Ekologi Sosial


EKOLOGIS SOSIAL

(Bagian Terakhir dari Dua Tulisan): Batam Pos  7 Februari 2007

Saat menyaksikan begitu solidernya seorang pemulung yang membiarkan gerobak ‘sampahnya’ membawa seorang warga keturunan, ada perasaan terharu. Mengapa tidak? Ia yang selama ini dipandang dengan sebelah mata. Barangkali juga pada tidak sedikit perumahan elit, mereka tidak dibiarkan masuk. Pemulung sangat identik dengan pencuri. Barangkali mereka mematai untuk kemudian dapat mengambil sesuatu.

Ada benarnya juga. Tetapi, stereotip seperti itu menjadi sebuah generalisasi terhadap rasa kemanusiaan kita. Apalagi di saat bencana seperti ini, naluri kemanusiaan kita tersapa, semangat solidaritas kita terusik.

Ke(tak)utuhan Ciptaan

Bencana demi bencana yang melanda negeri ini, adalah pratanda paling jelas bahwa keutuhan ciptaan sedang terganggu. Manusia selain secara internal sebagai pribadi mengalami dirinya bagai terpecah. Ia kehilangan orientasi. Batin dan pikiran sudah tidak searah lagi. Pada gilirannya, hal itu merambat dalam kehidupan sosialnya. Ia merasa ‘bagai raja’ yang bisa berbuat seenaknya saja terhadap alam dan ciptaan lainnya. Alam yang diciptakan untuk semua yang hidup kini, bahkan juga untuk generasi yang akan datang, nyaris terpikir dalam benak manusia egois. Baginya yang terpenting adalah mengeruk keuntungan sedasyat-dasyatnya, untuk kepentingan pribadinya sekarang ini juga.

Dengan matanya yang membelalak, melihat kekayaan alam, napsu rakus-serakahnya, ia menebang hutan, menggunduli pohon, bahkan meratakan bukit (sebagaimana menjadi pemandangan lumrah di Batam), demi menutupi jurang keretakan kemanusiaannya. Barangkali hal itu menjadi tanda ‘kecanggihan’ teknologinya. Manusia mampu merubah alam menjadi lebih ‘cantik. Di daerah yang dulunya tinggi, menarik, bahkan dapat menjadi tempat melepaskan lelah, kini sudah menjadi rata. Dan lebih aneh lagi. Bukit yang sudah rata itu, kemudian dijadikan nama ‘Villa Bukit Indah’. Padahal, bukitnya sudah tidak ada lagi. Barangkali sebagai ‘kenang-kenangan’.

Semuanya belum cukup. Binatang yang sedari dulunya punya tempat, dan sangat membantu terciptanya ekosistem, kini ikut ‘tergusur’. Bahkan tidak sedikitnya mati. Menurut data, hilangnya spesies hewan yang dulu terjadi ratusan tahun, karena keutuhan alam yang begitu terjaga, kita hanya terjadi dalam detik. Pada saat ini, berapa binatang yang bersama lainnya dan manusia serta alam membentuk satu kesatuan tak tergantikan, kini sudah terlepas. Rantai relasi pun putus.

Singkatnya, alam sudah tidak seutuh dulu lagi. Ada keretakan yang sangat mendalam. Apalagi semuanya ‘diberkati’ oleh tren ‘memprivatisasi’ semuanya, terhadap hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Semuanya dilakukan ‘atas nama keuntungan ekonomis’. Katanya semuanya itu demi sebuah pengelolaan yang lebi baik. Pada hal di dasar segalanya (yang nota bene disembunyikan, pada hal menjadi tujuan tunggal) adalah napsu  serakah yang tidak bisa terjinakan.

Kembali

Bencana yang kini terjadi di Ibu Kota, dan ‘langganan banjir’ yang sudah menjadi sebuah kenyataan di Batam, menjadi sebuah momen untuk berpikir. Dan kalau perlu, sebuah sapaan untuk kembali ke alam (back to nature).

Pertama, para pemimpin (baik legislatif maupun eksekutif), perlu menyadari perannya sebagai penjaga keseimbangan. Ia terpilih untuk menjadi fasilitator, mengarahkan rakyatnya kepada sebuah model pembangunan yang lebih merakyat, dinikmati semua orang. Ia perlu punya visi yang jelas. Sebaliknya, perjuangan itu bakal kandas, ketika pemerintah ‘turut terjebak’ dalam egoisme memperkaya diri, mumpung masih ada kesempatan. Pelbagai kebijakan pun bakal ‘terkondisikan’. Akibatnya sudah pasti, nasib sebuah masyarakat (apalagi bangsa) bakal tidak pasti. Kita bukan hanya stagnan, hanya terpaku di tempat, tetapi bahkan mundur dan lebih mundur dari tahun sebelumnya.

Kedua, bencana menyapa kesetiakawanan kita. Dunia kini, yang penuh kompetisi, tidak lagi melihat sesama sebagai rekan seperjalanan. Ia lebih merupakan saingan yang perlu ‘dihabiskan’ bila perlu, demi ‘melowongkan’ jalan yang hendak dilewati. Napsu ekonomis untuk ‘mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya’, telah menyebabkan orang melupakan ekologi. Sebuah ungkapan, dalamnya terkandung makna, tentang sikap melihat nilai atau logis di atas segala-galanya. Selain itu, sesama dilihat sebagai saudara ‘serumah’ karena dunia, bumi tempat kita hidup, bergerak, dan ada, adalah sebuah ‘rumah/oikos’ bagi semua orang. Memang kita hidup dalam sekat yang berbeda. Tetapi hal itu tidak membuat kita lupa bahwa bilik itu masih berada dalam satu rumah yang sama. Penderitaan sesama di sekitar kita, bagaimana pun juga mengancam seluruhnya. Robohnya sebuah kamar, bukan mustahil menjadi awal dari robohnya rumah kita. Karenanya, bencana alam menyapa kita yang ‘serumah’ untuk lebih solider.

Ketiga, solidaritas denga alam. Barangkali lebih mudah untuk merumuskan solidaritas dengan sesama manusia. Jeritan minta tolong lebih mudah didengar, karena ia ‘bersuara’. Tetapi apa yang terjadi dengan alam? Leonardo Boff, salah seorang pegiat teologi ekologi, merasa prihatin. Jeritan alam adalah sebuah kenyataan. Dan ia bukan hanya menjerit. Aneka bencana alam yang begitu silih-berganti adalah ekspresi nyata dari ‘pemberontakan alam’. Alam mengamuk, bukan dari ‘sononya’, tetapi karena ia disebabkan oleh manusia.

Karena itu, bencana alam biasanya menyapa kesadaran ekologis. Alam perlu diperlakukan ‘sebagai manusia’ alias antropomorphisme. Ia dianggap saudara. Mengapa? Karena perlakuan yang diberikan kepada alam, bakal mendatangkan ‘jawaban’ yang ramah, bersahabat, melalui iklim yang stabil. Sebaliknya perlakuan yang egoistik, rakus apalagi, bakal mendatangkan kemurkaan alam.

Sayangnya,  kesadaran seperti ini barangkali dilihat sangat terlambat. Perubahan tingkah laku yang dibuat kini, belum mampu meredam amukan alam. Ia masih akan terus ‘berontak’, lantaran perlakuan semena-mena sudah lama terjadi. Tetapi itu tidak mesti membuat kita putus asah. Perubahan tingkah laku kini, punya manfaat demi meminimalisir bencana. Melalui aneka peringatan dini, korban masih bisa diselamatkan. Selain itu, perubahan yang kini dibuat, dapat menjadi sebuah jaminan untuk generasi yang akan datang. Apa yang ditanam kini, dapat dipetik masa depan.

Keempat, dibutuhkan tindakan preventif. Bencana yang kini menyapa, tidak bisa sekedar ditanggapi secara momental dan kemudian terlupakan. Sebaliknya, ia membangun kesadaran kita untuk merancang sebuah areal hunian yang lebih akrab dengan alam. Dalamnya, banjir yang pasti datang, diberi tempat mengalir yang cukup. Daerah tempat ia lewat, tidak bisa ditutupi, karena memang itulah jalannya. Sistem drainase perlu jelas. Selain itu, pembuatan arela peresapan air, tidak bisa dijadikan ‘sekedar himbauan’. Ia perlu menjadi sebuah kesadaran bahwa alam perlu diperlakukan secara baik. Teknologi sebaliknya bukanlah raja yang menjadikan kita berbuat sekehendak hati. Tidak. Teknologi hanyalah bantuan, tetapi tidak membuat kita lupa bahwa pembangunan harus selaras dengan alam.

Lic. Robert Bala, MA

Pemerhati Ekologi. Pengajar ‘Bahasa Spanyol’ Universitas Trisakti Jakarta.

Staf Karya Sejahtera Semesta (KSS, Outsourcing).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s