WARGA BRASIL SUMBANG SEKARUNG BOLA UNTUK SKO SAN BERNARDINO

Warga Brazil sumbang bola untuk SKO San Bernardino Lembata

Bertempat di aula Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) San Bernardino Lewoleba, P. Yoseph Mapang Pukay, SVD mewakili warga Amazon Brazil, pada hari Jumat 7 Juli, menyerahkan sekarung bola.

Yang diserahkan berupa: 6 bola kaki, 5 bola volley, 5 bola futsal, dan 2 bola basket. Semuanya diterima oleh Ketua Yayasan Koker Niko Beeker pusat, Robert Bala. Selanjutnya, Bala mengungkapkan terimakasih dan perhatian yang sangat besar dari warga Amazona Brazil atas dukunganya pada SKO San Bernardino.

Kepada guru SKO San Bernardino atau yang tenar disebut ‘SMARD’, Pater Yosef meneruskan pesan masyarakat Amazon, tempat di mana sudah 21 tahun ia berkarya sebagai misionaris. Mereka mengharapkan agar aura olahraga bisa ditularkan di Indonesia khususnya melalui SKO San Bernardino.

Pengelolaan profesional

Berkisah tentang animo olahraga di Brazil, putera Mulandoro kelahiran 19 Januari 1966 mengatakan, olahraga sangat berkembang karena adanya prakarsa dari swasta. Pada kondisi apapun, mereka sanggup menyulap sebuah lapangan kecil jadi tempat bermain bola.

Lebih dari itu, pastor tamatan Seminari Hokeng tahun 1987 mengatakan bahwa kemajuan olahraga sangat pesat karena semua pertandingan sangat terencana dengan jadwal yang ketat.

Pada sisi lain, sportivitas dan strategi menjadi hal lain yang sangat menentukan. Di Brazil, ketika ada kekalahan dalam pertandingan, ‘director tecnico’, atau pelatih akan segera diganti. Hal itu disebabkan pemikiran, kemenangan dalam olahraga akan ditentukan oleh strategi.

Atas pola pikir itu, pria yang ditahbiskan pada tahun 1995 memuji Yayasan Koker Niko Beeker sebagai penyelenggara yang telah menunjukkan profesionalisme di awal pendirian sekolah keberbakatan ini entah melalui pengurusan legalitas sekolah berupa izin operasional maupun penataan organisasi.

Pengakuan yang sama diungkapkan Ketua PGRI Lembata, Yoakim Nuba Baran. Banyak Yayasan, demikian Nuba Baran dikelola dalam lingkup keluarga dengan manajemen yang sangat tertutup. Dengan penataan organisasi seperti ini, Marlyn Baok, M.Pd, wakasek Kurikulum optimis, bibit olahraga dapat lahir dari tanah Lembata hal mana sejalan dengan visi sekolah: menjadi lembata profesional yang menghasiltkan Atlit, Berpretasi, Cerdas, Dijiwai Enterprenuership (ABCDE).

Wis Nedabang, koordinator olahraga yang sekaligus Kabid Olahraga pada Dinas PPO Lembata mengungkapkan kebanggaan bahwa Lembata menjadi tempat lahirnya SKO ke-15 Indonesia sekaligus SKO Swasta pertama di Indonesia.

Di tempat ini, lanjut Nedabang, SKO akan lebih fokus pada pengembangan atletik berupa lari, lompat, dan lempar. Dalam prosesnya, bakat dan minat anak akan lebih dikembangkan lagi entah dalam bola besar (bola kaki, volley, futsal), maupun bola kecil (pimpong, bádminton, takraw), dan juga bela diri (pencak silat, karate, kempo, tinju).

Selain itu, Marsel Lidun Tolok, selaku kepala sekolah menegaskan bahwa belajar dari kegagalan dari banyak atlit yang setelah pensiun jatuh miskin, di SKO San Bernardino sangat ditekankan kewirausahaan. Siswa perlu dilatih jadi pelaku olahraga, dapat merancang hidup jadi event organizar dan pengusaha yang bisa menata hidupnya sendiri.

Selain sumbangan dari warga Brasil, Yayasan Koker Niko Beeker juga menerima sumbangan bola dari warga Philipina. Melalui P. John Bala Tolok SVD yang berkarya di Philipina sejak 23 tahun yang lalu, diterima bola basket dan bola kaki.

Warga Philipina, demikian putera Lerek Lembata sangat antusias mengembangkan basket. Harapannya, semoga ke depan bisa lahir juga pemain basket profesional dari Lembatga. (Robert Bala, Lembata 7 Juli 2017)