07. ANGGUR BARU, KANTONG BARU

07.  ANGGUR BARU, KANTONG BARU

Bulan Juli (tanggal 4), saat itu ada pertemuan di Lewoleba. Tidak sekedar pertemuan. Kita bertemu bersama P. Hendrik Mado, SDB yang secara khusus telah menjalin relasi dengan beberapa donatur luar negeri, termasuk Luar Negeri. Dari P. Endy (demikian panggilan), ada informasi bahwa Real Madrid ingin menjalin kerjasama dengan 2 sekolah di Indonesia. Satu sekolah sudah menangkap peluang yakni di Jawa Tengah, dan satu lagi sedang dicari (apakah SKO San Bernardino?)

Setelah cerita, terdapat peluang yang luar biasa. Bekerjasama dengan Real Madrid sebenarnya mudah. Salesian (kongregasi SDB) sudah terbiasa menjalin kerjasama di Amerika Selatan. Anak-anak dari sana bisa dikirim ke Real Madrid (anak miskin) untuk belajar. Kini peluang di depan mata. Apakah sekolah yang dimaksud adalah kita?

Ini adalah contoh bahwa ide besar menakjubkan ada di depan kita. Kita memenuhi semua kriteria (menurut saya). Kita dari daerah miskin, anak-anak kita potencial bisa lari, lompat, lempar. Mereka punya kemauan (tetapi tidak punya dana). Dari segi kemiskinan kita memenuhi kriteria ini. Kalau harus mejalin kerjasama dengan Madrid, mengapa tidak? Kalau kita kandas di bahasa Inggris, toh ada anggota Yayasan yang bisa bahasa Spanyol.

Singkatnya ide besar ini berada di depan mata. Tetapi pertanyaannya: sanggupkah kita menjadi tempat bagi terwujudnya ide besar ini? Sanggupkah kita berpikir besar, melampaui kotak (out of the box)? Bisa kita menjadi tempat besar jadi orang besar untuk ide besar? Ataukah ide besar itu terlalu besar bagi kita karena kita terlalu berpikir kecil?

Saya sangat yakin, ketika ide ini bisa hadir ke kita, hanya karena kita semua berpikir besar. Itu keyakinan kita. Ketika kita semua ‘berkolaborasi’, dengan segala kelebihan dan kekurangan kita, dengan segala kekayaan dan kemiskian kita, kita semua bersatu padu menguatkan satu sama lain.

Saya lalu teringat akan Sabda Tuhan tentang Anggur Baru dan kantong yang tua (Mat 9,17): ““Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru, dan dengan demikian, terpeliharalah kedua-duanya.”

. Ide membangun Yayasan Koker Niko Beeker dan SKO San Bernardino, adalah seperti anggur baru. Sebuah anggur yang tentu saja lebih menarik dari anggur yang sudah lama yang nyaris diminati orang. Anggur yang pasti membuat banyak orang ingin ‘mencicipinya’.

Tetapi apa artinya kalau ide baru ini ditempatkan pada kantong kulit yang lama?’. Apa artinya kalau ide luar biasa itu diletakkan pada orang-orang yang berpikiran kecil? Tentu saja tidak mungkin. Anggur baru kalau ditempatkan di tempayan lama, sudah tidak membuat orang berminat. Apa gunanaya anggur baru tetapi langsung jadi kotor karena tempayan kotor?

Kita sebagai anggota Koker tentu bukan tempayan-tempayan baru. Kita semua dengan latar belakang kita masing-masing lebih cocok adalah kumpulan ‘tempayan-tempayan lama’. Semua dengan masa laluyang berisi kekurangan kita masing-masing. Tetapi dalam kebersamaan, segala kekurangan itu akan terobati berkat tekad baik kita untuk secara pribadi dan bersama-sama membenahi diri. Kalau tidak sampai jadi kantong yang bersih sama sekali, mari kita jadi kantong yang bersih untuk ide-ide besar.

Pada proses ‘kolaborasi’ seperti ini, kita tidak akan terbebaskan dari perbedaan pendapat. Hal itu bisa terjadi karena kita ‘terlalu bersemangat’ sampai lupa hal-hal kecil. Tetapi ketika semuanya kita refleksikan lebih perlahan, kita sadari bahwa dalam proses tumbuh ini kita butuh ‘konflik’ yang terjadi bukan karean disengajakan, tetapi karena ada dalam proses menyatukan kita dari orang dengan berbagai latar belakang.

Saya masih ingat nasihat teman saya. Angin ribut itu dibutuhkan oleh setiap orang yang bermain laying-layang karena dengan itu ia bisa terbang tinggi. Ia syulkuri dan nantikan ‘angin ribut itu’. Kita pun kalau sedikit ‘ribut’ itu karena tanda bahwa ‘layang-layang kita sedang naik tinggi’. Mari kita semua bersatu patu, melepaskan ‘layang-layang kita’ (SKO San Bernardino) untuk bisa naik tinggi. Mari kita semua dengan hati yang tenang, melihat ke diri kita masing-masing dan secar bersama melihat peluang untuk narik tinggi. Selamat pagi, Semangat pagi, Selamat datang angin ribut menyambut kita yang akan mulai terbang tinggi. Inilah semangat baru, inilah penafsiran baru, inilah kantong baru (cara berpikir baru kita). Semangat Pagi. (Robert Bala).

Advertisements