Natal dan Profetisme Agama

NATAL DAN PROFETISME AGAMA

Bagian Pertama dari Dua Tulisan.

Batam Pos 23 Desember 2006

Natal, sebagai sebuah hari raya besar (sekaligus libur) bagi negeri ini, hadir lagi. Ada estafet perayaan keagamaan yang (seakan) menjadikan bangsa ini semakin religius. Lihat saja. Barusan sebulan ‘gema’ Lebaran begitu nampak. Kemudian diikuti perayaan galungan. Kini giliran Natal, dan kemudian bakal dijemput oleh Kuningan, sambil tidak melupakan Hari Raya Tahun Baru Cina.

Namun, muncul pertanyaan: mengapa irama kehidupan yang sangat ‘diwarnai’ oleh iklim religiusitas, tidak begitu merembes dalam kehidupan. Atau dalam bahasa Clifford Geetz, antropolog berkebangsaan AS yang barusan meninggal dan banyak melewati hidupnya dengan mengadakan penelitian di Indonesia, apakah gegap-gempita praktek keagamaan sekedar model untuk (model for) mengekspresikan secara lahiriah praktek ibadah ataukah semestinya lebih jauh menjadi model of realitas kehidupan keagamaan kita?

Bertanya demikian beralasan. KKN semakin menjadi-jadi. Rasa malu yang katanya sangat lekat dengan budaya ketimuran, tak jarang hanya dirasakan, ketika seseorang kedapatan. Selebihnya, masih ada rasa bangga, karena aksi yang begitu rapi, terutama dari golongan ‘kelas kakap’, sulit sekali terdeteksi. Hal itu belum terhitung semakin menggununggnya aneka tindakan kekerasan.

Dua dunia

Gejala diskrepansi antara praksis kehidupan beragama di satu pihak dan realitas hidup menjadi salah satu pertanyaan pada awal abad 20. Sosiolog Emil Durkheim melihat sebuah fenomen yang cukup menarik. Di satu pihak, agama masih cukup dominan. Praktek ibadah dan acara-acara keagamaan cukup mewarnai kehidupan sosial. Masalahnya, nilai-nilai itu terasa tidak meresap dalam kehidupan praktis, hal mana tertuang dalam buku: The Elementery Forms of the Religious Life (1912).

Agama dalam konteks ini, telah kehilangan maknanya. Perbuatan nyata yang seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari iman perlu mendapatkan perhatian. Hanya dengan demikian iman memiliki aktualisasinya. Atau mengutip pendapat Aristoteles, agama perlu memiliki bios politikos. Ia hanya dapat menghidupkan ketika memiliki aspek lexis, berupa ajaran dan praxis yakni aksi nyata. Hanya dengan demikian ia menjadi agen pembaharu dunia, dan menjadikannya semakin nyaman untuk dihuni bersama. Iman disertai perbuatan menjadikan agama menjadi jawaban atas pertanyaan mendasar manusia.

Memang keadaan seperti ini disadari dan sangat dipahami kaum beragama. Namun, pemahaman itu bersifat terbatas dan primordialistik. Cintakasih tak jarang ditafsir sekedar sebuah aksi yang terbatas pada relasi kekerabatan. Kesejahteraan diusahakan untuk kelompoknya. Sementara itu perlakuan terhadap orang lain tidak digubris. Kalau pun ada, hal itu terbatas tindakan karitatif, alias memberikan sedekah, membagi-bagi ‘angpao’ tanpa melihatnya sebagai bagian dari iman. Bahkan bila hal itu dilaksanakan atas dasar iman, ia pun masih pincang. Ekspresi kasih dilihat sebagai sebuah tindakan untuk ‘mencari muka’ agar Dia Yang Maha Kuasa, menyediakan Surga setelah melihat tindakan kasih seperti itu. Sebuah pemahaman yang sangat kontraproduktif karena syukur seharusnya menjadi wujud dari tindakan cintakasih dan bukannya membeli keselamatan.

Praksis keagamaan yang dikritik seabad yang lalu, kini seakan hadir lagi dan mendapat pembuktiannya di negara kita. Ritual kehidupan beragama, kemeriahan perayaan hari besar keagamaan seperti Natal yang kini dirayakan, tak jarang memberikan kesan tentang rutinitas dan ritualisme. Ia terbatas sebuah pengulangan peristiwa tanpa usaha menukik ke kedalaman demi menggali maknanya. Ia sekedar menggambarkan sebuah kehidupan spiritual yang sama sekali tidak membadan, tidak membumi, dan tidak berpijak pada realitas. Perayaan Natal yang semestinya melahirkan pribadi yang baru, penuh cinta kasih ternyata tidak meresap. Aksi KKN, kekerasan baik dalam keluarga maupun masyarakat, penipuan, penodongan, bahkan rentenir mengisap darah sesama dengan bunga yang melambung seakan berada pada dunia yang lain.

Profetime baru

Agama yang ritualistik, hanya berkisar pada tempat ibadah, dan begitu teliti dalam menjalankan aturan agama yang dipimpin alim-ulamanya, semakin menjadi sasaran kritik. Lebih lagi, ketika akibat keterbatasan wawasan sang pemimpin agama, akhirnya ajaran suci yang seharusnya bersifat inklusif dan menggugah orang untuk berbuat baik dan menjalin relasi persaudaraan yang bersifat universal, berubah menjadi tafsiran eksklusif-sempit. Di sana tak jarang dihalalkan pula tafsiran yang menghalalkan kekerasan demi memperjuangkan sebuah paham yang nota bene keliru. Kenyataan tentang aksi kekerasan atas nama agama, telah menjadi sebuah kecemasan bangsa ini.

Melihat fenomen ini, diperlukan usaha menjadikan agama yang ‘imam sentris’ (priest religion) yang hanya berkisar sekedar pelaksanaan ritus di dalam rumah ibadah kepada agama kenabian (prophetic religion) hal mana terlihat jelas dalam praksis para pendiri agama. Muhammad, s.a.w., Yesus Kristus, Budha Gautama, sekedar menyebut tiga contoh, pada masanya, bahkan dianggap tokoh subversif, pembangkang, lantaran menggugat ritualisme baku, penuh jeratan demi menampakkan wajah yang lebih manusiawi dari agama.

Mereka tidak sekdar menjalankan ibadah, sambil melupakan keadaan hidup nyata. Sebaliknya, mereka ingin membumikan agama, menjadikannya riil hingga menyentuh kehidupan konkret. Kaum wanita, kelompok masyarakat marginal dan tertindas diperjuangkannya. Mereka yang seringkali dibungkam oleh arogansi kekuasaan dan kekayaan, disuarakan kepentingan mereka. Tak heran, kelompok tertindas: kaum wanita, kaum miskin, orang sakit, bangsa yang dihina, begitu merasakan sebuah harapan baru. Untuk pertama kali mereka merasakan agama sebagai sebuah jawaban atas kehidupan mereka saat ini, dan bukan sekedar sebuah janji akan sesuatu nanti. Agama saat itu sungguh menyentuh realitas. Ia tidak berkutat pada pergumulan teologis yang terkadang abstrak dan tidak menyentuh kepada sebuah jawaban konkret. Agama sungguh menawarkan pembebasan.

Universalisme

Untuk dapat menjadikan profetisme sesuatu yang nyata, dibutuhkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, pemahaman baru tentang persaudaraan. Dalam dunia global dengan media massa yang semakin mendekatkan jarak, kontak yang bersifat primordialistik perlu ditinjau. Hal ini terjadi karena paham seperti ini akan menjadikan seseorang terisolir hingga menjadikannya kerdil dan tak berguna. Sebaliknya, perlu sebuah usaha menjalin persaudaraan yang lebih luas. Ia ibarat tanaman yang perlu diletakkan di alam luas, demi mendapatkan oksigen yang cukup untuk kehidupan yang lebih baik.

Kedua, perlu proses aktualisasi pesan. Hal ini hanya mungkin ketika para pemuka agama menyadari bahwa wahyu (revelation) sebagaimana tertulis dalam buku suci tidak bersifat statis dan literalistik. Bahkan bukan pula maksud Tuhan untuk menjadi sangat sempit dalam menerapkan secara hurufiah setiap perintah sebagai jaminan masuk surga. Kalau demikian, Kitab Suci telah mengalami penyempitan, malah manipulasi. Padahal, kitab suci setiap agama, yang nota bene ditulis pada zaman tertentu oleh orang yang hidup pada zamannya merupakan inspirasi bagaimana orang zaman itu menghadapi zamannya dengan contoh menggugah, hingga kini masih terus dikenang. Dengan demikian kita yang hidup kini dan di sini, punya tugas untuk memberi inspirasi terhadap setiap peristiwa hidup yang sedang terjadi.

Harapan seperti ini semakin kuat. Semakin menggunungnya kekerasan mengatasnamai ajaran agama yang fundamentalistik, membuktikan bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dengan agama. Karena itu, ia perlu diperbaharui, diaktualisasi sehingga menjadikannya lebih menjawab tuntutan zaman.

Ketiga, semestinya semakin ada kompetensi antarumat beragama dalam berbuat baik. Ajaran agama yang banyak dan variatif, tidak lain merupakan kekayaan interpretasi yang perlu dikagumi. Namun, ia hanya bisa bermanfaat ketika diejawantahkan dalam praksis. Harapan seperti ini kian hari kian besar ditengah manipulasi untuk sekedar menjadikan agama sebatas ritus yang terkadang jauh dari praksis hidup yang nyata.

Robert Bala, M.A. Institut Cervantes, Universitas Trisakti Jakarta. Sumber: Batam Pos, 23 Desember 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s