Paskah “Subersif”

PASKAH SUBVERSIF

Bagian Pertama dari Dua Tulisan.

Batam Pos 2 April 2007

Jumad 6 April 2007, umat Kristen sedunia merayakan kematian Yesus Kristus. Sang Nabi, Utusan Allah yang datang kedunia untuk menebus dosa manusia, justeru dihampakan ke dalam penderitaan yang amat tragis. Ia wafat di Kayu Salib.

Namun, misteri begitu Agung dan Mulia yang diakhiri dengan kebangkitan pada Hari Raya Paskah, tidak pernah terpisahkan sama sekali dari sebuah pesta akbar yang dirayakan sehari sebelumnya. Hari Raya Kamis Putih, atau Kamis Suci memiliki makna yang sangat mendalam karena dirayakan sebuah Perjamuan Akhir. Di sana, tidak hanya dirayakan sebuah kenangan, tetapi lebih dari itu merupakan inti dari pewartaan Yesus. Dan bukan mustahil, ia menjadi alasan, mengapa Yesus menemukan akhir tragis: mati di atas palang penginaan: salib.

Skandal: Cara Makan

Mengapa Yesus dari Nazareth harus mengalami nasib tragis mati di Kayu Salib? Apakah merupakan sebuah kesia-siaan? Adakah hal itu memang “dikehendaki Allah?” Pertanyaan seperti ini telah lama menjadi objek refleksi teologis. Tujuannya tidak sekedar mereka-reka jawaban abstrak, sebagaimana selalu menjadi godaan teologi spekulatif. Lebih dari itu, menemukan makna terdalam yang aplikasinya dirasakan bahkan hingga kini.

Tidak sedikit teolog mengakui kalau nasib tragis Yesus di Kayu Salib, tidak terlepas dari perjuanganNya untuk membentuk sebuah masyarakat yang lebih solider, egaliter, sederajat, penuh kasih persaudaraan, tolong-menolong. Sebuah masyarakat yang tidak membedakan orang berdasarkan suku bangsa (Yahudi dan bukan Yahudi), orang pandai dan cerdik dengan masyarakat biasa, atau berdasarkan agama.

Salah satu wujud konkret pembentukan masyarakat yang lebih solider adalah dengan duduk makan dan minum. Mengapa? Makan selain untuk memenuhi kebutuhan biologis juga merupakan tanda tingkatan sosial.  Mustahil orang miskin, duduk makan dengan orang kaya. Tidak pernah terpikirkan orang Yahudi duduk semeja dengan orang bukan Yahudi yang dilihat lebih rendah martabatnya. Dan lebih mustahil lagi orang berdosa dan najis dapat diundang untuk ambil bagian dalam sebuah perjamuan.

Sekat yang begitu kuat memisahkan manusia hendak “dibongkar” Yesus dari Nazareth. Baginya, manusia dengan aneka kemampuan dan ruang usaha berbeda, dan keberuntungan hendaknya disatukan di sebuah meja makan. Di sana orang yang berpunya berbagi dengan yang tidak memiliki. Yang bermusuhan hingga berjauhan, akhirnya menganyam kembali persaudaraan dan perdamaian dan kedekatan.

Menodai agama?

Jiwa altruisme Yesus dari Nazareth terperangah melihat diskrepansi sosial. BagiNya, tradisi bahkan agama tidak semestinya begitu diutamakan hingga menelantarkan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu dengan tahu dan mau Ia menggugat. Lebih dari itu memberikan teladan makan bersama, baik dengan orang berdosa, kaum miskin, dan orang yang terpinggirkan.

Praksis seperti ini  “mengganggu” orang Yahudi yang berpretensi menjaga kemurnian tradisi. Yesus karena itu diklaim tidak hanya melanggar tradisi, tetapi juga telah tahu dan mau melawan kemurnian agama. Karenanya, mati di Kayu Salib merupakan hukuman yang dianggap setimpal dengan tindakan subversif itu. Jelasnya, tidak sedikit teolog mengakui bahwa Yesus mati karena cara makannya yang subeversif. Ia dihukum karena usahaNya untuk menjembatani sebuah hubungan kemanusiaan yang lebih utuh.

Demi Manusia

Mengapa solidaritas itu begitu penting? Mengapa demi realisasinya, Yesus berani melawan “kesakralan” ritus agama? Apalagi di baliknya, sekaligus juga tersembunyi aneka kepentingan yang hendak dipertahankan oleh penjaga tradisi.

Bagi Yesus, ritus, agama, atau apa pun namanya sama sekali tidak berguna bagi dirinya sendiri. Agama hanya bermanfaat ketika menyentuh realitas hidup manusia. Ia ada demi manusia, dan bukan sebaliknya. Di sinilah semestinya standar dasar untuk menilai keabsahan sebuah agama. Ia tidak sebatas dievaluasi dari praktek ibadah melainkan sejauh mana ibadah itu memampukan manusia dalam menciptakan dunia yang penuh persaudaraan, cinta kasih, dan saling berbagi.

Penegasan itu memiliki pendasaran yang lebih mendalam. Munculnya para nabi dalam sejarah manusia, maupun peristiwa inkarnasi, dimana Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, tidak punya tujuan selain demi semakin memanusiakan manusia. Di sana, Allah yang di atas, jauh, dan penuh kekuatan dan kegaiban, bersatu dengan manusia. Ia bersatu mengangkat kerinduan manusia (desiderium humanum) sehingga menjadi sebuah kenyataan.

Itu berarti perwujudan nilai-nilai kemanusiaan semestinya menjadi misi yang harus dikembangkan setiap agama. Sebaliknya, agama yang menjauhkan diri dari problem kemanusiaan dan lebih mementingkan ritus dan demi menjaga kemurnian ritual, menjadikannya tidak berguna.

Hal inilah yang melatarbelakangi perjuangan Yesus. Demi manusia, Ia rela menerima konsekuensi apa pun, termasuk mati di kayu Salib. Yang penting, cara hidup seperti itu dapat menajdi inspirasi untuk menggugah dunia untuk menganyam sebuah kehidupan yang lebih dipenuhi persaudaraan.

Di sinilah makna Paskah yang tidak semestinya ditinggalkan. Perayaan Wafat dan Kebangkitan Yesus, tidak bisa sekedar sebagai sebuah peringatan belaka. Ia juga dilaksanakan tidak sekedar mengulang hal yang sudah dilakukan selama 2000 tahun. Kalau terjadi demikian, Paskah telah kehilangan maknanya. Yesus sendiri justeru melakukan hal yang sebaliknya. Ia mengeritik ritus yang dilaksanakan tanpa makna dan tanpa koneksi dengan realitas. Ritus dan realitas harus berjalan seirama.

Paskah karena itu perlu menjadi sebuah perayaan penuh solidaritas. Orang Kristen yang merayakannya berusaha dalam ruang lingkupnya, menjadikan dunia yang penuh persaudaraan, kasih, perdamaian, sebagai sebuah harapan yang semakin menjadi kenyataan. Paskah setiap tahun karena itu selalu lain sebagaimana lain pula realitas yang terjadi. Sebaliknya merayakan Paskah hanya sekedar memperingati kematian Yesus, dan ketiadaan nilai subversif, menjadikan Paskah sama sekali tidak bermakna.

Robert Bala. Pemerhati Masalah Sosial-Keagamaan. Batam Pos 2 April 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s