Tsunami dan Spekulasi Teologis

Tsunami dan Spekulasi Teologis

Batam Pos, 26 Januari 2005

TRAGEDI gempa dahsyat yang mengguncang Aceh dan Nias, serta hayutan gelombang Tsunami, sudah berumur sebulan. Namun, peristiwa itu masih tetap begitu hangat untuk dibicarakan, diikuti, sambil disertai pelbagai analisis.

Terhadap peristiwa yang begitu tragis, manusia tidak saja puas dengan pelbagai analisis geologis yang menjelaskan gerakan lempengan kerak bumi yang menimbulkan gempa dan hanyutan gelombang. Lantas pergumulan teologis mencari jawaban mendasar menjadi bidikannya yang mengakibatkan munculnya pelbagai spekulasi teologis. Hingga saat ini, ada dua tafsiran yang cukup dominan, hingga bukan tak mungkin telah membentuk opini masyarakat. Jelasnya, ada yang menafsir bencana Tsunami sebagai akibat perbuatan para korban (blame the victims).

Ketidakkacuan malah ketidakbecusan dari warga penjaga Serambi Mekkah dilihat sebagai sebabnya. Oleh karenanya, hal itu dilihat sebagai hukuman. Ada yang serta merta menyalahkan Tuhan (blame God). Allah dinilai murka. Kegeramannya bahkan tak dikontrol lagi hingga begitu tega menghukum umatNya, termasuk di dalamnya anak-anak dan bayi yang tidak berdosa. Tetapi di balik itu, terdapat maksud pula untuk menguji sejauh mana umatNya berbakti kepadaNya. Karena itu, tragedi sebulan yang lalu itu disinyalir sebagai ujian, sejauh mana warga Aceh berbenah diri untuk kembali mempertahankan Serambi Mekkah.

Bergelimangnya spekulasi teologis bisa dipahami. Dalam situasi ketidakpastian, muncul pelbagai tafsiran. Tetapi, setelah suasana semakin reda, diperlukan upaya verifikasi terhadap spekulasi teologis tersebut, hal mana telah mendorong kelompok Jaringan Islam Liberal untuk menggelar sebuah diskusi (11/3). Dalam kesimpulannya, mereka secara tegas menegaskan, tidak ada dasar untuk baik menyalahkan baik para korban maupun Tuhan. Karena itu, diperlukan upaya mencari rumusan teologis baru yang lebih mengena.

Mengapa? Karena pemahaman yang benar tentang peran Allah di balik tragedi, dapat membantu terbentuknya iman yang lebih sadar dan bertanggung jawab, hal mana menjadi latar belakang tulisan ini.  Sesungguhnya, pergulatan teologis mencari relasi antara Tuhan dan bencana alam, dan penderitaan di dunia (passio mundi) pada umumnya, merupakan sebuah pergulatan setua umur manusia. Sebagai homo reflectionis, manusia berusaha mengadakan refleksi tentang aneka tragedi. Manusia pun berupaya menyusun konsep-konsep teoretis tentang keterlibatan Allah dalam setiap bencana.

Namun, pelbagai teori atau konsep yang sempat terbentuk, akhirnya bermuara pada kegagalan, demikian tulis Leonardo Boff dalam bukunya Teologia del Cautiverio: 1996. Teolog Brasil itu menegaskan, rangkaian refleksi untuk memahami  aneka penderitaan yang menimpa manusia baik dari Nabi Ayub As sampai pada Carl Gustav Jung, sekadar menyebut dua contoh, akhirnya berakhir pada kegagalan.

Mengapa terjadi demikian? Karena niscaya demi memberikan “pelajaran” atau “ujian” kepada manusia yang satu, Allah harus mengorbankan yang lainnya. Dalam konteks tragedi 26 Desember, niscaya demi menyadarkan masyarakat Indonesia dari situasi kedosaannya, Ia mengorbankan ratusan ribu jiwa. Atau, niscaya demi menghajar sebagian kecil yang barangkali berdosa, Allah mengorbankan nyawa tidak sedikit orang baik, dalamnya termasuk juga bayi-bayi yang tidak dosa.

Niscaya demi menghayutkan beberapa tempat maksiat di Thailand, Tuhan menyapu bersih orang-orang tak bersalah. Karena itu, tidak ada alasan untuk menyalahkan baik para korban mau pun Tuhan. Dengan kata lain, para korban yang sudah jatuh, seharusnya tidak perlu lagi dibebani lagi “tangga” spekulasi teologis yang memberatkan. Karena itu, perlu dicari model penjelasan lain yang lebih mengena dan tepat sasar.

Tetapi apakah dengan menepis “campur tangan Tuhan” dalam tragedi bencana, lantas diklaim sebagai sebuah pandangan ateistik yang menyangkali keberadaan Tuhan berikut campur tanganNya? Pertama, terhadap pertanyaan ini, kita pun dapat menggugatnya kembali. Tidak semua pernyataan yang melibatkan Tuhan dalam setiap tragedi, lahir dari orang yang sungguh-sungguh beriman.

Sebaliknya, bisa saja lahir dari konsep infantilistik bahkan fatalistik tentang Tuhan. Allah digambarkan sebagai seorang “penjaga” tatanan moral. Karena itu, setiap pelanggaran (kapan dan di mana pun) diketahui, direkam yang pada gilirannya akan menghajar manusia. Konsep seperti ini tak jarang melahirkan pribadi-pribadi yang tak matang secara iman. Mereka beriman karena rasa takut. Pelbagai perbuatan baik (amal) dianggap sebagai upaya “meluluhkan” hati Allah.

Keselamatan surgawi ingin “dibeli” dengan sejumlah “sumbangan”, “derma” “sedekah”, terlepas asal-muasal dari dana yang disumbangkan. Model  keagamaan seperti ini barangkali dapat dijadikan penjelasan terhadap tidak sedikit praksis keagamaan di negeri ini. Kita ditaburi pemimpin yang kelihatan begitu murah hati, dermawan, sumbang di sana-sini. Tetapi, dari manakah uang itu diperoleh? Pertanyaan seperti ini dianggap tidak penting.

Kedua, tidak ada salahnya ketika dalam situasi-situasi batas seperti saat ini, manusia sampai pada ultimatequestions yang tak jarang mempertanyakan keberadaan Allah bahkan meragukanNya. Tragedi dilihat sebagai sesuatu yang tak adil. Ujian terlampau berat. Mereka mengalami krisis iman, karena bencana dianggap sebagai sesuatu yang keterlaluan. Mereka lantas tenggelam dalam krisis iman yang mendalam.

Namun, pengalaman krisis iman seperti ini, tidak dilihat sebagai sesuatu yang negatif belaka. Ia bahkan dapat menjadi momen purifikasi iman. Karena, sebagaimana emas diuji dalam bara api, demikian juga iman yang tangguh, hanya dapat teruji dalam percobaan. Bukan itu saja. Dalam pengalaman krisis seperti ini, kita pun dapat bercermin pada pergulatan tidak sedikit nabi dari agama-agama yang juga tidak luput dari krisis seperti ini. Mereka melewati apa yang disebut mistikus Spanyol, Juan de la Cruz sebagai la noche oscura.

Pengalaman iman dan ketidakmengertian dilihat sebagai sebuah kegelapan. Namun,hanya dalam kegelapan malam, orang dapat menemukan berkas-berkas sinar yang menunjuk jalan. Di sinilah makna setiap krisis. Karena itu dalam konteks tragedi ”Desember Kelabu”, sudah seharusnya para ulama tidak gegabah dalam menelurkan spekulasi teologis yang membebankan atau mempersalahkan. Sebaliknya, perlu memberikan ketenangan kepada setiap korban untuk menggeluti masa-masa krisis seperti ini. Lalu, bagaimana keterlibatan Allah? Bagaimana kita dapat menjelaskan relasi antara Tuhan dan gempa yang terjadi di bumi,ciptaan-Nya?

Pertama, tragedi Tsunami, sama sekali tidak mengingkari keberadaanAllah. Sebaliknya Allah bahkan semakin dikagumi oleh Kebesaran dan KemahakuasaanNya. Ia yang adalah Pencipta, sebab yang tak tersebabkan dari-Nya segala sesuatu berasal, telah menciptakan segala sesuatu baik adanya. Namun begitu  bijaksana,hingga pasca penciptaan, Ia menganugerahi otonomi kepada makhluk ciptaanNya. Dunia yang dianugerahi udarah untuk dihirup, musim dan iklim, matahari dan bulan serta bintang-bintang untuk meneranginya. Hutan dan rimba, pohon dan buah serta sayur-sayuran dimungkinkan hidup yang memberikan kesegaran bagi dunia. Semuanya diciptakan baik adanya, dan diberi otonomi untuk bergerak mengikuti hukum-hukumnya. Tetapi, otonomi membutuhkan tanggung jawab. Disinilah rahasia penciptaan manusia yang selain sebagai mahkota ciptaan, dipanggil secara khusus agar dengan ratio untuk dapat menjaga keseimbangan alam. Ia pun dianugerahi nurani untuk memilih yang baik dan menghindari yang jahat. Kenyataannya justru lain.

Manusia, oleh arogansi dan egoisme, lupa daratan. Alam diperlakukan semau gue. Hutan dan rimba dibabat. Sungai, danau dan air laut dicemari. Kekayaan alam dikeruknya tanpa solidaritas dengan generasi berikutnya. Ekosistem akhirnya terganggu. Alam “berontak”, hal mana terlihat dalam aneka bencana yang menimpa. Karena itu, tragedi 26 Desember, bukanlah hukuman Allah melainkan reaksi alam terhadap perlakuan manusia yang tak senonoh. Jadi Allah tidak perlu “dikambinghitamkan” demi menyembunyikan tanggung jawab manusia.

Kedua, bencana gempa bumi dan Tsunami menyadarkan kita bahwa bumi tempat kita hidup dan berada kian tua dimakan usia. Ia sudah semakin “loyo” oleh tamparan tangan-tangan jahil. Lempengan-lempengan bumi tempat kita hidup diatasnya, bakal bergesar hingga menggetarkan bumi dalam bentuk gempa dan memuntahkan pelbagai Tsunami. Tak pelak, bumi kita bagai tsu (pelabuhan/ teluk)yang kapan saja, bisa dilanda nami (gelombang). Realitias geologis seperti ini seharusnya menyadarkan manusia bahwa hidupnya sudah tak nyaman.

Kita akan terus dikepung oleh antrian panjang dari bencana alam demi bencana alam. Dalam situasi seperti ini, sudah seharusnya manusia sendiri tidak perlu menambah derita lagi, lewat pelbagai tindakan egoistik dan arogan baik terhadap sesama maupun alam. Sebaliknya, kita perlu semakin memberi tempat kepada solidaritas, hal mana sudah semakin nampak pasca tragedi ini.(***)

Robert Bala, alumnus Fakultas Teologi Universidad Ponitificia Salamanca Madrid-Spanyol. Sumber: Batam Pos 26 Januari 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s