Paskah: Makan Bersama

PASKAH: MAKAN BERSAMA

(Bagian Terakhir dari Dua Tulisan).

Batam Pos 3 April 2007

Apakah perayaan Paskah 2000 tahun silam masih relevan untuk dirayakan kembali? Bila ya, apa yang mestinya diaktualisasi? Pertanyaan seperti ini muncul dalam benak setiap orang yang ingin merayakan sebuah Paskah yang akrab dengan kehidupan. Karenanya, perayaan Paskah perlu diaktualisasi sehingga lebih tepat menjawabi tuntutan zaman.

Ketimpangan

Tanpa perlu mengutak-atik lembaran statistik, tidak sedikit orang sedang merasakan bahwa kehidupan yang kini lebih seram dan sulit ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Pergantian waktu hanya bersifat kuantitatif. Sementara itu secara kualitatif, kehidupan bahkan menjadi lebih sulit.

Mengapa terjadi demikian? Tidak sedikit orang menjadikan pertambahan penduduk yang tidak sebanding dengan penambahan bahan makanan sebagai alasannya. Memang ada benarnya. Laju pertumbuhan penduduk sudah semakin tak terkontrol. Sementara itu, bumi yang sudah semakin tua renta, sudah tidak sesubur dan seproduktif dulu.

Tetapi bukankah perkembangan teknologi bahkan telah menutupi celah tersebut? Penulis sendiri merasa sangat terkesima ketika berada di provinsi Almeria, Spanyol. Daerah itu tidak lebih dari padang pasir. Namun sejak dua puluh tahun terakhir, gurun pasir itu telah disulap menjadi lahan pertanian. Daerah itu yang dulu terkenal sangat miskin, kini menjadi salah satu daerah paling kaya di negara Sepak Bola itu.

Lalu, mengapa hal itu tidak dijadikan model demi “menyulap” bumi kita ini? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Tetapi bukan mustahil kalau kian menggelembungnya napsu segelintir orang yang semakin memperkaya diri di tengah mengguritanya kemiskinan dapat dijadikan alasan. Bila pada tahun 1961, sebagaimana ditulis Jean Ziegler dalam “El hambre en el mundo explicado a mi hijo: 1999,” 20 persen penduduk kaya mengonsumsi 31 persen dari jumlah kekayaan dunia, maka pada tahun 1998, telah membengkak menjadi 83 persen. Itu berarti, 80 persen penduduk harus berjuang merebut rema-rema yang tersisa dari meja orang kaya.

Hal di atas belum terhitung konsumsi terhadap energi dunia. Orang kaya di dunia, yang kurang dari 20 persen, menguasai hampir 80 persen dari media transportasi. Mereka mengonsumsi 60 persen dari energi bumi. Sebuah model konsumsi yang seakan tidak menggubris kelangkaan sumber energi.

Itu berarti, teknologi yang begitu menakjubkan, tak jarang terkandas oleh egoisme manusia. Mereka tidak ikhlas membiarkan teknologi mengubah dunia menjadi lebih akrab dan nyaman. Malah mereka menggiringnya secara sepihak demi memenuhi egoismenya. Hal seperti ini sangat nyata dalam “konflik pasir” yang lagi melanda Kepualauan Riau kini. Hamparan pasir dan granit di negeri ini telah menjadikan pengusaha yang egois dan pengusaha asing yang begitu gelap mata (maaf, rakus), mengeruk bumi Kepri tanpa keprihatinan untuk mengadakan rehabilitasi dan reboisasi.

Ada hal lain yang lebih memprihatinkan. Kemiskinan itu semakin merambah negara-negara miskin. Perubahan ekonomi global dengan pasar bebas, nyaris memberi kesempatan mereka untuk turut serta. Mereka lebih tepat menjadi pelengkap penderita. Di satu pihak negara-negara kaya bebas memasuki negara miskin dengan aneka produknya: seperti McDonald, MW, sepatu Nike, selain aneka iklan yang begitu menghiasi media massa. Sementara itu negara miskin dibiarkan merana seorang diri.

Dan patut disayangkan ketika bahkan di negara miskin masih terjadi akumulasi konflik dan kekerasan. Di daerah-daerah penghasil minyak atau bahan tambang, nyaris dibiarkan hidup dalam kedamaian. Konflik di Irak misalnya masih terus menjadi tragedi yang menyayat hati. Di sana negara Paman Sam tidak hentinya mengampanyekan terorisme, meskin tidak sedikit orang yang menyangsikan hal itu. Sumur minyak dilihat lebih penting ketimbang liang lahat untuk mengubur manusia.

Makan Bersama

Dunia yang terfriksi antara negara kaya dan  miskin, negara adi daya dan negara-negara tanpa daya, belum lagi terhitung perbedaan menyolok yang bahkan terjadi dalam negara-negara miskin, menambah lebar jurang antara yang berpunya dan yang terlantar. Untuk konteks Indonesia, masih begitu kerap dan akrabnya KKN, sungguh menyayat hati. Ternyata di tengah penderitaan, masih ada tangan-tangan jahil yang “memanfaatkan kesempatan”.

Berita yang paling santer saat ini barangkali indikasi korupsi yang melanda petinggi BULOG. Institusi itu sangat penting perannya untuk mendistribusikan makanan ternyata menjadi “lahan paling panas” dan “basah”. Dan ketika rema-rema beras yang masih bisa diperoleh dari operasi pasar semakin rumit ketika bahkan si pedagang masih ingin meraup untuk dengan mengoplos karung beras. Ini sekedar contoh, betapa napsu untuk  “makan sendiri” lebih kuat dari “makan bersama”. Perut sendiri yang mencuat keluar lebih menarik ketimbang kelaparan yang mengecilkan perut si miskin.

Kenyataan seperti ini menjadikan Paskah kali ini sangat aktual. Perjuangan Yesus dari Nazareth untuk “duduk makan dan minum” dengan semua orang, tanpa melihat latar belakangnya, merupakan sebuah contoh teramat nyata untuk dunia dewasa ini. Ia berusaha menerobos egoisme untuk menawarkan sebuah cara berpikir yang lebih altruistik. Di sana yang terpikir bukan saja “perut masing-masing” tetapi perut semua orang. Yang dicemaskan bukannya menimbun sebanyak-banyaknya kekayaan untuk dinikmati dalam lingkurang terbatas, tetapi membaginya. Di sana terdapat hakekat cinta. Cinta ketika dibagi akan menjadi semakin banyak. Tidak sedikit orang yang mendapat anugerah, bakal mendoakan si pemberi agar memperoleh kedamaian dalam hidup.

Sebaliknya, KKN, manipulasi, penipuan, dan pelbagai tindakan licik lainnya, hanya sekedar menimbun untuk dirinya. Di sana, bahkan seseorang menjadi kerdil karena mengurung cinta dalam kegelapan diri. Ibarat tanaman, apabila ia dikepung kegelapan, kesuraman, maka akan menjadi kerdil hingga akhirnya layu dan kering.

Paskah sebaliknya mengundang orang untuk keluar dari kegelapan. Malam Paskah yang dipenuhi aneka cahaya lilin, menerangi kegelapan dunia, sekaligus mengundang setiap orang untuk keluar dan memberi cahaya yang sama kepada semua orang. Dunia yang lebih terang, bersinar bakal tercipta, ketika percikan cinta dari tiap pribadi dibiarkan menerangi kegelapan dunia kini. Selamat Paskah untuk Kepriku terkasih, Batamku tercinta.

Robert Bala. Pemerhati Masalah Sosial-Keagamaan. Sumber: Batam Pos 3 April 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s