Puasa, Karnaval, dan Bencana

Puasa, Karnaval, dan Bencana

Batam Pos, 19 Februari 2007

Masa Puasa kaum muslim dan muslimat biasanya diketahui secara umum. Sebelum tiba, telah muncul iklan,  atau khotbah yang terus mengingkatkan tentang makna puasa selama bulan Ramadhan. Bahkan, begitu populer, hingga kaum non-muslim turut mengingatkan reka-rekannya yang harus berpuasa. Atau paling kurang bertanya: “apakah kamu tidak berpuasa?”

Namun bagaimana ketika puasa itu dilaksanakan oleh orang Kristen? Ia nyaris tidak diketahui, bahkan oleh oleh Kristen sendiri. Tak jarang, orang Kristen “menghibur diri”, bahwa yang terpenting adalah “makna puasa”, tanpa harus menjadi begitu ketat melaksanakannya. Padahal puasa, sebagai dimensi esensial dalam semua agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam), perlu dilakukan. Apalagi di sebuah negara yang tengah dilanda aneka bencana.

Aturan Puasa

Dalam Gereja Katolik, ada perubahan yang cukup mendasar dalam aturan berpuasa. Kalau sebelum masa Konsili Vatikan II (1962-1965), masih ditandai dengan puasa yang lebih keras, maka kini sudah menjadi lebih “sederhana”, atau paling kurang tidak seketat dulu.

Perubahan itu sebenarnya dimotori oleh Paus Paulus VI. Dalam “Penitenmini” (1966), mengeluarkan aturan baru berpuasa, yang kemudian disyahkan dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik. Puasa misalnya, diartikan sebagai makan hanya sekali sehari. Sementara pantang berarti tidak memakan daging (carnis/carne). Keudanya dilaksanakan secara “keras” dalam arti wajib dilaksanakna pada Hari Rabu Abu (awal puasa), dan Hari Jumad Agung(Good Friday/Viernes Santo).

Hal ini berdampak ganda. Pada satu sisi, bisa saja ditafsir sebagai sebuah ketidakharusan atau bahkan telah menjadi sebuah pesta glamour, sebagaimana perayaan Karnaval di Brasil. Pesta ini pada awalnya dilaksanakan ibarat sebuah iklan demi mengingkatkan bahwa selama 40 hari sebelum Paskah (masa Prapaskah), tidak diizinkan makan daging (carnis/carne). Karena itu karnavan seakan jadi kesempatan emas untuk bergembira ria sebleum semuanya kembali “tenggelam” dalam semangat berpantang dan berpuasa. Dalam kenyataan, pesta itu bahkan dilakukan selama puasa dengan aneka tarian, pesta glamour yang sama sekali tidak menyokong makna puasa.

Semestinya tidak terjadi demikian. Perubahan arti puasa, sebenarnya muncul mengikuti kedewasan dalam pemikiran dan kematangan dalam menafsir sesuatu. Orang yang sudah dewasa ditandai oleh integritas dirinya utnuk melatih diri melalui latihan-latihan ekseketis (seperti pantang dan puasa). Untuk itu, setiap orang Kristen dewasa, diharapkan dalam kematangan diri, melaksanakna prakte pantang dan puasa.

Pada sisi lain, aturan pantang kini, sebenarnya ‘tidak lebih lunak’. Pantang sendiri sebenarnya sudah diperluas. Ia mengacu juga kepada kesediaan untuk mengorbankan apa yang menjadi kesukaan atau kebiasaan buruk. Orang yang biasa merokok, mnum-minuman keras, makan makanan pedas, suka membicarkan orang lain, terajak untuk meninggalkan hal-hal seperti itu, paling kurang pada masa puasa.

Dimensi Sosial

“Pelenturan” aturan berpuasa oleh Gereja, memiliki makna yang lebih dalam. Gereja menyadari bahwa puasa, sebaik dan “sekeras” apa pun, sebenarnya hanyalah jalan. Ia tidak memiliki tujuan pada dirinya. Dengan kata lain, berpuasa, akan kehilangan makna, bila dilaksanakan hanya demi mengejar kesucian diri atau supaya dianggap suci karena konsekuen melaksnakana aturan-aturan agama. Pada sisi lain, ia perlu mengarah kepada sebuah tujuan lain yang lebih penting, yakni makna sosial. Atau meminjam kata-kata Santu Yohanes Krisostomus: “kebajikan apa pun yang dibuat (seperti pantang dan puasa), kalau tidak dinikmati oleh orang lain, maka ia sama sekali tidak berguna. Meski orang berpuasa, tidur di atas lantai keras, dan makan abu, tetapi jika hasilnya tidak dinikmati orang lain, terutama yang miskin dan sederhana, semua yang lain tidak ada maknanya.”

Untuk itu, puasa dilaksanakan dengan alasan-alasan berikut. Pertama, puasa (yang dilakukan dengan makan hanya sehari) dan  pantang (dari kebiasaan yang merugikan diri dan orang lain) hanya memiliki makna kalau orang lain menikmati hasilnya. Sang majikan yang biasanya makan di restoran-restoran elit, atau selalu menikmati makanan enak di rumah, mengorbankan keinginannya itu karena punya komitmen agar pembantunya “menikmati hasilnya” dengan gaji yang pantas. Isteri dan anak yang menderita kekurangan uang karena tidak sedikitnya digunakan untuk membeli rokok (yang dibuat dengan alasan karena saya kerja), bakal menikmati hasil pantang sang ayah.

Kedua, puasa dilaksanakan untuk mengakhiri puasa. Pengorbanan yang dilakukan tidak sedikit orang pada masa puasa seperti ini, yang nota bene melaksanakannya secara sukarela, punya tujuan agar orang lain yang melaksanakannya secara wajib (karena kemiskinan dan kemelaratan) dapat menghentikan puasanya yang berkepanjangan itu. Kenyataan seperti ini sangat tepat dihidupi. Di dunia kini, terdapat hanya 20% orang yang menguasai hampir 80% kekayaan alam. Sementara 80% masyarakat, harus merebut rema-rema yang masih tersisa. Di kita dapat berandai-andai. Apabila yang 20% itu berpuasa, betapa wajah bumi ini akan berubah menjadi lebih ceriah.

Ketiga, pantang dan puasa merupakan sebuah panggilan Ibu Pertiwi. Negeri ini, dalam waktu yang sangat minim, sudah menjadi ‘porak-poranda’. Tragedi Tsunami di Aceh dan Pangandaran, gempa bumi di Nias, Yogyakarta, Maluku Utara, Nabire, kelaparan akibat gagalnya panen, entah karena dilanda banjir seperti tidak sedikit daerah di Indonesia Barat), atau karena kekeringan di bagian Indonesia lainnya, merupakan sebuah kenyataan yang sangat mencekam. Bahkan di Ibu Kota Negeri ini, ribuan warga yang masih tinggal di tenda-tenda, tidak tahu, apa yang bakal terjadi dengannya, lantaran segala yang dimiliki telah raib dibawa banjir.

Kenyataan seperti ini menjadi sebuah panggilan, bahwa puasa dan pantang, bukan sekedar sebuah kebajikan spiritual untuk mencapai kesempurnaan pribadi, tetapi menjadi sebuah urgensi sosial. Negeri ini tidak bakal menjadi lebih baik kalau segelintir kecil yang menguasai hampir semua, tidak membuka hatinya untuk membantu dan menolong mayoritas yang lagi menderita kemiskinan, kelaparan, bahkan ancaman kematian.

Keempat, puasa menjadi sebuah panggilan kesejatian. Manusia tak jarang begitu cepat terpanah pada apa yang dimiliki (to have), sebagai acuan segalanya, sambil lupa bahwa semestinya keberadaan manusia (to be), yang menjadi dasar segalanya. Ia perlu memiliki waktu untuk menuju dirinya sendiri, mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, menjadikan dirinya bahagia karena memberi, dan bukan karena mengumpulkan atau menimbun.

Dasar pemikiran ini telah menjadi acuan,  mengapa para uskup telah memilih: “Pemberdayaan Kesejatian Hidup Dalam Hubungan Sosial”, sebagai tema Aksi Puasa Pembangunan tahun ini. Di sana terbersit harapan agar setiap orang perlu lebih menjadi dirinya sendiri. Ia mendengarkan suara batinnya, menjadi pribadi yang orisinil, tanpa dikelabui aneka pangkat dan jabatan. Ia juga terpanggil untuk menjadi solider, baik dengan sesama yang hidup kini maupun generasi berikutnya melalui perlakuan terhadap alam yang lebih manusiawi.

Bila kesejatian ini dicapai, niscaya, bumi akan semakin menjadi tempat untuk dihuni bersama.

Robert Bala. Pemerhati Masalah Sosial. Sumber: Batam Pos 19 Februari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s