02. POHON, BIARKAN TUMBUH BEBAS (JANGAN DITUTUP)

02. POHON, BIARKAN TUMBUH BEBAS (JANGAN DITUTUP)

(Rabu 7 Juni 2017).

Di hari yang sangat penting dengan penyerahan Izin Operasional SEKOLAH KEBERBAKATAN OLAHRAGA (SKO) SAN BERNARDINO, saya harus bangun lebih cepat. Setelah berdoa dan menitipkan NOVENA SAN BERNARDINO, saya pun mulai berpikir, apa yang harus kita buat.Pertanyaan ini disertai juga dengan ke galauan: “bo eka ti tewa wekihi e take” (apakah kita mampu atau tidak).

Secara personal memang kita tidak mampu. Kita yang bergabung di KOKER bukan orang-orang berpunya. Kita adalah orang sederhana.Makan dan minum saja masih susah. Pekerjaan kita tidak sehebat orang lain. Kita hanya anggota SATPAM, guru, pegawai (dengan gaji pas-pasan), buruh serabutan. Tetapi akan menjadi kita kekuatan ketika kita BERSATU dan BEKERJASAMA.

“Hanya dalam kebersamaan kita bisa bertumbuh kuat”

Kita bersatu karena hanya itulah kekuatan kita. Kekuatan yang dibangun dari kelemahan. Saya iseng-iseng tanam kacang panjang dan kemarin dulu saya saksikan hal yang luar biasa. Ada dua anakan kacang yang sudah mulai tinggi tetapi belum ada penyokong.Yang dilakukan keduanya adalah ketika makin tinggi, terpaksa keduanya ‘saling berkaitan’ agar bisa kuat ke atas. Saya rasa itulah KOKER, ada dalam PERSATUAN. Ketika kita bersama kita kuat.

Nilai kedua adalah KERJASAMA. KOKER sudah kita mulai tetapi ia BUKAN MILIK KITA. Koker itu seperti ANAK PANAH (uor dan emet).Ia adalah milik kita, tetapi sekali kita membidik, maka anak panah itu akan pergi menjauh. Dengan demikian KOKER TIDAK BISA KITA GENGGAM sebagai milik kita. Ia harus kita ‘LEPAS’.

Apa artinya? Kita harus membuka ruang kerjasama yang lebih luas. Apa yang sudah kita mulai, harus kita buka dengan partisipasi lebih banyak orang lain. Itu sebuah hukum alam. Ibarat sebuah tanaman kecil, tidak bisa KITA TUTUP di bawah tempayan, hanya karena MENJAGANYA. Sebaliknya kita harus buka.

Hal itu sudah kita lakukan di Lewoleba dan Jakarta. Team kita di Lewoleba bukan saja orang Lerek, tetapi juga ada orang yang bukan dari Lerek.Ada pak Yoakim Nuba Baran, ada Pa Chorpus Lelawayang, dan pa Wis Nedabang, Kabad Olahraga pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaetn Lembata.

Di Jakarta, kita sudah meluaskan Koker. Ada anamakin Polce yang punya ikatan khusus, tetapi telah kita buka agar bisa masuk lebih banyak orang sebagai pendukung. Dalam waktu dekat pa Petrus Bala Pattyona. Pa Carel Use dari Lamalera sudah menjadi team sejak awal. Ada juga dosen UPH dan UMN, bapak Alex Apelaby juga sudauh berkomitmen ada bersama KOKER, dan masih banyak lagi.

Dan sudah terbukti bahwa ikatan itu lebih luas lagi. Hadirnya kontribusi uang yang cukup lumayan tentu bukan datang dari orang paroki Lerek, tetapi orang dari luar Paroki Lerek, orang Indonesia dan orang luar negeri. Kita harus membukanya karena dengan membuka, KOKER MENDAPATKAN kehidupan yang lebih baik.

Last but not least, kerasama model KOKER dalah sesuatu yang baru. Sebuah Yayasan yang bukan dari keluarga tetapi berusaha membangun satu keluarga. Dengan demikiand alam proses itu pasti ada salah paham, beda pendapat. Hal itu wajar saja. Yang penting harus kita bedakan mana yang merupakan beda pikiran dan beda orang. Artinya, saya bisa bisa beda pendapat dengan orang lain tetapi bukan berarti saya marah atau jengkel dengan orang itu. Dengan demikian mari kita ambil hikmah secara profesional dengen mengedepankan persatuan, kerjasama, keterbukaan, demi sesuatu yang lebih baik. Salam olahraga, SALAM KOKER. San Bernardino doakan kami. Amin