04. APA YANG KAMU CARI DI KOKER?

Apa yang Kamu Cari di “Koker”

Hari ini, perjalanan menuju ‘Koker’ dimulai. Di Bandara, saya harus temui Ibu Bendahara, KTP, yang secara khusus menemui saya hanya untuk mengejar tanda tangan. Ia harus menunggu 2 jam hanya untuk bertemu 15an menit. Sebuah pengorbanan yang luar biasa. Hanya demi Koker, seorang perempuan harus menunggu dalam kesendirian.

Lalu saya tanya dia: Bo mo deri apei en…. Saya tanya begitu karena dua hari sebelumnya pergi pulang pasar Asemka untuk melengkapi ATK. Atau pertanyaan yang sama untuk pa Cypri Ata Wator yang beberapa hari sebelumnya harus mengurus peralatan olahraga. Atau pertanyaan yang sama bisa saya tujukan ke Bapa Wilem Lojor yang harus ‘menginap’ 2 malam di Kupang karena tidak bisa mendapatkan tiket pulang Jakarta setelah tiket pertama hangus gara-gara Susi Air batal berangkat dari Lewoleba.

Pertanyaan ini saya coba renungkan. Dalam penerbangan 2 jam Jakarta – Bali, saya coba merenungkan pertanyaan itu. Sambil menunggu, saya coba coret. Mungkin di atas awan (dekat dengan Tuhan karena kita anggap Dia ada di ‘ketinggian’, kita bisa cari pesan terdalam dari pertanyaan kita ini.

Mencari nama?

Orang selalu mengira bahwa ketika kita melakukan sesuatu adalah untuk mencari nama, sebuah asumsi yang kerap kita coba hindari. Tetapi memang kalau kita jujur, memang kita cari ‘nama’.

Tetapi apa yang dimaksud dengan ‘nama’? Apakah yang dimaksud adalah nama kita secara pribadi yang bisa membawa kita keuntungan secara pribadi? Kalau memang yang dicari kepentingan pribadi maka tentu sebuah kekeliruan.

Ciri orang yang mencari nama pribadi adalah selalu merasa terancam dengan kehadiran orang lain. Ia merasa bahagia ada ‘sendiri’ dalam kelompok terbatas. Sementara itu membuka dialog dan kerjasama dianggap sebagai sebuah ancaman terhadap kepetingan diri yang ingin dicapai.

Kalau dalam istilah kita, ia merasa terancam kalau ada tamu ke rumahnya saat minum tuak. Kehadiran orang lain akan mengurangi jatahnya. Tuak konok yang bisa dinikmati sendiri akan berkurang. Inilah nama pribadi yang ingin dicapai dan tentu saja tidak akan bertahan di Koker.

Yang kita cari memang adalah ‘nama’ tetapi bukan nama pribadi. Yang kita mau dapatkan di Koker adalah ‘nama baik bersama’. Itu berarti orang yang bergabung dalam Koker bukan orang-orang hebat, bukan orang superman penuh kekuatan, tetapi adalah kumpulan orang-orang ‘lemah’ dan ‘tak berdaya’.

Mereka yakin, hanya dalam kebersamaan, kelemahan diri secara pribadi dapat dikuatkan satu sama lain sehingga menjadi kekuatan. Mereka akan prihatin ketika semua orang bekerja sendiri-sendiri. Mereka malah menemukan kekuatan dalam kelemahan masing-masing. Ketika bersama, mereka menjadi kuat. Hal ini membuat saya ingat kata-kata Santu Paulus: “Ketika aku lemah, aku kuat” (2 Kor 12,10).

Contoh dari pengalaman ini terjadi saat-saat terakhir penuh kegentingan saat kita mendapatkan gedung SKO San Bernardino. Ketika kita berjalan ‘sendiri-sendiri’, maka apa yang kita mau capai itu tidak terwujud. Tetapi ketika kita semua ‘makat tu kniri ehak’ apa yang kita cari itu pun kita peroleh.

Mencari Masa Depan

Ada hal lain yang bisa saja menjadi alasan yang perlu kita cari dan dapatkan di KOKER. Kita mau mencari masa depan. Sebuah ungkapan yang terasa mengada-ada. Mengapa? Yang masa kini saja kita sulit dapat, mengapa harus repot-repot mencari yang masih jauh dan belum jelas?

Jawaban seperti ini benar adanya. Melihat sejarajh kita, terasa bahwa berpikir saja tentang masa depan merupakan hal yang belum terpikirkan. Kita hidup di daerah bencana alam. Atadei, orang yang selalu berdiri, karena setiap saat bisa datanng bencana alam. Kita harus siap. Hidup kita selalu diliputi ketakutan.

Karena itu, sejak dulu, kalaupun orang dari Paroki Lerek bisa bersekolah, sudah sebuah hal yang luar biasa. Kebanyakan waktu itu hanya dua profesi yang dikejar: Jadi guru (dengan bersekolah di SPG) dan ke seminari jadi pastor. Mengapa dua profesi ini? Karena bersifat ‘jangka pendek’. Yang guru merupakan profesi yang membuat orang cepat dapat pekerjaan. Yang jadi pastor juga jangka pendek. Kalau ada bencana lagi, maka melalui hidup membiara, kita bisa ‘diselamatkan’.

Saya ingat mama saya selalu mendengungkan itu. Kalau ada bencana alam maka profesi biarawan itu jaminan pasti masuk surga. Begitu saya diyakinkan. Yang mau saya sampaikan, dua profesi itu menjamin juga masa depan. Yang guru mendidik orang menyiapkan masa depan. Sementara jadi pastor membuat masa depan, masa sesudah mati itu tercapai.

Apa yang mau ingin saya sampaikan? Mendirikan Yayasan KOKER NIKO BEEKER merupakan sebuah terobosan. Kita mau hadir sebagai pendekar yang berpikir jauh ke depan. Kita tidak hanya berpikir jangka pendek tetapi lebih jauh. Kita mau bicara dan mempersiapkan masa depan. Di sini kita tidak saja bersekolah tetapi kita punya sekolah. Sebuah cara berpikir yang jauh ke depan.

Apa yang kita buat ini merupakan hal besar yang tidak bisa dicapai sendirian. Kita lalu menyatukan tangan bersama, tersimbolkan dalam logo kita. Ketika dua tangan bertemu, di situ Roh Kudus meneranginya. Kita ingat akan kata-kata Yesus: Di mana dua atau tiga orang berkumpul demi namaKu, di situ Aku hadir di tengah-tengah mereka (Mat 18,20).

Kata-kat dan pertanyaan yang jadi judul hari ini akan menjadi pertanyaan yang akan diajukan kepada kita masing-masing. Pertanyaan ini akan saya bawah khusus dalam kunjungan ke Lewoleba dan menjadi pertanyaan utama yang akan saya bawa dalam pertemuan dengan Yayasan Cabang, para calon guru, calon murid, calon orang tua murid.

Pertanyaan ini harus kita jawab pertama sebagai Yayasan. Sebuha pertanyaan yang harus kita jawab secara pribadi dan bersama, karena perlahan pertanyaan ini akan diajukan oleh orang lain: guru, orang tua, dan calon siswa kepada kita. Mereka mau melihat kesungguhan dari kita masing-masing, ketika mereka melihat contoh tentang kerjasama, kolaborasi, dan tentu saja kontribusi dari kita semua.

Dan yang penting, mereka akan melihat bukti nyata: Bu utu der kei bo nemoi. Mereka mau lihat bukti pengorbanan yang mencerminkan bahwa yang kita cari adalah nama baik bersama, masa depan bersama. Salam (Air Asia 15 Juni 2017).

Advertisements