebih-lebihkan dan juga mengurangi peran yang lain. Saya hanya mau ungkapkan dan tonjolkan rasa memiliki. Mereka sukses menunjukkan apa yang semestinya harus kita buat dan dilaksanakan.

Memperluas

Praktik di atas menjadi inspirasi. Saya selalu membandingkan sebuah kesuksesan dengan WEI HENOREI’. Untuk bisa menyalurkan air, satu ujung harus tancap pada sumber mata air, sementara ujung yang satu bisa mendekatkan air pada pengguna. Supaya air dapat dinikmati maka ia harus TANCAP (terus) pada sumber mata air.

Hal ini kita samakan dengan nilai dan prinsip yang kita miliki: persatuan, budaya, dan kewirausahaan. Nilai juga pada rasa memiliki yang kita punya. Inilah sumber kekuatan kita. Inilah yang hanya bisa dimiliki oleh orang Paroki Lerek yang begabung dalam Yayasan KOKER NIKO BEEKER.

Kitalah yang jadi alasan mengapa KOKER INI HARUS HIDUP. Kita terus memberi nilai dan warna berbeda. Hal itu kita tunjukkan dalam dedikasi dan kerja keras kita. Nilai inilah yang menjadi penentu. Baru pada ‘ujung henorei’ kita bisa memberi makna pada orang lain. Baru pada ujung yang satunya kita dapat mengumpulkan dan mengundang orang lebih banyak lagi.

Sekali lagi, hal ini yang akan jadi rahasia dan pembeda dalam organisasi kita. Dengan demikian kita tidak bisa membanding-bandingkan diri kita dengan orang di luar kelompok kita. Ketika mereka tidak aktif, kita tidak menjadikan sebagai alasan untuk melepaskan diri dari mereka. Kita harus tetap memperlakukan mereka sebagai partner yang belu memiliki nilai sama seperti yang kita miliki.

Tetapi sebelum memperluas,saya ingin menekankan satu hal lagi sebagai penjelasan. Sebelum memperluas KOKER ke hal yang lebih luas, hal yang paling penting adalah memperkuat dari dalam. Memperkuat bisa dimaknai juga menjadi efisien dan profesional. Artinya, kelompok inti perlu mewujudkan kekuatan ini dalam ikatan kerja yang profesional.

Apa maksudnya? Dalam Koker kita perlu mewujudkan sebauh manajemen profesional, jauh dari ikatan-ikatan keluarga dan pertemanan. Sebagala sesuatu perlu kita lakukan dengan baik dengan standar yang tinggi. Dalam hal keuangan misalnya, kita selalu mau melibatkan para profesional untuk mengontrol kita. Banyak organsisasi sudah terbukti jatuh karena masalah keuangan. Karena itu sejak awal, KOKER mendasarkan prinsip kejujuran sebagai hal utama yang kita perjuangkan.

Dalam arti ini, maka baik Jakata maupun Lewoleba perlu kita kembangkan manejemen profesional. Manajemen profesional yang dimaksud kerap dimaksud tidak percaya orang. Sesuatu yang bisa saja keliru. Manajemen profesiona menghendaki sebauh rencana yang efisien. Uang KOKER bukan milik siapa-siapa, tetapi milik kita semua. Karena itu dengan profesionalisme, kita semua terlindungi dari godaan untuk menguntungkan diri sendiri.

Profesionalisme ini harus kita pegang karena menjadi unsur yang sangat penting. Kita punya media sosial seperti facebook dan Whatsup. Tetap media sosial ini adalah alat komunikasi yang membantu bukan ‘tujuan utama’. Kalau kita memiliki ide yang merubah semua sistem, maka perlu kita kemukakan dalam bentuk notulen rapat yang dikemukakan secara deteil apa yang dimaksud sehingga menghindarkan kita dari asumsi dan opini personal yang keliru. Hal ini selalu saya katakan: kalau ada ide yang bersifat substansial, dikemukakan dalam surat email dengan penjelasan. WA tidak mampu melakuakn itu. Dalam WA kita sampaikan, bahwa pikiran dan notulen sudah dikirim via email, mohon dibahas lebih lanjut. Tanpa email, kita tidak terikat untuk harus menjawabnya.

Hal-hal seperti ini menurut saya akan membantu kita. Kita perlu jauhkan diri dari perasaan individual dan menempatkan profesionalisme sebagai kebutuhan kita bersama. Inilah nilai-nilai yang hemat saya akan menjadi kekuatan Koker. Kembali lagi, nilai inilah yang saya temukan sehari setelah pemberian izin operasional. Hadirnya tokoh penting di sekretariat Koker adalah bukti bahwa kita sudah menunjukkan kekuatan kita. Kita punya potensi. Tetapi hal itu tidak bisa membuatkan kita puas diri. Kita perlu merefleksikan dan memperdalam dengan memberikan bobot baru sehingga ke depan Koker menjadi lebih kuat dan perkasa.

Selamat pagi, Salam Olahraga, Salam Koker. (Robert Bala).

Advertisements