08. INSPIRASI LITERASI LEMBATA

Inspirasi: Literasi Lembata

Dalam waktu yang sangat singkat, Lewoleba melakukan hal-hal besar. Sebut saja seminar guru dengan mendatangkan para profesor. Harapannya, agar para guru dapat ‘menulis’. Sebuah media bantuan yang tentu sangat berharga.

Tetapi hemat saya, gerakan literasi yang dilakukan kali ini juga tidak kalah penting. Malah mengapa tidak, bagi saya menjadi kegiatan yang jauh lebih penting dari kegiatan lainnya. Mengapa?

Kita tidak bisa mengajarkan orang untuk bisa menulis kalau dia tidak punya kebiasaan membaca. Kita tidak bisa mengharapkan kalau guru dapat ‘lompat pangkat’ dari IIIB ke IIIC dengan menulis kalau guru itu sendiri tidak punya budaya membaca.

Dalam arti ini, gerakan literasi kali ini hemat saya merupakan dasar. Ia menjadi pijakan pertama, membuat orang bisa bermimpi dan mimpinya jadi kenyataan. Maksudnya, kita bisa bermimpi jadi penulis kalau kita sendiri sudah punya pijakan dalam membaca.

Lalu apa artinya membaca bagi saya? Saya tidak memberikan jawaban yang muluk-muluk seperti “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Jawaban itu terlalu klasik. Barangkali juga terasa begitu tinggi sehingga ia tinggal sekadar slogan tetapi tidak dicapai.

Bagi saya, membaca adalah menyelami alam pikiran orang lain, memahami apa yang telah mereka buat. Sesungguhnya para penulis hebat telah merampungkan inti sari pengalamannya dalam sebuah buku. Ia telah merangkum semua pengalaman itu dalam buku.

Dengan demikian membaca adalah upaya untuk masuk dalam alam pikiran orang lain, mengetahui pengalaman dan perjuangannya. Dalam pemahaman ini, akan ditemukan bahwa ternyata apa yang sudah, sedang, dan bahkan akan dialami, sudah pernah dialami oleh orang lain.

Saya lalu bisa mengetahui bagaimana cara mereka untuk keluar dari kemelut. Bagaimana mereka memaknai perjuangannya. Atau pun kalau belum sampai pada sebuah jalan keluar, minimal saya diajak untuk bisa bersiap-siap, alias mengantisipasi apabila kemudian terjadi hal serupa. Saya bisa menyiapkan amunisi agar dapat mengatasi ketika tiba giliran saya.

Di sini saya mengartikan “membaca merupakan upaya agar saya tidak merasa sendirian”. Saya tidak merasa bahwa apa yang saya alami sekarang paling berat. Saya tidak akan merasa sendirian karena pengalaman kini adalah hal yang biasa dan sudah terjadi.

Tentu bukan berarti saya menyepelehkan. Tetapi saya bahkan berusaha memahami dengan lebih baik rangkaian pengalaman itu sebagai sebuah pembelajaran berharga.

Bisa Menulis

Lalu apa itu menulis? Apakah menulis juga gampang? Hemat saya ‘ya’. Menulis itu gampang kalau sudah diawali dengan membaca. Kalau sudah rajin membaca apalagi menjadikannya sebagai ‘habit’ maka hal itu akan menjadi mungkin malah mungkin sekali.

Di sini baru kita bicara tentang latihan menulis bagi guru. Di sinilah baru kita ‘coba-coba menulis di koran’. Saya katakan coba-coba karena proses ini tentu tidak sekali jadi. Artikel seseorang bisa diterima di koran setelah berkali-kali hal mana kerap membuat orang patah semangat.

Saya katakan ini karena menulis di koran memiliki proses seleksi yang sangat ketat. Semua hal sampai titik koma ditinjau semuanya. Seseorang tidak boleh ‘sembarangan’ menulis karena dalam artikel yang sekitar 800 kata atau 5000 karakter / huruf.

Setelah ‘berdarah-darah’ menulis, kita bisa melanjutkan langkah menulis buku. Saya menggambarkan hal ini bukan karena ada teori tetapi ini lahir dari pengalaman saya. Setelah sebuah periode menulis di koran, mulai dari koran lokal sampai koran nasional, saya kemudian berpindah ke menulis buku.

Di sini sebuah proses yang mengalir begitu saja. Dalam 4 bulan saya menulis 4 buku. Bahkan ada satu buku yang saya tulis dalam seminggu. Semuanya sudah tersimpan lama dan tinggal ‘dibongkar’ dan disusun kembali dalam sebuah buku. Itulah buku MENJADI FASILITATOR yang ditulis seperti air mengalir. Menulis hanya 7 hari dan jawaban dari Penerbit Kanisius pun cepat sekali. Hanya dalam hitungan 7 hari saya sudah dapat kabar dari penerbit: Siap cetak.

Proses mengalir seperti ini dapat saya nikmati kini karena berawal dari satu hal: membaca. Dalam arti ini saya mengapresiasi gerakan literasi di Lembata yang sekaligus menjadikan Lembata sebagai Kabupaten Literasi. Sebuah julukan yang tentu tidak mudah dicapai mengingat untuk bisa membaca, dibutuhkan buku. Dan kalau kita realistis, kenyataan Lembata masih jauh dari harapan.

Tetapi yang disaluti, niat baik yang dimulai dengan mendatangkan tokoh inspiratif seperti Najwa Sihab. Najwa, yang sangat runtut dan terukur kalau berbicara. Semua kata begitu dipersiapkan. Semuanya itu tentu sudah diawali dari kebiasaan membaca yang sudah dimiliki maupun kebiasaan yang diturunkan oleh keluarganya.

Singkatnya, salut untuk Lembata, salut untuk inspirator gerakan literasi Lembata. Kalian telah memulai sesuatu yang spektakuler. Semoga sukses. Viva Lembata.

Advertisements