06. KOKER, KITA BERGANDENGAN TANGAN

06. KOKER, KITA BERGANDENGAN TANGAN

Pada hari Kamis 15 Juni 2017, terjadi sesuatu yang saya anggap luar biasa. Hari itu, pembina dan pendiri KOKER, Bapak Wilem Lodjor tiba di Cengkareng (Soekarno Hatta) dari Kupang pada pukul 17.00.  Selama sehari harus ‘nginap’ di Kupang sambil menunggu pesawat berhubung penerbangan pertama yang seharusnya dilaksanakan pada Selasa 13 Juni tidak terjadi (sungguh benar cilaka 13).

Saat tiba, saya beranjak dari rumah ke Bandara. Kami tidak sempat ketemu, meski sehari sebelumnya sempat bicarakan kemungkinan itu. Selain liburan dan urusan pribadi hal mana terjadi dengan pa Wilem, saya pun melaksanakan liburan. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa KOKER menjadi urusan ‘sampingan’ yang sangat utama. Artinya, di pundak, ada tugas teramat besar untuk memulai sebuah karya besar mendirikan SKO San Bernardino.

‘Bergandengan tangan’

Kisah sederhana ini apakah mencerminkan apa yang terdapat dalam logo kita yakni BEKERJASAMA. Dua tangan saling berjabatan dan hadirnya Roh Kudus sebagai berkat. Ia juga menunjukkan bahwa tiap-tiap kita, dengan peran dan fungsi kita masing-masing, dengan kelebihan dan kekurangan kita masing-masing, bisa berkolaborasi untuk sebuah karya bersama.

Ada yang menyiapkan, ada yang mengeksekusi, ada yang membua pendekatan, ada yang menyelesaikan kalau ada masalah. Hal ini sangat inspiratif. Seminggu sebelumnya, dalam perjalanan yang tidak pernah dirancang oleh kita, pendiri WL sudah rencana untuk ke kampung. Acara keluarga di Waiwejak tidak pernah terpikir bahwa akan terjadi sesuai dengan rencana Kadis Pendidikan NTT meresmikian SKO SAN BERNARDINO.

Sama sekali tidak terpikir. Tetapi pesawat Susi Air sukses mengantar pak Wilem jam 8 sehingga pada pukul 09.00, bisa menerima langsung pendirian SKO SAN BERNARDINO. Siapa yang mendisain dan merencanakan semuanya? Apakah kita? Yang jelas, kita hanya melaksanakan apa yang Tuhan sudah rancang.

Di tengah kesibukan seperti itu, sehari setelah peresmian, apalagi dalam peristiwa itu Pak Sinun Petrus Manuk menanyakan apakah sudah gedung atau belum. Sebuah pertanyaan yang ‘tidak enak’ dijawab karena belum juga ada gedung. Usaha yang dilaksanakan sebelumnya seakan tidak berbuah.

Yang menarik, sebuah sekolah yang belum punya ‘sekolah’ (gedung), bisa diresmikan oleh seorang Kepada Dinas level Provinsi. Pertanyaan kita, siapa yang membuat agar semuanya itu terjadi? Apakah kita yang semuanya adalah orang kampung? Yang jelas, Tuhan punya rencana dan diberkati dan didukung oleh leluhur. Itu kata pasti yang kita semua tidak bisa sangkali.

Selanjutnya, tugas berat. Pendirian sekolah adalah karya spektakuler karena insiatornya bukan kita tetapi Tuhan sendiri. Kita ingat kata-kata Mazmur 127, 1 : “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya”. Kita sangat yakin bahwa Tuhan yang merencanakan semuanya.

Karena Tuhan yang memiliki rencana ini, maka kita semua hanyalah pekerja, pelaksana. Karena Tuhan yang menjadi perancangnya, maka segala apapun yang kita kerjakan hanya demi kemuliaanNya. Itu berarti, kita hanya alat. Ketika kita bekerjadalam kesatuan dan persatuan, dengan positive thinking, dengan usaha ikhlas dan jujur, maka semuanya mengarah dan mendukung bahwa ini karya Tuhan.

Kembali pada usaha dan kerjasa keras dalam peristiwa ini, semua target yang sangat penting adalah mengupayakan kolaborasi dan kerjasama semua pihak. Dan hal itu terjadi. Pada Senin 12 Juni, sebuah pertemuan bersama yang tidak dilaksanakan di mana-mana, tetapi langsung di lokasi yang akan menjadi tempat berdirinya SKO San Bernardino. Di sana kekuatan kita lebih diteguhkan: Ada Pa Karel Tue Ledjab, ada pak Wis Nedabang, ada pa Simeon, ada pa Marsel, dan pak Bernardus yang sejak lahirnya San Bernardino, ia lebih memilih jadi BERNARDINO.

Di sana sekali lagi menyadarkan kita semua, memang kita tidak bisa melakukan sesuatu sendiri-sendiri. Kita tidak bisa menjadikan KOKER sebagai milik kita pribadi. Pemilik KOKER adalah TUHAN dan LELUHUR. Karena itu yang mereka minta hanyalah agar tite OREHE TU, KENIRI EHAT. Kita memperjuangkan kesatuan dan persaudaraan, kejujuran, dan keikhlasan.

Kembali kepada peristiwa tibanya pa Wilem Lojor dan berangkatnya saya ke Lewoleba, sekali lagi jadi simbol teramat jelas. Ada satu yang tiba dari perjalanan dari Kampung dengan agenda ‘sampingan’ mengurus KOKER dan saya yang akan ke Lewoleba untuk urusan keluarga tetapi akan menjadikan waktu yang sangat berharga untuk mengurus KOKER.

Yang jadi pertanyaan, siapa yang merancang agar saya rencanakan perjalanan ke kampng pada Juni 2017? Rencana ini sudah saya pikirkan jauh sebelum Koker berdiri pada 31 Oktober 2017. Mengingat mama semakin tua (77 tahun), saya berpikir bahwa rencana libur keluarga yang biasanya 3 tahun sekali, bisa dipercepat. Lebih baik mendahului daripada harus menunggu. Juga rencana dari keluarga besar agar tahun 2020, baru semua anggota keluarga besar dari suku berkumpul. Tetapi sejak September, kami sekeluarga sudah merancang, liburan Juni 2017 harus pulang kampung.

Yang saya mau sharingkan, semuanya ini sudah dirancang. Mungkin karena alasan itu, pada Desember tahun 2016, saat diminta ke Lewoleba, saya agak keberatan. Pasalnya, saya masih akan pergi berlibur dengan keluarga pada Juni 2017. Karena itu saya tidak bisa pergi dengan ‘kekuatan sendiri’. Pada bulan Desember itu terjadi lagi sebuah peristiwa yang tidak pernah dirancang. Anggota Koker dengan senang hati membiayai kepergian saya saat itu. Saya sampaikan saat itu, saya masih ke Lembata pada bulan Juni 2017.

Kini di Juni 2017, saya dan kita bertanya, siapa yang merencanakan semuanya? Saya harus pergi karena urusan keluarga tetapi dengan agenda Koker. Sesuatu yang sepertinya sudah dirancang. Saya pergi dengan biaya sendiri (karena memang urusan keluarga), tetapi harus menghadapi sebuah tugas yang sangat mulia yakni menyiapkan SKO SAN BERNARDINO.

Ini semuanya tentu bukan karena saya dan bukan karena kita. Tuhan yang sudah merencanakan. Ini adalah karya Tuhan, leluhur, dan kita hanya pelaksananya. Kembali ke Koker dan perjalanan kali ini, dalam perannya, Pa Wilem Lodjor sudah menyiapkan jalan. Ia telah mempersatukan dan menyepakati bersama team Lewoleba gedung yang kita nanti-nantikan selama ini. Ia telah juga dalam waktu ‘menunggu 2 hari di Kupang’, harus bertemu juga dengan Ibu Marlyn Baok, yang sudah sejak awal, kita rekrut untuk membantu kita.Kini saya menyusul. Saya menyambung dan  melanjutkan apa yang sudah dimulai. Saya menerima estafet itu. Pak WL tiba Kamis 15 Juni dan sore itu juga saya berangkat. Sebuah simbol apakah itu? Tidak kalah penting. Di Bandara, Ibu Bendahara, Kristina Tere Pukay (yang biasa kita panggil KTP), harus tunggu 2 jam hanya karena mengejar tanda tangan (ini macam bos-bos yang dicari tanda tangan). Tetapi ini penting karena mengambil uang di Bank atas nama Yayasan, harus dengan tanda tangan dari 2 orang: Ketua dan Bendahara. Kalau hanya ada satu tanda tangan, Bank tidak akan keluarkan uang.

Sekali lagi simbol kerjasama dan persatuan dibuktikan. Kita tidak bisa sendirian. Jadi ketua sekalipun tanpa bendahara dan danggota, sebuah pekerjaan tidak akan berhasil dilaksanakan. Jadi bendahara dengan memegang uang, tetapi tidak ada anggota yang seluruh pemikirannya benar-benar fokus pada Koker, tidak mungkin ada uang yang masuk. Bendahara tanpa rasa memiliki begitu tinggi, seperti kita lihat dalam diri seorang bapak “Cypri Ata Wator” dan Pak Yosef Dai Luon, maka bendahara tidak akan punya dana. Sikap seperti itu, kerjasama dan rasa memiliki seperti ini yang harus terus kita hidupi.

Sekali lagi, KOKER ini akan hidup kalau kita bekerjasama. Kita kerjasama karena kita memang lemah. Kita semua ‘ekonomi lemah’ tetapi kalau kita kerjasama, kita jadi kuat. Kita ini dari kampung tetapi kalau kita kerjasama, sebuah pekerjaan besar dapat kitalaksanakan. Dan yang paling utama, kita semua ada di KOKER dengan peran kita masing-masing. Kita terpanggil untuk BERKONTRIBUSI, BERKOLABORASI, BERKORBAN, karena yang MERANCANG SEMUANYA ADALAH TUHAN DAN LEWOTANA, LELUHUR, DAN NENEK-MOYANG KITA. Semoga San Bernardino mendoakan kita. Ina ama, kam met mi nayenem no nenaw melalui KOKERNIKO BEEKER. Pater Beeker yang gesit dan pater Niko yang mempersatukan, kami semua ingin bekerjasama. Amin (Bali, 17 Juni 2017).